Layar 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tintin Baru, dari Gay hingga Anti-Bush

Ada dua karya bajakan Tintin yang menjadi barang yang paling diburu para kolektor: Tintin di Thailand dan Tintin di Irak.

i

Lucien Peeters, pria 35 tahun, pemilik sebuah toko komik di Brussel, tertawa. Sesuatu menggelitiknya ketika Tempo bertanya apakah ia masih memiliki Tintin bajakan edisi porno. Ia hanya mengaku pernah memilikinya. Sangat vulgar, katanya. ”Penuh adegan hardcore homo, if you know what I mean,” ucap Peeters sembari nyengir.

Versi ilegal ini menceritakan Tintin bersama-sama dengan Kapten Haddock dan Profesor Calculus bertualang di Thailand dalam liburan seks. Dalam Tintin di Thailand, Tintin digambarkan sebagai seorang homoseksual. Si kembar detektif bloon—Thompson and Thomson—juga dilukiskan sebagai gay. Tintin dilukiskan berjenggot, tapi kenes—suka pamer dada. Kapten Haddock juga dikisahkan banyak bermain-main dengan perempuan. Profesor Calculus yang pendiam juga maniak seks.

Menurut Peeters, sekalipun vulgar, Tintin di Thailand tetap lucu. Tintin dan kawan-kawan banyak melontarkan le-lucon slang. Entah mengapa Tintin ditafsirkan sebagai gay. Mungkin mengingat dalam petualangan-petualangan Tintin yang diciptakan Herge, Tintin selalu ditampilkan tak pernah punya hubungan dengan perempuan. Maka para komikus usil ini akhirnya membikin versi suka-suka mereka. Tintin itu homoseks.


Herge Foundation tentu saja gusar bukan kepalang. Mereka gigih melacak, dan akhirnya menemukan seorang pria bernama Bud E. Weyser (pelesetan merek bir terkenal Budweiser) yang bermukim di Tournai, kota tempat kantor pusat Casterman, penerbit album-album Tintin. Dialah yang membuat Tintin versi ini. Weyser ditangkap bersama tiga komikus lain. Tapi komik Tintin di Thailand sudah telanjur beredar di pasar.

161831087698

Polisi hanya mendapati 650 kopi yang tersisa dan membakarnya. ”Tapi saya rasa masih ada beberapa orang yang menyimpannya untuk koleksi pribadi karena versi itu sudah terjual di mana-mana. Bahkan, menurut teman saya, versi itu masih bisa didapatkan di Thailand. Tentu saja di pasar ilegal,” kata Peeters.

Direktur Herge Studio, Nick Rodwell, selanjutnya menuding Casterman, penerbit yang memegang hak cipta album-album Tintin selama ini, tak becus. Rodwell menganggap Casterman tidak cukup lihai dalam memasarkan Tintin di seluruh dunia sehingga Tintin bajakan banyak beredar. Casterman juga dianggap tidak cukup memasyarakatkan soal hak cipta kepada pembaca. Rodwell menyalak, Casterman akan didepak.

Casterman balik berang. Ia tak mau diusir begitu saja karena Herge sudah memberikan hak penerbitan kepadanya hingga tahun 2053. Casterman menunjukkan surat kontrak itu di depan hidung Rodwell. Rodwell kalah set dan akhirnya melunak dan memilih ”berteman” dengan Casterman.

Tintin di Thailand bukan satu-satunya karya Tintin yang dibuat secara underground. Pada 1980, misalnya, muncul komik The Adventures of Tintin: Breaking Free karya seseorang bernama pena J. Daniels, yang dipublikasikan oleh Attack International, yang kemudian dicetak ulang pada 1999. Breaking Free adalah kisah Tintin yang hidup menganggur dengan pamannya, Haddock, yang terlibat dengan kelompok sosialis anarkis.

Ada ratusan lain Tintin versi non-Herge dibuat oleh komikus-komikus jahil tapi kreatif. Di Yogya saja banyak beredar kaus dengan gambar sablon ”Tintin di Malioboro”. Selain Tintin di Thailand, karya bajakan yang cukup terkenal adalah Tintin di Irak. Komik ini tidak dipublikasikan dalam versi cetak, tapi lewat Internet.

Untuk Tintin di Irak ini, pihak Herge Studio kewalahan karena tak bisa mencokok siapa pembuatnya. Tintin di Irak yang diterbitkan oleh Tintinparodie itu, menurut Herge Studio, sangat kurang ajar. Sebab, di sana, nama Herge diganti dengan nama berbau Arab, Youssouf. Seperti judul dan penerbitnya, Tintin di Irak adalah parodi tentang perang Irak. Garis, gambar, semua yang ada dalam Tintin di Irak ini nyaris membuat orang pangling. Ia benar-benar seperti digambar oleh Herge sendiri.

Tintin di Irak sangat kontekstual, menceritakan saat tentara Amerika menyerbu Irak. Agaknya ini sebuah edisi yang diciptakan untuk mengkritik Bush. Tintin di Irak benar-benar tamparan bagi Herge Foundation, penjaga gawang hak cipta karya-karya Herge. Selama ini, segala bentuk publikasi dan penggunaan karakter atau simbol harus atas persetujuan mereka—sekecil apa pun bentuk publikasi itu.

Nick Rodwell, Direktur Herge Foundation, berang. Suami dari janda Herge ini mau menuntut. Tapi kepada siapa? Rodwell sudah menyewa pengacara dan ahli dunia maya untuk melacak orang-orang yang ada di balik Tintinparodie ini. Rodwell ingin menghapus jejak-jejak Tintin bajakan itu. Hasilnya nihil. Laporan dari ahli dunia maya malah bikin tambah parah. Ternyata ada sedikitnya 800 website yang memuat versi Tintin di Irak—dalam berbagai bahasa.

Herge Foundation dan Moulinsart dilanda dilema. Saat Rodwell melontarkan kekesalannya lewat media, setiap orang akhirnya malah tahu bahwa versi bajakan ini bisa di-download gratis. Kita juga bisa mengunduh sendiri versi yang satu ini. Dunia maya seperti ini dulu tidak pernah diperhitungkan Herge. Beberapa orang sahabat Herge, termasuk asistennya, Bob de Moor, sebetulnya pernah menyesalkan keputusan hak cipta absolut itu. Jika saja hak cipta itu bisa lebih fleksibel, mungkin penyebaran Tintin bajakan ini masih bisa diminimalkan.

Rodwell makin kesal karena Tintinparodie tidak hanya menyebarkan berbagai versi bajakan Tintin secara online. Organisasi yang bernaung di Parodie.org ini juga mengejek Moulinsart, perusahaan milik pribadi Rodwell, dan menyebut Rodwell sebagai oportunis sejati.

Herge, seperti kita ketahui, tidak punya keturunan. Ketika ia meninggal, otomatis hartanya terwariskan kepada sang istri, Fanny. Fanny kemudian menikah dengan Nick Rodwell. Mereka hidup mewah dengan peninggalan Herge. Setiap tahun jutaan kopi album Tintin terjual. Penjualan barang-barang suvenir dan segala hal lain yang berhubungan dengan Tintin, semuanya, masuk ke rekening Fanny.

Rodwell dikritik karena memegang otoritas penuh terhadap keputusan membuat suvenir dan cetak ulang, bahkan—syahdan—termasuk memutuskan perlu-tidaknya memberi izin kepada Fanny untuk diwawancarai sebuah media. Ini membuat istri Herge itu nyaris tak tersentuh media. Rodwell hanya memperbolehkan Fanny diwawancarai bila wawancara itu menguntungkan untuk publikasi Tintin. Dialah yang menghitung untung-ruginya apakah sebuah wawancara layak diberikan atau tidak.

Banyak komikus muda memparodikan sikap Rodwell ini. Termasuk Tintinparodie yang membuat Tintin di Irak itu. ”Seolah-olah Rodwell pemegang hak atas karya Herge,” kata Tintinparodie mengejek.

Seno Joko Suyono (Jakarta), Asmayani Kusrini (Brussel)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161831087698



Layar 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.