Agar Tubuh Bugar di Era Normal Baru Covid-19 - Laporan Utama - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Utama 8/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pantang Bubar demi Bugar

Pembatasan aktivitas di tempat umum akibat wabah Covid-19 tak mengendurkan semangat penggiat olahraga untuk terus berlatih. Pusat-pusat kebugaran yang ditutup selama pandemi siap beroperasi lagi.

i Pengunjung fasilitas olahraga gyn Fitness First di Jakarta, awal Maret lalu./ Dok. Fitness First
Pengunjung fasilitas olahraga gyn Fitness First di Jakarta, awal Maret lalu./ Dok. Fitness First
  • Pegiat olahraga beradaptasi dengan aturan pembatasan aktivitas selama pandemi Covid-19 berlangsung. .
  • Pengelola pusat kebugaran yang bisnisnya tersendat karena pandemi memberikan banyak pelatihan olahraga gratis secara virtual.
  • Melonggarkan pembatasan lebih awal agar masyarakat bisa berolahraga dapat membantu mereka menghadapi tekanan akibat wabah. .

TIGA bulan berlalu sejak Muhammad Justian Pradinata terakhir kali menjalani calisthenics—latihan mengolah otot dengan mengandalkan bobot tubuh sendiri—bersama kawan-kawannya di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Sekitar sepekan setelah kasus pertama Covid-19 diumumkan pada 2 Maret lalu, taman itu ditutup. Wabah yang akhirnya mengoyak Jakarta itu membuat dia tak lagi melakoni olahraga seperti biasanya. “Taman dan lapangan lain juga menyusul ditutup,” kata Justian pada Rabu, 27 Mei lalu. 

Justian, 29 tahun, yang juga rutin berolahraga lari, harus menyesuaikan aktivitasnya kala pemerintah membatasi interaksi dan pergerakan masyarakat untuk meminimalkan potensi penyebaran virus SARS-CoV-2 pemicu wabah Covid-19. Ia kini banyak terlibat dalam kampanye olahraga di media sosial dan mengikuti kelas-kelas olahraga virtual bersama kawan-kawannya. “Pakai telekonferensi bisa sampai 30 orang,” tutur pegawai PT Perusahaan Perdagangan Indonesia itu. 

Dia pun berimprovisasi di rumah karena tak bisa berolahraga di pusat kebugaran langganannya di Jakarta Pusat yang ditutup sementara selama pandemi. Sejumlah barang, seperti kursi, ransel yang diisi batu bata dan botol air, ia pakai untuk berlatih angkat beban. Menurut Justian, rutin berolahraga meski dengan peralatan seadanya membantu menjaga kesehatan tubuh. “Tetap masih lebih seru olahraga rame-rame di lapangan,” ujar Justian, yang mematok jadwal olahraga setidaknya tiga kali sepekan. 


Chief Executive Officer Trijee Sportswear Yulianti Utomo juga meneruskan rutinitas berolahraga lari selama pandemi berlangsung. Perempuan 58 tahun yang biasa berlari hampir setiap hari sejauh 10 kilometer itu mengikuti protokol kesehatan, seperti mengenakan masker serta menjaga jarak dan kebersihan, saat berolahraga. “Bedanya, lokasi lari jadi agak sepi karena yang berolahraga makin sedikit,” ucapnya.

Pelajar berolahraga dengan mengenakan pelindung wajah di Lapangan Basket YPK, Jakarta Selatan, 29 Mei lalu./ TEMPO/Nurdiansah

Aturan pembatasan sosial berskala besar yang dirilis pemerintah tak menyurutkan semangat berolahraga Yulianti. Menurut dia, berolahraga menjadi cara terbaik untuk menjaga kebugaran dan meningkatkan imunitas tubuh. Berolahraga juga membantunya mengurangi stres. “Saya justru takut kalau jadi malas berolahraga,” ujar Yulianti, yang menyelesaikan lomba lari Tokyo Marathon sejauh 42 kilometer tahun lalu.   

Pandemi ini ikut menohok dunia olahraga. Sejumlah liga sepak bola papan atas Eropa dibatalkan atau ditunda. Kompetisi sepak bola Liga 1 Indonesia yang baru bergulir tiga pekan sejak dimulai pada 29 Februari lalu pun ditunda. Berbagai perhelatan olahraga, termasuk Olimpiade Tokyo, Jepang, dibatalkan. Sebagian lomba malah diubah menjadi turnamen virtual, seperti Boston Marathon yang menjadi balap lari virtual pada 7 September nanti setelah urung digelar pada 20 April lalu. 

Pemerintah Indonesia sendiri berencana memulai tatanan hidup normal baru alias new normal untuk memulihkan situasi, terutama di bidang ekonomi, setelah tiga bulan bergulat dengan wabah Covid-19. Kajian awal yang dibuat Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan normal baru akan diterapkan bertahap pada awal Juni, dimulai dari sektor industri dan bisnis serta kesehatan. Sektor lain, seperti hiburan, restoran, kafe, dan pusat kebugaran, dibuka bertahap pada awal Juli. 

Tak lagi bebas memeras keringat di lapangan dan pusat kebugaran selama pandemi berlangsung, para penggiat olahraga beradaptasi dengan beralih ke dunia maya. Beragam aplikasi digital olahraga menjadi alternatif. Anggota komunitas olahraga pun berlatih bersama via media sosial. “Saya ikut dua-tiga kali berlatih dalam seminggu,” kata Citra Puspita Sari, pegawai swasta. Sebelum pandemi, ia biasa berolahraga bersama koleganya di Gelora Bung Karno. 

Pengelola pusat kebugaran juga tak ketinggalan memanfaatkan media sosial. Mereka yang tadinya menyediakan kelas dan fasilitas olahraga berbayar beralih memberikan latihan gratis lewat media sosial setelah fasilitasnya terpaksa ditutup selama pandemi. “Situasi ini mendorong kami melakukan perubahan,” tutur Public Relations Manager Celebrity Fitness and Fitness First Indonesia Farida Sutarman lewat pesan WhatsApp pada Jumat, 29 Mei lalu. 

Sebanyak 44 fasilitas latihan Celebrity Fitness dan Fitness First ditutup sementara sejak 24 Maret lalu. Sebelumnya, jaringan pusat kebugaran terbesar di Indonesia itu masih bisa beroperasi dengan memperketat prosedur kesehatan dan kebersihan untuk staf dan tamu. Menurut Farida, jadwal kelas latihan pun direnggangkan agar ruangan bisa dibersihkan lebih baik. Kapasitas studio juga disesuaikan agar mereka yang berolahraga berjarak setidaknya 1,5 meter satu dengan yang lain. 

Kini, para instruktur Celebrity Fitness dan Fitness First mengajarkan teknik olahraga, dansa, yoga, dan pilates melalui Facebook dan Instagram yang bisa diakses secara gratis. Managing Director Celebrity Fitness and Fitness First Indonesia David Prosser mengatakan kelas-kelas olahraga gratis itu dibuat untuk membantu publik tetap bugar. “Berada di rumah bukan alasan untuk tidak berolahraga. Yang Anda butuhkan hanya telepon seluler atau laptop untuk mengakses kelas olahraga online kami,” ucap Prosser. 

Aturan pembatasan kegiatan olahraga juga membuat jaringan pusat kebugaran milik praktisi binaraga Ade Rai ditutup. Lebih dari dua bulan peralatan dan fasilitas olahraga Rai Fitness di sejumlah kota, antara lain di Jakarta, Bandung, dan Denpasar, mangkrak. “Padahal kami masih harus menanggung biaya operasional dan pegawai,” kata Ade saat dihubungi via telepon pada Kamis, 28 Mei lalu. 

Meski bisnis pusat kebugaran mandek, Rai Fitness masih melayani registrasi pelanggan secara daring (online). Pengelola rutin memberikan informasi tentang status gym dan kesehatan, juga menawarkan beberapa jenis makanan dan minuman herbal dari Cafe Rai. Tip berolahraga dan menjaga kebugaran di rumah pun kerap diunggah di media sosial. “Untuk menjaga interaksi dengan pelanggan. Tapi tetap saja tidak bisa menggantikan model relasi seperti latihan bersama di gym,” ujar Ade. 

Ade mengungkapkan, pusat kebugaran Rai Fitness sebenarnya sudah siap beroperasi dengan menjalankan protokol kesehatan yang ketat dalam skema normal baru. Meski lokasinya ditutup untuk umum selama pandemi berlangsung, Ade menjelaskan, peralatan dan ruang olahraga Rai Fitness rutin dibersihkan. Arena olahraga juga disemprot disinfektan. “Memastikan para pelanggan bisa aman berolahraga jika nanti gym diizinkan beroperasi lagi,” katanya. 

Begitu pula Celebrity Fitness dan Fitness First. Menurut Farida, pengelola sudah menyiapkan langkah mengantisipasi kondisi normal baru. Protokol keselamatan, seperti penggunaan masker dan sarung tangan serta pengecekan suhu setiap orang yang mengakses ruang olahraga, sudah biasa diterapkan sebelum jaringan pusat kebugaran itu ditutup. “Pembersihan komplet dilakukan setiap empat hari untuk memastikan fasilitas tetap bersih dan berfungsi baik,” ujarnya. 

Ade Rai mengatakan membuka tempat olahraga dan pusat kebugaran lebih awal justru memberi  masyarakat kesempatan meningkatkan daya tahan tubuh. Kondisi normal baru, menurut Ade, adalah munculnya kebiasaan berolahraga masyarakat. Olahraga, Ade melanjutkan, bisa memperbaiki kondisi psikologis yang mungkin tertekan karena terpapar terlalu banyak informasi tentang penyakit. “Orang mudah jatuh sakit ketika fisiknya tidak bugar, lalu ditambah dengan stres,” tuturnya. 

Atlet triatlon, Inge Prasetyo, mengatakan olahraga yang minim kontak fisik dengan orang lain, seperti lari, bersepeda, atau tenis, sebetulnya sudah dapat dilakukan, seperti yang dia alami di Phuket, Thailand. Dia masih tertahan di sana sejak awal Maret lalu lantaran aturan karantina wilayah. “Membuka sarana olahraga itu bagus untuk publik. Tentu aturan kesehatan harus ditaati untuk meminimalkan risiko penularan penyakit,” ucapnya.

GABRIEL WAHYU TITIYOGA
2020-08-05 06:21:01

New Normal | Normal Baru Kesehatan Masyarakat Olahraga

Laporan Utama 8/8

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.