Babak Belur Pariwisata Lokal Gara-gara Corona - Laporan Utama - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Utama 6/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Paceklik Akibat Covid

Sejumlah industri dalam negeri terpuruk karena mewabahnya Covid-19. Sebagian karyawan mulai diistirahatkan.

i Wisatawan menikmati pemandangan di Tanah Lot, Tabanan, Bali, 16 Februari 2020. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Wisatawan menikmati pemandangan di Tanah Lot, Tabanan, Bali, 16 Februari 2020. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
  • Sektor pariwisata mengalami penurunan akibat wabah virus corona.
  • Sejumlah industri pun bersiaga menghadapi kelangkaan barang impor dari Cina.
  • Gubernur Bank Indonesia memperkirakan kondisi akan benar-benar pulih dalam enam bulan.

AREA parkir kawasan wisata Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali, terlihat lengang pada Rabu, 4 Maret lalu. Hanya ada segelintir mobil di situ. Padahal biasanya mobil dan minibus berdempet rapat. Toko-toko suvenir yang menjual topi, baju, dan tas juga minim pembeli. “Belakangan ini memang lagi sepi,” kata manajer pengelola obyek wisata Tanah Lot, I Ketut Toya Adnyana.

Anyep-nya wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot itu, menurut Adnyana, lantaran merebaknya wabah Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19, yang terdeteksi pertama kali di Wuhan, Cina, pada Desember 2019. Hingga Sabtu pagi, 7 Maret lalu, hampir 100 ribu kasus terkonfirmasi dan 3.400 orang meninggal. Sebanyak 80 ribu kasus terjadi di daratan Cina.

Pemerintah menutup sementara penerbangan dari dan ke Cina mulai 5 Februari dan melarang masuk pendatang asal Negeri Panda. Belakangan, corona menyebar ke hampir 90 negara. Pemerintah pun membatasi pendatang dari sejumlah kota di Iran, Italia, dan Korea Selatan mulai Ahad, 8 Maret.

Menurunnya jumlah wisatawan turut mempengaruhi okupansi hotel. General Manager Hotel Infinity8 Bali, Nusa Dua, Muhsin Anwar, mengatakan, setelah virus corona merebak, penginapannya kehilangan sekitar 25 persen turis, yang biasanya berasal dari Cina. Meski demikian, pelancong asal Amerika dan Eropa masih ada yang menginap di sana. “Tapi slow,” ujarnya.

Kondisi serupa terjadi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang mencoba bangkit setelah gempa menggetarkan kawasan itu pada pertengahan 2019. Jumlah turis tak meningkat pesat. Di pelabuhan penyeberangan Senggigi, Lombok Barat, pada Kamis siang, 5 Maret lalu, tak ada aktivitas bongkar-muat penumpang. “Paceklik sudah,” kata Bukran, pengelola Koperasi Jasa Wisata Senggigi. Biasanya dalam sehari bisa 10-15 boat melayani tamu yang akan menyeberang ke tiga pantai andalan: Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan. Belakangan, hanya ada empat kapal per hari.

Di Bangka Belitung, bisnis hotel dan pariwisata juga loyo. Wakil Bupati Belitung Isyak Meirobie mengatakan kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, anjlok 15-25 persen. Pemilik agen wisata Putera Belitung Tour, Robi Saputra, mengatakan sejumlah pelancong menunda perjalanannya karena sempat muncul isu di Bangka ada pasien terjangkit Covid-19. Padahal kabar itu tidak terbukti benar. “Mereka menunda sampai April,” ujarnya.

Pedagang menata tumpukan karung bawang putih dari China di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 6 Februari 2020. TEMPO/Tony Hartawan



Sekretaris Jenderal Asosiasi Travel Agent Indonesia Pauline Suharno mengatakan kondisi ini membuat agen wisata mesti mengencangkan ikat pinggang. Sebab, pemasukan tak sebanding dengan biaya operasional. Menurut Pauline, sejak awal Maret lalu, sejumlah perusahaan travel telah merumahkan karyawannya selama sebulan ke depan. Mereka juga meniadakan shift malam atau lembur. Pada Sabtu, kantor pun tutup.

Sepinya peminat tur terlihat di kantor agen wisata Dwidayatour di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, Kamis, 5 Maret lalu. Padahal biasanya, menurut seorang salesman yang ditemui Tempo, kantor itu hampir selalu ramai. Menurut dia, banyak pula pelancong yang membatalkan rencana perjalanan. Akibatnya, perusahaan mesti mengembalikan sejumlah uang pembayaran.

Di tengah tersungkurnya sektor pariwisata, pemerintah berencana menggelontorkan duit Rp 298,5 miliar untuk mendongkrak sektor wisata. Sekitar Rp 73 miliar bakal digunakan Kementerian Pariwisata untuk menggandeng sejumlah influencer atau pemengaruh asing di media sosial yang bisa mempromosikan Indonesia. Sisanya akan digunakan sebagai insentif maskapai dan agen travel, promosi, serta kegiatan pariwisata.

Namun rencana itu menuai kritik. Stimulus itu dikhawatirkan bakal membuka pintu penularan corona. Pemerintah menunda sebagian rencana itu, yaitu anggaran untuk pemengaruh dan stimulus wisatawan asing. “Sementara ditunda,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio.

Bukan hanya sektor pariwisata, sektor seperti otomotif juga sedikit-banyak terkena dampak penyebaran corona. Manajer Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia Attias Asril mengatakan ditutupnya pintu masuk dari dan ke Cina berpotensi menghambat proses produksi. Sebab, sejumlah komponen yang dipasok supplier masih diimpor dari Cina. “Tapi kami masih punya stok,” ujarnya. Hanya, Attias khawatir, apabila kondisi ini berkepanjangan, proses produksi bisa benar-benar terganggu. Perusahaannya pun berancang-ancang mencari penyuplai alternatif.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Bob Azam mewaspadai pula kelangkaan komponen asal Cina. Meski pasokan sejauh ini belum terganggu, Bob berharap persoalan itu bisa segera rampung. “Status kami sekarang waspada. Kami tak bisa memastikan jika lewat dari April.”


Pasokan kebutuhan pokok dalam negeri pun berpotensi terganggu. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman mengatakan impor bahan baku makanan banyak berasal dari Cina. Ia mencontohkan, tahun lalu, impor produk hortikultura dari Cina, seperti bawang putih, cabai, dan kentang, mencapai US$ 1,5 miliar. Sedangkan impor pangan olahan senilai US$ 795 juta.

Seretnya impor produk pertanian dari Cina juga membuat harga bawang putih melambung. Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, hal itu terjadi karena panic buying. “Ada kepanikan publik. Distributornya mengurangi jatah ke pasar karena takut tidak ada lagi impor masuk,” kata Syahrul. Ia mengklaim pasokan bawang putih masih aman. Kementerian Pertanian memiliki stok hingga 120 ribu ton.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memprediksi kondisi ini akan seperti kurva berbentuk “V”. Artinya, keterpurukan ini hanya berlangsung sementara. Perry memperkirakan bulan depan kondisi ekonomi berangsur membaik seiring dengan mulai meredanya wabah. “Paling buruk dalam perkiraan kami selama dua bulan, Februari-Maret. April mulai ada perbaikan meskipun belum pulih,” ujarnya. Menurut dia, situasi baru benar-benar pulih dalam enam bulan.

Sejumlah stimulus sudah disiapkan pemerintah agar perekonomian bergeliat, dari insentif kemudahan izin ekspor dan impor hingga pemangkasan bea impor. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartanto mengatakan pemerintah akan mengucurkan dana stimulan Rp 10 triliun guna mengantisipasi dampak corona terhadap perekonomian.

DEVY ERNIS, MUHAMMAD HERDARTYO, MAHARDIKA, ABDUL LATIEF APRIAMAN (LOMBOK), MADE ARGAWA (BALI), SERVIO (BANGKA BELITUNG)

2020-06-01 10:00:41

Covid-19 Virus Corona Bisnis Pariwisata Wishnutama Kusubandio

Laporan Utama 6/7

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.