Kesaksian dari Lantai 6 - Laporan Utama - majalah.tempo.co

Laporan Utama 4/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kesaksian dari Lantai 6


Pria yang dianiaya di Kampung Bali bukan Andri Bibir seperti klaim polisi. Pengakuan orang dekat korban.

Edisi : 6 Juli 2019
i Dugaan penganiayaan MA di Kampung Bali, Jakarta. Youtube
Dugaan penganiayaan MA di Kampung Bali, Jakarta. Youtube

TERBARING di Rumah Sakit Bhayangkara R.S. Soekanto di Kramat Jati, Jakarta, sejak 23 Mei lalu, MA merengek-rengek ingin pulang dan menyantap nasi Padang. Kepada kekasihnya, Fani Sariya, MA mengatakan jemu dengan menu rumah sakit. “Cuma susu khusus penderita sakit lever setiap lima jam sekali,” kata Fani kepada Tempo, Kamis, 4 Juli lalu.

MA dan Fani Sariya adalah nama samaran. Fani meminta nama asli mereka disembunyikan karena alasan keselamatan. MA, 29 tahun, dirawat di rumah sakit milik Kepolisian RI itu karena menderita cedera berat di kepala dan perut. Menurut Fani, di tempurung saja, MA harus menerima tujuh jahitan.

Sejumlah aktivis hak asasi manusia meyakini MA adalah sosok pria yang dianiaya sejumlah polisi berseragam hitam di area Smart Services Parking di Kampung Bali, Jakarta, seperti terekam dalam video yang kemudian beredar luas. Politikus Partai Amanat Nasional, Mustofa Nahrawardaya, sempat menyebut lelaki itu Harun Rasyid, yang tewas dalam kerusuhan.

Setelah video tersebut viral, polisi menunjukkan Andriansyah alias Andri Bibir ke publik. Menurut polisi, pria dalam video itu adalah Andri, kawan MA, yang kini mendekam di tahanan Kepolisian Daerah Metro Jaya. Polisi menyebut Andri, 29 tahun, sebagai perusuh dan berperan menyiapkan batu bagi perusuh lain untuk menyerang aparat keamanan.


Pada 21 Mei malam, MA dan Fani bercengkerama di tasong, gubuk berukuran 1,5 x 1,5 meter di dalam area Smart Services- Parking yang terletak di belakang Menara Thamrin itu—sekitar 250 meter dari gedung Badan Pengawas Pemilu. Tak punya tempat tinggal, MA sering berkeliaran di tasong sepulang menjaga parkir di kawasan Sarinah. Lewat tengah malam, ketika kerusuhan pecah di Jalan Wahid Hasyim, Fani merajuk meminta pulang. “Sayang, aku takut,” ujarnya kepada MA.

Pada pukul 04.00, 22 Mei, Fani baru bisa menggeber sepeda motornya ke arah timur Jakarta. Itu pun setelah MA meminta izin kepada polisi yang berjaga di sekitar Smart Services Parking. Ditinggalkan Fani, MA tetap tinggal di tasong.

Sepanjang hari itu, keduanya terus bertukar kabar lewat telepon. MA sempat meminta Fani datang ke tasong lagi, tapi Fani menolak karena kapok dikepung huru-hara. Karena tak berpacaran pada hari itu, MA pergi bersama Andri Bibir ke kawasan Kebon Kacang sekitar pukul 23.00. Mereka menenggak Intisari, minuman racikan beralkohol, sampai teler.

Kepergian MA dan Andri malam itu membuat Roberto, 54 tahun, yang dianggap pentolan lahan parkir tersebut, khawatir. Menyisir wilayah sekitar, Roberto menemukan mereka di Jalan Kampung Bali XVII, di belakang area parkir. Roberto meminta mereka segera kembali ke area parkir karena kerusuhan lebih gawat ketimbang malam sebelumnya.

MA dan Andri lalu merebahkan diri di bawah pohon di samping Masjid Al-Huda di dalam area parkir. MA beberapa kali mengontak Fani, tapi tak mendapat respons. Lewat subuh, sekitar pukul 05.00 pada 23 Mei, polisi menyisir Kampung Bali, termasuk merangsek ke lahan parkir yang dihuni Roberto, MA, dan Andri.

Roberto lari ke belakang lahan parkir karena sedang tak membawa kartu identitas. Dia sebenarnya mengajak MA dan Andri ikut kabur, tapi mereka tak menggubris karena masih pengar. Roberto, yang ngacir hingga ke lantai enam area parkir Menara Thamrin, menyaksikan MA diseret seorang polisi dengan menjambak rambutnya. Belasan personel lain langsung mengerubungi dan menghajar MA di sekujur tubuh, terutama kepala dan perut. Menurut Roberto, sejumlah polisi sampai menjebol pagar yang patahan besinya masih dibiarkan bengkok untuk sekadar menonjok MA.

Roberto meyakini MA, bukan Andri, yang menjadi bulan-bulanan polisi karena dia mengenali perawakan keduanya. Ia melihat tubuh lelaki yang digebuki tak punya tato, sedangkan badan Andri penuh rajah. “Tak mungkin penglihatan saya keliru,” ujarnya.

Versi polisi, penyisiran di Kampung Bali dipicu ulah sepuluh orang yang diduga memprovokasi polisi yang sedang menggelar apel di samping kantor Bawaslu. Mereka disebut melempar batu, bom molotov, petasan, dan melentingkan anak panah ke barisan aparat. Dua anak panah sempat menancap di rompi salah seorang komandan batalion. “Personel spontan mengejar dan memukul perusuh karena mereka melawan dengan palu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo, Kamis, 4 Juli lalu.

Kepolisian telah memeriksa sepuluh polisi yang menganiaya MA—Andri Bibir kalau versi polisi. Berdasarkan keterangan tiga saksi dan pengakuan sepuluh polisi itu, terbukti terjadi pelanggaran disiplin kepolisian. Sepuluh anggota Korps Brigade Mobil tersebut dihukum kurungan selama 21 hari di Polda Nusa Tenggara Timur.  

RAYMUNDUS RIKANG, DEVY ERNIS
2020-04-08 20:42:06


Laporan Utama 4/7

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.