Amunisi di Ronde Kedua - Laporan Utama - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Laporan Utama 1/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Amunisi di Ronde Kedua

Anies dan Basuki berebut suara pemilih Agus Yudhoyono. Memainkan kartu agama.

i

MALAM sebelum pemilihan Gubernur Jakarta pada Rabu pekan lalu, Muhammad Rifky alias Eki Pitung dihubungi seorang anggota tim kampanye Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Ketua Barisan Betawi, relawan Agus Harimurti-Sylviana Murni, itu diajak mengalihkan dukungan dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. "Ikut kami saja," kata Eki menirukan ajakan itu, Kamis pekan lalu. "Besok calon nomor satu suaranya mentok 19-20 persen."

Nomor satu adalah nomor urut Agus-Sylvi, sementara Anies-Sandi nomor tiga dan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat nomor dua. Menurut Eki, si pelobi mengatakan persentase tersebut berdasarkan sigi internal pasangan nomor tiga yang tidak dirilis.

Eki sempat tak percaya. Hitungan terakhir berbagai lembaga survei menunjukkan suara Agus-Sylvi sejelek-jeleknya masih di atas 20 persen. Esoknya, berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, Agus-Sylvi malah dipilih oleh hanya 17 persen warga Jakarta.


Eki tak langsung mengalihkan dukungan dengan alasan akan mengevaluasi pencoblosan putaran pertama. "Jangan sampai kalah dua kali," ujarnya. Tapi Barisan Betawi, yang menaungi sejumlah organisasi kemasyarakatan Betawi, seperti Forum Betawi Rempug (FBR) dan Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), tak mungkin menyokong Basuki-Djarot. "Kami penentang Ahok," kata Eki, yang pernah menggeruduk Ahok di Balai Kota.

Seorang juru lobi tim Anies-Sandi adalah Muhammad Taufik. Politikus Gerindra itu mengatakan telah menghubungi beberapa kelompok relawan Agus-Sylvi, termasuk Barisan Betawi. Setelah pencoblosan, lobi-lobi makin gencar. Taufik tak henti mengontak koleganya di Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Persatuan Pembangunan.

Taufik bergegas mencari dukungan menghadapi putaran kedua untuk menggaet pendukung Agus sebanyak-banyaknya. Ia melihat Anies-Sandi berpeluang mengalahkan Basuki-Djarot karena suara keduanya tak terpaut jauh. Hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum menunjukkan Ahok mendapat 42,91 persen dan Anies 40,05 persen.

Pada Kamis malam pekan lalu, Taufik bertemu dengan Ketua PAN Jakarta Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio dan Ketua PPP Jakarta Abdul Aziz di pusat belanja Plaza Senayan. Esoknya, dia bertemu dengan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta dari PPP, Abraham Lunggana alias Haji Lulung, dan Ketua Demokrat Jakarta Nachrowi Ramli. Taufik mengklaim orang-orang yang ditemuinya bersedia bergabung. "Sudah ada sinyal," katanya.

Abdul Aziz membenarkan kabar bertemu dengan Taufik. "Baru penjajakan," ujarnya. Wakil Sekretaris Jenderal PAN Dipo Ilham mengatakan partainya hampir pasti mengalihkan dukungan ke Anies dan tinggal menyatakan sikap resmi. Adapun Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Rachland Nashidik menyebutkan partainya belum membahas pengalihan dukungan.

Sementara partai masih menunggu hasil rapat, kelompok relawan Agus sudah ada yang pindah gerbong. Yang pertama mengalihkan dukungan secara resmi adalah Komite Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI), yang dipimpin mantan pembalap Alex Asmasoebrata. Organisasi pendukung Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilihan presiden 2009 itu mendeklarasikan dukungannya sehari setelah pencoblosan.

Menurut Alex, KNMI tak tiba-tiba mendukung Anies-Sandi. Jauh sebelum pemilihan, ia sudah bertemu dengan Sandiaga Uno membicarakan rencana mendukungnya bila Agus-Sylvi terjungkal di putaran pertama. "Setelah Agus-Sylvi tidak ada, kan, kami harus ada cadangan," ujarnya. "Nah, cadangan inilah yang kami timbang jauh-jauh hari."

Lewat mesin partai dan relawan itu, Muhammad Taufik yakin bisa menggaet pemilih Agus. Apalagi, kata Taufik, karakter pemilih Agus dan Anies serupa. "Berasal dari kalangan muslim," ujarnya.

Hasil exit poll Indikator Politik Indonesia menunjukkan hampir semua pemilih Agus beragama Islam. Dari 100 persen pemilih beragama Islam, Agus menangguk dukungan 20 persen. Pemilih muslim kebanyakan memilih Anies, yakni 46 persen. Sisanya, 33 persen, memilih Basuki. Dari sekitar 7 juta pemilih Jakarta, pemilih beragama Islam mencapai 85 persen, dengan etnis terbesar berasal dari Jawa, disusul Betawi dan Sunda.

Di kalangan pemilih nonmuslim, Basuki mendapatkan dukungan 97 persen. Sisanya, 3 persen, mengalir ke Anies. "Di putaran kedua, dukungan pemilih nonmuslim mungkin tak berubah," kata Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi.

Sigi Indikator tersebut juga mengungkap perkiraan ke mana pemilih Agus akan menyalurkan suara pada putaran kedua. Dari 17,3 persen pemilih Agus, sebanyak 12,8 persen memutuskan bakal memilih Anies, 3 persen tidak menjawab, dan 1,3 persen menyatakan tak akan memilih baik Anies maupun Basuki. Hanya 0,1 persen yang mengaku akan memilih Basuki.

Dengan demikian, berdasarkan exit poll pada hari pencoblosan, Anies bakal menang dengan suara 52,4 persen versus Basuki 43,3 persen. Karena itu, tim Anies-Sandi akan optimal menggarap pemilih muslim. "Kami akan merangkul ulama-ulama, silaturahmi dengan para habib," ujar Taufik.

Sebenarnya ini resep Anies mengerek elektabilitasnya sejak Desember tahun lalu. Di luar mesin tim pemenangan yang mulai panas, setelah demonstrasi 2 Desember 2016, kubu Anies memanfaatkan sentimen orang Islam terhadap tuduhan penistaan agama oleh Basuki. Dalam pengamatan Burhanuddin Muhtadi, Anies mulai meninggalkan citra moderatnya dan merangkul kelompok-kelompok kanan. Salah satunya pemimpin Front Pembela Islam, Rizieq Syihab.

Anies dan Sandiaga pun mengganti foto profilnya untuk dicetak di surat suara dengan foto mereka berpeci. Saat menemui calon pemilih, mereka tak pernah melepaskan peci, sebagaimana selalu mengenakan kemeja putih dan celana katun cokelat pias seperti Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang mulai blusukan pada awal Januari lalu. "Turunnya Prabowo ke lapangan sukses menarik pendukungnya yang berada di kubu Agus," kata Burhanuddin.

l l l

LOBI-lobi tak hanya dilancarkan kubu Anies-Sandi, tapi juga Basuki-Djarot. Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani menerima ajakan dari kedua kubu sekaligus. Kepada kubu Anies, Arsul menjawab, "Kami istikharah dulu." Ia sengaja memberi jawaban begitu karena, "Di sana kan ada PKS. Jadi saya pakai ‘bahasa’ mereka." Sedangkan kepada utusan kubu Basuki, Arsul berkata, "Beri kami waktu untuk bernapas."

Partai Ka’bah diincar kubu Basuki karena memiliki basis pemilih muslim yang kuat di Jakarta. Basuki memerlukan mereka untuk menambah pemilih muslim. Dalam putaran pertama, berdasarkan exit poll Indikator, pemilih PPP lebih banyak menyalurkan suara kepada Anies-Sandi. "Anies lebih berpengalaman ketimbang Agus," ujar Adi, warga Rawa Belong, Jakarta Barat, pemilih PPP pada pemilihan legislatif 2014.

Meski begitu, pengusung Basuki bukannya tak menyadari PPP pimpinan Muhammad Romahurmuziy itu sulit merapat. Di kubu Basuki sudah ada Djan Faridz, yang mengklaim keabsahan PPP kepengurusannya. Bila akhirnya menjatuhkan pilihan, kata Arsul, mungkin kubunya akan mendukung Anies. "Tapi saya akan buka juga opsi netral," ujarnya.

Upaya menggaet PPP dilakukan lewat banyak orang. Selain Arsul, yang sudah pasti didekati adalah Romahurmuziy. Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mengaku telah bertemu dengannya. "Kami ini kan teman, jadi tiap hari bertemu," katanya. Bahkan Idrus juga telah berbicara dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan seorang petinggi PKB. "Mereka perlu berpikir dan menimbang-nimbang," ujar Idrus.

Peluang terbesar pasangan Basuki-Djarot menggaet partai Islam sebenarnya ada pada PKB. Dalam exit poll Indikator, pemilih PKB paling banyak mencoblos Agus-Sylvi dan Basuki-Djarot. Satu hal lagi yang bisa menjadi pemulus adalah keberadaan Partai Keadilan Sejahtera di kubu Anies, yang-meski sama-sama partai Islam-berbeda haluan dengan PKB. Secara ideologi, kedua partai berhadapan. Faktor inilah yang dipakai untuk mengelus PKB oleh tim lobi Basuki.

Dilobi kiri-kanan, PKB tak langsung setuju. "Dua-duanya mengajak kami karena PKB menentukan," kata Sekretaris Jenderal PKB Lukman Edy. "Ke mana PKB bergerak, itu yang menang."

Sementara pemimpin partai diserahi tugas merangkul partai lain, tim pemenangan Ahok akan berfokus mengoptimalkan posisi Basuki yang kembali aktif menjabat Gubernur DKI. "Cukup kerja yang baik saja," kata Tubagus Ace Hasan Syadzily, sekretaris tim kampanye Basuki, dari Golkar.

Tak ada masa kampanye pada putaran kedua. Maka, menurut Ace, cara ini efektif untuk meyakinkan pemilih rasional yang tersebar di kubu Anies dan Agus.

Momen lain adalah sidang penodaan agama. Hingga menjelang pencoblosan putaran kedua, giliran pihak Basuki menghadirkan saksi meringankan di ruang sidang. Menurut Ace, ini kesempatan emas untuk menjelaskan kepada publik bahwa kasus yang dituduhkan kepada Basuki adalah perkara hampa.

Saksi pelapor yang telah dihadirkan jaksa, kata Ace, bahkan menguntungkan Basuki. "Misalnya, pelapor tak ada di tempat ketika Pak Ahok berkata seperti yang dituduhkan," ujar anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Golkar itu.

Ini terbukti dari elektabilitas Basuki yang terus merangkak setelah kasusnya masuk pengadilan. Sempat melorot hingga di bawah 30 persen setelah demonstrasi 2 Desember 2016, tingkat keterpilihannya menanjak dalam berbagai sigi hingga pemungutan suara pekan lalu.

Menurut Ace, suara tersebut bukan limpahan dari Agus, melainkan dari pemilih yang sempat ragu dan tidak mengutarakan pilihannya dalam survei. Ace menilai suara Agus yang gembos beralih ke Anies.

Ace yakin elektabilitas Basuki terus naik seiring dengan kian terangnya perkara penodaan agama di pengadilan. Menurut dia, Basuki berpotensi terus melejit karena tingkat kepuasan penduduk Jakarta terhadap gubernur inkumben itu mencapai 75 persen. "Mereka hanya perlu diyakinkan bahwa Pak Ahok tidak menista agama," katanya.

Menurut juru bicara tim pemenangan Basuki-Djarot, Raja Juli Antoni, sebagian besar warga Jakarta adalah pemilih rasional. Dengan demikian, pindahnya dukungan partai tak otomatis mengalihkan dukungan pemilih. "Pada akhirnya pilihan itu bersifat personal, yang terkadang atau sering tidak terkait dengan isu elite partai," ujarnya.

Anton Septian | Ghoida Rahmah | Arkhelaus Wisnu, Larissa Huda | Chitra Paramaesti

2020-08-05 15:31:06


Laporan Utama 1/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.