Laporan Khusus 2/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Adu Lincah Rupiah dan Zaman

Rupiah memasuki usia 74 tahun. Lahir sebagai penanda bangsa yang baru merdeka, mata uang ini telah merekam perjalanan politik Republik. Kini kemajuan teknologi memaksanya menyesuaikan diri.

i Petugas cash center Bank Negara Indonesia (BNI) Pusat, Jakarta, November 2017./TEMPO/Tony Hartawan
Petugas memindahkan uang rupiah di Cash Center Bank BNI, Jakarta, 10 Juli 2020. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan utang pemerintah bakal terus meningkat seiring dengan besarnya kebutuhan pembiayaan untuk penanggulangan wabah Covid-19. TEMPO/Tony Hartawan
  • Rupiah genap berusia 74 tahun, lahir sebagai penanda Indonesia yang baru merdeka, .
  • Peliputan yang terhambat pandemi Covid-19.
  • Peluang dan tantangan rupiah menunggu di masa depan. .

MENGUASAI teknik lukis realis, Mujirun terkejut mengetahui jurus menatah pelat cetakan uang Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Mengukir di lempengan logam jauh berbeda dengan seni grafis yang dipelajarinya di Sekolah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta. Gara-gara itu, dalam masa orientasinya selama enam tahun pertama sebagai pengukir pelat alias engraver muda di Peruri, Mujirun pernah mematahkan 12 pisau ukir dalam sehari.

Mujirun muda dikirim belajar ke Italia dan Swiss, mempelajari anatomi ukiran dan detail gambar. Di bawah gemblengan engraver kawak Peruri, Mujirun belajar menatah pelat uang dengan guratan yang sangat detail. Di antara angkatannya, dia satu-satunya yang bertahan dan pensiun sebagai engraver Peruri. 

Kini generasi engraver sudah kikis. Penggantinya mesin ukir laser digital, yang bekerja lebih cepat dan presisi daripada tangan manusia seperti Mujirun. “Generasi cukil sudah enggak ada. Sudah digital sejak 2000-an,” kata Direktur Operasi Peruri Saiful Bahri, Kamis, 29 Oktober lalu.


Mujirun memeragakan cara mengukir plat untuk membuat desain uang. TEMPO/Nurdiansah

161510781460

Pembaca, Tempo edisi pekan ini menurunkan laporan khusus tentang perjalanan rupiah yang tepat berusia 74 tahun pada Jumat pekan lalu, 30 Oktober 2020. Setiap tahun, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Uang Nasional.  

Tujuh dekade lalu, rupiah lahir dari rahim sebuah republik muda yang ingin memiliki simbol kemerdekaan dan pemersatu bangsa. Sejak saat itu, rupiah terus berubah karena gerak zaman, seperti yang dialami Mujirun dan Peruri.

Perkembangan teknologi memaksa keberadaan uang yang bisa dilihat, diraba, dan diterawang menjadi tak wajib lagi. Masyarakat di kota-kota besar yang ditunjang infrastruktur Internet telah karib dengan ekosistem digital. Dompet mereka bukan lagi kulit buaya. Uang yang mereka bawa bukan lagi kertas dan koin. Semua digantikan oleh telepon seluler, uang elektronik dalam sepotong kartu, dan entah inovasi apa lagi yang terbentang di depan. 

Perubahan bentuk uang dan alat pembayaran dipercaya makin luas seiring dengan pertumbuhan jumlah pengguna ponsel pintar yang tersambung Internet. Data kantor agensi kreatif We Are Social, yang digunakan Bank Indonesia untuk menyusun Cetak Biru Sistem Pembayaran Indonesia 2025, menunjukkan rasio penggunaan ponsel terhadap populasi Indonesia sudah 133 persen. Ada 355,5 juta ponsel dalam 268,2 juta populasi. Boleh jadi seorang memegang dua gawai atau lebih. Tapi angka pengguna Internet juga cukup tinggi, mencapai 150 juta atau 56 persen dari populasi. 

Pendalaman pengguna Internet ini memicu pertumbuhan transaksi nontunai. Nilai transaksi uang elektronik—baik yang berbasis cip seperti e-money maupun yang berbasis server seperti kode respons cepat (quick response/QR code)—telah mencapai Rp 145 triliun pada 2019, dari hanya Rp 7,1 triliun pada 2014. Transaksi menggunakan kartu debit, yang biasanya digesekkan pada mesin electronic data capture (EDC), bernasib sama. Nilainya melonjak dari Rp 5.623 triliun pada 2016 menjadi Rp 7.474 triliun pada 2019. 

Transaksi nontunai makin menjulang setelah bank sentral menerbitkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Dengan standar ini, satu kode bisa dipakai dalam layanan semua penerbit alat pembayaran kode pindai berbasis aplikasi. Sampai 12 Juni 2020 saja, sudah ada 3,64 juta penyedia jasa dan barang alias pedagang yang menggunakan QRIS. Jangkauan pembayaran QR code yang sebelumnya menggunakan sistem tertutup alias berbeda-beda di antara penyedia layanan pembayaran kini makin luas.

Pedagang menunjukkan pecahan uang rupiah lama di Pasar Baru, Jakarta, 30 Oktober lalu. ANTARA/Rivan Awal Lingga

Meski demikian, tingginya angka pertumbuhan pembayaran nontunai dipercaya belum akan—jika tak ingin menyebut tak akan pernah—menggantikan peran uang kartal. Duit kertas dan koin dianggap bakal tetap menjadi alat pembayaran utama, terutama di luar kota besar dan aktivitas perdagangan informal. “Uang digital bukan sebagai pengganti uang kartal, melainkan berperan sebagai komplementer,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Marlison Hakim. 

Setidaknya kepercayaan itu disokong oleh data Bank Indonesia tentang peredaran uang kartal. Dalam lima tahun terakhir, hingga Desember 2019, rata-rata angka pertumbuhan uang kartal yang beredar di Indonesia masih 8,25 persen. Pertumbuhan serupa terjadi di negara-negara lain. Tapi beberapa negara Skandinavia, seperti Norwegia dan Swedia, mengalami hal sebaliknya ketika ekosistem nontunai mereka kini tergolong sangat maju.  

•••

PEMBACA, laporan khusus yang memotret 74 tahun perjalanan rupiah ini dikerjakan dalam situasi pandemi Covid-19. Beraneka kendala menantang penyusunan laporan. Pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran wabah membuat rencana reportase aktivitas perdagangan di daerah perbatasan dengan negara lain urung dilakukan. 

Kabar terakhir menyebutkan pemerintah telah membangun kembali pos-pos lintas batas negara. Bank sentral juga tak absen mengirim rupiah ke sana agar tetap menjadi alat tukar resmi di setiap jengkal teritori republik ini. 

Kita tahu, Pulau Sipadan dan Ligitan di dekat Kalimantan Utara lepas dari bagian Indonesia gara-gara absennya rupiah. Mahkamah Internasional menyatakan dua pulau itu masuk Malaysia karena transaksi perdagangan di sana menggunakan ringgit, mata uang negara tetangga. Tidak ada rupiah di pulau yang kini menjadi salah satu destinasi wisata bawah air tersebut. 

Sistem pembayaran dengan menggunakan QR code di salah satu gerai mal Jakarta Selatan. TEMPO/Ratih Purnama

Semula, laporan khusus ini disiapkan untuk memotret singkat perjalanan rupiah. Rencana ini berfokus menggali cerita rupiah di masa lampau yang dimulai dari lahirnya Oeang Republik Indonesia—cikal-bakal rupiah. Laporan juga dirancang untuk mengisahkan makna di balik tokoh-tokoh dan lukisan yang tercetak dalam duit. Juga kisah tentang kolektor yang menaruh uang lawas sebagai barang antik layak buru. Serangkaian diskusi dan wawancara digelar bersama sejarawan, pejabat bank sentral, dan kolektor.

Rupanya, perjalanan bukanlah sebuah cerita yang sudah usai. Ia adalah proses yang berlangsung, dengan berbagai peluang dan tantangan yang sudah menunggu di masa mendatang. Itu sebabnya laporan ini juga dilengkapi cerita tentang nasib rupiah di tengah disrupsi teknologi informasi. Namun bertutur dengan cara kronik tetap menjadi pilihan dalam menyajikan edisi ini. 

Deretan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Stasiun Sudirman, Jakarta. TEMPO/Tony Hartawan

Transaksi jual-beli lewat barter di pasar Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, misalnya, mengawali cerita dalam laporan khusus ini. Sistem barter masih bertahan di sejumlah daerah. GoPay, OVO, LinkAja, Dana, ShopeePay, atau mesin EDC penggesek kartu kredit dan debit tak berlaku di Wulandoni. Yang ada hanya teriakan dan baku tawar warga dengan barang masing-masing. 

Dua belas sisir pisang ditawar dengan seekor ikan kembung. Sebungkus mi instan ditukar dengan labu atau sepotong ikan kering. Sebuah tembikar berukuran sedang ditawar dengan tiga potong daging paus buruan warga pesisir Lembata. Uang hanya akan digunakan bila stok barang barter telah habis.

Uang sebagai karya seni menyambung fase awal lahirnya rupiah. Lukisan sarat makna yang terkandung dalam setiap seri rupiah selalu layak digali, termasuk betapa rumit proses pembuatannya. Mujirun tadi hanyalah salah satu pemahat pelat uang yang merasakan kerumitan memproduksi uang sebelum teknologi mesin laser digunakan Peruri. 

Uang pecahan 50 Gulden dengan gambar JP Coen, yang diterbitkan pada 1927, koleksi Eka Iswan, di Cibinong, Bogor, 25 Oktober lalu. TEMPO/Ratih Purnama

Dari lukisan-lukisan di atas uang itu pula tergambar derak politik yang merembet ke rupiah. Pada pemerintahan Sukarno dan Soeharto, gambar wajah kedua presiden berulang kali mejeng di lembar dan koin rupiah selama mereka berkuasa. Baru sejak 2011, ketika Undang-Undang Mata Uang terbit, rupiah tidak boleh lagi memuat gambar orang yang masih hidup. 

Seri rupiah dengan aneka desainnya itu lalu memunculkan para kolektor uang. B. Untoro satu di antaranya yang rela meminta bantuan sahabat lamanya di Swiss untuk memburu uang gulden Belanda pecahan 2,5. Uang itu keluaran Nederlandsche Handel-Maatschappij pada 1861 yang belakangan dilelang di Wina, Swiss. Untoro menang lelang dengan merogoh Rp 36 juta untuk 2,5 gulden. Makin langka uang, kian mahal harganya. 

Jejak desain uang, makna di baliknya, dan para kolektor yang terus berburu itu tidak lengkap tanpa kisah pembuatan uang. Bank Indonesia sebagai penerbit rupiah tunggal sudah punya formula khusus, dari berapa bilyet yang akan dicetak tiap tahun, siapa pemasok bahan bakunya, hingga kapan seri rupiah harus segera ditarik dan diganti dengan emisi baru. “Biasanya umur emisi uang itu enam tahun,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Marlison Hakim. Siklusnya bisa maju bila fitur keamanannya kedaluwarsa sehingga rentan ditembus para pemalsu. 


TIM LAPORAN KHUSUS TRANSFORMASI RUPIAH 

Penanggung Jawab: Agoeng Wijaya, Nurdin Kalim •
Pemimpin Proyek: Isma Savitri, Khairul Anam • penulis: Aisha Shaidra, Isma Savitri, Khairul Anam, Mahardika Satria Hadi, Moyang Kasih Dewimerdeka, Retno Sulistyowati, Wayan Agus Purnomo • Penyunting: Agoeng Wijaya, Nurdin Kalim, Stefanus Teguh Edi Pramono, Wahyu Dhyatmika, Anton Septian • Penyunting Bahasa: Edy Sembodo, Hardian Putra Pratama, Iyan Bastian  • Periset Foto: Ratih Purnama Ningsih (koordinator), Gunawan Wicaksono, Jati Mahatmaji • Desainer: Rudy Asrori, Aji Yuliarto, Kuswoyo, Munzir Fadli, Arief Mudi Handoko • Digital: Imam Riyadi, Rio Ari Seno, Royan R Akbar


Adapun bagian pamungkas dari laporan khusus ini adalah transformasi uang dan rupiah pada masa kini dan yang akan datang. Revolusi uang dan rupiah ditandai dengan meluasnya penggunaan transaksi digital dalam aktivitas ekonomi, baik lewat instrumen berbasis kartu seperti debit dan kredit maupun melalui perangkat elektronik berbasis cip seperti e-money atau berbasis server seperti QR code. 

Sentuhan teknologi digital merevolusi cara manusia menyimpan uang dan berbelanja. Bagian ini juga mengantisipasi kemunculan mata uang virtual alias cryptocurrency, yang mulai banyak digunakan di dunia maya kendati masih ilegal. Bagian ini pula yang menjadi tanda bahwa sejarah uang masih “koma”, entah apa lagi yang telah menunggu di masa depan. Selamat membaca!

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161510781460


Uang Kuno Uang uang elektronik Pencetakan Uang Baru Penerbitan Uang Baru

Laporan Khusus 2/10

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB