Laporan Khusus 7/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tak Bertepi Memburu Arta

Penggemar uang kuno bisa menghabiskan ratusan juta rupiah untuk menambah koleksinya. Nilai uang bertambah jika sudah disertifikasi.

i Kolektor uang kuno Mulyadi (kiri) dan Eka Iswan, di Cibinong, Bogor, 25 Oktober lalu.Tempo/Ratih Purnama
Kolektor uang kuno Mulyadi (kiri) dan Eka Iswan, di Cibinong, Bogor, 25 Oktober lalu.Tempo/Ratih Purnama
  • Para numismatik gemar mengikuti lelang duit lawas. .
  • Ada uang kuno yang harganya terus melonjak setiap tahun meski tak langka.
  • Bisnis jual-beli uang dianggap menguntungkan. .

WARTA dari Wina, Austria, diterima B. Untoro pada akhir 2008 lalu. Sahabat lamanya yang menetap di sana, Martin Burger, mengabarkan soal lelang uang kuno di negaranya. Salah satu yang ditawarkan adalah pecahan 2,5 gulden. Arta itu diedarkan Nederlandsche Handel-Maatschappijp—kini ABN Amro—pada 1861. Tertarik akan lelang itu, Untoro meminta Burger mencari tahu harga awal. Setelah itu, dia pun mengajukan penawaran sekitar Rp 36 juta.

Beberapa hari berselang, Burger menginformasikan bahwa panitia lelang menetapkan Untoro sebagai penawar tertinggi dan memenangi lelang. Beres urusan administratif, uang kertas itu dikirim ke Indonesia dalam amplop tipis. Saat uang itu tiba, Untoro merasa masygul. Paket itu dianggap sebagai dokumen biasa dan di bagian tengahnya ditancapkan staples. “Ada bekas lubang kecil,” kata Untoro kepada Tempo, Selasa, 27 Oktober lalu.

Meski demikian, dia merasa senang mendapatkan pecahan gulden itu. Uang itu menjadi salah satu favorit di antara ratusan koleksinya. Untoro, yang sejak kecil suka menyimpan arta zaman baheula, memiliki berbagai koleksi, seperti uang yang dikeluarkan pemerintah Indonesia pada masa revolusi serta kepeng berlubang. Sebagian di antaranya diperoleh melalui hasil perburuan seperti mengikuti lelang di luar negeri.

Berburu uang kuno adalah salah satu kegiatan numismatika atau penggemar duit lawas. Pencinta uang kuno, Nazym Otie Kusardi, bercerita, perjuangan mendapatkan arta jadul (jaman dulu) kuno merupakan salah satu seni numismatik. Dia mendapatkan uang kuno dari berbagai pihak, seperti pedagang, orang awam, atau mengikuti lelang secara online yang digelar di dalam dan luar negeri. “Kadang kami juga bertukar dengan kolektor lain,” kata Nazym, yang sudah menggeluti hobi ini sejak 32 tahun lalu.

Uang pecahan 500 Gulden dengan gambar tokoh wayang, yang diterbitkan pada 1939, koleksi Eka Iswan, di Cibinong, Bogor, 25 Oktober lalu./Tempo/Ratih Purnama

Adapun Untoro menilai numismatika—diambil dari bahasa Yunani yang berarti “uang logam”—lebih dari sekadar mengoleksi arta antik. Menurut laki-laki asal Blora, Jawa Tengah, ini, numismatika juga berarti mengenali duit yang dikoleksinya. Misalnya, dari sisi sejarah ataupun filosofi penerbitan duit tersebut. Maka, tak hanya berburu uang kuno, Untoro kerap mencari berbagai literatur akademis untuk melengkapi pengetahuannya dan berdiskusi dengan sesama penyimpan duit arkais.

Untoro pun menginisiasi Club Oeang Revoloesi (Core), komunitas pencinta uang kuno yang didirikan pada 5 Juni 2015 di Pecenongan, Jakarta Pusat. Organisasi numismatika ini berfokus pada penemuan uang pada periode revolusi kemerdekaan 1945-1949. Dalam periode itu, Belanda menghalangi peredaran uang—salah satu identitas negara—Indonesia. Dalam kondisi itu, banyak daerah mencetak uang lokalnya masing-masing. “Kami ingin membantu Bank Indonesia untuk tahu uang apa saja yang pernah mereka keluarkan,” kata Untoro.

Kehadiran berbagai komunitas numismatika ikut membantu para penyuka duit kuno, tak hanya untuk menambah koleksi mereka, tapi juga untuk menambah pengetahuan dan jaringan. Eka Iswan, numismatis asal Bogor, Jawa Barat, belajar menentukan harga uang kuno dari komunitas yang diikutinya, Sahabat Numismatika Indonesia dan Masyarakat Numismatika Indonesia. Nilai uang, kata pria 26 tahun itu, ditentukan oleh sejumlah variabel, seperti jenis, kondisi, dan permintaan pasar. Ada juga tren sesaat, kala jenis uang tertentu tiba-tiba menjadi populer dan diminati banyak orang.

Adapun Untoro mengatakan, faktor lain yang menentukan harga uang kuno adalah kelangkaan. Uang yang populasinya sedikit akan memiliki harga lebih tinggi. “Di komunitas ini kami juga belajar menentukan populasi uang berdasarkan nomor seri,” kata Untoro. 

Tapi ada juga uang kuno yang tidak langka tapi harganya melonjak saban tahun. Misalnya, uang seri wayang yang diterbitkan pemerintah Hindia Belanda pada 1935-1939. Uang ini memiliki desain besar dan gambar wayang yang menurut sejumlah kolektor unik. Meski tak langka, duit itu dikejar banyak orang. Eka Iswan mengatakan, selain desain yang cantik, uang itu memiliki keunikan lain, yaitu salah satu sisinya memuat naskah undang-undang Belanda dalam empat bahasa.

Nilai uang kuno juga bisa melonjak jika sudah disertifikasi oleh lembaga independen. Ada sejumlah lembaga internasional untuk sertifikasi uang. Misalnya, Professional Coin Grading Service (PCGS) dan Numismatic Guaranty Corporation (NGC) untuk uang koin serta Paper Money Grading (PMG) dan Professional Currency Grading Service (PCGS) untuk uang kertas. Lembaga-lembaga itu menggunakan Sheldon Grading Scale atau skala penilaian Sheldon dari 0 hingga 70. Makin tinggi skalanya, harganya pun makin tinggi.



161510908840

Kehadiran berbagai komunitas numismatika ikut membantu para penyuka duit kuno, tak hanya untuk menambah koleksi mereka, tapi juga untuk menambah pengetahuan dan jaringan.



David Mulyadi, kolektor uang, mengatakan sertifikasi uang biasanya menggunakan agen yang bisa ditemui di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Pemilik datang dengan membawa uangnya dan membayar biaya pendaftaran. Menurut Mulyadi, besaran biaya sertifikasi bergantung pada nilai uang dan tahun edar. Biaya termurah sekitar Rp 300 ribu dan membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga bulan untuk mendapatkan penilaian.

Berbagai faktor itu bisa membuat uang bernilai ratusan juta bahkan hingga miliaran rupiah. Eka Iswan mencontohkan, seri wayang 50 gulden dengan skor PMG 66 pernah laku terjual hingga Rp 650 juta. Ada juga uang Merkurius 1.000 gulden yang beredar pada 1918 dan sudah mendapatkan sertifikat laku dengan harga Rp 680 juta. Adapun Untoro mengatakan pernah melihat koleganya membeli uang kuno dengan harga hingga miliaran rupiah.

Mulyadi sempat menjadikan hobinya sebagai mata pencarian. Awalnya, dia iseng mengunggah koleksi duit lawas milik orang tuanya di Facebook sekitar lima tahun lalu. Rupanya, ada yang menawar dengan nilai yang tidak bisa dia tolak. Belakangan, dia kembali mengunggah koleksinya yang lain. Lagi-lagi laku terjual. Mulailah dia menekuni bisnis jual-beli uang antik. “Sekarang saya hampir tiap hari berburu uang kuno,” kata Mulyadi.

Kolektor uang kuno, Nazym Otie Kusardi, tak mengingkari sebagian numismatis berinvestasi dengan membeli duit jadul. Namun dia sendiri memilih menjadikan perburuan duit kuno sebagai hobi, sekaligus melestarikan warisan masa lalu. Adapun Eka Iswan menilai bisnis jual-beli uang kuno cukup menggiurkan bagi sejumlah numismatis. Sebabnya, ada kolektor yang berani membeli duit lama dengan harga di luar kewajaran. “Ini hobi yang enggak bertepi. Selama ada uang, Anda pasti bakal menemukan uang yang dicari,” kata Eka.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161510908840


Uang Kuno Uang Bank Indonesia

Laporan Khusus 7/10

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB