Laporan Khusus 5/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Titisan Susi Susanti

Laura Basuki berhasil menjelma menjadi sosok Susi Susanti sekaligus menampilkan dilema psikologis pemain bulu tangkis putri Indonesia ini yang tak banyak diketahui publik.

i Laura Basuki/TEMPO/Nurdiansah
Laura Basuki/TEMPO/Nurdiansah

 

Pahlawan Olimpiade. Begitu julukan Susi Susanti. Susi yang menggigit bibir bawah untuk menahan luruhnya air mata di puncak podium saat lagu Indonesia Raya menggaung di Barcelona pada 1992 adalah Susi yang lekat dalam ingatan kolektif kita. Tapi tak banyak yang tahu sesungguhnya. Di balik macam-macam rekor yang dia torehkan untuk Indonesia, Susi sehari-hari adalah sosok yang mengalami diskriminasi ras. Susi adalah sosok yang senantiasa terombang-ambing dalam konflik identitas. Dan Laura Basuki secara cemerlang mampu menampilkan kepada kita sosok Susi di luar karpet hijau itu.

Dalam film Susi Susanti: Love All, Laura mengemban tugas rumit memerankan Susi di taraf dilema psikologis yang terdalam itu. Betul, tugas terberat Laura tentu menempa fisik agar dapat meyakinkan sebagai seorang atlet kelas dunia. Namun dia juga dituntut menyelami lapisan-lapisan emosi lain dari Susi yang sulit, seperti bagaimana Susi sebagai atlet berdarah Cina sering mengalami frustrasi karena kesulitan mengurus administrasi sebagai warga negara Indonesia. Sementara itu, ironisnya, di satu pihak bangsa ini menyampirkan beban berat di pundaknya untuk selalu menang dalam pertandingan-pertandingan. Tantangan itu bisa ditaklukkan Laura dan membuat dewan juri satu suara untuk menetapkan dirinya sebagai Aktris Pilihan Tempo tahun ini.


Sulit membayangkan karakter Susi Susanti diperankan oleh aktris selain Laura Basuki. Seperti kata salah satu anggota dewan juri, Susi seolah-olah menitis ke dalam tubuh Laura. Kuda-kudanya saat memberi servis pada mula pertandingan, gestur tubuhnya saat jatuh-bangun menepuk kok, hingga warna suaranya hampir sempurna meniru Susi. Untuk mencapai performa semeyakinkan itu, Laura menyiapkan diri dengan tekun. “Enam bulan untuk persiapan. Itu waktu yang lama untuk ukuran film Indonesia,” ujar perempuan 31 tahun itu saat ditemui Tempo pada akhir November lalu.

161893743897

Persiapan awal Laura adalah latihan fisik yang porsinya serupa dengan latihan harian atlet bulu tangkis sungguhan. Mulai Senin hingga Jumat, Laura harus menyediakan waktu enam jam untuk latihan. Dimulai dengan dua jam latihan fisik, seperti peregangan, lari, dan angkat beban pada pagi hari. Siangnya, Laura berlatih teknik servis, footwork, dan pukulan-pukulan dalam badminton selama tiga jam. Pada malam hari, ada latihan ekstra selama satu jam. “Ketika memutuskan ambil film ini, aku sudah tahu akan tersiksa,” kata Laura, lalu tertawa.

Laura Basuki dalam Susi Susanti: Love All./ film Susi Susanti Love All

Berkat latihan fisik rutin itu, Laura yang tak punya kebiasaan berolahraga tertentu akhirnya berhasil melakukan salah satu gerak khas yang biasa dilakukan Susi, yaitu split alias merentangkan kaki membentuk garis lurus. “Sewaktu adegan split, aku sampai nangis,” ucapnya.

Laura ditatar langsung oleh Liang Qiuxia (kadang juga ditulis Liang Chiu Hsia/Liang Tjiu Sia), pelatih Susi Susanti yang kini berusia 69 tahun. Qiuxia barangkali orang yang paling mengenal Susi, dari karakter permainan hingga kebiasaannya sehari-hari. Dari Qiuxia, Laura banyak menggali sosok Susi di dalam dan di luar lapangan. Qiuxia juga yang mengamati dari dekat dan membetulkan postur Laura saat latihan ataupun saat pengambilan gambar sehingga betul-betul menyerupai Susi Susanti.

Berperan sebagai Susi Susanti memberi Laura tantangan yang tak pernah dia dapat dari peran-peran sebelumnya. Biasanya Laura, yang dikenal lewat film 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta, dapat membangun sendiri karakter yang ia mainkan sesuai dengan interpretasinya atas skenario. Kali ini tokoh yang dia mainkan betul-betul ada sehingga ia tak boleh melenceng terlalu jauh dari karakter aslinya. Laura menghabiskan banyak waktu bertamu ke rumah Susi Susanti untuk observasi dan wawancara, menonton rekaman video-video pertandingannya, serta mendengar berulang-ulang rekaman suara Susi. “Sewaktu aku pakai headset, orang mengiraaku dengerin musik, padahal lagi dengar suara Ci Susi,” katanya.

Semua proses itu membuat Laura merasa mengalami sendiri seluruh beban Susi yang terus ditekan oleh pemerintah, pelatih, dan tentu saja bangsa Indonesia. “Sepanjang syuting ini, aku membawa perasaan tertekan yang besar banget,” ujar Laura. Tekanan itu dimanfaatkan Laura untuk menyampaikan emosi yang kompleks lewat gestur sederhana. Tak mengherankan, adegan-adegan terkuat dalam film ini bukanlah ketika Susi bergelimang keringat saat pertandingan. Salah satu yang akan diingat untuk waktu lama adalah adegan saat Susi ditanyai oleh wartawan stasiun televisi apakah dia menganggap dirinya orang Indonesia di tengah diskriminasi identitas yang dialaminya. Sebagai Susi, Laura menatap lurus ke kamera, rahangnya mengeras, matanya kaya akan emosi, dan menyatakan, “I am Indonesian. I will always be.”

Laura Basuki dalam Susi Susanti: Love All./ film Susi Susanti Love All

Yang tak boleh lupa disebut adalah kepiawaian akting Laura disokong kuat oleh skenario yang bernas dan melampaui film biopik olahraga pada umumnya. Bila mengikut formula biasa, film Susi Susanti boleh jadi akan berkutat pada kerasnya upaya Susi berlatih dan ditutup dengan klimaks saat menyabet medali emas pada Olimpiade 1992. Tapi sutradara Sim F justru sedikit saja menyinggung momen bersejarah itu. Dia lebih menyo-roti -kesulitan Susi dan sejumlah atlet bulu tangkis lain yang tak kunjung mendapatkan Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI) meski telah menyumbangkan segepok medali. SBKRI adalah kebijakan diskriminatif Orde Baru atas orang-orang keturunan Tionghoa. Tanpa surat itu, mereka tak bisa mendapatkan paspor dan hak suara, bahkan tak bisa mendaftarkan pernikahan. Dalam satu momen, Susi yang terus-terusan dililit masalah saat mengurus SBKRI akhirnya meledak. Dia meluapkan kekecewaannya dalam konferensi pers sebelum pertandingan. Sepekan seusai konferensi pers penuh emosi itu, barulah SBKRI Susi dikeluarkan.

Sorotan atas konflik Susi Susanti yang jarang dibicarakan itulah yang membuat film ini mendapat nilai lebih. Laura juga memuji keputusan produser dan sutradara Susi Susanti: Love All lebih menonjolkan pergolakan identitas Susi yang terus terjadi hingga 1998, saat kerusuhan pecah dan warga Tionghoa menjadi sasaran kekerasan. “Aku senang film ini tidak berakhir dengan kemenangan Susi di Barcelona,” kata Laura.

Laura sendiri dapat memahami perjuangan Susi untuk diakui sebagai warga negara karena dia pernah mengalami ruwetnya birokrasi mendapatkan status WNI. Laura yang lahir di Berlin dari pasangan Jawa dan Vietnam mendapat kewarganegaraan Jerman secara otomatis. Setelah setahun tinggal di Jerman, keluarganya kembali ke Indonesia. Pada 2010, Laura mengurus perubahan status kewarganegaraannya. “Cukup panjang juga perjalanannya walau tentu tak sesulit Susi Susanti,” ujar Laura, yang memulai karier sebagai model untuk desainer Biyan sebelum menerima tawaran berakting. 

Lewat film ini dan pertemuan langsung dengan Susi Susanti, Laura mendapat kesempatan melihat ulang makna nasionalisme. Dia makin terketuk ketika Susi menyatakan bahwa sebenarnya ada banyak konflik lebih berat yang tak diungkap di dalam film. Maka hal pertama yang dilakukan Laura saat film berakhir pada penayangan perdana Susi Susanti: Love All adalah berlutut di depan Susi, yang duduk di kursi penonton. “Ci Susi, gimana?” begitu Laura bertanya kepada Susi, yang ia reka ulang saat diwawancarai Tempo. Kala itu, Laura mendapati Susi bersimbah air mata setelah menonton Laura memerankan dirinya. “Ci Susi approved. Aku tidak peduli lagi kata orang, yang penting kata dia,” tutur Laura.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161893743897



Laporan Khusus 5/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.