Mana sungguh, mana lancung - Kolom - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Kolom 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mana sungguh, mana lancung

Selera orang dijadikan kriteria oleh produser, novelis & pemred. sementara itu. untuk meningkatkan kecerdasan diusahakan lewat simbol-simbol status. akhirnya tak tahu lagi mana yang sungguh mana yang lancung.

i
FILM-FILM nasional yang sekarang bertumbuh dengan kecepatan tinggi, ternyata mempunyai prospek, sekurang-kurangnya dari segi komersiil. Data yang pernah diumumkan pers, berasal dari kantor Sensus Daerah Istimewa Yogyakarta. Rata-rata jumlah penonton untuk tiap film impor di kota tersebut adalah 834 orang, sedangkan untuk film nasional ternyata rata-rata 1187 penonton untuk tiap judul. Dilihat sambil-lalu pun hal itu mungkin ada benarnya. Di sebuah bioskop kelas tiga di Jakarta, film seperti Ateng The Godfather bisa bertahan sampai seminggu atau lebih. Para penjual sayur di pasar Boplo bisa asyik mendiskusikannya sambil menjaga jualan. Sayang tak ada data pada saya tentang berapa rata-rata jumlah penonton di Jakarta untuk tiap satu judul film nasional. Tarohlah, penonton film nasional lebih banyak dari penonton film impor, maka apa gerangan yang bisa ditunjuk oleh data itu? Satu-satunya yang bisa dikatakan dengan agak pasti ialah bahwa film nasional (sebuah istilah yang aneh, adakah seni lukis nasional?) cukup melayani selera banyak penonton, dan karena itu sesuai dan menarik selera mereka. Kalau selera dapat dijadikan kriterium mutu, maka dengan gampang saja bisa dipastikan bahwa film-film kita memang bermutu. Terang bukan itu ukurannya. Sebab film yang bermutu ialah film yang menarik selera yang bermutu, sementara belum bisa dipastikan bahwa selera kebanyakan penonton kita adalah selera yang bermutu. *** Seorang novelis pastilah akan cemburu pada Kho Ping Hoo. Seri cerita silatnya dinantikan (dan disewa) orang jilid demi jilid, dekil dan sobek-sobek. Memang cerita-ceritanya tidak dibaca di ruang-baca perpustakaan, tapi dalam bis-kota, di kios rokok, di warung minum, di hotel, di kelas bahkan dalam mobil dan kamar-kecil. Setelah jilidnya yang ketigapuluh sekian, orang masih menanti dengan haus jilid berikutnya. Dengan bahasa Indonesia yang biasa, tipografi yang jungkir-balik dan dengan kertas koran yang lusuh, buku serial itu hadir dengan mempertahankan supremasinya dalam merebut minat, waktu, syaraf dan duit sejumlah besar penggemarnya. Terang dia tidak menunjuk status apapun bagi pembacanya. Hanya instink dan khayal agresip cukup dibuai, dihembus bahkan digalakkan oleh kisah dan tokoh-tokohnya. Sekali inipun kita barangkali tidak bisa berbicara tentang mutu. Tetapi lebih tentang sesuainya permintaan dan penawaran. Apa yang diminta oleh selera, itu pula yang ditawarkan oleh cerita. Maka seperti biasa: bisinglah pasarannya! *** Seorang pemimpin redaksi sebuah majalah hiburan pernah berbaik hati menjelaskan kepada saya syarat elementer bagi berhasilnya sebuah majalah seperti itu. Pertama-tama janganlah dimasukkan banyak masalah - biarpun penting dan mungkin mendesak. Khayal pembaca mestilah dibuai-buai. Orang yang sehari-hari telah pahit dengan banyak kesulitan hidup haruslah dihibur dengan bayangan tentang hal-hal yang indah, anggun, enak dan kalau boleh mewah dan agak gemerlapan. Selera-selera kelas menengah mungkin sudah cukup untuk memenuhi syarat itu. Pikiran dan hati haruslah diusap dengan segala sesuatu yang dalam kenyataan sehari-hari sulit atau mustahil tercapai karena berbagai sebab. Khusus bagi wanita, cerita yang mencucurkan airmata merupakan sebuah daya tarik besar. Kisah sedih - dengan bumbu sentimentalitas yang merintih -- tentang seorang anak tiri misalnya, pasti akan memikat setiap wanita yang normal. Yang agak aneh ialah bahwa di sini orang bernikmat-nikmat dengan hal yang sedih dan pahit, dengan segi getir hidup manusia. Tentu saja bukan terutama karena rasa solidaritas dan perikemanusiaan ala pancasila, tetapi lebih sebagai suatu cara mengalami secara ersatzweise, lewat substitusi. Pengecut yang paling kecil hatinya pun akan asyik men1baca pembantaian dalam pertempuran Angola atau perang gerilya di Vietnam . Dalam pada itu timbul sebuah pertanyaan yang serius di hati: kalau semua yang dikatakan itu benar, maka apa sebetulnya perbedaan hakiki antara bacaan serupa itu dan narkotik yang konon diancam dengan tuduhan subversif? Kedua-duanya sama-sama menghantar orang ke alam khayal yang serba indah. Kedua-duanya memancing selera-selera tinggi. Tentang ini tentu saja seorang ahli hukum dan seorang ahli psikologi sosial harus mengadakan penelitian, studi dan uraian yang jelimet untuk menunjukkan bahwa bacaan yang mempermainkan khayal-khayal manis yang mengawang tidak sama dengan narkotik yang juga mempermainkan khayal-khayal manis yang mengawang. *** Di fihak yang lain lagi bukan tak ada hal yang lucu. Seorang sarjana sastra di Yogya pada suatu kali mengeluh: "Alangkah soknya beberapa rekan. Biasanya cuma dengar Sebastian Bach, Verdi atau Palestrina. Katanya, sama sekali tak dapat menikmati Bimbo atau Koes Plus. Seperti dulu juga, Syahrir pernah mengeluh bahwa belum ada kesusastraan Indonesia, sehingga seorang yang hendak mengasah selera sastranya haruslah membaca cerita-cerita dari sastra dunia. Tentu saja kita masih banyak kekurangan. Tetapi apa Amir Hamzah tak patut dibaca? Kritikus asing saja bilang Sutardji dan Sapardi itu bagus. Tetapi bangsa awak yang terpelajar pagi-pagi sudah memilih saja Emily Dickinson atau Louis Aragon. Oh ya, begitulah bung!" Bukan juga hal baru bahwa ruang-tamu seorang yang banyak duitnya dihiasi dengan deretan ensiklopedi Britanica atau Americana. Dipajang amat rapi dalam lemari kaca. Di sampingnya akuarium. Sama halnya kalau seorang mengatakan bahwa Future Shock Alvin Toffler itu hebat dan kemudian bungkam ketika diminta pendapatnya tentang buku tersebut, maka janganlah anda terlampau heran. Buku itu beberapa waktu lalu terus-terusan disebut di koran dan beberapa kawan memang pernah menyatakan shocked terhadap Alvin Toffler. *** Melihat semua hal itu, maka yang terpikir ialah: kalau ada air keruh seperti itu, siapakah yang biasa memancing di sana? Dalam bahasa yang jelas: kalau selera seseorang belum bisa selektip benar dalam menentukan yang enak atau yang berguna, yang inti atau yang kulit, maka siapakah yang beruntung karena sanggup memanfaatkan keadaan itu? Sementara itu keinginan untuk maju dan meningkatkan kecerdasan sering pula diusahakan lewat simbol-simbol status yang melahirkan snobisme. Yang sedih ialah bahwa snobisme itu tidak ditolong tapi malah digalakkan dan diexploitir untuk, untuk apa ya? Perlukisan di atas bukanlah amat umum dan mungkin samasekali belum representatip. Tapi sulit untuk mengatakan bahwa gejala itu tidak ada dan bahwa gejala itu tidak segera berpengaruh secara luas. Bukankah simbol, seperti juga mode, selalu diusahakan secara galak oleh orang yang berkepentingan dengan promosi usahanya? Promosi apapun boleh-boleh saja. Yang diminta juga tidak banyak: janganlah selera orang ditipu terus-menerus untuk pada akhirnya tak bisa membedakan lagi mana buluh, mana pentung, mana sungguh, mana lancung.
2020-08-11 13:50:08


Kolom 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.