Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Biopsi dengan Tangan Robot

Pengambilan jaringan yang diduga kanker prostat kini bisa dilakukan dengan robotik. Yang pertama di Indonesia.

i biobotsurgical.com
biobotsurgical.com

KANKER prostat adalah kanker kedua terbanyak yang diderita pria. Organisasi Ke--sehatan Dunia (WHO) mem-per-kirakan 1,3 juta laki-laki menderita kanker ini di seluruh dunia pada 2018. Sedangkan di Indonesia, Global Cancer Statistics 2018 memperkirakan jumlah penderita kanker ini mencapai 25 ribu pria.

Menurut Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Lies Dina Liastuti, kanker prostat bisa disembuhkan asalkan penyakitnya ditemukan saat sta-dium awal dan diobati dengan cara yang tepat. “Kalau ditemukan pada stadium I atau IIA, pasien bisa mendapat pengobatan yang lebih baik dan selamat,” ujar Lies, Senin, 5 Agustus lalu.

Masalahnya, kata Kepala Departemen Urologi RSCM Irfan Wahyudi, lebih dari separuh laki-laki yang menderita masalah ini baru datang saat penyakitnya sudah masuk stadium lanjut. Sebagian dari me-reka juga memilih berobat ke luar negeri. Padahal Indonesia punya dokter dan alat yang mumpuni untuk menangani penyakit ini. “Yang terbaru, RSCM punya alat biop-si robotik untuk kanker prostat, yang per-tama untuk Indonesia,” ujarnya.

Alat biopsi baru tersebut bernama iSR’obot Mona Lisa, robot yang awalnya dikem-bangkan oleh dokter spesialis uro-lo-gi di Singapura. RSCM pertama kali meng-gunakan robot ini pada 14 Juni 2019. Robot tersebut berperan menggantikan tangan dokter saat akan mengambil jaringan da-lam prostat yang diduga merupakan kanker.


Dokter sebelumnya mengatur po-si-si tangan robot tersebut dengan komputer berbasis tiga dimensi. Ta-ngan robot tersebut diarahkan ke bagian yang diduga kanker. Dengan tangan robot ini, pengambilan ja-ringan akan lebih akurat. “Kalau pakai tangan manusia, lima menit berada di posisi yang sama saja sudah gemetaran. Bisa tidak berfokus pada area yang seharusnya diambil,” ucap dokter spesialis urologi RSCM, Agus Rizal Ardy Hariandy Hamid.

161813245669

Menurut Rizal, biopsi dengan ro-botik ini juga lebih aman diban-ding-kan dengan biopsi konvensional meng-gunakan tangan manusia. Pada biopsi konvensional, umumnya peng-ambilan sampel jaringan di-lakukan dengan memasukkan jarum lewat dubur, lalu melewati usus, baru mencapai prostat. Karena jarum tersebut mesti melewati sis-tem pencernaan, potensi infeksi-nya besar. Sedangkan kalau menggu-nakan metode robotik, jarum menjangkau prostat dari selangkangan, sehingga risiko infeksinya lebih kecil.

Menurut Lies, harga pemeriksaan cara baru ini dan tindakannya di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan dengan negara tetangga. Di Singapura, biayanya mencapai Sin$ 5.000 atau setara dengan Rp 51,2 juta, sedangkan di Malaysia 7.000 ringgit (sekitar Rp 23,6 juta). “Kami jauh di bawah mereka, sekitar 50 persennya,” ujarnya.

Karena jumlah penyandang kanker ini cukup banyak, Rizal menyarankan para pria berusia di atas 40 tahun melakukan deteksi dini kanker prostat. Salah satunya dengan mengukur kadar prostate specific agent (PSA) dalam darah, yang bisa di-lakukan saat pemeriksaan kesehatan tahun-an. Jika hasil tesnya tak normal, dok-ter biasanya akan mengarahkan pasien untuk memeriksakannya lebih lanjut. Salah satunya dengan biopsi.

Deteksi dini ini penting sehingga kalau-pun ada kanker bisa diketahui dan di-obati lebih dini. Makin awal ditangani, makin besar kemungkinan sembuhnya. Sebaliknya, makin lambat diketahui, ke-mungkinan sembuh juga makin tipis. Menurut Rizal, dari 100 penderita kanker prostat stadium lanjut, dalam waktu lima tahun hanya ada 30 orang yang bertahan hidup. “Kalau stadiumnya masih awal, yang bisa bertahan hidup sampai 100 persen,” katanya.

NUR ALFIYAH

Reporter Nur Alfiyah - profile - https://majalah.tempo.co/profile/nur-alfiyah?nur-alfiyah=161813245669


Teknologi

Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.