Bagaimana Wabah Corona Mengancam Kamp-kamp Pengungsi - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Virus Mengintai di Kamp Rohingya

Kamp pengungsi Rohingya dikarantina setelah ada warga Cox's Bazar yang terinfeksi corona. Rawan terserang wabah.

i Sejumlah imigran Afrika menjalani karantina selama berada kamp pengungsian di Pulau Lesbos, Yunani, 5 April 2020./REUTERS/Elias Marcou
Sejumlah imigran Afrika menjalani karantina selama berada kamp pengungsian di Pulau Lesbos, Yunani, 5 April 2020./REUTERS/Elias Marcou
  • Jutaan pengungsi dan pencari suaka di seluruh dunia terancam terinfeksi corona. .
  • Turki menjadi negara penampung pengungsi paling banyak.
  • Empat kamp pengungsi mencatat ada kasus positif Covid-19. .

SAIDUL Hoque lahir di salah satu kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh, pada 1996 atau lima tahun setelah keluarganya meninggalkan Myanmar. Warga etnis Rohingya ini sekarang tinggal di Kutupalong, kamp pengungsian terbesar di dunia. Dia bercita-cita suatu hari nanti menjadi jurnalis dan ikut mendirikan sekolah film bersama beberapa pengungsi lain yang awal tahun ini mulai melatih pemuda Rohingya soal fotografi dan videografi.

Seperti warga dunia lainnya, Saidul risau terhadap wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), yang sampai 29 April lalu telah menginfeksi lebih dari 3,2 juta orang dan menewaskan 229 ribu orang di seluruh dunia. “Jika masuk ke kamp pengungsian, itu akan sangat menghancurkan,” kata Saidul dalam cerita yang dirilis situs Badan Pengungsi Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR), Selasa, 21 April lalu.

Kerisauan Saidul merupakan kekhawatiran lama lembaga internasional itu setelah corona menjadi pandemi global. Menurut Koordinator Darurat Covid-19 Medicine Sans Frontier (MSF) Gert Verdonck, wabah ini menjadi ancaman terbaru bagi imigran dan pengungsi. “Langkah pencegahan Covid-19, seperti mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak fisik, hampir tidak mungkin dilakukan,” ujarnya kepada Tempo, Rabu, 29 April lalu.


Menurut data UNHCR, secara global ada 70,7 juta orang yang pergi dari rumah mereka secara terpaksa, baik sebagai pengungsi maupun pencari suaka. Hingga 29 April lalu, belum ada pengungsi Rohingya di Cox's Bazar yang dinyatakan positif Covid-19, tapi wabah itu sudah menginfeksi kamp pengungsian orang Palestina di Libanon dan imigran asal Afrika di kamp penampungan pengungsi di Yunani.

Cox's Bazar menampung sekitar 860 ribu warga Rohingya yang lari dari negaranya, Myanmar, karena mendapat penyiksaan dan perlakuan buruk. Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengategorikan perlakuan terhadap mereka sebagai kejahatan genosida atau pemusnahan etnis. Dalam jumlah kecil, orang Rohingya pergi ke Malaysia dan Indonesia. Tapi jumlah terbanyak ke Cox's Bazar, kota dan pelabuhan perikanan di tenggara Bangladesh.

Corona, yang awalnya diidentifikasi di Wuhan, Cina, Desember 2019, mulai ditemukan di Bangladesh pada 8 Maret lalu. Kasus kematian pertama akibat virus ini ditemukan pada 18 Maret. Korbannya adalah pasien berusia di atas 70 dan yang memiliki berbagai masalah medis, seperti diabetes, hipertensi, dan masalah jantung. Setelah itu, kasusnya terus bertambah dan penyebarannya meluas, termasuk ke Cox's Bazar.

Bangladesh mengumumkan penutupan semua kantor pemerintah dan swasta sejak 26 Maret untuk mencegah penyebaran corona. Langkah itu diikuti dengan pengerahan polisi dan tentara untuk mengawasi pelaksanaan kebijakan “jaga jarak fisik”, yang kemudian diikuti dengan penutupan semua penerbangan domestik.

Di Cox's Bazar, korban Covid-19 pertama adalah wanita berusia lebih dari 60 tahun setelah kembali dari ibadah umrah di Arab Saudi, 13 Maret lalu. Warga Maheshkhali, pulau di Cox's Bazar, itu diidentifikasi positif terkena corona pada 24 Maret. Jumlah korban positif bertambah menjadi lima setelah ada empat lagi yang didiagnosis positif pada 19 April.

“Ada beberapa kasus di Cox's Bazar, tapi tidak di kamp-kamp pengungsi Rohingya. Pasien positif itu bukan orang Rohingya,” ucap Nay San Lwin, koordinator hubungan masyarakat dan salah satu pendiri Free Rohingya Coalition, kepada Tempo, Rabu, 29 April lalu. “Cox's Bazar dihuni sekitar 3 juta orang, termasuk sekitar sejuta orang Rohingya.”

Setelah itu, jumlah kasus pasien positif corona terus bertambah. Pada 8 April, Bangladesh mencatat 218 kasus dengan 20 orang meninggal. Untuk mencegah penularan, esoknya pemerintah Perdana Menteri Sheikh Hasina menutup total Distrik Cox's Bazar, termasuk kamp pengungsian. “Area akan ditutup penuh. Tidak ada yang boleh masuk, tidak ada yang boleh keluar sampai situasinya membaik,” demikian pengumuman pemerintah. Polisi dan tentara memasang penghalang di jalan-jalan utama serta berpatroli di dalam dan sekitar kamp.

Penutupan ini berdampak pada kehidupan sehari-hari warga Rohingya. Menurut Saidul Hoque, sebelum wabah, jalan-jalan dipenuhi orang. Mereka pergi dari rumah ke rumah dan berkumpul di pasar. Anak-anak bermain di lapangan sepak bola pada malam hari. Masjid juga penuh orang. Kini hanya beberapa orang yang ke masjid. Banyak toko dan pasar ditutup. Jalanan juga kosong. Orang keluar hanya jika membutuhkan sesuatu yang mendesak.

Warga Rohingya, kata Saidul, membeli makanan setiap hari karena tak memiliki tempat penyimpanan untuk hari berikutnya. Tapi, karena karantina ini, mereka tidak bisa pergi ke pasar dan orang-orang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, terutama untuk sayuran dan ikan. “Hari demi hari akan makin sulit. Kami semua sepenuhnya bergantung pada lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah Bangladesh,” ujarnya.

Menurut Nay San Lwin, ketika pasar ditutup, harga barang kebutuhan pokok naik. Karena tidak memiliki akses telepon dan Internet, mereka tidak memiliki informasi terbaru tentang corona. Pemerintah melarang pemakaian alat telekomunikasi dan mematikan jaringan Internet sejak 10 September 2019.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia sudah menyampaikan keprihatinan soal pembatasan komunikasi ini karena menjadikan kamp tersebut titik api untuk informasi yang salah tentang pandemi. Menurut Frontier Myanmar, puluhan ribu orang Rohingya bangun tengah malam pada Maret lalu untuk salat malam setelah ada desas-desus bahwa hal itu dapat menghentikan penyebaran virus.

Upaya untuk mengurangi penyebaran virus, kata Nay San Lwin, juga sulit dilakukan. “Mereka perlu sering mencuci tangan, tapi beberapa kamp kekurangan air. Mereka membutuhkan masker, tapi tidak ada yang membagikannya,” tuturnya. Aktivitas lembaga swadaya masyarakat juga dibatasi. “Hanya aktivitas tanggap darurat dan situasi kritis yang dapat mengakses kamp.”

Komisioner urusan pengungsi PBB, Mahbub Alam Talukder, mengatakan penutupan kamp ini memangkas 80 persen sumber daya manusia yang bisa bekerja di kamp pengungsian. “Hanya petugas pasokan makanan darurat dan layanan medis yang dapat terus bekerja di kamp-kamp,” katanya.

Saidul juga mengisahkan sulitnya mengikut anjuran keselamatan dari corona. Ia bersama tujuh anggota keluarganya tinggal di rumah seluas sekitar 8 meter persegi. “Semua orang meminta kami menjaga jarak sosial, tapi bagaimana bisa? Sama sekali tidak mungkin bagi kami,” ujarnya. “Kami juga perlu sering mencuci tangan, tapi tidak memiliki cukup toilet dan fasilitas mencuci. Kami bahkan tidak memiliki cukup air untuk memenuhi kebutuhan dasar kami.”

Bagi MSF, hal yang berubah setelah penutupan wilayah itu adalah berkurangnya secara drastis jumlah konsultasi di fasilitas kesehatan. “Banyak orang enggan mengunjungi klinik atau rumah sakit karena takut tertular virus. Ini berarti orang tidak melakukan perawatan untuk masalah kesehatan serius lainnya yang pada gilirannya dapat membahayakan nyawa mereka,” kata Paul Brockmann, perwakilan MSF di Bangladesh, kepada Tempo, Rabu, 29 April lalu.

Pada Maret lalu, kelompok analisis kemanusiaan Norwegia, ACAPS, membuat analisis risiko cepatnya penyebaran virus di Cox's Bazar karena faktor kepadatan populasinya. Hasilnya menunjukkan bahwa kepadatan populasi di kamp pengungsian rata-rata 40 ribu orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan kepadatan populasi Wuhan yang 6.000 orang per kilometer persegi.

Hingga 29 April lalu, menurut Nay San Lwin, tidak ada tes di kamp-kamp pengungsi. “Jika ada yang memiliki gejala, mereka dapat menghubungi klinik. Maka pihak berwenang akan melakukan tes,” ujarnya.

MSF memberikan informasi serupa. “Prioritas kami sekarang adalah menunda penyebaran virus dengan mengambil semua langkah untuk memastikan kapasitas pengujian ditingkatkan dan disebar secepat mungkin serta memastikan fasilitas isolasi siap,” kata Brockmann.

Badan pengungsi PBB sedang membangun pusat isolasi dan perawatan yang dapat menampung 150-200 pasien. Mereka juga membagikan sabun dan berkampanye tentang bagaimana mencegah penyebaran virus. Tapi larangan pemerintah terhadap telepon seluler dan layanan Internet di kamp-kamp dinilai menghambat upaya-upaya itu.

Meski Cox's Bazar aman, sejumlah kamp penampungan pengungsi dan pencari suaka lain mulai mengabarkan temuan kasus positif corona. Salah satunya di kamp pengungsian Wavel di Kota Baalbek, Libanon, yang dikenal sebagai kamp Jalil atau kamp Galilea. Menurut Badan Pengungsi Palestina PBB, kasus pertama menimpa seorang wanita Palestina, 22 April lalu. Jumlah pasien positif di kamp itu bertambah empat orang keesokan harinya.

Menurut data pemerintah Libanon, kamp Wavel dihuni lebih dari 2.000 orang. Namun PBB menaksir jumlahnya sekitar 3.000 orang. Negara dengan populasi 5 juta ini juga menampung lebih dari 1 juta pengungsi Suriah. Untuk mencegah meluasnya penyebaran virus, pasukan keamanan Libanon menutup area itu dan mencegah siapa pun masuk dan keluar. Hingga Rabu, 29 April lalu, negara itu mencatat 725 kasus corona dengan 24 orang meninggal.

Kamp penampungan lain yang bernasib serupa terdapat di Yunani, salah satu tempat tujuan atau pilihan lokasi transit para imigran atau pengungsi menuju Eropa. Yunani memiliki sejumlah tempat penampungan imigran atau pencari suaka. Setidaknya tiga di antaranya mencatat ada kasus positif corona. Hingga Rabu, 29 April lalu, negara itu mencatat 2.576 kasus corona dengan 139 orang meninggal.

Penampungan pencari suaka yang banyak mencatat kasus positif adalah sebuah hotel di kota selatan Kranidi yang dikelola oleh Organisasi Migrasi Internasional. Hotel itu menampung sekitar 450 pencari suaka, yang sebagian besar dari Afrika. Saat pengujian pada 21 April lalu, setidaknya 148 orang dinyatakan positif Covid-19.

Sebelumnya, pencari suaka yang dinyatakan positif ditemukan di kamp pengungsi Ritsona yang dihuni 2.700 orang dan kamp Malakasa, sekitar 38,6 kilometer sebelah utara Athena. Dua kamp itu sempat dikarantina untuk mencegah penyebaran virus.

Salah satu tempat penampungan besar di Yunani adalah kamp Moria, di pulau Lesbos. Isinya 19 ribu orang meski dirancang hanya untuk 3.000 orang. MSF berulang kali menyerukan evakuasi karena minimnya fasilitas di daerah ini. Di beberapa bagian kamp hanya ada satu keran air untuk setiap 1.300 orang. Sabun juga tidak tersedia. Keluarga yang terdiri atas lima-enam orang harus tidur di ruangan yang sempit. “Ini berarti langkah-langkah untuk mencegah penyebaran virus adalah mustahil,” kata Hilde Vochten, Koordinator Medis MSF di Yunani, seperti dilansir Al Jazeera.

ABDUL MANAN (AL JAZEERA, UNHCR, ABC NEWS, FRONTIER MYANMAR)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 01:24:48

Bangladesh Covid-19 Virus Corona Pengungsi Myanmar Rohingya

Internasional 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB