Internasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Petaka Mengancam Afrika

Sekjen PBB Antonio Guterres risau wabah corona akan memakan korban jutaan jiwa di Afrika. Kesiapan fasilitas kesehatan yang terendah di dunia.

i Sejumlah petugas kesehatan tanpa menggunakan apd, melalukan tes selama lockdown di Alexandria, Afrika Selatan, 31 Maret 2020. Reuters/Siphwe Sibeko
Sejumlah petugas kesehatan tanpa menggunakan apd, melalukan tes selama lockdown di Alexandria, Afrika Selatan, 31 Maret 2020. Reuters/Siphwe Sibeko
  • Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres risau wabah ini akan memakan korban jutaan jiwa di Afrika. .
  • Kesiapan sistem kesehatan untuk merawat pasien kritis di Afrika termasuk yang terendah di dunia.
  • Beberapa negara sudah mulai menerapkan kebijakan lockdown. .

SEJAUH ini Afrika menjadi benua yang paling aman dari Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Sampai 1 April lalu, benua dengan populasi 1,3 miliar jiwa itu “hanya” mencatat 5.999 kasus, setara dengan Brasil, yang memiliki 5.916 kasus. Namun Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres risau wabah ini akan memakan korban jutaan jiwa, yang sebagian besar berusia muda, di benua yang dihuni 17,20 persen populasi dunia itu.

Menurut Guterres, Afrika membutuhkan alat uji, masker, ventilator, dan pakaian pelindung untuk petugas kesehatan dalam memerangi wabah ini. “Kita masih dapat mencegah yang terburuk di Afrika. Tapi, tanpa mobilisasi besar-besaran, kita akan memiliki jutaan orang yang terkontaminasi, yang berarti jutaan kematian,” katanya kepada RFI, akhir Maret lalu.

Menurut Africana Arguments, pada 17 Maret lalu, Afrika mencatat 450 kasus. Sepuluh hari kemudian, jumlah kasus di Afrika naik menjadi 3.721 dan mendekati angka 6.000 dengan korban meninggal 201 orang pada 1 April lalu. Kasus terbanyak berada di Afrika Selatan, negara yang memiliki populasi 59,3 juta jiwa.


Edward Miguel, profesor ekonomi lingkungan dan sumber daya Oxfam di University of California, Berkeley, Amerika Serikat, punya kerisauan sama dengan Guterres. Memang usia rata-rata populasi di Afrika adalah 19,7 tahun. Ini berbeda dengan Cina (38,4 tahun) dan Uni Eropa (43,1 tahun). Pengalaman di Asia dan Eropa menunjukkan orang yang berusia lebih dari 60 tahun dan memiliki masalah kesehatan paling rentan terhadap Covid-19.

161867946952

Menurut Miguel, evolusi Covid-19 juga harus diantisipasi. Namun faktor lain yang bisa membuat orang muda Afrika lebih rentan adalah tingginya prevalensi malnutrisi, anemia, malaria, HIV/AIDS, dan tuberkulosis. Sejumlah negara di Afrika mencatat 3-10 persen populasi orang dewasanya positif terkena HIV. “Harus diantisipasi bahwa korban parah akan terjadi pada pasien yang lebih muda karena demografi dan kondisi endemis yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh,” ujarnya, seperti dilansir situs web kampusnya.

Kohesi sosial dan pertemuan sosial juga sangat penting di Afrika. Misalnya tingkat kehadiran dalam ibadah mingguan sangat tinggi. Di Uganda dan Ethiopia, tingkat kehadirannya mencapai 82 persen. Akibatnya, langkah-langkah untuk memaksakan pembatasan fisik akan lebih sulit, seperti yang ditunjukkan dalam protes yang pecah pada 20 Maret lalu di Senegal seusai pertemuan publik, termasuk pertemuan di masjid-masjid, dilarang untuk mencegah penyebaran corona.

Faktor lain yang tak kalah penting, kata Miguel, adalah masalah kesiapan sistem kesehatan untuk merawat pasien kritis yang terendah di dunia. Kemampuan untuk mengobati pasien Covid-10 bergantung pada ketersediaan ventilator, listrik, dan oksigen. Afrika tak siap dengan fasilitas itu.

Liberia tidak memiliki unit perawatan intensif (ICU) dengan ventilator. Uganda hanya memiliki 0,1 tempat tidur ICU per 100 ribu populasi. Bandingkan dengan Amerika Serikat, misalnya, yang memiliki 34,7 tempat tidur per 100 ribu penduduk. Bahkan Kenya, yang berpenduduk 50 juta orang, hanya memiliki 155 tempat tidur ICU.

Bagi Miguel, kurangnya fasilitas kesehatan ini menakutkan. Jika ada wabah yang signifikan, bahkan jika tidak ada orang usia lanjut yang rentan, jutaan orang masih bisa terkena dampaknya. Sangat sedikit yang akan mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Dengan situasi seperti itu, menurut Guterres, negara maju yang tergabung dalam G20 perlu membantu Afrika. “Ketika virus bermutasi, semua investasi yang kita masukkan ke vaksin tidak ada artinya karena virus kemudian akan melakukan perjalanan dari Selatan (negara berkembang) kembali ke Utara (negara maju). Jadi ada kepentingan negara-negara Utara untuk membantu Selatan,” tuturnya.


•••

PASIEN pertama Covid-19 di Afrika Selatan adalah seorang pria yang baru kembali dari Kota Milan, Italia, pada 1 Maret lalu bersama istrinya dan delapan orang lain. Saat itu, Milan sudah mencatat 1.701 kasus dan 41 orang meninggal. Dua hari kemudian, ia melaporkan memiliki gejala terkena corona dan memeriksakan diri ke dokter umum swasta, lalu mengisolasi diri. Pada 5 Maret, Menteri Kesehatan Afrika Selatan Zweli Mkhize mengumumkan pria itu sebagai penderita kasus positif pertama Covid-19.

Setelah itu, jumlah kasus meningkat cepat dan mendorong pemerintah mengkarantina (lockdown) negara tersebut untuk mencegah penyebarannya. Pada 23 Maret lalu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menyatakan lockdown akan berlangsung selama 21 hari, mulai 27 Maret tengah malam hingga 16 April. Pada saat itu, jumlah kasus sudah mencapai 402, tapi belum ada korban meninggal.

Ramaphosa mengerahkan tentara dari pangkalan militer di Kota Soweto, di luar pusat ekonomi Johannesburg. “Ini tak pernah terjadi sebelumnya tidak hanya dalam demokrasi kita, tapi juga dalam sejarah negara kita, bahwa kita akan melakukan lockdown selama 21 hari untuk keluar dan berperang melawan virus corona, musuh yang tidak terlihat,” katanya.

Sejumlah muslim Senegal menghadiri Shalat Jum’at di Masjid Raya Nassaikoul selama pendemic Corona di Dakar, Senegal, 13 Maret 2020. Reuters/Sylvain Cherkaou

Ada banyak larangan selama Afrika Selatan dalam status lockdown. Semua orang disarankan tetap di rumah, kecuali petugas rumah sakit, petugas keamanan, pekerja di bidang produksi makanan, dan pekerja di sektor telekomunikasi. Kalau ada yang ingin keluar, mereka hanya diperbolehkan untuk membeli makanan atau obat-obatan atau mencari perawatan medis. Transportasi umum hanya tersedia delapan jam sehari serta ada larangan menjual alkohol dan rokok. Enam bulan penjara adalah ancaman bagi yang melanggar aturan ini.

Peristiwa dua korban meninggal pertama pasien Covid-19 di Afrika Selatan terjadi tepat pada hari pemberlakuan penguncian wilayah. Enam jam sebelum berlakunya penguncian, jumlah kasus sudah mencapai 927.

Penguncian ini memicu kepanikan. Penduduk Kota Johannesburg berebut memborong makanan, alkohol, dan bahan pangan lain. Di tempat lain, ribuan orang berjejal di terminal bus untuk mudik, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka akan menularkan virus kepada orang desa.

Ditebogo Koenaite, pilot 27 tahun, ragu semua orang akan mengikuti aturan pembatasan fisik. “Saya pikir kelas menengah ke atas akan menghormati penguncian, tapi saya tidak percaya kalangan kelas bawah akan mampu menjaga jarak aman,” ucapnya. “Lebih sulit di daerah yang miskin karena mereka berbagi toilet dan fasilitas dasar.”

Beberapa jam setelah karantina diterapkan, polisi sibuk mengusir kaum tunawisma di pusat Kota Johannesburg dan mengejar orang-orang dengan pentungan. Masyarakat melaporkan bahwa polisi menembakkan peluru karet ke arah massa. Menurut Time, 55 orang ditangkap pada hari itu. Keesokan harinya, militer menggerebek asrama pekerja di Kota Alexandra karena ada penghuninya yang tak patuh pada kebijakan pemerintah.

Meski merupakan negara yang memiliki kasus terbanyak, Afrika Selatan bukan satu-satunya yang menerapkan lockdown. Rwanda, yang memiliki 75 kasus Covid-19, dan Zimbabwe, yang punya 8 kasus dan 1 orang meninggal, memberlakukan kebijakan penguncian sejak 30 Maret lalu.

Negara Afrika lainnya membuat kebijakan bervariasi. Republik Demokratik Kongo mengkarantina total Ibu Kota Kinshasa selama empat hari, mulai 28 Maret. Senegal dan Pantai Gading menyatakan negara dalam keadaan darurat dan memberlakukan jam malam serta pembatasan perjalanan.

ABDUL MANAN (RFI, ANADOLU AGENCY, AFRICA NEWS)

Reporter Abdul Manan - profile - https://majalah.tempo.co/profile/abdul-manan?abdul-manan=161867946952


Covid-19 Virus Corona Afrika

Internasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.