Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

CINA
Maut di Jalur Cepat

Kecelakaan maut dua kereta supercepat di Cina menewaskan 39 orang. Penyelidikan penyebab kecelakaan menuai protes.

i

SEPASANG tangan mungil bergerak-gerak di antara rongsokan besi. Xiang Weiyi, anak balita berusia dua tahun itu, menangis lirih. Hampir sehari-semalam dia terperangkap di dalam gerbong kereta api cepat yang hancur. Tim penyelamat berusaha mengangkat tubuhnya. Upaya terhambat karena kaki kirinya terjepit. Akhirnya, setelah 21 jam, Weiyi bisa dievakuasi.

”Ini perjalanan jarak jauh ­pertama untuk Yiyi,” tulis ayahnya, Xiang Yu’an, dalam situs microblogging Weibo sehari sebelum perjalanan itu. Foto Yiyi duduk di kursi biru kereta CRH D3115 sambil memegang dot terpampang di situs. Yiyi kini dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Wenzhou. Kaki kirinya urung diamputasi. Tapi dia kini sebatang kara. Ayah dan ibunya, Shi Lihong, tewas.

Sabtu dua pekan lalu, kereta api berkecepatan tinggi bertabrakan di Lucheng, Kabupaten Wenzhou, Provinsi Zhejiang, Cina. Dua kereta itu berada di jalur yang sama, Ningbo-­Tai­zhou­-Wenzhou, saat insiden terjadi. Sebanyak 39 penumpang tewas dan 192 orang dirawat di rumah sakit, termasuk 12 yang terluka parah.


Pada hari nahas itu, kereta yang ditumpangi Yiyi berjalan tersendat di jalan layang antara Kota Hangzhou dan Fuzhou. Badai dan sambaran petir di selatan kota membuat aliran listrik mati. Kereta yang memuat 1.072 orang itu kehilangan daya, lalu berhenti.

161835802444

Tak lama kemudian, kereta CRH D301, yang membawa 558 orang, bergerak dari Beijing menuju Fuzhou. Kereta ini berjalan mulus. Tidak ada pemberitahuan bahwa rangkaian D3115 mengalami gangguan. Pukul 20.00 waktu setempat, tabrakan tak dapat dielakkan.

Enam gerbong tergelincir. Empat di antaranya jatuh dari jembatan setinggi 20 meter, satu gerbong tergantung di badan jembatan. ”Kereta tiba-tiba bergetar keras. Penumpang menangis meminta tolong, tapi tidak ada awak yang menanggapinya,” kata Liu Hongtaohe, salah satu korban selamat.

Lima puluh delapan jadwal perjalanan dibatalkan sehari setelah kejadian. Sheng Guangzu, Menteri Perkeretaapian, memerintahkan investigasi. Ia juga meminta maaf atas kecelakaan itu. Korban diberi kompensasi 500 ribu yuan.

Upaya penyelidikan penyebab kecelakaan menuai protes. Gerbong hancur yang dievakuasi dengan alat berat langsung dipendam dalam tanah tanpa diperiksa ahli. Pihak berwenang dituding berusaha menghilangkan barang bukti. Tapi juru bicara Kementerian Perkeretaapian, Wang Yongping, menyatakan rongsokan dipakai untuk menimbun parit berlumpur. ”Agar evakuasi lebih mudah dilakukan,” katanya.

Sehari setelah kejadian, pemerintah Cina mengumumkan penyebab kecelakaan adalah sambaran petir. Lima hari kemudian, pernyataan ini diralat. Kepala Biro Perkeretaapian Shanghai An Lusheng mengatakan kepada Xinhua, petir yang mematikan aliran listrik seharusnya membuat lampu sinyal kereta di Provinsi Zhejiang menjadi berwarna merah. Namun, akibat kesalahan rancangan, lampu tetap berwarna hijau.

Perusahaan pembuat sinyal, Badan Riset dan Desain Sinyal dan Komunikasi Kereta Nasional Beijing, mengaku bertanggung jawab serta meminta maaf. Tiga pejabat senior kereta api dipecat. Mereka adalah Kepala Biro Perkeretaapian Shanghai Long Jing serta Kepala Dewan Komite Partai Komunis Cina untuk Urusan Kereta Api Li Jia dan wakilnya, He Shengli.

Dua kereta perenggut nyawa itu adalah kereta peluru generasi pertama yang diluncurkan pada 2007. Kecepatan tertinggi mencapai 250 kilometer per jam. Keduanya dirakit di Cina di bawah perjanjian transfer teknologi dengan Kawasaki Heavy Industry dan Bombardier Transportation. Teknologinya mirip kereta British Virgin 390 Pendolino dan Shinkansen Jepang.

Cina kini tengah menjajaki penjualan teknologi kereta cepatnya ke Amerika Latin dan Timur Tengah. Namun, akibat kecelakaan, kepercayaan kepada jaringan kereta api cepat Cina merosot. ”Kejadian ini mungkin akan menyebabkan kontrak dengan penyedia perlengkapan kereta api dikaji lagi,” ujar Mark Po, analis pada UOB Kay Hia.

Ninin Damayanti (Guardian, Reuters, Xinhua, Financial Times)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835802444



Internasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.