Internasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

NORWEGIA
Darah di Negeri Nobel

Aktivis ekstrem kanan membantai hampir 80 orang di Norwegia. Dipicu kesulitan ekonomi dan sentimen anti-imigran muslim.

i

SIANG itu hujan lebat mengguyur Oslo, Norwegia. Esti Andayani sedang membaca laporan anggota stafnya sambil menyimak berita televisi Indonesia tentang kasus Nazaruddin. Tiba-tiba terdengar suara keras yang awalnya dia kira guruh. Beberapa menit kemudian, mata Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Norwegia ini terbelalak menyaksikan judul tayangan di televisi kabel: ”Oslo Blast”.

Esti dan anak buahnya di Kedutaan segera bertindak. ”Kontak keluarga, kontak warga kita,” perintahnya kepada staf KBRI, yang berada hanya 3-4 kilometer dari lokasi ledakan bom di kompleks kantor pemerintahan Norwegia. Staf Kedutaan juga langsung menghubungi kepolisian Norwegia, tapi tak segera mendapatkan jawaban atas apa yang terjadi. Rasa cemas kian membuncah lantaran tak lama kemudian muncul berita tentang penembakan di Pulau Utoeya, tak jauh dari Kota Oslo.

Baru beberapa hari kemudian, Kedutaan Indonesia mendapat keterangan dari polisi, jika ada warga asing yang menjadi korban, mereka akan segera menghubungi. ”Sampai saat ini, tak ada warga Indonesia yang menjadi korban,” kata Esti, Kamis pekan lalu.


Suasana mencekam segera membekap Oslo setelah ledakan bom dan penembakan menggunakan senapan mesin yang menewaskan 76 orang itu. Biasanya Jumat malam Oslo begitu ramai. ”Tapi malam itu sepi sekali. Tampaknya semua orang ketakutan,” kata Esti.

161835820331

Baru pada hari-hari berikutnya suasana mulai pulih secara perlahan. Tengah pekan lalu, para pejabat pemerintah kembali bekerja, kendati kantor mereka harus pindah ke gedung-gedung lain. Dalam berbagai kesempatan untuk mendoakan para korban, para pejabat pemerintah dan petinggi partai politik di Norwegia menyatakan kesamaan pendapat. ”Norwegia tetap bersatu untuk mempertahankan demokrasi dan keterbukaan,” Esti menirukan ucapan mereka.

Negeri yang dikenal dengan Hadiah Nobel, termasuk Nobel Perdamaian, ini bersimbah darah Jumat pekan lalu. Sebuah bom mobil meledak di kompleks kantor pemerintah di Oslo. Setidaknya delapan orang tewas. Beberapa saat kemudian, terjadi pembantaian para peserta acara kemah pemuda Partai Buruh, yang berkuasa di Norwegia, di Pulau Utoeya. Dalam penembakan berantai oleh orang yang mengenakan seragam polisi tersebut, sekitar 70 orang tewas. Tragedi ini tercatat sebagai yang terburuk di Norwegia sejak Perang Dunia II.

Sementara ini polisi menangkap seorang pelaku teror, dan dia diduga sebagai pelaku tunggal: Anders Behring Breivik, pemuda 32 tahun. Breivik berpandangan sangat kanan. Kepada polisi, dia mengatakan tindakannya dilakukan demi agama Kristen yang dia anut.

Teror di Norwegia ini mengingatkan kembali pada peristiwa ”Oklahoma City” pada 1995. Seorang militan ekstrem kanan Amerika, Timothy McVeigh, meledakkan bom truk di sebuah bangunan federal di Oklahoma City, yang menewaskan 168 orang.

Sebelum melakukan serangan, Breivik meluncurkan manifesto 1.500 halaman bertajuk ”2083: A European Declaration of Independence” di Internet. Dia menyebut soal ancaman ”Islamisasi Eropa Barat”. Ia mengkritik para politikus yang membiarkan imigran muslim memasuki Norwegia sebagai bagian dari kebijakan multikultural.

Breivik mengaku sengaja menargetkan serangan kepada warga asli Norwegia. Dia juga menyatakan menyerang muslim seharusnya dilakukan setelah terjadinya perubahan rezim di Eropa. Namun ucapan Breivik ini memicu kemarahan tokoh Kristen sedunia.

”Sangat penting untuk memberi tahu semua muslim di mana saja, baik di Eropa maupun di mana saja,” kata Pendeta Olav Fykse Tveit, ”aksi ini bukan cara yang dianut kepercayaan Kristen atau nilai-nilai Kristen.” Tveit, yang juga orang Norwegia, saat ini menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Dunia untuk Gereja-gereja.

Sebenarnya polisi telah memasukkan nama Breivik dalam daftar orang untuk diawasi. Ihwalnya, pada Maret lalu dia ketahuan membeli bahan kimia dari pemasok orang Polandia. Tapi dia kemudian tak lagi diawasi karena bahan kimia yang dibeli hanya seharga sekitar 11 pound sterling (sekitar Rp 152 ribu).

Dalam persidangan tertutup pekan lalu, Breivik mengakui pembantaian yang dia lakukan, tapi menyatakan dirinya tak bersalah. Menurut pengacaranya, Geir Lippestad, yang juga anggota Partai Buruh, Breivik mengungkap hubungannya dengan sel-sel ekstrem kanan di Norwegia, juga sel-sel di negara lain. ”Dia membicarakan soal dua sel di Norwegia, juga beberapa sel di luar negeri,” kata Lippestad.

Penyidikan aparatur hukum kini masih berlangsung dengan fokus intensif menguak jaringannya dengan kelompok ekstrem kanan di London, Inggris. Di kota itu, Breivik meluncurkan organisasinya: ”Selamatkan Eropa dari Pengambilalihan Muslim”.

Teror di Norwegia membangunkan kekhawatiran akan kaum ekstrem kanan di Norwegia ataupun di Eropa Barat pada umumnya. Dibanding di beberapa negara Eropa Barat lain, bahkan tetangga Norwegia, yakni Swedia, kelompok ekstrem kanan di Norwegia bisa dikatakan sangat kecil.

Secara politik, kelompok ekstrem kanan Norwegia berpusat pada Partai Kemajuan (Progress Party). Namun selama ini partai tersebut diasingkan oleh partai lain karena sikap anti-imigrannya yang sangat kuat.

Toh, pemimpin partai tersebut, Siv Jensen, menyangkal dukungan partainya atas tindakan Breivik. Serangan teror yang dilakukan Breivik, menurut dia, berlawanan dengan prinsip dan nilai masyarakat Norwegia. ”Lebih menyedihkan lagi mengetahui orang ini pernah menjadi anggota partai kami,” tulisnya dalam pernyataan pers.

Dalam laporan yang ditulis polisi Norwegia bertajuk ”2011 National Security Outlook”, sebetulnya tergambar peningkatan ketidakpastian di negara itu. Laporan yang tidak dibuka untuk umum itu menyebut kemungkinan peningkatan aktivitas oleh kelompok-kelompok militan ekstrem kanan pada tahun ini.

Masih menurut laporan tersebut, ekstremis kanan Norwegia berhubungan dengan ekstremis kanan Swedia, juga dengan kelompok-kelompok ekstrem kanan lainnya di Eropa. Kontak juga terjadi antara ekstremis kanan Norwegia dengan kelompok serupa di Rusia.

”Peningkatan aktivitas di antara beberapa kelompok anti-Islam bisa mengarah pada peningkatan polarisasi dan kesulitan, terutama saat terjadi peringatan dan demonstrasi,” demikian tulis laporan tersebut seperti dikutip Reuters.

Kelompok kanan Swedia yang disebut-sebut memiliki hubungan dengan ekstremis kanan Norwegia adalah Demokrat Swedia. Partai ini dikenal selalu menuding imigran muslim sebagai penyebab berbagai penyakit sosial yang ada.

Namun, kepada Dow Jones, juru bicara Demokrat Swedia, Marti Kinnunen, menyangkal partainya berhubungan dengan Breivik. Lewat pernyataan pers, pemimpin Demokrat Swedia,Jimmie Akesson, mengatakan tragedi Norwegia merupakan serangan terhadap seluruh masyarakat demokratis. Kebanyakan partai kanan di Eropa Barat pun mengecam teror di Norwegia.

Dalam manifestonya, Breivik mengaku direkrut oleh kelompok ekstrem kanan di Inggris pada 2002. ”Dulu saya memiliki lebih dari 600 anggota EDL (English Defence League) sebagai teman di Facebook,” tulisnya, ”Dan saya telah berbicara dengan puluhan anggota dan pemimpin EDL.”

Sumber Daily Mail mengatakan seorang anggota senior EDL mengakui Breivik bertemu dengan para pemimpin kelompok tersebut di Inggris tahun lalu. Ketika itu dia datang ke London untuk mendengarkan pidato Geert Wilders, politikus sayap kanan Belanda.

Kepala Badan Intelijen Domestik Norwegia Janne Kristiansen mengatakan, hingga pekan lalu, tak ada bukti yang menghubungkan Breivik dengan kelompok ekstrem kanan Inggris ataupun negara lain. Tapi polisi di banyak negara Eropa Barat mulai khawatir akan aspirasi ekstrem kanan, yang dipicu campuran sentimen antimuslim dan anti-imigran, ditambah kesulitan ekonomi.

Meski demikian, Norwegia tak patah semangat melanjutkan prinsip multikulturalismenya. ”Kami masih sangat kesakitan terhadap apa yang terjadi. Tapi kami tak akan pernah menyerah,” kata Perdana Menteri Jens Stoltenberg di depan ribuan orang yang berkumpul di katedral Oslo pekan lalu.

Stoltenberg mengulangi seruannya pada kesempatan lain untuk menolak kampanye teroris yang bernada anti-imigran dan anti-multikulturalisme. ”Jawaban kami adalah lebih demokrasi, lebih keterbukaan, dan lebih kemanusiaan.”

Purwani Diyah Prabandari (Dow Jones, The Guardian, Reuters)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835820331



Internasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.