Intermezzo 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menebar Aroma Kopi Wamena

Kopi arabika Papua yang tumbuh di hutan Wamena dijaga dengan budi daya secara organik. Lebih dihargai di negeri sendiri setelah merambah pasar dunia. Usaha mengembangkan kopi ini menjadi bagian dari tren pemberdayaan kopi-kopi unggulan negeri ini lainnya.

i

DARI jauh suara itu terdengar seperti jeritan burung. ­”Waaak, waak, nahora, waakk, waaak.” Suaranya terdengar keras berulang-ulang. Setelah rerimbunan pohon ditembus, terlihatlah sumbernya: lelaki tua berambut keriting dengan kulit legam berteriak-teriak. Dia, Papipakogoya, 55 tahun, bersama penduduk desa adat Asologaima, yang terletak di Muliama, Kabupaten Jayawijaya, menyambut kedatangan beberapa wartawan dan aktivis lingkungan World Wild Fund Indonesia pada pertengahan Juli lalu. ”Itu semacam ucapan selamat datang, jabat tangannya,” kata Theodora Resubun, anggota staf WWF Indonesia Papua, menerjemahkan teriakan itu.

Warga Kampung Asologaima merupakan salah satu kelompok tani binaan WWF Indonesia, lembaga konservasi lingkungan bagian dari jaringan global WWF. Mereka didampingi agar tetap konsisten menjaga dan melestarikan hutan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penduduk desa itu didukung mengembangkan produk kopi Wamena, salah satu jenis kopi arabika kelas dunia, sejajar dengan kopi Kolombia dan Ethiopia.

Perjalanan menjumpai kelompok tani yang tinggal di pedalaman hutan Papua sangat menantang. Dari luar Papua, akses terdekat adalah Wamena, salah satu distrik di Jayapura, kota terbesar di Pegunungan Tengah Papua. Wamena berada di Lembah Baliem, pada ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut. Wamena hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara, menggunakan jasa penerbangan pesawat perintis dari Jayapura, berkapasitas 20 penumpang. Sembari mendengarkan suara baling-baling yang bergemuruh, penumpang diayun kelincahan pesawat menyelip-nyelip di sela-sela pegunungan.


Perjalanan darat dimulai dari Wamena. Kawasan pinggiran hutan pegunungan Papua dibelah jalan selebar pas dua kendaraan dengan aspal yang terkelupas di sana-sini. Kendaraan yang melintasinya umumnya mobil bergardan ganda alias 4-wheel drive. Di jalan-jalan berlubang pada kontur naik-turun, duduk di dalam mobil serasa naik kuda. Jalanan relatif sepi, hanya sesekali berpapasan dengan orang atau kendaraan lain. Laju kendaraan lebih sering melambat karena babi melintas. Wajib bersabar. Menabrak babi dendanya tinggi, sampai jutaan rupiah.

161835522476

Di dalam hutan Pegunungan Jayawijaya itulah terserak kompleks permukiman kecil masyarakat asli yang hidup dari hutan dan berkebun, mencari kebutuhan tambahan ke Wamena. Daerah Kampung Asologaima terletak sekitar 20 kilometer dari Wamena. Dengan medan naik-turun dan jalan yang tidak halus, perjalanan ke sana memakan waktu sekitar dua jam.

Petani kopi di Asologaima tinggal di kampung yang terdiri atas beberapa honai, rumah tradisional Papua berbentuk kerucut. Tinggi honai sekitar dua meter, dibangun dengan kayu, beralas tanah, dan beratap rumbia. Ada honai laki-laki, khusus perempuan, dan yang dihuni bersama.

Kebun kopi terbentang di sekeliling kampung, terselip di bawah pepohonan yang menjulang. ”Kalau dihitung-hitung ada 1.600 batang pohon,” kata Anton Kurisi, 36 tahun, pemimpin kelompok tani.

Mereka mengenal bertanam kopi mulai 1990, dan panen perdana pada 1995. Kini setiap enam bulan sekali mereka panen, yang bisa mencapai tiga ton biji kopi masih dengan kulit atau gabah. Anton dan teman-teman tidak mengenal pestisida dan obat-obatan untuk budi daya kopi. Pupuknya menggunakan tanaman semak yang dibabat, ditumpuk, yang kemudian membusuk menjadi pupuk. Sedangkan hama dicegah dengan kebaikan. Mereka yakin, asalkan mereka tidak merusak alam dan panen dibagi secara adil, hama tidak akan datang.

Biji kopi hasil panen dijual masih dalam bentuk gabah. ”Kami jual ke pedagang. Selanjutnya tidak tahu dijual ke mana,” kata Anton. Petani lain, Herman, 32 tahun, mencatat perkembangan harga jual kopi dari kebun mereka, dari Rp 4.000 per kilogram pada 2003, kini mencapai Rp 15 ribu per kilogram, bahkan kadang Rp 20 ribu per kilogram. Harga kopi meningkat karena ada pembeli baru yang berminat. ”Katanya ada orang Amerika langsung membeli biji kopi,” kata Herman.

Kopi arabika di hutan Wamena memang sudah menembus pasar dunia. Starbucks Corporation, perusahaan kopi terbesar dunia, memesan kopi Wamena sejak 2008. Sampel kopi Wamena yang disertakan dalam pameran kopi dunia di Minnesota, Amerika Serikat, pada Agustus 2008 memikat Starbucks, yang kemudian membuat nota kesepahaman dengan petani kopi Wamena untuk pemesanan 36 ton per tahun. Sejak itu, kopi Wamena diekspor ke Amerika rata-rata hanya 18 ton per tahun. Setelah aromanya merebak di mancanegara, kopi Wamena juga memikat pasar di dalam negeri, sejalan dengan meningkatnya permintaan lokal.

Dari kajian tata niaga kopi oleh WWF Indonesia tahun lalu, kapasitas produksi kopi dari Kabupaten Jayawijaya saja mencapai 138,75 ton per tahun dengan nilai Rp 1,3-2 miliar. Kopi Wamena atau dikenal sebagai Baliem Coffee masuk jajaran kopi arabika unggulan (specialty) Nusantara. ”Kopinya memang enak, cita rasa baik sebagaimana karakter umum kopi specialty,” kata Yusianto, peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia atau Indonesia Coffee and Cocoa Research Institute, Jember, Jawa Timur.

Kopi arabika Baliem dibagi dalam kelas khusus: sedang dan biasa. Kelas khusus dan biji terpilih dikirim ke luar negeri. Sisanya untuk pasar lokal. Tahun lalu koperasi mengekspor 24 ton biji kopi ke Paragon, Amerika Serikat. Penggemar kopi di Eropa pun mulai menjajaki kopi Wamena.

Sifat khas kopi arabika dari Wamena adalah aromanya yang kuat dengan bau tanah, jamur, dan bunga. Kekentalannya sedang, masih kalah oleh kopi-kopi dari Sumatera. Kadar keasaman—salah satu kekhasan kopi arabika—juga sedang, di bawah keasaman arabika Toraja, setara dengan arabika Flores dan Kintamani.

Menurut Yusianto, kondisi alam dan faktor lingkungan—termasuk ditanam tanpa pupuk kimia—menjadi penentu rasa kopi Wamena. Kearifan lokal dalam memanen menghasilkan biji kopi pilihan. Kopi yang dipetik hanya yang sudah merah atau matang semua. ”Orang-orang Wamena punya filosofi, memetik kopi yang masih hijau sama dengan menggugurkan wanita hamil,” kata ahli kopi yang biasa mengajarkan ihwal karakter dan rasa kopi Indonesia kepada para barista (penyaji kopi) dari luar negeri ini.

Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang mengembangkan kopi Wamena, bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat Agribusiness Market and Support Activity-United States Agency for International Development. Kegiatan intinya mendorong budi daya tepat, dari penanaman, panen, sampai pemrosesan.

Pengembangan kopi Wamena terhitung masih muda dalam peta sejarah kopi Nusantara—kopi mulai masuk Indonesia pada abad ke-17. Tanaman kopi baru masuk Wamena pada 1950-an. ”Dibawa para misionaris,” kata Yusianto. Saat itu kopi diperlukan lebih untuk kebutuhan sendiri.

Sebelumnya, penduduk Wamena tidak mengenal kopi. ”Dulu mereka hanya minum air mentah dari sungai,” Pastor Frans Lieshout mengisahkan kesannya ketika pertama kali ke Wamena pada 1957. Selain itu, orang Wamena mengkonsumsi hasil kebun berupa sayur dan umbi-umbian, selain makan babi.

Selanjutnya pengembangan kopi secara serius dilakukan pemerintah kolonial Belanda. ”Mereka menanam kopi di pinggir-pinggir Sungai Baliem,” kata Pastor Frans.Tujuannya, selain untuk konsumsi sendiri, sebagai percobaan budi daya. Setelah pemerintah kolonial Belanda pergi, tak ada lagi pengembangan kopi.

Baru pada 1980-an, seorang pedagang dari Cina mengajak masyarakat kembali menanam kopi. ”Dia mengumpulkan kopi dan menjualnya dalam bungkusan,” kata Pastor Frans. Tapi rintisan itu tidak berkembang luas. Kopi sempat dianggap sebagai tanaman liar. ”Jadi makanan burung,” kata Selion Karoba, Ketua Koperasi Baliem Arabica, koperasi petani-petani kopi Pegunungan Tengah Papua, yang dirintis sejak 2007.

Pengembangan kopi Wamena kembali intensif satu dasawarsa terakhir. Pola pertanian organik yang ramah lingkungan tetap dipertahankan, bahkan menjadi syarat utama. ”Kami tidak sembarang menebang pohon, hewan-hewan juga tetap terlindungi,” kata Selion. Untuk itu, beberapa kebun milik petani-petani koperasi mendapat sertifikasi ramah lingkungan dari RainForestAlliance.

Kegiatan berkebun kopi warga Pegunungan Tengah Papua dilakukan secara gotong-royong oleh para petani, terutama untuk pekerjaan skala besar, seperti penanaman bibit. Membersihkan lahan atau menanam bibit kopi biasanya dimulai dari pagi hingga sore. Pada minggu berikutnya, akan ada hari baru yang ditentukan bersama oleh warga. Pada hari itu, semua orang akan kembali berkumpul dan bekerja sesuai dengan kesepakatan. Praktis seluruh anggota keluarga terlibat. Para ibu yang punya anak kecil pun ikut berkeringat sambil menggendong anaknya dengan noken—tas tradisional Papua—yang dicantolkan di kepala.

Harun Mahbub, Mahbub Djunaidy (Jember), Jerry Omona (Jayapura)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835522476



Intermezzo 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.