maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

BRGM

BRGM Bersinergi Cegah Karhutla

Meskipun terjadi El Nino, tahun ini kebakaran hutan dan lahan gambut dapat diminimalisir

arsip tempo : 171872272623.

Kabadan BRGM Hartono Prawiraatmadja. tempo : 171872272623.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada tahun 2015 menghanguskan 2,6 juta hektare hutan dan lahan gambut. Agar kejadian tidak terulang, ragam upayapun dilakukan untuk mengantisipasinya. 

Salah satunya dengan mengembangkan platform Pranata Informasi Restorasi Ekosistem Gambut dan Mangrove (PRIMS). Melalui fitur-fitur yang ditawarkan platform itu, kondisi lahan gambut dan mangrove terkini dapat diketahui, serta memantau kemajuan kegiatan restorasi dan dampaknya terhadap lahan gambut dan mangrove.

Diketahui, PRIMS memiliki fitur untuk menganalisa indikasi pembukaan dan pengeringan gambut. Pada fitur ini pemangku kepentingan dapat mengambil keputusan untuk mencegah dan mengurangi dampak dari pembukaan dan pengeringan gambut. 

Selain berdasarkan fitur yang ada di PRIMS, informasi yang diperoleh dipadukan dengan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Dari instrumen yang kita pasang di lapangan untuk memonitor hasil kerja kita, kemudian dipadukan dengan data yang dihasilkan oleh BMKG itu bisa untuk memprediksi kekeringan gambut di satu wilayah,” kata Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Hartono Prawiraatmaja, belum lama ini.

Platform ini juga dapat melihat sebaran aktivitas restorasi gambut. “Sehingga dapat melihat persebaran aktivitas restorasi gambut dan mengidentifikasi perencanaan restorasi,” ujarnya. 

PRIMS juga dapat memantau tinggi muka air tanah lahan gambut. Pemangku kepentingan dapat menggunakan data PRIMS untuk mengelola tinggi muka air ke level aman sehingga memastikan lahan gambut selalu basah. Platform ini juga dapat mengukur kelembapan lahan gambut untuk manajemen risiko kebakaran. Pemangku kepentingan dapat mengetahui tingkat kelembapan lahan gambut untuk memantau efektivitas intervensi pembasahan gambut.

Selain itu, PRIMS juga menyuguhkan fitur memantau sebaran titik panas di provinsi prioritas. Melalui fitur ini, pemangku kepentingan dapat memprioritaskan area dengan indikasi kebakaran dan mengambil keputusan tindakan pemadaman. “Platform ini juga memiliki fitur memprediksi potensi kebakaran di area yang rentan (dalam pengembangan). Berkat fitur ini, pemangku kepentingan dapat mendeteksi dini area dengan risiko kebakaran tinggi dan melakukan mitigasi untuk mencegah karhutla,” tambah Hartono. 

Dari hasil prediksi BMKG dan informasi yang diperoleh PRIMS, BRGM dapat membuat tindakan yang diperlukan berdasarkan prakiraan cuaca. “Jika ada perkiraan BMKG dan wilayah gambut tersebut kekeringan, maka diputuskan untuk membuat hujan buatan.”

Hujan buatan ini, kata Hartono, saat ini lebih efektif. BRGM bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang menghasilkan hujan buatan. “Tentunya ini kerjasama dengan berbagai pihak. Selain BRIN, terdapat juga Komando Daerah Militer, Kepolisian Daerah, dan dana diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).”

Hartono mengatakan, karena itulah tahun ini meskipun terjadi El Nino namun kebakaran hutan dan lahan gambut dapat diminimalisir. “Setelah sekian tahun kita mengalami kebakaran berulang, rupanya kita belajar. Banyak yang kita lakukan secara terkoordinasi sehingga pencegahan karhutla di semua titik gambut bisa kita lakukan.”

Hartono memiliki catatan untuk penggunaan hujan buatan. Sebaiknya dilakukan setelah terjadi penyerbukan pada tanaman seperti duku dan durian. Hal itu dilakukan agar buah yang dihasilkan tanaman dapat tumbuh dan tidak mati karena bunga tersiram air hujan buatan. 

Di tahun ini, hujan buatan juga berguna untuk mengisi waduk-waduk yang kering. “Karena El Nino, ada dua kekhawatiran. Selain Karhutla, cadangan air di waduk-waduk pun berkurang sehingga berpotensi gagal panen.”

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 16 Juni 2024

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024

  • 26 Mei 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan