maaf email atau password anda salah

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini

Satu Akun, Untuk Semua Akses


Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Satu Akun, Untuk Semua Akses

Masukan alamat email Anda, untuk mereset password

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link reset password melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Ubah No. Telepon

Ubah Kata Sandi

Topik Favorit

Hapus Berita

Apakah Anda yakin akan menghapus berita?

Ubah Data Diri

Jenis Kelamin

Kemendikbudristek

Peranan Orang Tua dalam Implementasi Kurikulum Merdeka

Kesadaran orang tua melakukan kolaborasi dengan sekolah untuk mengembangkan potensi anak

arsip tempo : 1719238353100.

Kesadaran orang tua melakukan kolaborasi dengan sekolah untuk mengembangkan potensi anak. tempo : 1719238353100.

Kesadaran orang tua melakukan kolaborasi dengan sekolah untuk mengembangkan potensi anak diberi peluang besar melalui Kurikulum Merdeka. Sebagian orang tua semakin menyadari, bahwa proses pembelajaran anak tidak semata-mata harus bertumpu di sekolah, melainkan orang tua harus ikut berperan. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dikembangkan melalui Kurikulum Merdeka turut mendorong kolaborasi dan gotong royong antara sekolah dan orang tua. Dalam artian, gotong royong akan turut menciptakan pendidikan yang menyenangkan bagi anak.

Kurikulum Merdeka, salah satu program kebijakan di bawah payung gerakan Merdeka Belajar, dirancang sebagai upaya pemulihan pembelajaran dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam kerangka yang lebih fleksibel, fokus pada pemberian materi esensial, serta pengembangan karakter dan kompetensi murid. Melalui kerangka tersebut murid diharapkan dapat menerima pembelajaran yang lebih bermakna dan mendalam.

Selain itu, Kurikulum Merdeka menyediakan waktu yang lebih banyak untuk pengembangan kompetensi dan karakter melalui P5, kegiatan kokurikuler yang memberikan kesempatan kepada murid untuk mempelajari tema-tema atau isu penting seperti perubahan iklim, anti radikalisme, kesehatan mental, budaya, wirausaha, teknologi, dan kehidupan berdemokrasi, sehingga murid dapat melakukan aksi nyata dalam menjawab isu-isu tersebut. Hingga Tahun Ajaran 2023/ 2024, lebih dari 80% satuan pendidikan di Indonesia telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini, selain gotong royong antara sekolah (guru dan kepala sekolah) dan orang tua, juga turut mengedepankan gotong royong dengan seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan dinas pendidikan, untuk mendukung pengimplementasiannya.

Keterlibatan orang tua khususnya, menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan penerapan Kurikulum Merdeka. Orang tua diharapkan dapat mengubah paradigma berpikir mereka, bahwa sekolah bukan hanya tempat penitipan anak, kemudian menerima proses pembelajaran. Orang tua juga diharapkan dapat terlibat aktif, mendukung semua kegiatan anak-anak mereka dengan baik, supaya tujuan pemerintah untuk menghadirkan generasi Indonesia yang mengamalkan Profil Pelajar Pancasila dapat tercapai.

Adhya Utami Larasati, orang tua salah satu murid SDIT Al Irsyad Al Islamiyyah Bandung mengungkapkan, bahwa dengan diterapkannya Kurikulum Merdeka di sekolah anaknya, ia mulai dapat melihat dengan jelas ‘koridor’ akan diarahkan ke mana. ‘Koridor’ ini dipandang sebagai jalur bagi anaknya melangkah untuk mengembangkan bakat berdasarkan karakteristik anaknya. Melalui Kurikulum Merdeka,  ia juga mulai mengerti apa yang ingin dicapai dari Profil Pelajar Pancasila, sebagai karakter dan kompetensi yang diharapkan tumbuh melalui proses pembelajaran anak.

“Melalui poin beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esha, anak-anak diajarkan beribadah, belajar adab. Kemandirian juga menjadi fokus dari Profil Pelajar Pancasila. Kami selaku orang tua juga ikut bergotong royong untuk melatih kemandirian anak dengan melatih life skill dan mengajarkan mereka bertanggung jawab dengan propertinya sendiri,” terang Adhya.

Ia mengungkapkan, Kurikulum Merdeka membuatnya dapat melihat perkembangan anak secara berkala, terutama dalam pelaksanaan P5. Ia merasa bahwa anaknya berbahagia melaksanakan projek dan melihat anak-anak mulai mengerti bagaimana pola bekerjasama dengan tim.

“Saya melihat anak-anak sangat antusias menyiapkan ekspo P5 untuk presentasi projek mereka. Mereka belajar gotong royong. Meskipun ada projek pribadi seperti menanam tanaman di rumah dan lainnya, tapi ekspo dalam P5 mengajarkan mereka cara kerja berkelompok,” lanjut Adhya mengatakan bahwa kerja berkelompok mengajarkan anak-anak untuk lebih menekan sifat individualistik mereka.

Keterlibatan orang tua dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka bukan tanpa tantangan sama sekali. Adhya merasa dirinya pernah menghadapi tantangan membersamai anak dalam penerapan Kurikulum Merdeka, tapi tantangan tersebut dapat diatasi seiring dengan waktu. Ia mengungkapkan tantangan terbesar adalah memberikan pemahaman pada anak. Contoh, ketika anaknya melaksanakan projek menanam tanaman di rumah saat Kelas 1, saat itu tanamannya kurang bisa tumbuh dengan baik sementara guru meminta laporan perkembangannya.

“Saat dia menanam, tanamannya tidak tumbuh dengan baik, tidak seperti teman-temannya. Gurunya minta membuat laporan untuk progres pertumbuhan. Anak saya merasa sulit menyampaikannya. Jadi saya berikan pemahaman bahwa ia harus menyampaikan progresnya secara jujur. Projek ini juga melatih kejujuran,” terang Adhya.

Adhya mengungkapkan bahwa dengan implementasi Kurikulum Merdeka peranan orang tua dalam proses pembelajaran anak menjadi lebih besar. Sebab orang tua diharapkan lebih terlibat dan hal tersebut merupakan tanggung jawab dari orang tua. Ia merasa bahwa proses pembelajaran, termasuk pelaksanaan berbagai projek dimudahkan, karena adanya interaksi antara guru dan orang tua murid yang lain.

“Kami selalu berkomunikasi terkait perkembangan anak dan hal ini sangat membantu untuk melihat kendala pembelajaran apa saja yang dialami anak. Guru juga sangat aktif mensosialisasikan jika ada pengumuman,” terang Adhya.

Eltri Enggar, salah seorang orang tua murid dari KB Bintang Ceria, Kab. Malang, Prov. Jawa Timur yang juga menerapkan Kurikulum Merdeka mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka setiap orang tua harus siap terkejut dengan berbagai hal yang diminta dan diungkapkan anak. Sebab menurutnya butuh upaya tambahan ketika melakukan pendampingan pada anak saat pembelajaran.

“Banyak orang tua berpikir bahwa proses pembelajaran anak hanya merupakan tanggung jawab sekolah dan pendidikan anak diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Padahal tujuan dari Kurikulum Merdeka hanya akan tercapai bila ada kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan anak itu sendiri,” terang Eltri.

Eltri menceritakan bagaimana perkembangan anaknya saat masuk TK dan menerima pembelajaran yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Ia merasa banyak hal mengejutkan yang terjadi terkait dengan perkembangan kreatifitas anaknya.

“Anak saya bukan tipikal yang terlalu aktif pada awalnya. Tapi saya melihat perkembangannya, ia mulai membuat boneka kertas sendiri dari potongan kertas dan kaus kaki. Saya sendiri tidak pernah mengajarkan cara membuat boneka kertas. Selain boneka, dia juga menyusun kasur, selimut, infus, alat kejut jantung. Bagi saya untuk anak seusia ini dengan pemikiran sejauh itu cukup luar biasa,” terangnya terkait praktik baik dari implementasi Kurikulum Merdeka yang dilihatnya dari anaknya.

Senada dengan Eltri, Hayu Hartanti, orang tua salah seorang murid dari SDIT Al Furqan Palangkaraya mengungkapkan terkait pola perkembangan anak yang mengejutkan karena  Kurikulum Merdeka sudah mengikuti perkembangan zaman. Ia merasa bahwa Kemendikbudristek sudah menyediakan serangkaian panduan berdasarkan tahapan-tahapan kesiapan anak dalam mengikuti Kurikulum Merdeka.

“Tugas orang tua di rumah adalah memperbanyak komunikasi dengan anak. Peran orang tua sangat penting bagi anak, terutama saat anak kita kesulitan,” tegasnya.

Hayu juga merasa bahwa Kurikulum Merdeka sudah disesuaikan dengan minat dan bakat anak. Menurutnya, apabila minat dan bakat anak sudah ditemukan sedari dini, orang tua dapat merefleksikan pembelajaran untuk mendukung masa depan anak. Orang tua, terang Hayu, turut bertugas untuk mendukung agar anak kita menjadi penerus generasi yang lebih hebat.

Bagi orang tua murid, inilah saatnya menceritakan pengalaman bermakna dan menyenangkan dalam mendampingi anak dalam pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka. Kemendikbudristek mengajak orang tua dari murid yang bersekolah di jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, SDLB, SMPLB, SMALB, PKBM dan SKB untuk dapat menceritakan pengalaman nyata orang tua dalam mendampingi anak belajar dengan Kurikulum Merdeka melalui #CeritaKurikulumMerdeka. Para orang tua murid dapat mengikuti #CeritaKurikulumMerdeka dari 20 Oktober hingga 3 November 2023. Peserta terpilih dari kegiatan ini berkesempatan mendapatkan hadiah menarik berupa laptop, tablet dan uang pembinaan. Informasi selengkapnya mengenai ajakan ini dapat disimak melalui link ini dan simak informasi terbaru di kanal media sosial Instagram @kurikulum.merdeka. Mari serentak bergerak ciptakan pembelajaran berkualitas bagi semua karena #SemuaMuridIstimewa.(*)

Berita Lainnya

Konten Eksklusif Lainnya

  • 23 Juni 2024

  • 16 Juni 2024

  • 9 Juni 2024

  • 2 Juni 2024


Jurnalisme berkualitas memerlukan dukungan khalayak ramai. Dengan berlangganan Tempo, Anda berkontribusi pada upaya produksi informasi yang akurat, mendalam dan tepercaya. Sejak awal, Tempo berkomitmen pada jurnalisme yang independen dan mengabdi pada kepentingan orang banyak. Demi publik, untuk Republik.

Login Langganan