Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kopi Arabika Terancam Punah

Penelitian terbaru menemukan 75 dari 124 spesies kopi liar terancam punah dalam sepuluh tahun ke depan akibat perubahan iklim. Salah satunya kopi arabika.

i Pohon kopi arabika di Kampung Batuloceng, Desa Suntenjaya, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, Juni 2015. TEMPO/Prima Mulia
Pohon kopi arabika di Kampung Batuloceng, Desa Suntenjaya, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, Juni 2015. TEMPO/Prima Mulia

AROMA harum yang menyeruak dari secangkir kopi yang Anda nikmati tiap pagi mungkin bakal hilang bersama punahnya 60 persen spesies kopi liar dalam satu-dua dekade mendatang. Para ilmuwan dari Royal Botanic Gardens di Kew, Inggris, yang melakukan penelitian terbaru, mengingatkan bahwa perubahan iklim, deforestasi, perbuatan manusia, dan hama penyakit adalah yang bertanggung jawab atas hilangnya 75 dari 124 spesies kopi liar di bumi.

Salah satu spesies itu Coffea arabica alias kopi arabika, spesies komersial paling populer yang ditanam petani kopi di seluruh dunia. Saat ini 60 persen produksi kopi global disumbang kopi arabika. “Spesies kopi liar mengandung sifat-sifat genetis yang digunakan untuk pengembangan—melalui perkawinan tanaman—dari kopi yang kita tanam,” ujar Helen Chadburn, salah seorang penulis makalah yang dipublikasikan di jurnal Science Advances dan Global Change Biology, yang terbit 16 Januari lalu.

Aaron P. Davis, kepala pusat riset kopi di Kew Royal Botanic Gardens, yang juga penulis utama penelitian ini, menjelaskan bahwa beberapa spesies yang terancam punah itu dapat digunakan untuk mengembangkan dan mengawinkan kopi buat masa depan. Di antaranya spesies yang memiliki resistansi terhadap penyakit dan daya tahan atas kondisi iklim yang memburuk.

Menurut Davis, upaya konservasi yang telah dilakukan saat ini ternyata tidak cukup melindungi spesies kopi liar untuk jangka panjang. Dia mengatakan aksi khusus mendesak dilakukan di negara-negara tropis tertentu, khususnya di Afrika, dan area hutan tertentu yang dilanda perubahan iklim paling buruk. “Ketika temperatur meningkat dan curah hujan menurun, area untuk pertumbuhan yang cocok akan menghilang,” ucap Davis seperti dikutip Reuters, Kamis tiga pekan lalu.


Penelitian ini berfokus pada Ethiopia. Negara di Afrika Timur itu tempat lahir alami spesies kopi arabika liar. Ethiopia juga eksportir kopi terbesar di Afrika—menyumbang 3 persen produksi kopi global. Tiap tahun nilai ekspornya mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,94 triliun. Ada 15 juta orang Ethiopia yang terlibat dalam industri kopi.

162092470179

Peneliti menggunakan pemodelan komputer untuk melihat bagaimana perubahan iklim berdampak pada spesies arabika liar di Ethiopia. Peneliti menemukan apa yang mereka sebut sebagai “gambaran suram” bagi spesies tersebut karena jumlah lokasi penanaman kopi arabika bakal menurun hingga 85 persen pada 2080. Untuk tumbuh baik, arabika membutuhkan suhu 15-24 derajat Celsius.

Pada 2017, tim peneliti mencari pengaruh perubahan iklim pada perkebunan kopi di Ethiopia dan menemukan 60 persen lahan tidak cocok lagi digunakan pada akhir abad ini. “Mempertimbangkan ancaman dari perbuatan manusia dan deforestasi, beberapa spesies kopi liar akan punah dalam 10-20 tahun, terutama dengan tambahan pengaruh dari perubahan iklim,” kata Davis.

Upaya konservasi harus dilakukan karena 35 spesies liar tumbuh di habitat yang tidak mendapatkan perlindungan. Helen Chadburn merujuk pada spesies kopi liar di Tanzania dan Madagaskar. Dia mengatakan beberapa spesies memiliki tingkat penyebaran sangat kecil sehingga membuatnya lebih rentan punah. “Satu saja kejadian ancaman dapat berdampak pada seporsi besar populasi di sebuah area yang kecil,” tutur Chadburn.

Tidak hanya dari peningkatan suhu dan penurunan curah hujan, ancaman juga datang dari aktivitas manusia. Praktik pertanian seperti pembukaan hutan untuk padang penggembalaan ternak di beberapa daerah akan meningkatkan potensi kebakaran lahan. Spesies kopi, Chadburn menerangkan, umumnya memiliki rentang sempit kondisi iklim yang cocok untuk tumbuh. “Jika habitat yang cocok untuk tumbuhnya spesies tertentu itu hilang, hilang pula spesies tersebut untuk selamanya,” ujarnya.

Di Ethiopia, sebagai bagian dari upaya konservasi kopi liar, diluncurkan Yayu Forest Coffee Project. Melalui program ini, petani kopi diajak menanam kopi di dalam area hutan lindung Yayu Biosphere Reserve. Menurut Chadburn, praktik seperti ini menjadi kunci mempertahankan spesies liar. Pilihan lain ada, tapi tak banyak. “Mengkonservasi kopi melalui bank benih dan penanaman di lahan khusus kadang sulit dan mahal, tapi tetap diperlukan,” ucapnya.

Di Indonesia, menurut peneliti senior Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia di Jember, Jawa Timur, Misnawi, perubahan iklim juga mempengaruhi tanaman kopi, tapi dampaknya tidak sebesar seperti yang diungkapkan Davis dan Chadburn. “Peningkatan suhu itu pengaruhnya nyata bagi kopi Indonesia, tapi tidak sampai membuat 60 persen spesies punah,” katanya.

Misnawi mengatakan ada dua bentuk perubahan iklim, yaitu peningkatan suhu global dan ketidakpastian iklim. “Ketidakpastian iklim ini yang langsung berpengaruh pada hama dan budi daya,” kata mantan Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao itu.

Ia memberikan contoh, hama penggerek buah (Hypothenemus hampei) biasanya menyerang kebun kopi di ketinggian kurang dari 800 meter di atas permukaan laut. Namun, ketika suhu meningkat, hama yang tidak tahan dingin itu dapat bergerak hingga ke ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut.

Perkebunan kopi Indonesia berada di ketinggian 900-1.600 meter, bahkan ada yang di 2.000 meter di atas permukaan laut. “Dulu di ketinggian itu tidak bisa, sekarang bisa tumbuh. Hama penggerek buah mungkin tidak bisa menyerang,” ujarnya.

Meski demikian, Misnawi menambahkan, hama penggerak buah kopi tetap menjadi masalah. Karena petani harus melakukan rotasi dan migrasi, penanaman kopi pindah ke area lebih tinggi.

Menurut dia, spesies liar kopi di Indonesia tidak banyak karena kopi bukan tanam-an endemis. Namun kepunahan spesies kopi liar juga akan berpengaruh pada industri kopi Indonesia. “Kita akan kehilangan sumber genetis yang dibutuhkan dalam proses pembiakan kopi untuk masa depan. Jadi berkurang peluang membentuk sifat-sifat baru kopi unggul.”

Saat ini, kata dia, produksi kopi Indonesia stagnan karena jumlah petani dan area perkebunan tetap. Harga kopi relatif tinggi tapi berfluktuasi. Akibatnya, petani tak mau ambil risiko mengekstensifikasi lahan kopinya. Produksi kopi Indonesia saat ini, menurut Misnawi, sebesar 650 ribu ton per tahun. Separuhnya dikonsumsi di dalam negeri.

Kondisi produksi yang stagnan ini tidak menenangkan Misnawi. Ia mengungkapkan, maraknya kedai kopi dan tren minum kopi di masyarakat perkotaan membuat konsumsi terus meningkat. Menurut dia, pertumbuhan konsumsi kopi Indonesia sekitar 14 persen. Kalau produksinya tetap sementara konsumsi meningkat, stok sisa yang biasanya diekspor akan berkurang. “Padahal para eksportir itu memiliki kontrak. Kalau stoknya kosong, bisa saja mereka melakukan re-ekspor, yang berpotensi menurunkan mutu dan citra kopi Indonesia yang sudah terkenal,” tutur Misnawi.

DODY HIDAYAT (KEW ROYAL BOTANIC GARDENS, SCIENCE ADVANCES, SMITSONIANMAG.COM, REUTERS, POPULAR MECHANICS)

Reporter Dody Hidayat - profile - https://majalah.tempo.co/profile/dody-hidayat?dody-hidayat=162092470179


Kopi

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.