Hukum 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kepala Polisi Ajudan Jokowi

Presiden Joko Widodo menunjuk Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian RI. Karena faktor kedekatan.

i Listyo Sigit Prabowo (kiri) saat masih menjadi ajudan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 15 Desember 2015./TEMPO/Aditia Noviansyah
Listyo Sigit Prabowo (kiri) saat masih menjadi ajudan Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 15 Desember 2015./TEMPO/Aditia Noviansyah
  • Presiden Joko Widodo mengusung mantan ajudannya sebagai calon tunggal Kapolri. .
  • Jokowi dekat dengan Sigit sejak masih di Solo.
  • Menjelang uji kelayakan dan kepatuhan di DPR, transkrip percakapan Tommy dan Napoleon soal Sigit beredar. .

MELALUI sambungan telepon, Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal melontarkan seloroh kepada Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pada Senin, 11 Januari lalu, itu, tersiar kabar Presiden Joko Widodo memilih Sigit sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia. “Siap Bapak Kapolri, siap perintah,” ujar Iqbal.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri itu merespons gurauan Iqbal. “Pak, jangan begitu,” kata Iqbal menirukan ucapan Sigit pada Jumat, 15 Januari lalu. Iqbal menjelaskan ucapannya adalah doa. Keduanya kemudian tertawa.

Iqbal dan Sigit satu angkatan di Akademi Kepolisian. Keduanya lulusan 1991. Sebagai Ketua Bhara Daksa—nama angkatan 1991, Iqbal menyampaikan bahwa ia menelepon Sigit mewakili angkatan mereka. “Tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan menghendaki,” ucap Iqbal kepada Sigit. Lawan bicaranya membalas bahwa ia sedang berfokus bekerja di Bareskrim. “Mas Sigit tetap merendah,” tutur Iqbal.

Rumor bahwa Presiden Joko Widodo memilih Sigit sebagai calon Tribrata-1 terkonfirmasi dua hari kemudian. Pada Rabu, 13 Januari lalu, Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengantar surat presiden soal penunjukan Sigit sebagai calon Kepala Polri ke pemimpin Dewan Perwakilan Rakyat. “Pemerintah sangat berharap proses ini segera ditindaklanjuti oleh DPR secepat-cepatnya,” ujar Pratikno. Dua anggota DPR dari partai koalisi mengatakan, meski baru dikirimkan Pratikno ke DPR pada hari Rabu, 13 Januari lalu, surat penunjukan Sigit disebut telah diteken Jokowi pada Sabtu, empat hari sebelumnya.

Pria kelahiran Ambon, 5 Mei 1969, itu menggantikan Jenderal Idham Azis yang pensiun pada 30 Januari mendatang. Idham, angkatan 1988A, memimpin Korps Bhayangkara setelah Tito Karnavian dilantik sebagai Menteri Dalam Negeri pada Oktober 2019. Menuju kursi Kepala Polri, Sigit melompati angkatan 1988B, 1989, dan 1990. Polisi dari angkatan sebelumnya, 1987 dan 1988A, juga masih ada yang masa dinasnya lebih dari dua tahun.

Tanda-tanda terpilihnya Sigit sudah tampak di pengujung tahun lalu. Seorang petinggi partai koalisi dan seorang anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mengatakan Jokowi memanggil Sigit sepekan sebelum Komisi Kepolisian Nasional mengirimkan lima nama kandidat ke Istana pada Rabu, 6 Januari lalu. Selain Sigit, nama yang diajukan Kompolnas adalah Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri Komisaris Jenderal Arief Sulistyanto; Kepala Badan Pemeliharaan dan Keamanan Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto; Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Gatot Eddy Pramono; serta Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar.

Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, mengatakan lembaganya sudah menyaring semua komisaris jenderal yang masih aktif, kemudian mengerucutkannya menjadi lima nama atas berbagai pertimbangan. “Prestasi, integritas, dan track record menjadi fokus utama kami, termasuk masa pensiun,” ujar Poengky.

Dari lima kandidat itu, Sigit paling muda. Umurnya 51 tahun. Ia baru akan berstatus purnawirawan pada 2027. Arief, Gatot, dan Boy pensiun tiga tahun mendatang. Agus akan mengakhiri masa dinas pada 2025.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno (kanan) dan Ketua DPR Puan Maharani memberikan keterangan usai membacakan surat presiden terkait pengajuan nama Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai calon tunggal Kapolri ke DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/1/2021)./ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Selain menjaring nama lewat Kompolnas, Jokowi meminta pertimbangan dari petinggi partai koalisi pada Desember lalu. Menurut salah seorang yang ikut dalam pertemuan, Jokowi meminta tamunya menyebutkan nama-nama potensial. Sumber ini mengaku tak menjawab pertanyaan tersebut.

Adapun petinggi partai yang lain melontarkan tiga nama jenderal. Mereka adalah Sekretaris Utama Badan Intelijen Negara Komisaris Jenderal Bambang Sunarwibowo, Agus Andrianto, dan Listyo Sigit. Bambang Sunarwibowo dianggap unggul dalam bidang perencanaan. Tapi alumnus Akademi Kepolisian 1988B ini belum pernah menjadi kepala polda.

Agus Andrianto dianggap banyak membantu pemerintah. Dia juga disebut-sebut dekat dengan menantu Jokowi yang baru terpilih menjadi Wali Kota Medan, Bobby Nasution. Saat menjadi Kepala Polda Sumatera Utara, Agus dianggap sukses mengawal pemilihan presiden 2019. Jokowi unggul 350 ribu suara dari Prabowo Subianto di Sumatera Utara.

Adapun Sigit dinilai berkarakter kalem, punya hubungan baik dengan pemimpin umat lintas agama, dan bisa masuk semua kalangan. “Perhitungan Pak Jokowi, untuk menjaga stabilitas sampai 2024 dengan menghindari kegaduhan,” ujar sumber tadi. “Dari semua kandidat, Pak Jokowi lebih kenal personal dengan Mas Sigit. ”Dua narasumber lain memperkuat cerita ini. Salah seorangnya, bekas pejabat Istana, mengatakan Sigit sudah lama disiapkan sebagai Kepala Polri karena loyalitasnya telah teruji. “Pak Jokowi akan memilih orang yang dia sudah tahu karakternya,” ujarnya.

Kedekatan Sigit dengan Jokowi terentang sejak 2011. Kala itu, Jokowi menjabat Wali Kota Solo periode kedua. Sigit menjadi Kepala Polres Solo dengan pangkat komisaris besar. Lima bulan setelah Sigit dilantik, atau pada September 2011, bom bunuh diri meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh Kepunton, Solo, Jawa Tengah.

Peristiwa ini hanya berjarak tiga hari dengan rencana Solo menjadi tuan rumah Asian Parliamentary Assembly atau Majelis Parlemen Asia. Jokowi saat itu juga sedang gencar mengkampanyekan Solo sebagai kota wisata. Keduanya bahu-membahu memulihkan keamanan Solo hingga acara berjalan lancar. Hubungan mereka pun kian erat.

Saat Jokowi memenangi pemilihan presiden 2014, Sigit ditunjuk menjadi ajudan. Saat itu, Sigit menjabat Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara. Dua tahun menjadi ajudan Jokowi, Sigit dipromosikan menjadi Kepala Kepolisian Daerah Banten.

Sebagai penganut Kristen, Sigit sempat ditolak para ulama dan pemimpin pondok pesantren di Banten, daerah dengan penduduk mayoritas pemeluk Islam. Berkeliling menemui para kiai, Sigit meredakan penolakan tersebut.

Nama Sigit semakin erat dikaitkan dengan “Geng Solo” saat terpilih menjadi Kepala Bareskrim pada Desember 2019. Nama kelompok ini merujuk kepada orang-orang dekat Jokowi yang pernah bekerja dengan Jokowi di Solo. Jokowi sendiri yang dikabarkan meminta Kepala Polri menunjuk Sigit untuk menduduki jabatan tersebut.

Setelah Jokowi menunjuk Sigit, empat jenderal bintang tiga yang menjadi pesaingnya dikabarkan langsung memberi selamat. Wakil Kepala Polri Gatot Eddy datang langsung ke ruangan Sigit. Kepada Tempo, Gatot menyatakan komitmennya mendukung Sigit. “Saya tetap Bhayangkara yang satya prabu. Kami akan bersama-sama membangun institusi untuk melanjutkan darma bakti kepada negara,” ucapnya.


• • •

KOMISARIS Jenderal Listyo Sigit Prabowo sowan ke para petinggi partai koalisi setelah Dewan Perwakilan Rakyat menerima surat presiden pada Rabu, 13 Januari lalu. Kunjungan itu tampaknya membuahkan hasil.

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suharso Monoarfa, yang dikunjungi Sigit, menganggap tamunya sudah memiliki modal sebagai Kepala Polri. Ia meyakini Sigit mengutamakan dialog dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. “Gaya Pak Sigit tenang dan tidak grasa-grusu,” tutur Suharso.

Anggota Komisi Hukum dari Fraksi PDI Perjuangan, Trimedya Panjaitan, mengatakan sudah menebak Jokowi akan memilih Sigit. Dia mengatakan Jokowi mantap memilih Sigit setelah perayaan tahun baru. Tapi Trimedya mendengar paket kepala Polri dan Wakil Kepala Polri adalah Sigit dan Gatot Eddy pada akhir Desember lalu. “Terpilihnya Mas Sigit sudah kami perhitungkan,” ucapnya.

Tapi sebenarnya jalan Sigit ke kursi Kepala Polri tak mulus-mulus amat. Namanya sempat terseret kasus penghapusan nama Joko Soegiarto Tjandra dari daftar pencarian orang. Seorang pengusaha yang membantu buron korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia itu dalam mengurus penghapusan red notice, Tommy Sumardi, disebut memiliki kedekatan dengan Sigit. Surat kaleng yang mengaitkan Sigit dan Tommy pun bertebaran.

Kepada Tempo pada Oktober lalu, Sigit mengaku sudah lama mengenal Tommy. Ia menganggap perkenalan itu wajar karena Tommy juga mengenal banyak petinggi Polri lainnya. “Dia beberapa kali menemui saya di kantor, tapi pertemuan biasa saja,” ucap Sigit. Ia tak membantah dugaan bahwa kasus Joko memanaskan persaingan di antara sejumlah jenderal. “Memang ada yang mengaitkan kasus Joko Tjandra dengan suksesi Kepala Polri,” kata Sigit ketika ditanya ihwal ini.

Belakangan, beredar transkrip rekaman percakapan antara Tommy; bekas Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri, Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte; dan bekas Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Bareskrim, Brigadir Jenderal Prasetijo Utomo, di dalam penjara pada 14 Oktober 2020.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo memberikan keterangan usai melakukan penangkapan Joko S. Tjandra di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2020./TEMPO/M Taufan Rengganis


Napoleon dan Prasetijo diduga terlibat dalam upaya memuluskan penghapusan red notice Joko Tjandra dan menerima imbalan dari Joko lewat Tommy. Bareskrim menahan ketiganya pada Oktober tahun lalu. Tommy sudah divonis dua tahun bui. Adapun perkara Napoleon dan Prasetijo masih berjalan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta.

Dalam transkrip rekaman percakapan yang dibaca Tempo, Napoleon mencecar Tommy. Napoleon merasa Sigit memanfaatkan kasus red notice sebagai ajang pembuktian diri ke publik dan untuk membersihkan nama.

Kuasa hukum Napoleon, Haposan Batubara, mengatakan percakapan itu terjadi saat Tommy baru dijebloskan ke penjara. Menurut dia, percakapan terjadi atas permintaan Tommy melalui Prasetijo. “Dia sampai tiga kali meminta bertemu. Akhirnya Pak Napoleon menemui di selnya dan merekam obrolan itu,” ujar Haposan.

Kuasa hukum Tommy, Dion Pongkor, mengakui transkrip rekaman itu ada. Namun dia menyebutkan bahwa pertemuan terjadi atas prakarsa Napoleon. Napoleon pula yang diduga mengarahkan isi pembicaraan di dalam rekaman dan menekan kliennya untuk ikut skenario tersebut. “Mereka sempat simulasi tapi tidak direkam. Setelah ditentukan bahasannya ini-itu, baru direkam oleh Pak Napoleon. Tapi kok di penjara bisa bawa handphone?” Dion balik bertanya.

Komisaris Jenderal Listyo Sigit membantah berbagai tudingan di dalam transkrip rekaman. Ia mengingatkan ada potensi pidana di balik penyebaran transkrip rekaman tersebut. “Apalagi itu rekayasa,” katanya.

Dia menegaskan penyidikan kasus Djoko Tjandra tak berkaitan dengan suksesi di Polri. Kasus Djoko, menurut dia, meledak Juli tahun lalu, sebelum ada perbincangan tentang pengganti Idham Azis. “Bareskrim harus mengungkap kasus ini sebagai bentuk pertanggungjawaban ke publik,” ucapnya.

LINDA TRIANITA
161477541995

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Linda Trianita - profile - https://majalah.tempo.co/profile/linda-trianita?linda-trianita=161477541995


Listyo Sigit Prabowo Kepala Kepolisian RI | Kapolri Bursa Calon Kapolri

Hukum 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB