Penjelasan Mahkamah Agung soal Pengganti Hatta Ali - Hukum - majalah.tempo.co

Hukum 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Agung Abdullah: Kami Belum Menyiapkan Pemilihan Ketua


Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung Abdullah mengatakan belum mendapat perintah untuk menggelar sidang pemilihan Ketua MA pengganti Hatta Ali. Menepis tiga nama calon yang beredar.

Edisi : 21 Maret 2020
i Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung Abdullah/Tempo/Ahmad Tri Hawaari
Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung Abdullah/Tempo/Ahmad Tri Hawaari
  • Mahkamah Agung belum menggelar rapat persiapan pergantian Hatta Ali.
  • Para hakim agung diklaim tak melakukan lobi-lobi suksesi.
  • Setiap hakim agung berhak mencalonkan diri menjadi Ketua MA.

KETUA Mahkamah Agung Hatta Ali berusia 70 tahun pada 7 April mendatang. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, hakim agung harus pensiun pada umur tersebut. Meski pergantian akan terjadi dalam hitungan pekan, Mahkamah Agung belum merencanakan sidang memilih ketua baru.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Mahkamah Agung Abdullah mengatakan belum ada perintah menyiapkan sidang tersebut. “Tapi kami sewaktu-waktu siap,” ujar Abdullah melalui telekonferensi pada Kamis, 19 Maret lalu.

Bagaimana persiapan MA dalam menjaring Ketua MA baru?

Kapan sidang paripurna untuk pemilihan Ketua Mahkamah Agung, sampai sekarang kami belum dapat info, masih di ranah pimpinan. Kami belum tahu. Panitia belum ada, tapi tetap saja ya itu-itu juga, bukan dibentuk secara ad hoc. Tanpa diberi tahu, pasti langsung mengerti tugasnya. Sudah kebiasaan rutin.

Dalam laporan tahunan MA pada 26 Februari lalu, Hatta Ali tidak menyampaikan kalimat perpisahan padahal itu pidato terakhirnya. Apakah karena ada rencana ingin memperpanjang masa jabatannya?

Saya belum tahu. Memperpanjang masa jabatan itu sudah ranah pimpinan sehingga kami tidak bisa mengetahui. Kami juga tidak dapat mengomentari. Laporan tahunan itu merupakan pertanggungjawaban MA kepada publik atau masyarakat.

Hatta Ali menyiapkan kandidat penggantinya?


Di era demokrasi ini masih relevan enggak semacam itu? Jauh panggang dari api. Pak Hatta masih demokratis. Tidak ada itu.

Ada tiga hakim agung yang dikabarkan menjadi kandidat kuat pengganti Hatta Ali. Siapa saja mereka?

Kami di dalam sini tidak mendengar. Di sini adem ayem, seru. Hubungan warga internal Mahkamah Agung luar biasa akrabnya. Semua hakim agung bersahabat. Semua hakim agung punya kesempatan yang sama dicalonkan atau mencalonkan diri di putaran pertama. Nanti hakim agung yang dicalonkan ini kemudian dipilih. Surat suara dimasukkan ke kotak transparan. Saya memilih hakim lain juga bisa. Penjaringannya tidak melalui si A atau si B kampanye, tidak ada. Kami bukan legislatif. Ada 48 hakim agung, semua mempunyai hak yang sama.

Sidang paripurna pemilihan Ketua MA sama sekali belum dipersiapkan. Mengapa MA malah berencana menggelar rapat koordinasi nasional sekaligus merayakan ulang tahun Hatta Ali?

Semua kegiatan kami tunda sementara sampai 31 Maret karena ada imbauan tentang wabah corona. Setelah 31 Maret, kami evaluasi lagi apakah acaranya jadi diadakan atau tidak. Persiapan acara ini sudah selesai. Kalau sewaktu-waktu digelar, kami siap saja.

Belakangan ini beredar foto Hatta Ali dengan seorang pengusaha sedang meninjau lahan yang akan dibangun hotel di Mataram. Apakah Ketua MA diperbolehkan melakukan kunjungan seperti itu bersama pengusaha?

Persepsi orang. Bisa bertemu dengan siapa pun, enggak bisa dibatasi. Misalnya, ketemu orang lalu salaman, dikatakan janjian. Itu hanya persepsi publik.

Di foto yang beredar tersebut Hatta Ali dan pengusaha itu bukan seperti berpapasan.…

Setiap orang punya jejaring dengan yang lain, misalnya ikatan alumni, lintas profesi, ada di partai politik, ikatan kedaerahan, atau di tempat lain. Jadi kalau setiap ketemu orang diartikan lain. Betapa susahnya jadi hakim kalau ketemu saja tidak boleh.

Ada kritik soal proses penyelesaian perkara dari 20 ribu menjadi 200-an saja pada laporan MA Februari lalu. Presiden Joko Widodo juga mengingatkan kualitas putusan, tidak hanya pada kuantitasnya. Tanggapan Anda?

Kualitas sudah menjadi komitmen MA, kami selalu meningkatkan kualitas putusan. Itu menjadi salah satu fokus kami. Untuk menjadi hakim agung, tidak bisa hanya tiba-tiba jadi. Harus punya proses panjang. Kalau dari karier, untuk menjadi hakim agung harus puluhan tahun jadi hakim. Bagi yang background-nya nonhakim, tentunya begitu jadi hakim agung harus adaptasi dulu, tidak bisa langsung running.

2020-04-08 20:34:54

Hatta Ali Mahkamah Agung

Hukum 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.