Sepasang Mata Hardi
DI atas selembar kasur tipis yang usang, Hardi Tsugumol terbaring di dalam sel. Jika ingin bersandar di dinding, tiga bantal lusuh dia ganjalkan di sekitar punggungnya. Tanpa disangga bantal, tubuhnya melorot, ambruk. ”Badan saya sudah lumpuh,” ujarnya lirih.
Tubuh Hardi, 34 tahun, salah satu terdakwa kasus Timika, sudah berubah drastis dibanding saat dia digelandang ke tahanan Markas Besar Kepolisian, Jakarta, pada Januari 2006. Ketika itu
...
Berlangganan untuk lanjutkan membaca.
Kami mengemas berita, dengan cerita.
Manfaat berlangganan Tempo Digital? Lihat Disini