Kemelut Amerika versus Cina di Industri Digital Silicon Valley - Financial Times - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Financial Times 1/1

Sebelumnya
text

Pelanduk yang Terjepit Dua Gajah di Silicon Valley

Ketika pemerintahan Donald Trump semakin mencurigai programmer dan developer asal Cina yang bekerja di raksasa teknologi digital Amerika Serikat, para pekerja migran ini terpojok tanpa banyak pilihan. 

i Logo Bytedance (pemilik aplikasi TikTok) di pusat perkantoran Beijing, Cina, 7 Juli 2020.  REUTERS/Thomas Suen
Logo Bytedance (pemilik aplikasi TikTok) di pusat perkantoran Beijing, Cina, 7 Juli 2020. REUTERS/Thomas Suen

Zhang Lelin (35), software engineer dari Cina, merasa tak nyaman berada di Silicon Valley saat ia pertama kali mendengar adanya penggerebekan besar yang dilakukan oleh FBI di rumah tetangganya, sesama warga Cina, pada  2019 lalu.

Target penangkapan FBI tersebut - yang sekarang menunggu proses persidangan - adalah Zhang Xiaolang. Dia dituduh mencuri data rahasia dagang saat meninggalkan Apple untuk bergabung bersama perusahaan startup mobil listrik Cina. Menurut Zhang Lelin yang bekerja di Amazon, kejadian itu tak ubahnya skenario film dan dia menduga bahwa insiden tersebut memang sengaja didesain untuk memberi peringatan pada semua pekerja-pekerja teknologi lain dari Tiongkok. 

Kekhawatiran Lelin diperkuat oleh adanya beberapa kasus besar lainnya yang melibatkan tuduhan pencurian hak intelektual oleh Cina, dan ditambah dengan meruncingnya hubungan antara Washington dan Beijing. Keretakan bilateral ini berefek pada perusahaan-perusahaan, investor, dan pekerja Cina di Silicon Valley.

Facebook Buka Kantor di Indonesia



“Selama bertahun-tahun Silicon Valley dimotori oleh tiga “mata uang” utama: koding, koneksi, dan cash alias uang tunai. Para programmer dari Cina banyak menghasilkan poin pertama dan pengusaha modal ventura Cina membawa pemasukan poin yang ketiga. Hal itu membuat the valley menjadi tempat mudah bagi mereka berbaur,” ucap Matt Sheehan, penulis buku kolaborasi Cina dan California The Transpacific Experiment.

Namun, sejumlah insiden dalam dua tahun belakangan mengubah formula tersebut. “Yang pertama adalah perang dagang yang menghentikan masuknya modal ventura yang kemudian merumitkan banyak hal untuk perusahaan-perusahaan besar. Saat ini ketegangan mulai turun hingga ke level pekerja  individual,” kata Sheehan. 

Ini bukanlah kali pertama ketakutan pemerintah Amerika Serikat terhadap teknologi berubah menjadi kecurigaan terhadap imigran dengan koneksi ke Cina. Pada 1999 silam, seorang peneliti berkewarganegaraan Taiwan-Amerika, Wen Ho Lee, yang bekerja di laboratorium perancangan bom nuklir Los Alamos, ditangkap karena dicurigai menjadi mata-mata untuk Beijing. Dia  ditempatkan di ruang isolasi selama sembilan bulan. Namun, dakwaan tersebut tidak terbukti karena kecurigaan mereka hanya didasari kedekatan Lee dengan peneliti-peneliti Cina. 

Keberadaan warga Cina di Silicon Valley makin diusik oleh sebuah usulan resmi yang datang dari Departemen Perdagangan yang ditakutkan akan menjadi basis hukum bagi perusahaan-perusahaan teknologi AS untuk mensegregasi bahkan memecat mereka. Departemen Perdagangan Amerika sudah mengungkapkan keinginan mereka untuk memperluas kontrol ekspor terhadap “teknologi-teknologi multiguna” - untuk kebutuhan sipil dan militer - hingga teknologi-teknologi dasar dan baru. Departemen ini juga menyasar kecerdasan buatan (AI) dan chip mikroprosesor. 

Ke depan, akibat aturan ini, bisa saja industri teknologi harus mengajukan lisensi untuk pekerja asing mereka yang datang dari negara non-NATO.  Obrolan biasa mengenai teknologi antara warga Amerika dengan warga asing dianggap komoditas ekspor oleh peraturan pemerintah AS, bisa jadi tak akan leluasa lagi. Bahkan bisa saja warga negara Cina diklasifikasi sebagai yang paling sensitif, selevel dengan warga Rusia dan warga Iran.

Pada 2018 lalu, Departemen Perdagangan A.S. menyetujui 350 lisensi ekspor warga Cina, nyaris setengah dari apa yang disetujui pada tahun sebelumnya yaitu 771. Ini menjadi penurunan proporsional terbesar buat negara manapun. 

Seorang pegawai, mengenakan masker lantaran wabah corona, berdiri di dekat kamera pengawas di kantor Bytedance di Beijing, Cina 7 Juli 2020. REUTERS / Thomas Suen



Analis Gavekal Dragonomics di Beijing, Dan Wang, mengatakan hal ini berakibat buruk seiring beberapa perusahaan Silicon Valley mulai menyiapkan rencana untuk mensegregasi pegawai Cina dengan peneliti lainnya. 

Menurut Kevin Wolf, pengacara kontrol ekspor dan asisten sekretaris Departemen Perdagangan pada masa kepresidenan Obama, ketakutan semacam ini terlalu prematur. “Karena aturan-aturan yang baru diyakini akan didesain spesifik untuk menjawab ancaman keamanan nasional seperti yang disyaratkan oleh undang-undang kontrol ekspor."

Namun, insinyur di perusahaan semikonduktor berbasis di California, Libo Weng, mengatakan bahwa sudah sangat sulit bagi insinyur-insinyur Cina untuk berkembang di lingkup pekerjaan mereka.

“Dari obrolan saya dengan beberapa kolega dan teman, saya pikir pemilik perusahaan akan lebih berhati-hati sebelum membolehkan insinyur berkebangsaan Cina bersentuhan langsung dengan teknologi utama seperti AI dan chip, apalagi mengingat A.S. masih lebih maju dibandingkan negara-negara lain. Sebelum Trump memimpin, situasinya tidak separah ini,” kata  Weng. 

Mereka yang ada di Silicon Valley sebagian besar terdiri dari warga Cina dan keluarga imigran generasi pertama. Menurut sensus penduduk A.S. sebanyak  17 persen populasi di Santa Clara dan San Mateo - dua wilayah di Silicon Valley - yang berkomunikasi harian menggunakan bahasa mandarin di rumah mereka. Keragaman etnis di sini sudah sangat mengakar. Ditambah dengan sifat dependensi perusahaan teknologi pada pekerja asal Cina, ini menjadikan the Valley amat terbuka pada talenta dari Cina. 

Beberapa insinyur Cina yang sudah mencapai posisi puncak pada struktur perusahaan teknologi di Amerika Serikat mulai mempertimbangkan ulang posisi mereka semenjak ketegangan antara Amerika Serikat dan Cina memuncak belakangan ini. Insinyur-insinyur Cina utamanya mengeluhkan kondisi seputar visa kerja mereka yang memaksa mereka untuk semakin bergantung pada perusahaan mereka bekerja, terlepas dari perlakuan buruk atau tidak adil yang mereka alami.


FT/ Firdhy Esterina C

Di bawah program visa H-1B bagi pekerja bertalenta, seorang pekerja hanya diberikan 60 hari untuk mencari pekerjaan baru, mengajukan dan mendapatkan visa H-1B baru sejak mereka mengalami pemecatan - kalau tidak, mereka akan dideportasi. Banyak perusahaan teknologi A.S. menarik pekerja asing melalui visa ini, namun banyak yang merasa syarat itu terlalu berat. 

Mereka yang bekerja di Amazon, Google, dan PayPal sama-sama menyebut pengetatan aturan visa menjadi tekanan utama yang dihadapi staf-staf asal Cina. Dua tahun lalu, tingkat persetujuan visa H-1B menurun drastis hingga 75,4 persen pada kuartal ketiga. Ini jauh menurun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2015 yang mencetak 94,5 persen persetujuan visa. 

Pada saat yang bersamaan, rata-rata waktu memproses pengajuan visa menjadi lebih lama karena mereka kini harus masuk ke tahap pengajuan “permintaan untuk bukti” kedua. Lima tahun silam, pembaharuan visa Zhang Lelin memakan waktu kurang dari sebulan, akan tetapi saat ini membutuhkan sekitar dua bulan. Ia menduga molornya persetujuan imigrasi untuk visanya dikarenakan proyek AI dan chip komputer yang ia tangani.

Menurut kesaksian Lelin, salah satu koleganya bahkan harus menetap selama tujuh bulan di Cina karena menunggu pembaharuan visa. “Kami semua punya latar belakang yang sama, jadi hal ini memang dilakukan secara acak dan bisa menimpamu kapanpun,” kata Zhang Lelin. 

Parahnya, satu nyawa sudah melayang karena ketegangan baru ini. Pada bulan September 2019, seorang insinyur Cina  yang bekerja untuk Facebook, Qin Chen (38), bunuh diri dengan cara melompat dari atas gedung kantor Facebook di Menlo Park. Satu minggu setelah kejadian itu, ratusan insinyur - yang kebanyakan asal Cina - dari berbagai perusahaan teknologi the Valley berkumpul di tempat kejadian dan meneriakkan. “Nyawa orang Cina berarti, Zuckerberg!”

Demonstrasi hari itu menuntut lingkungan pekerjaan yang lebih baik untuk pekerja migran sembari menggarisbawahi rentannya status imigrasi Qin Chen. Meskipun ia sudah tinggal di A.S. selama delapan tahun, dia tidak memiliki green card dan seluruh anggota keluarganya sangat bergantung pada visa pekerjanya. 

Dalam pernyataan resmi, Facebook menyatakan bahwa perusahaan sudah menyediakan program kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri bagi semua pekerjanya, dan menekankan bahwa tidak ada toleransi untuk perisakan.  

Insinyur Cina lainnya mengeluhkan adanya batasan etnis di Silicon Valley. Banyak dari warga Cina-Amerika yang melalui naturalisasi membandingkan status mereka dengan kesuksesan relatif pekerja asal India yang bekerja di perusahaan teknologi raksasa.  

“Di Amerika Serikat, banyak manajer asal India yang telah menempati posisi CEO di perusahaannya, tapi dalam berbagai hal, ini masih menjadi semacam penghalang bagi mereka yang berasal dari Cina,” ucap Hans Tung, managing partner GGV Capital, di sebuah konferensi pers di Beijing sebelum bertanya pada co-founder Zoom, Eric Yuan, “Apa yang menurutmu bisa dilakukan?” 

Yuan termasuk salah satu cerita sukses imigran Cina di Silicon Valley. Aplikasi konferensi video Zoom miliknya sudah bernilai hampir US$21 miliar pada April 2020. Menanggapi pertanyaan Hans Tung, ia menjelaskan bahwa banyak insinyur asal India tidak hanya ahli dalam pekerjaan teknis tapi juga mampu memahami model bisnis dan manajemen. 

“Ini lebih kepada kultur Cina yang menekankan ketaatan dan kesopanan, bukan rasa percaya diri,” kata Sophie Xu, seorang pekerja PayPal yang berimigrasi dari Cina ke Kanada dan kemudian ke AS sekitar 17 tahun yang lalu. “Kami tidak ada ambisi liar, kami lebih suka jadi kutu buku.”

Pada sebuah diskusi yang diadakan Silicon Valley Innovation Entrepreneurship Forum, yang beberapa kali mengadakan acara megah bagi talenta asal Cina di areanya, para pembicara memberi saran pada pekerja Cina untuk lebih  piawai mengorganisir waktu agar sukses dalam pekerjaan. 

“Ini adalah aturan main di Amerika Serikat,” kata Zhang Yue, seorang insinyur Google yang juga mengorganisir gala malam tahun baru Cina dan klub atletik lokal. 

“Tidak seperti perusahaan Cina, Anda tidak perlu berada di kantor sebelum manajer anda pergi - yang terpenting adalah Anda menyelesaikan pekerjaan. Menyuarakan apa yang sudah Anda capai bisa lebih penting dibandingkan dengan melakukannya,” kata Zhang. 

Perusahaan-perusahaan dan pemerintah Cina tentunya tak tinggal diam. Mereka mengambil kesempatan ini dengan memancing pekerja bertalenta mereka untuk pulang kembali ke negara asal mereka. 

“Efek jangka panjang dari perang dagang akan mempermudah Cina menarik perhatian mereka yang berbakat untuk kembali,” kata Tim Li yang sudah menghabiskan lima tahun merekrut orang dari Silicon Valley untuk kembali ke Cina. 

Seorang polisi Los Angeles, berjaga-jaga di Terminal Internasional Tom Bradley yang dipenuhi penumpang jelang liburan thanksgiving di Bandara Internasional Los Angeles, 24 November 2015. AP/Nick Ut



Tim Li juga menyebutkan adanya “faktor penarik baru dari Cina,” yang merujuk pada kesuksesan sejumlah perusahaan teknologi domestik Cina.  Li dikenal dari iklan jasa viralnya pada sebuah unggahan LinkedIn oleh mantan pekerja Silicon Valley yang sudah kembali ke Beijing.

Unggahan itu berjudul, “Untuk mereka di Silicon Valley yang ingin kembali [ke Cina] tapi tidak berani.” Ia berargumen bahwa bekerja untuk korporasi AS memang menawarkan gaya hidup yang nyaman namun sejatinya hanya ada akses terbatas dalam hal kemajuan diri. Sementara ia mengatakan kembali ke Cina adalah kesempatan menjalani lingkungan pekerjaan yang amat kompetitif tapi dengan hasil yang lebih dari apa yang bisa ditawarkan perusahaan Amerika.

“Amerika memperlihatkan kecemasan dan ketidaknyamanan luar biasa terhadap bangkitnya Cina. Industri internet Cina akan melampaui Amerika,” demikian unggahan itu lebih lanjut. “Apabila tren jangka panjangnya seperti ini, saya rasa Anda sebaiknya ikut dan ambil kesempatan dari gerakan besar ini.”

Pengunggah asli posting itu, Wei Xu, baru-baru ini meninggalkan Facebook untuk sebuah startup yang berbasis di Beijing. Namun, programmer Cina yang lainnya lebih berhati-hati. Zhang Lelin khawatir perpindahan insinyur Cina dari Amerika ke Cina akan memantik kecurigaan di dalam perusahaannya atau memancing kecurigaan FBI soal pencurian hak intelektual.
 “Itu yang membuatku ragu untuk mempertimbangkan perusahaan Cina.”

Agensi perekrutan bakat yang didukung oleh pemerintah Cina juga menemukan kesempatan repatriasi. Namun seorang mantan perekrut mengatakan bahwa mereka lebih berhati-hati menjalani operasinya di Amerika untuk menghindari meningkatnya pengawasan dari pemerintah.

Li menegaskan industri digital Cina sedang bergerak cepat. “Industri semikonduktor di Amerika sedang menurun, sementara di Cina sedang berkembang - banyak pekerja yang terkena PHK di sini yang menunggu untuk diajak,” kata dia. Menurut Zhang Lelin, orang Cina yang bekerja untuk perusahaan teknologi AS masuk kategori mereka yang mudah dibuang.  “Kita ikut terdampak oleh ketegangan antara AS dan Cina, tapi kita bukan yang menentukan hasil akhirnya.”

Li berkaca pada Perang Dunia kedua, ketika pemerintah AS merelokasi paksa  lebih dari 120 ribu warga Jepang-Amerika ke kamp interniran atau kamp konsentrasi. Kamp pertama dibangun di Manzanar, California, tak jauh dari lokasi kebanyakan perusahaan-perusahaan teknologi itu kini berada. Bagi kebanyakan pekerja di the Valley, kelamnya sejarah Amerika Serikat ini mungkin sudah jadi masa lalu. Tapi bagi sebagian yang lain, sejarah itu belum sepenuhnya pergi. “Berkacalah pada sejarah,” kata Zhang Lelin. 

Artikel ini pertama kali diterbitkan Financial Times pada Januari 2020
Penerjemah : Ricky Mohammad Nugraha

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-09-21 23:31:00

Donald Trump Perang Dagang Amerika vs Cina

Financial Times 1/1

Sebelumnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.