Virus Corona dan Perubahan Gaya Hidup - Financial Times - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Financial Times 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Membayangkan Dunia Pasca Covid-19

Munculnya wabah virus corona di hampir seluruh bagian dunia menghasilkan sebuah pertanyaan, akankah wabah tersebut dapat mengubah gaya hidup manusia?

i Suasana Times Square saat diberlakukannya pembatasan terkait dengan penyebaran Covid-19 di New York, 31 Maret 2020./Reuters/Brendan McDermid
Suasana Times Square saat diberlakukannya pembatasan terkait dengan penyebaran Covid-19 di New York, 31 Maret 2020./Reuters/Brendan McDermid

Apapun dapat ditemukan di bandara Heathrow jika kalian berjalan cukup jauh. Kalian bahkan dapat menemukan Tuhan di dekat Terminal 2, setelah stasiun bus, atau di bawah flyover.

Bangunan bandara itu berbentuk seperti bunker batu tanpa jendela yang terletak di bawah tangga. Saat jam makan siang Senin lalu, saya bergabung dengan selusin karyawan bandara mengikuti misa Katolik. Misa hari itu luar biasa damai dan berakhir dengan lagu "Amazing Grace" versi akapela. Saat berjalan keluar, saya membeli kartu pos St Christopher, santo pelindung para pelancong.

Sebagian besar penumpang pesawat merasa ritual seperti itu tidak perlu. Selama beberapa dekade, melintasi benua belum menjadi bagian dari tindakan iman; itu suatu fakta kehidupan. Terbang kelihatannya sangat sederhana hingga bahkan penundaan atau delay sebentar saja dapat membuat kita marah di media sosial. Begitu biasa hingga sebagian kita dapat melakukannya sendiri: check-in penerbangan sendiri, meletakkan label tas sendiri, juga memilih tempat duduk sendiri di pesawat.


"Jangan bilang ini bukan zaman keajaiban. Jangan bilang kita tidak bisa berada di mana saja  seketika itu juga,” kata George Clooney dalam film Up in the Air. Clooney merupakan karakter seorang lelaki pekerja di suatu perusahaan yang bercita-cita mencapai 10 juta poin penerbangan atau air miles dan mahir menghadapi keamanan bandara.

Bagi manusia biasa pun, bepergian sudah menjadi sekedar serangkaian strategi. Saya memulainya dengan tidak menukar mata uang di bandara (tarif di Heathrow sekitar 20 persen lebih tinggi dari tarif sebenarnya) dan mengambil uang di sana. Orang-orang tidak lagi memberikan tepuk tangan meriah ketika pesawat mendarat dengan selamat atau bahkan mengungkapkan rasa kagum saat mampu terbang ke Hong Kong untuk menghadiri pesta pernikahan di akhir pekan.

Dan kemudian muncullah virus corona.

Dua wanita mengenakan masker berjalan keluar dari Bandara Fiumicino di Roma, Italia, kemarin.

 

Di sepanjang sebagian besar masa dewasa saya, "menjadi viral" merupakan hal yang baik. Namun virus corona merusak metafora ini. Situasi ini menyadarkan kita bahwa dunia tidak dapat dikendalikan seperti kelihatannya. Ada risiko yang tidak dapat diminimalisir dengan melewati pemindai tubuh dan menuangkan pembersih badan untuk mandi ke dalam botol 100ml. Kongres Mobile Dunia (Mobile World Congress) di Barcelona dan Pameran Buku London dibatalkan, Twitter memerintahkan semua stafnya untuk bekerja dari rumah, dan film James Bond yang baru berjudul No Time to Die ditunda hingga November. Jumlah korban meninggal belum sebanding bahkan dengan korban flu musiman, tetapi dampak kekacauan yang dihasilkan sudah jauh lebih luas.

Saya pergi ke Heathrow untuk merasakannya langsung. Saya melihat bandara kosong. "Sepanjang bulan ini sudah sepi," kata seorang pramugari British Airways sambil mengamati aula Terminal 5 yang luas, sebuah monumen yang menandakan globalisasi. BA telah membatalkan penerbangan ke Cina, Italia, dan banyak lagi negara lainnya. Maskapai penerbangan lain juga melaporkan penurunan pemesanan tiket pesawat yang tajam, dan jumlah penumpang tidak meningkat.

Virus corona adalah pandemi di zaman kita ini. Mungkin lebih dari penyakit apapun dalam ingatan yang ada selama ini, ia bergema bersama ketakutan masyarakat. Beberapa tahun terakhir kita telah menyaksikan kemunculan para doomsday preppers, yaitu orang-orang super kaya yang merencanakan pelarian demi keselamatan diri mereka jika terjadi kehancuran sosial. Politik kini berpindah melawan perbatasan terbuka dan rantai pasokan global. Di Eropa, sejumlah besar konsumen telah berhenti terbang karena rasa bersalah terhadap iklim.

FT

Acara kita yang paling sakral, turnamen olahraga internasional, sudah mulai terganggu oleh cuaca ekstrem. Dua pertandingan di Piala Dunia Rugby tahun lalu dibatalkan karena angin topan. Di Australian Open Januari lalu, seorang pemain tenis pingsan setelah menghirup asap kebakaran. Sekarang Olimpiade Tokyo pun tertunda.

Kehidupan masyarakat modern merupakan pertandingan gulat antara orang-orang, terutama para pecinta lingkungan, yang berpendapat bahwa ada risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan antara orang-orang seperti Steven Pinker yang lebih suka fokus pada peluang yang belum pernah ada. Ini adalah zaman di mana kepunahan manusia dan keabadian manusia dibahas sebagai kemungkinan yang nyata. Pandemi global yang akan datang akan sangat mungkin mengubah persepsi kita.

Seorang ahli penyakit dari Universitas Harvard Marc Lipsitch memperkirakan setidaknya satu dari lima orang dewasa — mungkin sebanyak 60 persen — akan terinfeksi. Hampir semuanya sebesar 98 hingga 99 persen akan bertahan. Meski begitu, akankah manusia bangkit dengan kerentanan baru? Akankah kita menerima bahwa cakrawala tidak begitu terbuka?

 ***

Peninggalan yang menentukan dari kebanyakan wabah penyakit adalah tidak adanya peninggalan. Pandemi flu tahun 1918 mungkin menewaskan lebih banyak orang daripada perang dunia pertama yang sekarang jumlahnya diperkirakan melampaui 50 juta orang, tetapi dianggap sebagai catatan kaki dalam konflik tersebut. Selama bertahun-tahun, sejarawan tidak benar-benar menulis tentang apa yang disebut flu Spanyol itu, kecuali mencatat bahwa pandemi itu sebenarnya bukan dari Spanyol. (Spanyol yang bersikap netral selama perang mungkin hanya melakukan sensor berita wabah lebih sedikit dari beberapa negara lain.)

Peristiwa epidemi datang dan pergi, dan sudah seperti itu selama berabad-abad; situasinya bisa tampak terlalu sulit untuk ditafsirkan.

Ketika wabah Kematian Hitam atau Black Death melanda dunia, nenek moyang kita melihatnya sebagai hukuman tuhan atas dosa manusia. Sayangnya tidak cocok untuk teori tersebut, sejumlah besar para pendeta terbunuh. Jadi, alih-alih membuat orang berdosa ke Gereja, wabah itu mungkin membuat orang menjauh dari agama.

Gereja Katedral ditutup sementara untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di Jakarta, kemarin. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

 

Ada dua cara wabah penyakit dapat mengubah kita.

Yang pertama adalah melalui refleksi. Seperti yang disadari oleh siapa pun yang pernah terserang flu, penyakit cenderung membuat kita melakukan introspeksi diri. John Donne menderita demam ketika ia menulis syair terkenalnya untuk sebuah kerja sama, dan kemungkinan serangan terhadap puritanisme, dengan memulai "No Man Is an Island".

Virginia Woolf berpendapat bahwa penyakit melibatkan ”vokal kekanak-kanakan. . . hal-hal dikatakan, kebenaran diungkapkan, sementara kewaspadaan akan tanggung jawab kesehatan disembunyikan”.

Cara yang kedua adalah perubahan struktural. Wabah Kematian Hitam mempercepat disintegrasi feodalisme Inggris. Banyak petani mati sehingga para tuan tanah kehilangan tumpuan mereka. Perang dunia pertama mempercepat kebangkitan perempuan pekerja. Begitu mereka menggantikan laki-laki di pabrik-pabrik, Rubicon pun terlintasi yang dalam artian mereka tidak dapat membatalkan pilihan mereka. Jika epidemi tahun 1918 meninggalkan jejak, mungkin jejak itu adalah mempercepat kemunculan layanan kesehatan publik.

Virus corona telah diklaim oleh para ideolog. Donald Trump berujar wabah itu membenarkan kontrol perbatasan yang lebih ketat. Di sisi lain, Bernie Sanders mengaitkannya dengan pelayanan kesehatan umum gratis. Matt Stoller, seorang juru kampanye peraturan perusahaan, berpendapat bahwa virus corona menandai akhir dari "politik kemakmuran", yaitu politik yang tidak memperhatikan sesuatu yang pertama menciptakan kekayaan".

Virus corona dapat membuat kita mempertimbangkan kembali berapa banyak perjalanan, sebut saja liburan, perjalanan kerja, atau konferensi, yang sebenarnya benar-benar penting. Ancaman terorisme tidak menghentikan orang-orang untuk terbang. Sejak 11 September, jumlah penumpang udara AS meningkat sepertiga; bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat secara global.

Tetapi virus corona, khususnya jika berulang secara sporadis, dapat membuat beberapa pelancong bisnis memilih untuk melakukan konferensi video alih-alih konferensi langsung dengan mengambil banyak penerbangan. Bahkan mungkin mendorong lebih banyak pria untuk mencuci tangan (walaupun pengalaman saya ke toilet di Heathrow tidak sepenuhnya mengikuti teori dalam hal ini). Wabah virus ini mungkin membawa perubahan lambat pada pasar hewan hidup Tiongkok, di mana penyakit virus ini mungkin menyebar ke manusia.

Banyak kemungkinan yang lebih jauh. Virus corona yang mengacaukan hidup kita dan menyebabkan tragedi yang menyakitkan mungkin memperkenalkan penerimaan baru akan ketidakpastian dalam pemikiran kita. Kita diberitahu tentang ancaman dari resistensi antibiotik, konflik AS-Cina, dan kerusakan ekosistem.

Ancaman itu terasa jauh. Bagaimana mungkin semuanya seperti akan mengalami kemunduran, ketika maskapai penerbangan Qantas mengusulkan penerbangan langsung dari London ke Sydney dan produsen tas Tumi menjual koper roda berbahan nilon balistik dengan teknologi pelacakan elektronik? Mempersepsikan kerapuhan manusia merupakan hal rumit di dunia dengan kemungkinan yang terus meningkat.

Hal ini membantu penjelasan mengapa orang-orang di negara-negara kaya tidak begitu khawatir dengan perubahan iklim dibandingkan dengan mereka di negara-negara miskin. Menurut YouGov, 70 persen orang India mengatakan bahwa perubahan iklim akan berdampak besar pada kehidupan mereka, dibandingkan dengan orang Inggris, Jerman, dan Skandinavia yang angkanya kurang dari 20 persen. Orang-orang di AS dan Eropa juga jauh lebih kecil kemungkinannya untuk berpikir bahwa perubahan iklim dapat memicu perang dunia baru atau punahnya ras manusia daripada orang-orang di Asia.

Ini adalah zaman di mana kepunahan manusia dan keabadian manusia dianggap sebagai kemungkinan.

 

Karyawan menggunakan masker di depan restoran McDonald setelah berakhirnya masa karantina Covid-19 di Wuhan, Cina, kemarin. REUTERS/Aly Song

Di Barat, kami begitu makmur hingga bisa menciptakan batasan sendiri, seperti Dry January (sebulan tanpa minum alkohol), Meatless Monday (Senin tanpa daging), dan lainnya. Kami menerima batasan itu karena hal itu kami paksakan dan kembangkan sendiri. Langkah selanjutnya adalah menerima batasan yang diberlakukan secara kolektif dan secara kolektif juga menguntungkan.

Pengalaman pribadi yang pahit tampaknya membuat perbedaan yang signifikan. Para peneliti di Inggris menemukan bahwa orang-orang yang terkena dampak banjir musim dingin cenderung lebih menyatakan keprihatinan tentang perubahan iklim, mengambil tindakan pribadi untuk mengurangi penggunaan energi mereka, dan mendukung kebijakan pengurangan emisi.

Virus corona tidak disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi menimbulkan gangguan yang mungkin kita hadapi di masa depan. "Ini tentu bukan terakhir kalinya kita akan mengalami wabah penyakit semacam ini jika kita terus menyangkal, menipu, dan menunda aksi tentang perubahan iklim," kata mantan kepala iklim PBB Christiana Figueres kepada Channel 4 News.

Kepedulian terhadap lingkungan menurun selama krisis keuangan karena publik menghadapi masalah ekonomi yang lebih mendesak. Tapi kali ini mungkin berbeda. Wabah virus corona muncul setelah serangkaian panggilan untuk bangkit seperti musim panas Eropa yang membara di 018, kebakaran hutan di California dan Australia, dan banjir di mana-mana dari Inggris hingga Indonesia.

Seorang ahli sejarah Philip Ziegler menulis bahwa setelah wabah Kematian Hitam, orang-orang Eropa “hidup dalam antisipasi bencana yang konstan. . . Mungkin faktor yang paling berkontribusi terhadap demoralisasi mereka adalah rasa ketidakpedulian tinggi tentang cara kerja dunia. ” Kita lebih beruntung karena kita tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan perubahan iklim, yang mana kita hanya harus melakukannya.

Kerentanan manusia semakin meluas. Sekelompok ilmuwan, teknolog, dan filsuf kini berpendapat bahwa umat manusia menghadapi risiko kepunahan yang tidak sepele di abad ini.

Petugas medis memeriksa kesiapan ventilator di ruang ICU Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, 23 Maret 2020. ANTARA/Kompas/Heru Sri Kumoro/Pool

 

Podcast Panggilan Budaya

Untuk memperingati Hari Perempuan Internasional, dalam episode podcast terbaru kami, Laura Bates, Emma Dabiri dan Emilie Pine hari ini membahas feminisme, mulai dari isu Harvey Weinstein, perubahan standar kecantikan, hingga isu remaja dan media sosial

Seorang filsuf Oxford Toby Ord menjadi terkenal pada tahun 2009 setelah ia berjanji untuk memberikan gajinya sebanyak lebih dari £20.000 untuk amal. Buku barunya berjudul The Precipice: Existential Risk and the Future of Humanity menganalisis risiko eksistensial yang dihadapi manusia.

Dia berpendapat bahwa, pada abad ke-20, manusia hanya memikirkan perang nuklir. Sekarang ada beberapa isu yang sebagian di antaranya merupakan perbuatan manusia sendiri seperti perubahan iklim, kecerdasan buatan, dan biowarfare.

"Selama abad ke-20, prediksi terbaik saya adalah kita menghadapi sekitar satu dari seratus risiko kepunahan manusia atau keruntuhan peradaban yang tidak dapat dipulihkan," tulis Ord.

"Berdasarkan semua yang saya tahu, saya menilai  risiko eksistensial manusia sekitar satu dari enam bagian rolet Rusia."

Satu dari enam bagian itu juga merupakan peluang analisis statistik yang diambil oleh The New York Times untuk Donald Trump menjadi presiden menjelang pemilu 2016. Ord berpendapat bahwa rasa kita saat ini akan suatu risiko, seperti ketika merasa aman untuk menyeberang jalan, tidak cukup untuk menghadapi ancaman yang begitu mengerikan hingga harus diminimalkan; kita perlu berpikir ulang sepenuhnya.

Virus corona adalah kesempatan yang tidak sempurna untuk memulai refleksi itu. Bahkan pandemi terburuk termasuk Black Death dan influenza 1918 bukanlah jalan menuju kepunahan. Namun epidemi paling tidak bisa menjadi bagian dari kurva pembelajaran. Jika kita dapat menerima penerbangan yang dibatalkan, penutupan sekolah, perlengkapan olahraga yang tertunda saat ini, mungkin kita dapat menerima batasan-batasan di masa depan. Jika kita bisa mengandalkan kerjasama internasional sekarang, mungkin kita bisa mendapat semangat yang sama lagi.

 ***

Setahun yang lalu, saya pikir menimbun makanan adalah hal yang konyol. Tetapi konsep tersebut menjadi normal pada 2019 setelah pemerintah Inggris berulang kali mengancam Brexit tanpa kesepakatan. Ketika wabah virus corona mencetus, aksi penimbunan makanan kembali ke dalam agenda masyarakat, saya menyadari bahwa saya sudah bersiap.

Belanjaan persediaan saya tiba pada Senin malam. Apa salahnya? Tidak ada yang pernah menyesal membeli tujuh toples pesto, meskipun normalnya supermarket tidak akan kehabisan satu dari dua rasa.

Saat mengamati dapur, saya langsung menyadari bahwa saya bisa mengasingkan diri di rumah selama 14 hari. Saya memikirkan betapa sedikit tempat yang saya perlu datangi, terlebih karena kehidupan sekarang dapat dilakukan secara digital. Tidak seperti karakter Clooney di Up in the Air, saya tidak bisa berada di mana-mana seketika itu juga dan saya tidak perlu seperti itu.

Di Heathrow, orang-orang yang bepergian memiliki optimisme terhadap risiko yang ada dan bertekad untuk terbang. "Saya tidak suka histeria massal," kata Val, seorang terapis yang melakukan perjalanan kembali dari Australia. “Alternatif [selain penerbangan] lebih buruk. Saya habis mengunjungi keluarga."

Roger, seorang laki-laki 83 tahun yang ramah dan telah pensiun ke selatan Prancis, kembali dari salah satu perjalanan rutinnya untuk menonton tim sepak bola favoritnya Aston Villa. “Istri saya berkata, oh tidak, virus itu membunuh orang yang sudah tua. Saya bilang kita tidak tua tapi bijaksana secara kesehatan. . . Saya terserang flu, pilek, tapi hanya begitu saja. Mengapa mengubah kebiasaan seumur hidup [karena virus corona]?”

Bandara itu sendiri menceritakan kisah yang berbeda. Bangunan itu bukan hanya ruang-ruang kosong. Di terminal-terminal terdapat iklan yang menampilkan gajah dengan slogan-slogan seperti: “Our carbon footprint. There’s no tiptoeing around it.” yang secara literal berarti “Jejak karbon kami. Tidak ada jejak samar di sekitar itu."

Pada titik tertentu, kebiasaan seumur hidup akan berubah. Pada titik tertentu, dorongan akan diperlukan. Jika guncangan gangguan virus corona tidak cukup bagi kita untuk mengkalibrasi ulang semuanya, apa lagi yang mampu? (*)


Artikel ini pertama kali diterbitkan Financial Times pada 6 Maret 2020

Penerjemah: Dewi Elvia M.

 

2020-06-01 10:15:50

Covid-19 Virus Corona

Financial Times 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.