Cerita tentang Kesunyian - Film - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Cerita tentang Kesunyian

Sebuah film independen yang mendapat penghargaan Sundance Film Festival berkisah tentang tiga sosok yang sunyi.

i

THE STATION AGENT
Sutradara: Tom McCarthy
Skenario: Tom McCarthy
Pemain: Peter Dinklage, Patricia Clarkson, Bobby Cannavale

Bunyi desing kereta api, gerak dan napasnya di atas rel, dan bentuk tubuhnya itu adalah seluruh kehidupan Finbar McBride (Peter Dinklage). Merasa dirinya "terlalu berbeda" dari seluruh penduduk planet ini—dia berukuran setengah ukuran manusia biasa, alias apa yang disebut orang "cebol"—Fin sengaja menghindar komunikasi dengan makhluk hidup mana pun.

Karena itu, ketika suatu hari ia mendapat warisan sebuah stasiun kereta yang mungil dan tak terurus di sebuah pojok negara bagian yang sunyi, Fin langsung menyambar kesempatan itu. Maka, hari-hari Fin selalu diawali dengan menyusuri rel-rel kereta api sembari menghirup udara desa, menghitung kecepatan setiap kereta api yang lewat, membedakan rel-rel yang masih terpakai dengan yang sudah usang, mempelajari sejarah setiap kereta yang berlalu untuk kemudian diakhiri dengan menyaksikan video kereta api di saat malam turun.


Sunyi adalah pilihan hidup. Karena Fin tak perlu menjawab tentang tubuhnya yang lahir dalam situasi yang tak diinginkan. Tetapi dua orang yang tak diinginkan menggelinding datang begitu saja tanpa diundang. Yang pertama adalah Joe (Bobby Cannavale), seorang penjual minuman segar dan makanan camilan yang doyan ngoceh dan ingin sekali akrab dengan Fin yang begitu dingin dan ogah didekati. Orang kedua adalah Olivia (Patricia Clarkson), seorang pelukis yang mengasingkan diri dari dunia ramai dan menghindar komunikasi dengan suaminya.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6MjU6NTkiXQ

Secara tak sengaja ketiga karakter ini menjadi kawan yang masing-masing memiliki problem. Fin, dengan komunikasinya dengan dunia luar; Patricia, dengan hubungan maritalnya yang sudah goyah dan duka berkepanjangan akibat kematian putranya; dan Joe, yang terus-menerus harus merawat ayahnya yang penyakitan. Tema ini terasa begitu "biasa" jika tidak ada karakter Fin yang unik. Karakter cebol atau kerdil lebih mudah menjebak sineas untuk terjun ke dalam tema komedi dan stereotipe fisik. Tetapi McCarthy memperlakukan Fin sebagai sebuah karakter, seorang manusia biasa yang memiliki hasrat dan keinginan yang biasa. Bahkan, ketika akhirnya dia berciuman dan larut dalam asmara dengan seorang gadis cantik penjaga perpustakaan, semuanya tampak begitu "oke", begitu "normal".

Penonton dan hadirin terpaksa diingatkan kembali bahwa Fin adalah seorang cebol ketika dia dalam keadaan mabuk naik ke kursi di sebuah bar dan menjerit, "Ayo, tontoni aku!" katanya dengan marah karena mengetahui seluruh bar mengintip dan menertawakan tubuhnya secara diam-diam.

Patricia Clarkson, seperti juga dalam Pieces of April, tampil luar biasa sebagai seorang istri yang ditinggal suaminya. Duka karena kehilangan putranya dan pengkhianatan suaminya membuat Olivia bukan hanya reklusif, tetapi bahkan membenci pandangan "kasihan" orang terhadap dirinya. "Tolong jangan pandangi saya," katanya kepada Fin setelah dia mengungkapkan kematian putranya.

Luka dalam diri Fin, seperti juga luka dalam diri Olivia yang kehilangan anaknya, adalah luka yang tak akan tersembuhkan, tetapi akan kering karena dalam hidup masih ada cinta. Film McCarthy memang sebuah film sunyi, dengan dialog yang minim, dan kaya akan visual. Kehidupan yang begitu jahat dan galak yang menggojlok nasib manusia memang melahirkan trauma dan benteng-benteng pertahanan yang ganjil. Olivia dengan kanvas lukisannya, dan Fin dengan keasyikannya menatap kereta api. Keduanya ogah membagi hidup bersama masyarakat karena tidak ingin dikasihani dan dinilai atau dievaluasi.

McCarthy mencoba mengeluarkan kedua tokoh ini dari "rumah siput"-nya melalui sosok Joe yang ramah, terbuka, dan penolong. Memang tidak banyak sosok seperti Joe dalam hidup yang begini hitam. Tetapi, percayalah, setiap kawasan paling tidak memiliki satu Joe.

McCarthy menyajikan film yang optimistis ini dengan kehangatan. Tak mengherankan jika film ini meraih penghargaan dalam Sundance Film Festival setahun silam.

Leila S. Chudori

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:25:59


Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB