Ekonomi dan Bisnis 7/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menunggu mukjizat kedua

Kesulitan yang dialami bank Summa disebabkan pinjaman dari Bank asing berubah menjadi kredit macet dan investasi yang agresif.

i
KALAU ada bank yang tabungannya melonjak seratus persen, itu adalah Bank Summa. Prestasi bank milik Edward S. Soeryadjaya ini membuat orang berdecak kagum. Itu terjadi tiga tahun lalu. Tapi kini bank yang bongsor itu mendadak lunglai. Spekulasi yang beredar, diwarnai angka-angka yang fantastis. Ada yang mengatakan bahwa utang bank Summa mencapai Rp 1,2 trilyun. Tapi, ada yang bilang hanya sekitar Rp 800 milyar, sementara sumber yang dianggap terpercaya, malah menyebut Rp 2 trilyun. Berapa pun angkanya, sukses dan kegagalan Summa menampilkan ciri yang sama, yaitu sukar dipercaya. Berita burung memang sulit ditangkal. Bank Summa, misalnya, dikatakan menunggak pembayaran SBPU (Surat Berharga Pasar Uang) sebesar Rp 1,2 trilyun. Isu ini dibantah keras oleh George Kapitan, Presdir Bank Summa. Isu yang agaknya mengandung kebenaran adalah bahwa Bank Summa menerima pinjaman dari bank asing. Kesulitan timbul, karena pinjaman itu berubah menjadi kredit macet di perusahaan milik Edward sendiri. Celakanya, pinjaman itu sering tanpa kelayakan kredit atau filter. "Maklum, dia kan pemilik Bank Summa," ujar seorang bankir. Menurut Edwin adik Edward yang terjadi di Bank Summa adalah mismatch funding, akibat investasi yang terlampau agresif. Ketika Bank Summa mulai "batuk-batuk" pada akhir tahun 1990, keluarga William Soeryadjaya pun mengulurkan bantuan. Oleh pihak tertentu bantuan ini dinilai terlambat. Mungkin memang terlambat, karena utang Summa yang baru sekitar Rp 600 milyar medio 1991, membengkak ke jumlah fantastis seperti tersebut di awal cerita ini. Konsultan andal yang ditugasi untuk membenahinya ternyata tak sempat berbuat banyak. Sebenarnya, apa yang disebut bencana keuangan bukanlah hal baru bagi pengusaha tangguh seperti William. Ketika Pertamina bangkrut, proyeknya di Kuningan, Jakarta Selatan, senilai US$ 30 juta ikut macet. Peristiwa ini telah mendorong Astra untuk "menjaga jarak" dengan pemerintah. Om Willem lalu merekrut pekerja ahli dan terampil, dan langkah ini terbukti ampuh. Bahkan, setelah itu bisnis Astra berkembang pesat. Tak heran bila William ketika itu mengatakan, "Mujizat itu bukan hanya terjadi di jaman baheula." Delapan tahun kemudian, terjadi lagi krisis, kali ini menggerogoti PT Sumalindo Lestari, sebuah anak perusahaan Astra. Ketika itu, William mengajak Prajogo Pangestu, bos Barito Pacific, untuk menyuntikkan modal. Sebagai imbalan, Prajogo mendapat 50% saham Sumalindo. Dalam RUPS Astra International tahun lalu, Sumalindo dilaporkan mencatat laba Rp 6,4 milyar atau sekitar 4% dari seluruh laba Astra International. Dalam menghadapi krisis Summa, sumber TEMPO membenarkan bahwa tujuh bulan lalu William mendekati Prajogo Pangestu. Edwin juga konon menghubungi pemilik Bank Danamon Indonesia, Usman Admadjaya. Apa jawaban Projogo belum diketahui, sedangkan Usman membantah isu tentang merjer antara Bank Summa dan Bank Danamon. Tapi ia tidak berkomentar mengenai US$ 100 juta yang diisukan sebagai infus dari Danamon untuk Summa. Mampukah William menyelamatkan Summa? Mungkin bisa, tapi taruhannya terlalu besar. Yang pasti, akhirakhir ini William jarang tampil di depan umum. Boleh jadi ia sedang menunggu mujizat part two. Bambang Aji dan Max Wangkar

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162052312981



Ekonomi dan Bisnis 7/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.