Ekonomi dan Bisnis 8/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

Akhirnya Cibinong di Tangan Hasyim

Hasyim Djojohadikusumo akan membeli saham PT Semen Cibinong sebesar 42,84% dari Hanson Trust, Inggris. Semula akan dibeli Mitsubishi. Hasyim jadi dirut. Ada kemungkinan akan kerjasama dengan Mitsubishi.

i
SERTIFIKAT saham PT Semen Cibinong di bursa Jakarta belakangan ini berhenti pada harga sekitar Rp 10.300 per lembar. Tapi, anehnya, tak terdengar ada yang bersedia menjualnya. Sebaliknya, seperti kata seorang pialang PT Intan Arta, banyak yang ingin membelinya. Harga selembar sertifikat "Cibinong" keluaran PT Danareksa, yang sama nilainya dengan saham asli PT Semen Cibinong, diduga bakal terkatrol sampai di atas Rp 20.000 per lembar. Kenaikan yang hampir 100% itu, kabarnya, tinggal menunggu penandatanganan pengalihan 42,84%saham Cibmong dari tangan Hanson Trust, Inggris. Saham Hanson semula milik Gypsum Carrier Inc., anak Kaizer Cement Corporation dari AS. Februari tahun silam, seluruh saham Kaizer dijual kepada Hanson Trust. Termasuk milik Gypsum di Cibinong, sekitar US$ 30 juta. Kini Hanson Trust kabarnya berani melepas seluruh sahamnya dengan US$ 26 juta. Pembelinya, seperti diberitakan beberapa waktu lalu, adalah Mitsubishi (TEMPO, 29 Agustus). Mereka telah menyediakan empat milyar yen untuk itu. Tapi sampai pekan lalu, transaksi yang boleh dibilang matang tak terjadi. Apa pasal? Alkisah, PT Semen Gresik dan PT Danareksa, masing-masing pemilik saham 35,42% dan 9,86% di pabrik semen cap Kujang itu, berkeberatan untuk ikut menandatangani transaksi jual-beli. "Karena ada pengusaha Indonesia yang juga telah bersedia membelinya," kata J.A. Sereh kepada TEMPO. Siapa dia? Dirut PT Danareksa itu menyebut nama Hasyim Djojohadikusumo. Hasyim, yang dihubungi TEMPO awal pekan ini di kantornya, tak mengelak. Bahkan dia mengaku sudah lebih dahulu menawar saham-saham mayoritas PT Semen Cibinong. "Sudah sejak Oktober tahun lalu kami mendekati pihak Kaizer di AS," katanya. Dan Februari lalu, ujarnya lagi, adalah Sir Gordon White, pejabat Hanson di New York yang ditemuinya. Waktu itu, demikian yang empunya cerita, pihak Hanson memberitahukan, hak pembelian pertama berada di tangan PT Semen Gresik, sehingga Hasyim mengundurkan diri. "Waktu kami mundur itulah Mitsubishi masuk," katanya. Hasyim, 33 tahun, memimpin perusahaan Tirta Mas Majutama, Prima Comexindo Trading, dan Era Persada. Dibesarkan di luar negeri, putra kedua Prof. Sumitro Djojohadikusumo ini adalah lulusan Pomona College, di Claremont Colleges, California, dalam ilmu politik dan ekonomi. Dia pernah magang setahun di Lazaird Freres, Paris, sebuah bank yang dikenal sebagai salah satu penasihat BI. Sementara itu, pihak Mitsubishi beranggapan mereka sudah lama menjalin hubungan bisnis dengan Kaize Cement. Itu kata juru bicara Mitsubishi Corporation, Yasushi Oba. Adalah pihak Kaizer yang, menurut Oba, memberitahukan kepada Mitsubishi bahwa Hanson Trust ingin menjual sahamnya. Kebetulan Mitsubishi Mining & Cement Corporation, No. 4 di Jepang, berniat ekspansi keluar akibat yendaka (semakin naiknya gengsi yen terhadap dolar AS, sehingga menyulitkan ekspor Jepang). Saham-saham Hanson di Cibinong kemudian ditawar Mitsubishi Group seharga 26 juta dolar. Niat Mitsubishi tampaknya kurang cocok dengan keinginan pemerintah. Walau belum selesai berunding, Dirjen Aneka Industri Departemen Perindustrian, Sidharta, mengatakan kepada TEMPO, masalah pengelolaan PT Semen Cibinong lebih baik di tangan Indonesia. "Lha, kita kan sudah mampu. Lihat pabrik-pabrik semen yang ada. Sekarang, pabrik semen milik pemerintah untung semua, sedangkan yang swasta termasuk milik Jepang rugi semua," ujar Sidharta. Adapun kursi Dirut PT Semen Cibinong tampaknya dipercayakan kepada Hasyim Djojohadikusumo. Rencana Mitsubishi untuk mengubah sumber energi dari gas alam ke batu bara, untuk bahan bakar pabrik semen Cibinong, menurut Sidharta, kurang cocok. "Lokasinya jauh dari pantai, sehingga kurang efisien untuk angkutan batu bara ke pabrik di Cibinong," kata Sidharta. Pengusaha muda yang lagi naik daun baru-baru ini berhasil memasarkan produk Industri Pesawat Terbang Nusantara ke luar negeri. Dia juga yang memimpin suatu delegasi perdagangan ke Fiji, dan diterima oleh Kolonel Rabuka, penguasa baru negeri itu waktu itu. Niatnya menanam modal di pabrik semen karena melihat industri dasar itu bisa berumur sampai seratus tahun, bila dikelola dengan baik. "Cibinong 'kan belum pernah rugi," kata Hasyim. J.A. Sereh menilai pihak Hasyim didukung dana kuat. Itu tampak dari kesediaannya menanggung utang Cibinong yang US$ 20 juta, dari tiga lembaga keuangan AS (Exim Bank, City Bank, dan IFC). "Bankirnya dari Chase Manhattan, Hong Kong, telah datang, dan menyatakan tak ada masalah tentang (utang) itu," tutur Sereh. Tampaknya, banyak yang mendukung tampilnya "cukong" pribumi di Clbinong. Termasuk Setiadi Dirgo, Dirut PT Semen Gresik, yang juga Komisaris Utama PT Semen Cibinong. Boleh jadi keberanian pihak Hasyim membeli selembar saham Cibinong sekitar Rp 26.000 akan mendongkrak harga saham dan sertifikat Cibinong. Adakah pihak Mitsubishi akan tersisihkan, masih harus dilihat. Tapi beberapa sumber tak menutup kemungkinan akan tercapai kerja sama antara pihak Hasyim dan Mitsubishi. "Saya kira akan kompromi," kata Sidharta. Fifty-fifty? "Tampaknya begitu," katanya seraya tertawa. PT Semen Cibinong pada 1986 mencatat laba bersih sekitar Rp 2,2 milyar, dan telah membagikan dividen sementara Rp 1.000 untuk setiap lembar saham. Tapi sejak Juli lalu, Cibinong belum membayar dividen, konon karena proyek jalan tol Cengkareng yang memakai semen cap Kujang belum selesai terbayar. Labanya Rp 691 juta pada semester pertama 1987. Lebih rendah dari semester pertama 1986 yang Rp 961 juta. Max Wangkar, Bachtiar Abdullah, Sidartha Pratidina, Yopie Hidayat (Jakarta), dan Seiichi Okawa (Tokyo)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865936030



Ekonomi dan Bisnis 8/9

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.