Musik 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Suka tak suka dalam notabene

January christy manggung di gedung go skate, surabaya. ia dan penggemarnya kecewa. sound system berkekuatan 25 ribu watt salah setel. kariernya terus menanjak. tak mau berkiblat ke lagu komersial.

i
SEKITAR lima ratus anak muda yang tumplek di gedung Go Skate, Surabaya, malam Minggu lalu, tak sanggup menunggu greget suaranya. Aplaus segera menggemuruh terkocok sorotan tajam 75 lampu halogen seribu watt dan 32 lampu sorot aneka warna. Setelah itu mendadak hening. January Christy, sang primadona, dengan penuh senyum dikulum melangkah tegar ke tengah panggung. Dibungkus celana baggy hitam pekat bersabuk ala koboi, dengan kombinasi blus lengan panjang berbintik-bintik hitam, dia memukau pengagumnya. Tanpa banyak basa-basi Christy langsung membuka konsernya dengan lagu Melayang, yang masih ngepop di kalangan penggemarnya. "Gejolak imanmu korban kemelut diri. Tak tahu apa yang kau cari," itulah bait pertama yang sempat mengundang decakan penggemarnya -- sebelum mereka dilanda kebingungan. Mereka makin bingung ketika Christy mendendangkan lagi lagu jazz-pop The Greatest Love of All, karya penyanyi dan penulis lagu akbar George Benson. Lalu disusul lagi dengan lagu abadi The Shadow of Your Smile, milik penyanyi James William, dialunkan berirama disko. Usai menyanyikan itu, muka Christy berubah masam. Corong ditaruh, lalu tancap ke balik panggung. Penggemarnya yang kecewa, langsung koor, "Huuuuuuu." Notabene, konser itu berantakan. Jauh dari nama besar yang diberikan penyelenggara, Pakar Muda Musik 87. Artis kondang lainnya, seperti Utha Likumahua, dan kelompok musik jazz Krakatau juga tampak bersungut-sungut. Di panggung suaranya ternyata tak keluar. Sound system berkekuatan 25 ribu watt yang khusus didatangkan dari Jakarta, agaknya salah setel. Suara yang keluar dari pengeras suaranya nyaris habis disapu band pengiring, Drive One Band. Kalau pilihan lagunya, jelas tak perlu diragukan. Suara Christy memang berat, sehingga jadi aneh kalau dibanding berat badannya yang hanya 40 kilogram. Karena itu, dengan suara yang jarang dimiliki wanita Asia, lagu berwarna George Benson jelas klop dengan tenggorokannya. Jadi, pantas kalau dia menyimpan segudang prestasi dalam usianya yang baru 29 tahun. Di dalam negeri, dengan Melayang ciptaan Dian P.P. dan Deddy Dhukun, dua tahun lalu dia masuk tangga lagu-lagu puncak di berbagai radio swasta nasional, dalam sejumlah pekan. Banyak remaja mencukur rambut model tomboy seperti dia itu. Di luar negeri, ia memang mendapat acungan jempol. Pada tahun 1977, dia sempat menjadi juara dalam festival lagu antarkampus di Inggris. Lagu yang dia dendangkan berjudul Poor Blind Earth, dari album "Nyamuk Malaria", karya pemusik dan penulis lagu, Harry Roesli. Kala itu Christy memang masih terdaftar sebagai mahasiswi di Moira House School of Eastbourne, Inggris. Tiga tahun dia menuntut ilmu di sana mengambil jurusan art, antara tahun 1975 dan 1978, tanpa membawa ijazah alias jebol. Tahun 1979 dia mudik ke Jakarta. Lalu ngamen di beberapa pub elite -- antara lain di Jaya Pub, La Bodega, Le Bristo, dan Orchid Restaurant di Hotel Mandarin, Jakarta. Tak sampai setahun, dia merantau lagi ke Jerman Barat. Di sana dia bergabung dengan grup band Vanua Levu, dari kawasan Dortmund. Sukses. Dengan kelompok barunya, pada tahun 1980, Christy masuk Muziek Laden semacam American Top Forty-nya Jerman Barat -- lewat lagu Only a Fool, yang direkam dalam album Island of Fantasy I. Bahkan sampai sekarang, menurut Christy, lagu yang diramu dari irama musik Jepang dan Hawaii itu masih sering didendangkan di berbagai konser. Hanya saja mereka tak pernah minta izin pada Christy. "Itu curang, lebih dari ngebajak, lho," ujarnya bersemangat. Dia juga mengaku berencana mengajukan tuntutan ke pengadilan. Tuntutan Christy tampaknya tipis harapan, karena Indonesia belum masuk konvensi rekaman internasional. "Kalau ada kesempatan, saya maju terus," ujar gadis yang mengaku masih single ting-ting itu. Kendati demikian, masih ada hiburan bagi Christy. Tahun 1981 album Island of Fantasy I berhasil meraih piringan emas, setelah terjual 400 ribu buah. Sebuah prestasi yang jarang. Itu masih ditambah dengan sukses albumnya kedua, Island of Fantasy II. Kendati tak sampai masuk Muziek Laden, album yang dicetak tahun 1982 itu, kata Christy, sudah dicetak ulang sampai 400 ribu buah. Hanya yang belum ada kabar, dia akan menerima piringan emas lagi atau tidak. Yang pasti, nasib Christy di panggung festival belum kembali cerah. Ketika ambil bagian dalam festival lagu di Iserlohn, Jerman Barat, tahun 1982, dia tak kebagian nomor. Demikian pula dalam Lomba Cipta Lagu Populer di Balai Sidang Senayan, Jakarta, tahun berikutnya. Itu tak berarti Christy punya rencana pindah kiblat ke lagu komersial asal laku. Dia tetap pada prinsip, lagu yang mau dinyanyikan pas benar dengan suaranya. Gara-gara itulah, meski sudah lama punya nama kondang, Christy termasuk penyanyi paling jarang masuk studio rekaman. Di Indonesia dia baru dua kali bikin album, Melayang dan Aku Ini Punya Siapa. Christy juga termasuk penyanyi yang ogah nyanyi sesuai dengan aslinya, kendati sudah digariskan oleh penciptanya. Dia doyan berimprovisasi sampai keluar dari jalur, agar sesuai dengan suara dan seleranya. Dan ia tak peduli kritik, dengan alasan, "Orang suka atau nggak, masa bodoh, deh." Walau begitu, dia mau mengakui kelemahannya. Dengan suara berat, dia sulit menyanyikan lagu berirama cepat. Sedangkan yang mengundang goyang, dia tak keberatan. "Asal jangan di panggung. Saya sebenarnya kaku," kilahnya. Praginanto (Jakarta) & Wahyu Muryadi (Surabaya)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161814602911



Musik 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.