Ekonomi dan Bisnis 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Cangkriman Penerbangan Ajo Af-1

Otoritas penerbangan mulai membahas berbagai faktor yang melatarbelakangi jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182. Diwarnai penelusuran profil kapten hingga informasi baru tentang dugaan kerusakan perangkat pesawat.

i Anggota KNKT memeriksa bagian mesin turbin Pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ182 rute Jakarta-Pontianak pada hari kelima operasi SAR pesawat tersebut di Terminal JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 13 Januari lalu. TEMPO/M Taufan Rengganis
Anggota KNKT memeriksa bagian mesin turbin Pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ182 rute Jakarta-Pontianak pada hari kelima operasi SAR pesawat tersebut di Terminal JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, 13 Januari lalu. TEMPO/M Taufan Rengganis
  • Otoritas penerbangan mulai menelusuri berbagai faktor yang diduga berkaitan dengan jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182. .
  • Pembahasan sempat mendalami profil pilot Kapten Afwan.
  • Informasi baru mencuat: autothrottle PK-CLC diduga sempat bermasalah. .

SEHARI setelah pesawat Sriwijaya Air SJ-182 hilang dari radar, kawan-kawan Kapten Afwan Zamzami mendatangi kediaman penerbang yang nahas dalam penerbangan rute Jakarta-Pontianak pada Sabtu, 9 Januari lalu, tersebut. Mereka teman seangkatan Afwan di Sekolah Penerbang Prajurit Sukarela Dinas Pendek Tentara Nasional Indonesia (PSDP TNI).

Dari cerita Pipit Rachmawati, istri Afwan, mereka baru tahu bahwa koleganya itu sempat salah melihat jadwal. Kapten Afwan mengira bakal terbang pada Sabtu sore, pukul 17.00 WIB. Karena itu, Afwan beristirahat pada Sabtu pagi dan berencana berangkat dari rumahnya di Perumahan Bumi Cibinong Endah, Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sekitar pukul 14.00 WIB.

Rupanya, mobil jemputan untuk pilot Sriwijaya telah tiba pada pukul 09.00 WIB. Pukul 2 siang bukan jadwal berangkat dari rumah, melainkan jadwal pesawat terbang. Melihat Afwan tak kunjung keluar, sopir mobil jemputan beberapa kali menelepon sang pilot.


Afwan, pria yang pada 26 Februari mendatang genap berusia 55 tahun, buru-buru bangun, bersiap, lalu berangkat. “Baju dan celananya belum disetrika, masih kusut,” kata Pipit. Tak punya banyak waktu, Pipit hanya membekali suaminya dengan dua butir telur rebus dan teh manis.

161479374220

Decy C. Widjaja, istri Kapten Hasan Basri, menuliskan kesaksian Pipit itu di Jayakartanews pada 11 Januari 2021. Kapten Hasan, kawan seangkatan Afwan di Sekolah Penerbang PSDP TNI, membenarkan itu tulisan istrinya. “Kami berkunjung ke sana dan memberikan dukungan kepada istri Kapten Afwan,” tutur Hasan ketika ditemui di Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 12 Januari lalu.

Kawan seangkatan PSDP TNI atau Ikatan Dinas Pendek IV lulusan 1987 merupakan salah satu lingkaran terdekat Afwan. Mereka lulusan sekolah menengah atas yang mendaftar ke Sekolah Penerbang TNI Angkatan Udara di Yogyakarta. Lulusan jalur ini terikat dinas menjadi penerbang TNI AU selama sepuluh tahun—dinas pendek. Setelah itu, mereka diberi pilihan melanjutkan dinas atau pindah jalur menjadi penerbang sipil. Kapten Afwan dan Hasan memilih jalur penerbang sipil setelah lepas dari ikatan dinas tentara.

•••

PROFIL Kapten Afwan Zamzami sempat menjadi pembahasan dalam rapat antara Kementerian Perhubungan, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), dan otoritas penerbangan di ruang kerja bersama Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin, 11 Januari lalu. Persamuhan itu membahas berbagai data awal yang berkaitan dengan jatuhnya pesawat berkode registrasi PK-CLC tersebut di laut sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dua hari sebelumnya.

Pembahasan profil Kapten Afwan agak panjang karena data awal, seperti kondisi cuaca, komunikasi pilot dengan pemandu lalu lintas udara Jakarta (air traffic controller/ATC), dan rekam jejak perawatan PK-CLC tampak normal sebelum musibah terjadi. Dari laporan inspektur penerbang (principal operation inspector) dan inspektur ahli perawatan pesawat udara (principal maintenance inspector)—petugas pengawas maskapai di bawah Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara—pesawat memang sempat tak beroperasi pada Maret hingga awal medio Desember 2020, seiring dengan pandemi Covid-19.

Keluarga menunjukkan foto Pilot Sriwijaya Air SJ 182 Kapten Afwan di rumahnya, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 10 Januari lalu. ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Pada 23 Juli 2020, otoritas penerbangan Amerika Serikat (FAA) memperingatkan soal potensi korosi mesin pada Boeing 737 yang lama tak digunakan. Sehari kemudian, Kementerian Perhubungan meneruskan peringatan tersebut kepada maskapai agar mengecek kelayakan unit armadanya. Pemeriksaan oleh maskapai berlangsung pada 2 Desember 2020.

Inspektur pengawas dari Kementerian Perhubungan memeriksa ulang pada 14 Desember 2020. Tiga hari kemudian, pesawat tercatat telah mengantongi sertifikat kelaikudaraan yang berlaku sampai 17 Desember 2021. PK-CLC juga sempat terbang tanpa penumpang pada 19 Desember 2020. Penerbangan dengan penumpang alias komersial baru dimulai tiga hari berikutnya, 22 Desember 2020.

Ketika data awal PK-CLC tampak normal itulah, dalam rapat, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mulai menanyakan latar belakang sang pilot. Budi Karya tidak menyebutkan eksplisit alasannya menanyakan profil Afwan. Tapi dua pejabat yang mengikuti rapat tersebut tahu arah pembicaraan itu. Apalagi, sejak musibah terjadi, ramai pemberitaan yang mengupas profil Haji Afwan—panggilan lain sang Kapten. Afwan digambarkan sebagai sosok dengan sikap religius yang taat, terkenal tidak pernah melepas kopiah putihnya selagi bertugas.

Ketika membahas profil kapten tersebut, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dan timnya menyampaikan teori lain. Menurut Soerjanto dan timnya, jika benar ada kesengajaan penerbang menjatuhkan pesawat, semestinya ada perlawanan dari penerbang lain. Perlawanan itu bisa terekam dari komunikasi atau kode yang dikirimkan ke ATC. “Tapi tidak ada komunikasi atau kode-kode tersebut,” ucap pejabat itu menirukan penjelasan tim KNKT.

Dihubungi sejak Kamis pekan lalu, 14 Januari, juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, enggan menjawab pertanyaan Tempo tentang isi rapat tersebut. Seorang pejabat lain yang dekat dengan Budi Karya tapi enggan disebutkan namanya membenarkan isi rapat Senin itu. “Namanya kecelakaan, semua aspek harus dipelajari. Tapi hasil akhir nanti menunggu data dari flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR),” ujar pejabat ini.

Perekam data penerbangan dan perekam suara di kokpit merupakan bagian dari perangkat yang biasa dikenal dengan sebutan kotak hitam (black box). Pada Selasa, 12 Januari lalu, tim pencarian dan pertolongan gabungan menemukan FDR di kedalaman 20 meter. Adapun CVR masih dalam pencarian hingga akhir pekan lalu.

Kapten Hasan Basri sudah puluhan tahun mengenal Afwan. Hasan mengakui sohibnya itu sosok yang tidak segan menunjukkan ekspresi ketaatan dalam beragama. Tapi ketaatan Afwan, dia menambahkan, sebatas itu. Pada peringatan Natal 2020, kata Hasan, Kapten Afwan bahkan sempat mengucapkan selamat Natal dan tahun baru di grup percakapan angkatannya. “Selamat malam bagi rekan-rekan yang merayakan NATARU malam ini dan besok. Semoga bahagia dan sehat-sehat selalu,” tulis Ajo Af-1—panggilan Afwan. “Dia aslinya dari Batusangkar. Kami memanggilnya Ajo (abang) Af-1 (Af-one),” tutur Hasan.

•••

PESAWAT dengan kode registrasi PK-CLC milik Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak bernomor penerbangan SJ-182 dinyatakan hilang kontak pada Sabtu, 9 Januari lalu, pukul 14.40 WIB. Pesawat Boeing 737-500 itu mengangkut 40 penumpang dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi. Sebanyak 12 belas kru ikut dalam penerbangan nahas ini, termasuk dua penerbangnya, Kapten Afwan Zamzami dan Kopilot Diego Mamahit.

Pesawat mulanya akan terbang pada pukul 13.25 WIB. Karena cuaca buruk, jadwal lepas landas mundur menjadi pukul 14.36 WIB. Dalam proses lepas landas, pukul 14.37 WIB, Kapten Afwan meminta naik ke ketinggian jelajah 29 ribu kaki.

Sore itu, PK-CLC terbang secara instrumen. Setiap manuver harus seizin petugas pemandu lalu lintas udara. Tapi, baru mengudara empat menit, atau sekitar pukul 14.40 WIB, pesawat tiba-tiba berbelok ke kiri, keluar dari rencana jalur penerbangan.

Tahu pesawat berbelok ke kiri di ketinggian 10.900 kaki—sekitar 3.322 meter di atas permukaan laut—dengan kecepatan 287 knot atau 531 kilometer per jam, petugas lalu lintas udara bertanya kepada pilot. “Kenapa belok?” begitu tanya petugas seperti ditirukan seorang pejabat otoritas penerbangan. Ini menjadi awal cangkriman alias teka-teki yang hingga sepekan selepas musibah belum juga terjawab: apa yang sebenarnya terjadi ketika SJ-182 mengudara di langit Kepulauan Seribu.

Vincent Raditya, pilot pemegang lisensi Airbus A320 sekaligus YouTuber, membaca data Flightradar24.com yang merekam jejak penerbangan SJ-182. Dia menjelaskan, pada pukul 14.37 WIB, PK-CLC oleng 3 derajat ke kiri dari sudut awal 46 derajat. Tak sampai semenit kemudian, pesawat keluar dari jalur penerbangan sampai 16 derajat dari titik awal.

Kurang dari semenit, pesawat menghadap ke kiri pada titik 339 derajat alias terbalik. “Artinya, pesawat dive down dari ketinggian 10.500 kaki (3.200 meter) ke 8.950 kaki (2.728 meter),” kata Vincent dalam kanal YouTube-nya, Ahad, 10 Januari lalu. Kecepatan pesawat di darat 224 knot atau sekitar 415 kilometer per jam. “Ini terindikasi altitude-nya (ketinggian) jatuh.”

Data terakhir yang direkam Flightradar24.com menunjukkan pesawat sudah jatuh di ketinggian 250 kaki dengan kecepatan di darat 358 knot atau 663 kilometer per jam. Kendati situs pelacak penerbangan itu menyarikan data dari automatic dependent surveillance-broadcast, multilateration, dan radar, Vincent mewanti-wanti bahwa belum tentu semua angka yang disajikan benar. “Walaupun bisa sebagai indikator yang baik. Ini ancer-ancer saja,” ujar Vincent.

Pilot nonaktif pemegang lisensi Boeing 747-400 dan Airbus 330, Kapten Shadrach Nababan, sependapat. Data pada Flightradar24.com tidak bisa dipegang seratus persen. Menurut dia, sistemnya mirip sistem pemosisi global (GPS). “Kita tidak tahu bagaimana sistem Flightradar mencatat,” ucap Shadrach saat dihubungi pada Jumat, 15 Januari lalu.

Waktu menunjukkan pukul 14.40.11 WIB, Sabtu, 9 Januari 2021. Petugas ATC Jakarta menunggu jawaban dari Kapten Afwan ataupun Kopilot Diego. Empat detik kemudian, pesawat menghilang dari radar ATC. Petugas lalu lintas udara Jakarta bertanya kepada pilot pesawat lain yang melintas di area berdekatan. Tidak ada yang mengetahui keberadaan PK-CLC.

•••

SAAT mendengarkan pemaparan data awal PK-CLC di Terminal 3 Soekarno-Hatta, Menteri Budi Karya tidak mendapat catatan miring mengenai PK-CLC. Pesawat layak terbang kendati sudah berumur 26 tahun.

Belakangan, seorang pejabat di Kementerian Perhubungan mengungkapkan, sebulan sebelum jatuh, automatic throttle (A/T) di PK-CLC repetitif. Maksud dia, terjadi masalah berulang selama sebulan. Dia mensinyalir masalah ini tidak ditangani serius oleh maskapai, dan luput dari pengawasan inspektur Kementerian Perhubungan.

Automatic throttle atau autothrottle adalah komponen seperti tuas yang terletak di antara dua kursi penerbang yang memungkinkan pilot mengendalikan pengaturan daya mesin pesawat sesuai dengan karakteristik terbang yang sudah diatur. Selain menghemat bahan bakar, autothrottle mampu memperpanjang umur mesin.

Kapten Shadrach Nababan menjelaskan, kerusakan autothrottle sebetulnya tidak terlalu signifikan dalam penerbangan. Pilot masih bisa mengambil kendali langsung secara manual, menggantikan peran pengatur tenaga mesin secara otomatis itu. “Kalau terbang manual, biasanya dibatasi tidak boleh lebih dari sekian jam terbangnya,” katanya.

Autothrottle memang bekerja secara bersama-sama dengan komponen auto flight director system. Sistem ini mengatur secara otomatis rencana penerbangan dan sangat mengurangi beban kerja pilot. “Kalau pengaturannya meleset sedikit, tinggal ditambahi manual oleh pilot,” ujar Shadrach.

Selain mengungkapkan adanya masalah autothrottle, pejabat kementerian tersebut menyebutkan mesin sebelah kanan PK-CLC sebenarnya sempat diganti. “Memang saya dengar itu. Ya, enggak ada masalah,” ucap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono kepada Francisca Christy Rosana dari Tempo di Posko Kecelakaan SJ-182 di Pelabuhan Jakarta International Container Terminal 2, Rabu, 13 Januari lalu.

Investigasi sementara KNKT menyebutkan mesin pesawat tidak mati saat menghantam laut. Di ketinggian 250 kaki—data terakhir tinggi jelajah pesawat—sistem masih berfungsi dan mampu mengirim data. “Dari data ini kami menduga bahwa mesin dalam kondisi hidup sebelum pesawat membentur air,” ujar Soerjanto.

Sebaran serpihan pesawat di radius lebar 100 meter dan panjang 300-400 meter juga mengindikasikan pesawat tidak meledak sebelum menghunjam laut. Adapun ihwal dugaan masalah berulang pada autothrottle, KNKT menyatakan belum memiliki data.

Dihubungi sejak Jumat pekan lalu, 15 Januari, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Dadun Kohar tidak menjawab pertanyaan mengenai dugaan masalah berulang pada autothrottle PK-CLC. Juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, juga tidak merespons ketika dihubungi sejak hari yang sama.

Sebelumnya, Kementerian hanya menyebutkan pesawat telah laik terbang. Dalam keterangan tertulisnya, Adita menyatakan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah melakukan pengawasan rutin dalam rangka perpanjangan sertifikat pengoperasian pesawat (AOC) Sriwijaya Air pada November 2020. “Hasilnya, Sriwijaya Air telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan,” kata Adita, Senin, 11 Januari lalu.

Direktur Utama PT Sriwijaya Air Jefferson Jauwena dan Direktur Operasi Didy Iswandi juga tidak menjawab pertanyaan tentang dugaan adanya masalah berulang pada autothrottle PK-CLC. Pada Sabtu, 9 Januari lalu, Jeffry—panggilan Jefferson—hanya menjelaskan bahwa kondisi pesawat laik terbang. “Karena sebelumnya terbang ke Pontianak pergi-pulang dan Pangkalpinang,” tuturnya di Bandara Soekarno-Hatta.

Wakil Ketua Ikatan Pilot Indonesia yang juga pilot Boeing 737 Next Generation Sriwijaya Air, Kapten Rama Noya, juga menyatakan, setahu dia, tidak ada catatan dalam dokumen deferred maintenance item PK-CLC sebelum pesawat jatuh. “Jika ada keluhan dari pilot sebelumnya, pasti akan ditulis di situ,” ucap Rama ketika dihubungi pada Jumat, 15 Januari lalu. “Jadi item masalah tadi (autothrottle) sudah tidak ada.”

KNKT biasanya merilis data awal kecelakaan pesawat sebulan setelah kejadian. Sementara itu, laporan akhir hasil investigasi kerap memakan waktu setahun. Di situlah jawaban lengkap penyebab jatuhnya PK-CLC ketika bertugas dengan nomor penerbangan SJ-182, Sabtu, 9 Januari lalu.

KHAIRUL ANAM

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Reporter Khairul Anam - profile - https://majalah.tempo.co/profile/khairul-anam?khairul-anam=161479374220


Kementerian Perhubungan Kecelakaan Pesawat PT Sriwijaya Air Komite Nasional Keselamatan Transportasi | KNKT

Ekonomi dan Bisnis 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB