Industri Makanan dan Minuman Desak Izin Impor Gula - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dag-Dig-Dug Menjelang Alih Tahun

Industri makanan dan minuman mendorong pemerintah segera mengeluarkan izin impor bahan baku gula rafinasi. Terancam ketidakpastian pasokan awal 2021.

i Produk Indomilk yang diproduksi oleh PT Indolakto di salah satu minimarket di Jakarta. TEMPO/Hilman Fathurrahman W
Produk Indomilk yang diproduksi oleh PT Indolakto di salah satu minimarket di Jakarta. TEMPO/Hilman Fathurrahman W
  • Pasokan gula terancam seret, sejumlah produsen makanan dan minuman mengadu ke pemerintah. .
  • Rencana impor raw sugar tak kunjung dibahas dari biasanya telah diputuskan pada November.
  • Jika izin impor tak kunjung turun, produksi industri makanan dan minuman awal tahun depan bisa terganggu. .

SEJUMLAH surat diterima Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono pekan pertama November lalu. “Ada dari Wings Food, Indofood, dan lain-lain,” kata Susiwijono, Selasa, 10 November lalu.

Lewat warkat terpisah, para pelaku industri makanan dan minuman itu menyampaikan kekhawatiran mereka akan pasokan bahan baku gula kristal rafinasi yang menipis menjelang akhir tahun. Mereka meminta pemerintah segera mengabulkan permintaan izin impor raw sugar bagi pabrik gula rekanan pemasok gula rafinasi.

Anak perusahaan Indofood, PT Indolakto, misalnya, meminta izin segera diberikan kepada PT Kebun Tebu Mas (KTM), pabrik gula di Lamongan, Jawa Timur. Selama ini KTM merupakan pemasok bahan baku gula untuk pabrik Indolakto di Pasuruan, Jawa Timur. Tiap bulan, KTM biasa memasok kurang-lebih 12.500 ton gula rafinasi ke produsen susu merek Indomilk tersebut.


Direktur Teknik dan Operasi PT Indolakto Sonny Effendhi mengatakan izin impor yang terlambat keluar memiliki efek domino cukup besar. “Pasokan gula ke industri telat, produksi pangan bisa berhenti,” tutur Sonny, Rabu, 4 November lalu.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjcgMTI6NTg6MTIiXQ

Sonny tak tahu pasti apa alasan seretnya izin impor periode semester kedua 2020 tersebut. Padahal perusahaannya telah membeberkan kebutuhan gula untuk industri. Undangan menyambangi pabrik untuk melihat langsung stok dan kebutuhan gula pun sudah ditawarkan kepada pejabat di Kementerian Perindustrian. Namun upaya perusahaan masih belum membuahkan hasil. 

Sonny menyebutkan cadangan gula di pemasok sebenarnya masih mencukupi kebutuhan hingga Desember. Namun tetap saja izin impor raw sugar harus segera turun agar stok gula tidak terputus untuk kebutuhan awal tahun depan.

Kekhawatiran serupa tersirat dari surat yang dilayangkan PT Karunia Alam Segar, bagian dari Wings Food. Tiga pabrik Wings Food di Jawa Timur sejak 2016 juga bergantung pada pasokan gula rafinasi dari Kebun Tebu Mas sekitar 7.000 ton per bulan. Menjelang akhir tahun ini, seperti disebutkan dalam surat Wings Food, KTM kesulitan memasok gula rafinasi karena terbatasnya bahan baku.

Senior Public Relations Specialist Wings Group Indonesia Christie Rachel Lumban Tobing menyatakan manajemen perusahaannya tidak dapat menjawab upaya konfirmasi Tempo tentang surat yang dilayangkan Karunia Alam Segar. “Mohon maklum karena Wings adalah perusahaan swasta tertutup non-Tbk,” ujar Christie lewat pesan pendek, Sabtu, 14 November lalu.

•••

SAMBATAN sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman bermula dari datangnya surat pemberitahuan PT Kebun Tebu Mas kepada mitra usahanya, Senin, 2 November lalu. Melalui surat tersebut, KTM menyampaikan informasi tentang penyediaan bahan baku gula mentah yang masih dalam perizinan. Dampaknya, produksi gula rafinasi kemungkinan besar terhambat.

KTM menjamin penjualan dan pengiriman gula rafinasi kepada mitra masih aman dalam satu bulan ke depan. Namun dampak keterlambatan izin impor harus mulai diantisipasi pada bulan berikutnya. “Penyediaan bahan baku akan berpengaruh pada penjualan atau pengiriman di periode bulan berikutnya karena sangat dipengaruhi kecepatan terbitnya izin impor oleh kementerian terkait,” demikian bunyi surat tersebut.

Advisor pabrik gula Kebun Tebu Mas, Adi Prasongko, enggan menjelaskan permasalahan bahan baku yang tengah dihadapi perusahaannya. Dia hanya menyatakan, pada Juni lalu, pemerintah telah memenuhi permintaan izin impor sebagai pengganti kuota 15 ribu ton yang “dipinjam” untuk program stabilisasi harga gula konsumsi.

KTM memang menjadi pabrik gula yang ditugasi pemerintah mengolah raw sugar menjadi gula kristal putih untuk konsumsi rumah tangga dari semestinya dijadikan gula rafinasi buat industri. Penugasan ini diputuskan pemerintah pada Februari-Maret lalu, ketika kelangkaan gula konsumsi memicu lonjakan harga.

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) belakangan juga mengirimkan surat kepada Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada Selasa, 10 November lalu. Gapmmi menyatakan telah mendapat informasi tentang kurangnya bahan baku raw sugar dari para pemasok gula rafinasi. Gapmmi memperkirakan para pemasok hanya bisa menyuplai gula rafinasi ke industri sampai awal Januari 2021.

Agus Gumiwang Kartasasmita tiba di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Oktober 2019./TEMPO/Subekti

Asosiasi dan para pelaku usaha mendorong pemerintah agar dapat menurunkan izin impor November. Sebab, gagal panen di Thailand membuat raw sugar tak mungkin didatangkan dari Negeri Gajah Putih tersebut. Walhasil, bahan baku harus diimpor dari Brasil, yang memerlukan waktu hingga dua bulan dari pemesanan, produksi, sampai pengiriman.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan stok gula rafinasi sebenarnya masih cukup hingga Desember. Namun, masalahnya, bahan baku untuk produksi Januari 2021 juga sudah harus tersedia sejak akhir tahun ini. “Transaksi dan perjalanan butuh waktu dua bulan. Maka izin harus segera diterbitkan,” tutur Adhi, Jumat, 13 November lalu.

Ketua Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan mengatakan anggota asosiasi sebenarnya telah mengantongi izin impor bahan baku untuk periode semester II 2020 pada Juli lalu. Kini kuota impor tersebut juga telah terealisasi. “Sampai akhir tahun aman stoknya,” ujar Bernardi saat dihubungi pada 13 November lalu.

Masalahnya, yang membikin ketar-ketir adalah stok bahan baku tahun depan. Pada September lalu, AGRI melayangkan pemberitahuan berupa estimasi kebutuhan 2021 yang bakal naik 5 persen. Namun pengajuan rencana impor hingga kini masih menunggu rapat koordinasi terbatas.

Menurut Bernardi, izin impor untuk 2021 idealnya diputuskan pada November. Dia khawatir keterlambatan izin impor tahun depan bisa berdampak pada berhentinya produksi di pabrik. “Beberapa pabrik akan habis bahan baku di awal Desember dan melakukan maintenance,” ucapnya.

Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono menyatakan berbagai masukan dari pelaku industri makanan dan minuman kini tengah dibahas di tingkat kementerian teknis. “Kami juga sedang membahas revisi beberapa peraturan menteri, terkait dengan adanya keluhan atas kesulitan bahan baku impor, dan juga keluhan atas kendala ekspor.”

AISHA SHAIDRA, RETNO SULISTYOWATI

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-27 12:58:12

Impor Gula Kelangkaan Gula

Ekonomi dan Bisnis 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB