Strategi Pemerintah Mencegah Harga Ayam Terjun Bebas - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 3/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari Kandang Tiada Pelanggan

Bisnis peternakan ayam mandiri makin terpuruk. Belum sembuh digempur surplus pasokan pada 2019, harga kini makin anjlok dihajar dampak pandemi.

i Pedagang memilih ayam potong untuk dijual dikawasan Kalimalang, Jakarta, 16 April lalu./Tempo/Tony Hartawan
Pedagang memilih ayam potong untuk dijual dikawasan Kalimalang, Jakarta, 16 April lalu./Tempo/Tony Hartawan
  • Pandemi Covid-19 menggerus pasar ayam peternakan rakyat. .
  • Harga jeblok seiring dengan turunnya permintaan.
  • Pemerintah menggandeng BUMN dan perusahan peternakan terintegrasi untuk menyerap surplus ayam. .

LEBIH dari dua pekan terakhir, Guntur Rotua dan istrinya mondar-mandir ke kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Peternak ayam mandiri di Bogor, Jawa Barat, ini memerlukan waktu dan tenaga empat kali lipat untuk menjual 20-an ribu ekor ayam ternaknya. “Biasanya tiga atau empat hari selesai,” kata Guntur, Kamis, 16 April lalu.

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan bapak tiga anak itu kehilangan pelanggan. Sejak hotel stop beroperasi, restoran menutup gerai, dan warung pecel ayam berhenti berjualan, pasar ayam seperti lenyap. Beberapa peternak lain, kolega Guntur, terpaksa banting harga demi menghabiskan ayam di kandang. “Ada yang jual Rp 10 ribu per ekor saja, orang enggak datang.”

Lesunya bisnis peternakan ayam sebenarnya telah dirasakan sejak 2019 karena suplai berlebih. Kala itu, pasokan ayam diperkirakan mencapai 80-an juta ekor per pekan. Padahal kebutuhan hanya sekitar 55 juta atau maksimal 70 juta saat permintaan tinggi seperti pada masa Ramadan, Lebaran, Natal, dan perayaan tahun baru.

Kini, kondisi makin parah dengan adanya wabah virus corona. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional mencatat, hingga Jumat, 17 April lalu, rata-rata nasional harga daging ayam hanya Rp 28.550 per kilogram, anjlok 13 persen dalam sebulan.

Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan penghentian operasi hotel, restoran, dan mal membuat omzet bisnis unggas menyusut sekitar 30 persen. Selain itu, pemendekan jam buka pasar tradisional turut mengoreksi 10 persen. “Jadi secara keseluruhan turun 40-an persen,” ucap anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Golkar ini.

Singgih berbisnis peternakan ayam di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut dia, sudah dua pekan harga ayam di tingkat peternak berkisar Rp 5.000-10.000 per ekor, jauh di bawah harga patokan yang ditentukan pemerintah. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen menetapkan harga batas bawah pembelian daging ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp 19 ribu per kilogram. Sedangkan batas atasnya Rp 21 ribu.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam rapat kerja dengan Komisi Pertanian DPR, Kamis, 16 April lalu, menegaskan bahwa pemerintah telah berkomunikasi dengan perusahaan peternakan terintegrasi—biasa disebut mitra atau integrator—untuk mencegah peternak mandiri gulung tikar akibat Covid-19. Hasilnya, dia menjelaskan, perusahaan mitra akan membeli ayam hidup dari peternak mandiri minimal pada harga batas bawah peraturan Menteri Perdagangan. Peternak mandiri yang dimaksud tak mencakup peternak binaan perusahaan.

Kementerian Pertanian akan memfasilitasi penyewaan infrastruktur pendingin (cold storage) yang diperlukan perusahaan integrator untuk menyimpan ayam tersebut dalam bentuk karkas. Kementerian juga memfasilitasi biaya distribusi karkas itu ke pasar atau konsumen. Perusahaan mitra pun, Syahrul melanjutkan, berkomitmen mengolah sebagian ayam dari peternak mandiri menjadi beberapa produk turunan, seperti chicken nugget atau produk lain yang menarik konsumen.  

Pada hari yang sama, masalah harga ayam ini juga dibahas dalam rapat koordinasi tentang pangan di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian. Hasilnya, pemerintah memerintahkan dua badan usaha milik negara, yakni PT Berdikari (Persero) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), menyerap surplus ayam milik peternak rakyat. “Berdikari dan PPI akan mendapat penugasan penyerapan ayam hidup dan disimpan dalam bentuk karkas,” tutur Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian Musdalifah Mahmud kepada Tempo, Jumat, 17 April lalu.

Guntur menyambut baik kebijakan tersebut. “Kalau benar seperti itu, akan sangat membantu. Peternak rakyat bisa selamat, minimal tidak bangkrut,” ujarnya.

Sebab, menurut Guntur, selama ini masalah justru berada di Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Pasal 12 peraturan itu mewajibkan pelaku usaha yang memproduksi ayam ras potong (live bird) dengan kapasitas minimal 300 ribu ekor per pekan mempunyai rumah potong hewan unggas berfasilitas rantai dingin. Guntur menilai, semestinya kapasitas pendingin yang wajib dimiliki perusahaan juga disesuaikan dengan kapasitas produksi. “Jangan peternak kecil dan perusahaan besar disamakan ketentuan kapasitas pendinginnya.”

RETNO SULISTYOWATI, EKO WAHYUDI
2020-08-05 05:35:11

Daging Ayam Krisis Pangan

Ekonomi dan Bisnis 3/5

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.