Ekonomi dan Bisnis 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berguru Syariah ke Timur Tengah

Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim berebut menggaet investor di pasar modal syariah. Indonesia hendak menggandeng Dubai membangun bursa efek syariah bersama.

i

DI kalangan pelaku pasar, Dubai seperti tak pernah reda menarik perhatian. Setelah membangun Burj Khalifa sebagai gedung tertinggi di dunia, kota terbesar dan terpadat di Uni Emirat Arab ini berambisi menjadi pusat ekonomi Islam dunia. Ambisi ini hendak diwujudkan sebelum 2021.

"Kami ingin menjadi pusat ekonomi Islam bagi para investor," kata Kepala Strategi dan Perencanaan Dubai Islamic Economy Development Centre Saeed Mubarak Khalfan Kharbash, Ahad dua pekan lalu. Target itu hendak dicapai dengan mengakselerasi keuangan Islam, industri halal, dan gaya hidup islami. Tujuannya meningkatkan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara teluk tersebut.

Target ini tak serta-merta mengesampingkan investor nonmuslim. Saeed mengatakan konsep perekonomian Islam yang mereka usung berlaku untuk semua pelaku pasar. "Empat puluh persen nasabah di bank adalah nonmuslim," kata Saeed.


Selain di perbankan, investor nonmuslim berbondong-bondong masuk ke pasar saham Dubai. Sejak 2006, Dubai Financial Market menanggalkan nama syariah di belakang namanya. Padahal dari produk, manajer investasi, sampai sistem yang mereka sediakan semuanya berbasis syariah. Dubai Financial Market dinobatkan sebagai bursa efek pertama di dunia yang menerapkan prinsip kepatuhan syariah.

161829787397

Pada November tahun lalu, 20 persen saham Dubai Financial Market dilepas ke publik. Mayoritas saham, sekitar 80 persen, dikuasai Pemerintah Kota Dubai. Rasio pasar modal terhadap produk domestik bruto Uni Emirat Arab pada 2016 berada di peringkat kedua setelah Malaysia, yaitu 61 persen. Nilai kapitalisasi pasar Dubai Financial Market pada 2016 mencapai US$ 89,18 miliar.

Saaed menyebutkan banyak investor nonmuslim dari Cina, Australia, dan Selandia Baru tertarik pada konsep pasar uang syariah. Apalagi bursa Efek Dubai menawarkan produk syariah dengan indeks bagi hasil 12 persen. Produk yang dijual antara lain saham, surat utang syariah atau sukuk, reksa dana, reksa dana yang diperjualbelikan di bursa efek (exchange traded fund), dan surat berharga real estate (real estate investment trust). Kepala Kontrol Internal Dubai Financial Market Asma Looteh mengatakan kepatuhan investor terhadap prinsip syariah dimonitor Dewan Pengawas Syariah yang bekerja sama dengan bank sentral.

Dibandingkan dengan di Bursa Efek Indonesia, jumlah pialang saham dan manajer investasi yang tercatat resmi di bursa Dubai lebih sedikit, hanya 48. Adapun bank kustodian yang memegang izin resmi hanya lima, yaitu Citibank, Deutsche Bank, HSBC, National Bank of Abu Dhabi, dan Standard Chartered. Saat Tempo berkunjung ke Dubai Financial Market di Dubai World Trade Centre, Ahad dua pekan lalu, belasan pialang dan investor sedang menunggu sesi pembukaan perdagangan yang dimulai pukul 10.00 waktu setempat. Mereka sibuk mengamati tabel saham di komputer layar sentuh 29 inci yang tersedia di lantai dasar bursa. Perdagangan berlangsung setiap hari hingga pukul 14.00, serta tutup pada Jumat dan Sabtu.

Di kawasan yang sama, Nasdaq Dubai juga menawarkan produk pasar modal syariah bagi pelaku pasar berskala internasional. Dengan nomor identitas tunggal, investor yang bertransaksi di lantai Dubai Financial Market dapat bertransaksi di Nasdaq Dubai. Wakil Presiden dan Kepala Deputi Divisi Operasi Dubai Financial Market, Khalifa Ahmed Rabba, mengatakan timnya membuat aplikasi khusus untuk memudahkan investor bertransaksi jarak jauh dengan telepon seluler pintar. Verifikasi identitas investor dilakukan melalui sidik jari atau token. Investor dapat memonitor, mendapatkan laporan berkala pasar saham, dan menganalisis tren lewat aplikasi tersebut. "Ini strategi mengubah aktivitas manual ke ponsel pintar," ujar Khalifa.

Indonesia mulai melirik Dubai untuk membangun bursa efek syariah bersama. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengatakan potensi saham syariah di Indonesia cukup besar. Selain karena berpenduduk mayoritas muslim, transaksi saham syariah di Bursa Efek Indonesia (Indeks Saham Syariah Indonesia) lebih dominan dibanding saham konvensional. Kapitalisasi pasar saham syariah meningkat 42 persen selama lima tahun terakhir, mencapai Rp 3.479 triliun dari total kapitalisasi saham Rp 6.573 triliun. Jumlah investor yang membuka efek syariah pun bertambah hingga 19 ribu akun per akhir September 2017. "Potensi kita ini sebenarnya lebih besar dibanding Dubai," ucap Tito.

Itu sebabnya, dalam lawatan pertamanya ke Dubai Financial Market dua pekan lalu, Tito menawarkan kerja sama. Teknisnya bisa berupa dual listing atau bursa gabungan. Menurut dia, total kapitalisasi market saham syariah kedua negara tak akan tumbuh besar jika berkompetisi satu sama lain di pasar yang sama. "Kita punya ambisi yang sama untuk menguasai pasar produk syariah. Tapi kenapa tidak bersama?"

Bursa Efek Indonesia mencatat jumlah penerbitan sukuk di Tanah Air US$ 14,36 miliar, lebih unggul dibanding Uni Emirat Arab, yang berkisar US$ 6,9 miliar. Malaysia menempati posisi pertama dengan nilai US$ 38,97 miliar. Sementara imbal hasil indeks Dubai sebesar 12 persen, Indonesia menawarkan imbal produk syariah hingga 28,1 persen. Selain sukuk, produk syariah yang laris dibeli investor Indonesia adalah saham, reksa dana, dan reksa dana diperdagangkan.

Kepala Pengembangan Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia Irwan Abdalloh mengatakan Indonesia sebenarnya mampu membangun bursa efek syariah seperti Dubai. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia, Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, dan Undang-Undang Sukuk Negara dapat dijadikan landasan. Masalahnya, menurut Irwan, mekanisme syariah secara total belum bisa diterapkan seratus persen di Indonesia. Dalam syariah, investor harus menjual stok saham yang dimiliki untuk membeli lembaran saham dengan nilai yang lebih besar. Sedangkan di pasar saham konvensional, investor bisa membeli saham lebih besar dengan jaminan stok asetnya.

Tim teknis Bursa Efek Indonesia akan berguru ke Dubai agar prinsip syariah dapat diterapkan secara penuh saat bursa efek syariah Indonesia terbentuk. Tito menargetkan proses persiapan selesai dalam sembilan bulan. Ia memilih Surabaya sebagai lokasi kantor pusat bursa efek syariah ini.

Selain dengan Dubai, BEI sebenarnya ingin menggandeng Malaysia dan Turki untuk mengembangkan pasar modal syariah. Berdasarkan riset Thomson Reuters yang dikutip oleh World Islamic Economic Forum Foundation, Malaysia menguasai US$ 1,7 triliun aset keuangan syariah atau yang terbesar di dunia. Bursa Malaysia memiliki direktorat khusus pasar modal syariah yang khusus mengelola pasar ekuitas sesuai dengan prinsip syariah. Tahun lalu, Malaysia juga meluncurkan merek dagang Bursa Malaysia-i, platform untuk memperkuat perdagangan saham berbasis syariah.

Direktur Manajemen Investasi Bahana TCW Budi Hikmat mengatakan pasar modal syariah Indonesia mampu setara dengan Malaysia dan Dubai apabila masyarakat semakin akrab dengan konsep penanaman modal jangka panjang. Ia menilai investasi di pasar modal syariah justru lebih tahan krisis dibanding investasi di pasar uang konvensional. "Syariah mampu jadi kontrol risiko dan lebih aman karena diawasi langsung Dewan Syariah."

Putri Adityowati (dubai)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161829787397



Ekonomi dan Bisnis 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.