Ekonomi dan Bisnis 3/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bisnis Gula Melanglang Buana

Sempat ditipu, Ben Soegoro tetap melanjutkan bisnis gula dari nira kelapa. Produknya digemari konsumen di Eropa dan Amerika.

i

PULUHAN kardus tertata rapi di pojok gudang milik CV Pondok Daya. Di dalamnya, gula semut berwarna cokelat kekuningan telah dibungkus menggunakan plastik berukuran lima kilogram. Gula hasil olahan nira kelapa ini akan dikirim ke Kanada, Selandia Baru, Taiwan, dan Slovakia.

Tak cuma dikirim ke empat negara, dari gudang yang berlokasi di Dusun Jolangsari, Desa Randegan, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, itu, gula semut tersebut melanglang ke banyak negara. Permintaan datang juga dari Amerika Utara dan Cina. "Baru-baru ini ada tawaran kontrak dari pasar nonkonvensional, yakni Italia dan Meksiko," kata Ben Soegoro, pemilik CV Pondok Daya, saat ditemui pada Selasa tiga pekan lalu.

Permintaan terus berdatangan. Ben menduga pasar mancanegara menyukai produknya karena organik tanpa campuran bahan kimia. Harga jualnya juga kompetitif, US$ 1-2 per kilogram—lebih murah US$ 1,5 dari harga yang dipatok kompetitor pabrikan. Dengan pesanan 90-160 ton per bulan, Ben meraup omzet hingga Rp 8,9 miliar per tahun.


Bisnis gula yang digeluti Ben bermula pada 2004. Ketika itu pria kelahiran 17 Februari 1977 ini mendapat tawaran memasok gula butiran untuk sebuah pabrik jamu di kompleks pergudangan di Serpong, Tangerang Selatan. Ben sebenarnya sudah punya bisnis sampingan memasok sayuran di gudang milik Es Teler 77. "Tahun itu belum ada yang main gula semut, tapi saya penasaran," ujarnya.

161895900075

Meski tak punya pengalaman, Ben menerima tawaran itu. Di Banyumas, ia menemukan sekelompok petani yang mengolah nira kelapa menjadi gula seperti yang dicarinya. Biasanya nira direbus menjadi karamel lalu dicetak di bambu. Namun pengolahan gula semut berbeda. Nira direbus lebih lama lima jam dari biasanya, kemudian dimasukkan ke oven sampai kadar airnya hilang sehingga berbentuk butiran.

Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini merogoh modal Rp 25 juta dari tabungan dan hasil memasok sayur di Es Teler 77. Ia memesan tiga ton gula semut untuk dikirim ke Serpong sesuai dengan pesanan. Apes. Barang yang dijanjikan tak kunjung tiba pada hari yang ditentukan. "Sampai malam saya tunggu, tapi barang tidak diantar. Saya ditipu."

Ben pantang menyerah. Ia memprediksi gula semut ini bakal laku keras. Dengan tekstur berupa butiran, gula kelapa kristal semacam ini cenderung tahan lama. "Ada peluang menjual ke luar negeri," ucapnya. Ia menjajal peruntungan gula semut di situs Alibaba.

Iklan di portal e-commerce terbesar di Cina itu berhasil menggaet pembeli. Permintaan yang semakin banyak membuat Ben—yang ketika itu berdomisili di Ciputat, Tangerang Selatan—merasa perlu mendekatkan jarak dengan produsen di Banyumas. Menggandeng kawannya, Wiwid Wijayadi dan Muhammad Tuffatushalih, ia mendirikan gudang di Kecamatan Wangon, Banyumas, sekaligus melegalkan bisnisnya di bawah bendera Pondok Daya pada April 2010.

Direktur Operasional Pondok Daya, Muhammad Tuffatushalih, mengatakan timnya memilih menggerakkan langsung 1.500 petani yang tergabung dalam delapan kelompok tani untuk memproduksi gula semut. Nantinya gula semut dari petani itu akan dibeli Pondok Daya seharga Rp 18 ribu per kilogram. Gula semut itu kemudian dikemas di gudang berkapasitas 170 ton per bulan milik perusahaan sesuai dengan pesanan.

Salah seorang petani, Sakrun, 51 tahun, mengaku senang bermitra dengan Pondok Daya. Ia mengatakan penghasilannya meningkat dari Rp 30 ribu menjadi Rp 70 ribu per hari. "Dulu jualnya gula merah cetak, harganya Rp 5.000 per kilogram, hanya bisa produksi enam kilogram," ujarnya. Sekarang, dengan mengolah nira menjadi gula semut, meski prosesnya lebih panjang, harganya lebih tinggi. "Sehari jual empat kilogram saja sudah mendapat Rp 70 ribu," katanya. AYU PRIMA SANDI (JAKARTA), MUHAMMAD IRSYAM FAIZ (BANYUMAS)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161895900075



Ekonomi dan Bisnis 3/8

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.