Ekonomi dan Bisnis 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hancur Pita di Era Digital

Bisnis jasa pencetak sinema seluloid berantakan akibat digitalisasi. Laboratorium film pertama di Indonesia terancam gulung tikar.

i

Bos Inter Pratama Studio, Rudy S. Sanyoto, sedang risau. Dua pekan lalu koleganya, seorang arsitek, menga­barkan telah menyelesaikan dan siap mempresentasikan desain rencana pembangunan delapan menara apartemen yang pernah mereka bicarakan beberapa waktu lalu. Mereka hakulyakin hunian bertingkat itu bakal laris manis karena menggunakan lahan strategis seluas 5 hektare yang kini menjadi markas penyedia jasa teknis film, PT Inter Pratama Studio, di tepi Jalan Raya Ragunan, Jakarta Selatan.

"Tapi, kalau rencana itu jadi, artinya cita-cita Pak Njoo lenyap sudah," kata Rudy, sembari menatap foto Njoo Han Siang yang tergantung di ruang kerjanya, Selasa pekan lalu.

Njoo Han Siang, paman Rudy, adalah tokoh perfilman nasional penerima anugerah Satyalencana Wirakarya yang empat dasawarsa silam mendirikan Inter Studio, perusahaan jasa pencucian, pencetak­an, dan penggandaan film seluloid.


Dengan moto "masuk ide, keluar film", laboratorium film pertama di Indonesia ini telah melahirkan banyak judul film terkenal pada masanya. Misalnya Cicha (1976), November 1928 (1978), Usia 18 (1980), dan Secangkir Kopi Pahit (1985).

161832785070

Masalahnya, bisnis yang diwariskan kepada Rudy sejak 27 tahun lalu itu kini terancam gulung tikar, seperti juga tutupnya satu-satunya kompetitor, Mitra Lab Studio, Juli lalu. Hingga September lalu, jumlah pesanan penggandaan film seluloid hanya 63 kopi. Itu pun order dalam lima bulan terakhir hanya 13 kopi.

Padahal tahun ini produksi film nasional mencapai 71 judul. Tahun lalu Inter Studio dan Mitra Lab masih bisa berbagi pekerjaan menggarap 85 judul film yang rata-rata digandakan 45 kopi per judul.

Akibat sepinya pekerjaan, bulan ini Rudy terpaksa memberhentikan lagi sembilan dari sekitar 50 karyawannya yang tersisa. Tahun lalu jumlahnya masih lebih dari 70 pegawai. "Kondisinya sama ketika film nasional sepi produksi pada masa krisis 1998-2000," ujarnya. "Sekarang produksi film banyak. Tapi, akibat digitalisasi, sedikit yang mencetaknya dalam pita seluloid."

Sejak tujuh tahun lalu industri perfilman global telah meramalkan masuknya teknologi digital ke industri sinema. Belakangan digitalisasi menyebar lebih cepat daripada prediksi bahwa bakal muncul lima tahun lagi. Kini digitalisasi tak hanya dipakai dalam pengambilan gambar, tapi juga pada proses mengolah hingga mendistribusikannya ke layar lebar.

Produksi film format digital tak lagi menggunakan cine-transfer atau proses dari memindahkan hasil pengambilan gambar ke master film negatif hingga kemudian diubah menjadi positif dan menggandakannya berupa pita seluloid. Dengan film digital, hasil pengambilan gambar langsung diolah warna dan suaranya kemudian disimpan dalam file di sebuah hard disk. Walhasil, jasa laboratorium film seperti Inter Studio tak diperlukan lagi.

Produser pun kini memilih menggarap filmnya dalam format digital. Produksi film digital lebih murah karena bisa menghemat biaya penggandaan pita seluloid yang selama ini mencapai Rp 10 juta per kopi. Mereka juga semakin terjepit lantaran distribusi sinema, misalnya oleh Grup Cinema 21, yang beroperasi di 130 lokasi dengan 629 layar, telah mengganti hampir semua proyektor seluloid dengan digital.

Picklock Production, misalnya, terpaksa membatalkan rencana penggandaan film Rayya, Cahaya di Atas Cahaya dalam bentuk pita seluloid oleh Inter Studio. Film yang disutradarai Viva Westi ini akhirnya tayang di bioskop dalam format digital pada pertengahan September lalu.

Post-Producer Picklock Production, Dorito Tantri, mengaku terpaksa mengalihkan format film tersebut karena jasa teknis yang biasa mencetak master film negatif, seperti Eltracinestudio dan Digital Arts Pro, tak lagi melayani pesanan.

"Kami sebenarnya ingin bertahan di format seluloid, tapi mau bagaimana lagi?" katanya kepada Tempo, Jumat pekan lalu. Nantinya, menurut dia, Picklock hanya akan mencetak film dalam bentuk seluloid khusus untuk kebutuhan festival film.

Direktur Operasional Eltracinestudio Dana Riza mengakui sejak awal tahun tak lagi melayani pencetakan master film negatif. Tapi bukan berarti Eltra tak ingin meneruskan format film seluloid. "Kami juga korban digitalisasi," ujarnya.

Ceritanya, tahun lalu Eltra menginvestasikan dana hampir 2 juta euro untuk membeli satu set alat—dikenal dengan sebutan cinevation—yang bisa mengalihkan hasil shooting ke dalam film positif tanpa perlu diubah dalam film negatif lebih dulu. Singkat kata, Eltra menutup layanan cetak film negatif dan berubah sebagai laboratorium laiknya Inter Studio dan Mitra Lab. Produk akhirnya tetap berupa pita seluloid.

Semula perangkat baru tersebut ditargetkan mencetak 300-500 kopi film per bulan agar bisa balik modal selama lima tahun. Namun, baru beroperasi pada Januari lalu, mendadak dua bulan kemudian studio bioskop seperti Cinema 21 secara serentak mengubah proyektornya ke format digital. Sejak saat itu, order kepada Eltra sebulan hanya 5 atau 10 kopi. "Sekarang mesin itu menganggur. Rencana kami berantakan," katanya.

Menurut Dana, seharusnya pemerintah melindungi industri jasa teknis perfilman terutama laboratorium. Perubahan teknologi bisa dilakukan bertahap sehingga memberikan waktu bagi pelaku usaha untuk mengikutinya. "Tapi sepertinya pemerintah tak bisa apa-apa menghadapi digitalisasi yang dilakukan penguasa pasar distribusi," ujarnya.

Hal senada dilontarkan Rudy. Dia mengaku telah mengadukan masalah ini ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, tapi belum mendapat kejelasan.

Cinema 21 tak mau juga disalahkan. Digitalisasi mau tak mau mereka lakukan karena sebagian besar film impor, terutama dari Amerika Serikat, kini dikirim dalam bentuk file digital.

Walhasil, mereka mengalokasikan dana dadakan ratusan miliar rupiah secara bertahap untuk mengganti proyektor seluloid dengan model digital yang harganya sekitar Rp 800 juta hingga Rp 1 miliar per unit. "Jadi, kalau dikatakan korban digitalisasi, kami juga," kata Sekretaris Perusahaan Cinema 21 Catherine Keng, Rabu pekan lalu.

Kini lebih dari 95 persen layar jaringan bioskop 21, menurut Catherine, telah menggunakan proyektor digital. Dia membantah kabar bahwa kelompok bisnis 21 menekan produser agar memproduksi film dalam format digital. "Produksi film digital memang lebih murah," katanya.

Direktur Jenderal Industri Kreatif Berbasis Seni Budaya Ukus Kuswara berjanji segera mencari solusi terbaik agar digitalisasi tak mematikan pelaku bisnis, termasuk laboratorium film.

Dalam waktu dekat, kata dia, Kementerian akan segera menerbitkan aturan tata cara peredaran film format digital. "Saat itu kami akan mengumpulkan semua pihak untuk duduk bersama," ujarnya. "Tapi memang susah mencari solusi yang adil buat semua."

Agoeng Wijaya


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832785070



Ekonomi dan Bisnis 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.