Catatan Pinggir Goenawan Mohamad: Ruslan - Catatan Pinggir - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya
text
i Ruslan
Ruslan

DI dusunnya di Jawa Tengah, Ruslan tak punya waktu untuk berteriak. Ketika Jakarta bising dengan tiga patah kata yang dipertengkarkan—“Buruh”, “Bisnis”, “Birokrasi”—ia sibuk menanam porang. Dengan cangkul yang tak utuh lagi, ia gali tanah di pekarangan rumahnya. Dan, di lubang sedalam 50 senti itu, ia letakkan damen buat pupuk.

Ia puas. Sudah 195 batang porang yang tumbuh. Ia harap-harap cemas. Porang, umbi-umbian yang selama ini tak dikenal, sedang membawa kabar baik: kini diketahui tanaman ini bisa untuk bahan kosmetik, penjernih air, pembuatan lem—dan bisa diekspor. Di tahun 2018, Indonesia menjual 254 ton ke beberapa negeri Asia. 

Di pelosoknya, Ruslan tak ingin kesempatan ini luput, meskipun ia bukan pebisnis di “sektor modern”. 


Beberapa tahun lamanya ia pedagang kaki lima di Jakarta, sampai pandemi dan lokdon mengusirnya. Ia pulang ke rumah kelahirannya di kampung, kurus dan kehilangan penghasilan, dengan dua anak yang mulai dewasa. 

Untung, dusun itu biasa berbagi keprihatinan. Wabah ditangkal bersama: untuk tiap yang mudik disiapkan tempat karantina 14 hari. Di waktu panen, warga yang punya padi mengirim beras ke tetangga yang nafkahnya ambruk. 

Tapi Ruslan tahu itu tak bisa selamanya. Ia mulai membuat kolam, mengumpulkan bekicot, keong, dan yuyu sawah untuk makanan belut yang akan diternakkannya. Akhir-akhir ini ia punya fokus baru: porang.... 

Tapi fokus sebenarnya survival. Hidup Ruslan dibentuk oleh kerja dan ketidakpastian. Dalam umur 21, ia lulus sekolah pendidikan guru, tapi tak pernah diangkat untuk mengajar. Ia pun berangkat ke Jakarta dan menjadi pelayan restoran di Ancol. Ketika restoran itu bangkrut, ia—setelah pontang-panting—memutuskan berdagang. Karena tak punya modal, mula-mula ia menjualkan kentang mentah milik temannya. Pelan-pelan, Ruslan punya tempat berdagang di kaki lima di Pasar Senen....

Ya, ia ulet. Tapi, bila keuletannya tak mencolok, itu karena banyak sekali Ruslan di antara kita: famili dan kawan yang jatuh-bangun. Mereka bukan buruh, bukan birokrat, bukan pengusaha anggota kamar dagang. Mereka “borjuis kecil”. Kita hidup di tengah-tengah kelas ini. “Indonesia adalah lautan borjuis kecil,” kata Nyoto, pemikir Partai Komunis Indonesia itu, di akhir tahun 1950-an.

Saya kira Bung Nyoto tidak sedang mengeluh. Ia cuma mengungkapkan kenyataan sosial—meskipun “borjuis kecil” bukan makhluk yang sedap dalam percakapan Marxis lama. Manifesto Komunis menggambarkannya sebagai kelas yang “terapung antara proletariat dan borjuasi”. Kelas ini, Kleinbürger, hidup dengan rasa iri dan waswas di hadapan kaum pemodal besar. Terkadang mereka punya cita-cita sosialisme. Tapi sosialisme mereka, kata Marx dan Engels, hanya “reaksioner dan utopian”.

Borjuis kecil, dalam pandangan kedua perumus Manifesto Komunis, adalah kelas sosial yang rapuh. Cepat atau lambat mereka akan ditelan kapitalis kakap. Tapi, anehnya, para pendekar “kiri” antikapitalis tampak tak bersimpati. Justru mencemooh.

Brecht, tokoh teater Marxis, pernah menulis lakon pendek Die Kleinbürgerhochzeit, dengan adegan makan malam pernikahan. Sembilan orang borjuis kecil duduk dalam jamuan itu—sembilan orang yang oleh Brecht hanya disebut “Suami”, “Teman”, dan seterusnya, tanpa nama. Mereka mencoba bergaya seperti kelas atas. Tapi, setelah sekian botol anggur ditenggak, mereka kembali menjadi Kleinbürger yang vulger dalam selera, kasar dalam sikap.

Di tahun 1966, penyanyi, penggubah lagu, aktor pentas Belgia yang terkenal, Jacques Brel, mengeluarkan albumnya, Ces Gens-Là. Dengan suara bariton, dengan gerak wajah dan tangan yang ekspresif, dengan musik pengiring yang muram monoton, Brel bercerita tentang sebuah keluarga borjuis kecil, petit bourgeois, yang menghalangi percintaannya dengan anak mereka, Frieda. Dengan geram ia gambarkan “orang-orang itu”, ces gens-là: mereka “bukan hidup, melainkan menipu” (on n’vit pas/on triche), mereka “tak bicara, melainkan menghitung” (on n’cause pas/on compte)....

A maligned class, lapisan masyarakat yang dijelek-jelekkan, kata James C. Scott dalam sebuah esai, “Two Cheers for Petty Bourgeoisie”. Para aristokrat lama dan baru, yang rumah dan busananya elegan, menganggap kelas sosial ini—petani pas-pasan, saudagar warteg, pemilik losmen, pedagang pasar—“kampungan”. Di Surakarta abad ke-19, pujangga keraton yang menulis Wulangreh menganggap mereka, “wong atisudagar” (orang berhati pedagang), manusia mata duitan yang tak boleh ditiru. Di Rusia sehabis revolusi, Bukharin, anggota Politbiro Partai Bolsyewik, menyebut “kuman borjuis kecil” yang merasuki petani yang menolak tanah mereka dijadikan pertanian kolektif. Kuman itu harus dibasmi, kata Bukharin. Dan memang dibasmi. 

Jelas, Bukharin tak punya pengalaman Indonesia. Di sini orang seperti Ruslan, meskipun genting hidupnya, terlalu banyak untuk bisa dibasmi. Mereka bahkan tak mudah dimasukkan ke kandang besi dunia modern dan dikelola Negara. Mereka licin—dan bekerja lebih keras ketimbang buruh pabrik yang dipromosikan serikat sekerja. Mereka, jutaan Ruslan, borjuis kecil kita, hanya senyap—dan dengan senyap mereka buat Indonesia bergerak. Karena mereka, dibela atau tak dibela, tak mudah menyerah.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-10-24 13:04:34

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB