Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya
text

Jon

Kekuasaan adalah takhayul.

i Catatan Pinggir - MBM
Catatan Pinggir - MBM

“Kau tak tahu apa-apa, Jon Snow!”

 

Kekuasaan adalah takhayul. Saya, yang tanpa malu-malu terpikat seri drama televisi produksi HBO, Game of Thrones, merasa menemukan di dalamnya sesuatu yang ironis, samar-samar: kekuasaan ada hanya pada saat ia dipercayai, diperebutkan, digunakan; tapi seperti dhemit, ia tak pernah bisa dipegang dengan tangan dan ditatap dengan mata, meskipun ia memukau, bisa merasuki dan mengurung jiwa manusia—terutama yang menghasratkannya.

Kekuasaan adalah takhayul: ia acap kali hanya hadir secara fisik dalam simbol yang dilebih-lebihkan, seperti dewa dalam berhala. Dalam kisah yang seakan-akan berlangsung pada Abad Pra-Kristen Eropa ini, kita melihat Mahligai Besi, Iron Throne. Takhta itu perkasa, angker, ruwet, keras, seperti paduan bilah-bilah pedang dengan kerangkeng: lambang yang ingin menghadirkan hakikat, tapi tetap sebuah benda mati.


Kekuasaan adalah takhayul: menjelang akhir cerita kita lihat benda mati itu tak berisi, tak dipesan untuk siapa pun, dan dengan mudah dihancurkan.

161844281294

Di salah satu adegan yang menyentuh, Jon Snow—tokoh utama—menikam Daenerys, ratunya, perempuan yang ia cintai dan mencintainya. Jon memeluknya dengan pedih; terasa ia menusukkan belati itu agar kekasihnya lepas dari sihir kekuasaan yang destruktif. Beberapa hari sebelumnya, di puncak kemenangannya, Daenerys memerintahkan naga piaraannya menghancurkan ibu kota yang sudah menyerah dan pasukannya membantai musuh yang sudah meletakkan senjata.

Jon tak bisa membiarkan itu berlanjut. Daenerys pun tewas dengan tak mengaduh. Pada detik berikutnya, dari langit muncul Drogon, sang naga yang menganggap Daenerys sebagai ibunya. Sebelum menerbangkan jenazah ratu dan ibu itu entah ke mana, Drogon menyemburkan api ke Mahligai Besi. Takhta itu hangus, meleleh, musnah.

Sebuah isyarat: naga itu seakan-akan mengingatkan, usaha berdarah para raja di Westeros bertahun-tahun untuk memperebutkan Iron Throne hanya sebuah kisah yang absurd. Sia-sia….

Tapi dengan latar yang menampilkan elemen dongeng anak-anak—naga terbang yang menyemburkan api, mayat hidup yang berbaris, jenazah yang bisa dihidupkan kembali—Game of Thrones mengisahkan thema orang dewasa dalam Realpolitik: tentang kekuasaan dan ambisi untuk mendapatkannya, tentang ikatan persaudaraan yang selamanya genting, tentang cinta yang rumit dan dilematis, tentang seks yang buas dan mesra, tentang ingatan yang membuat dendam dan balas budi punya makna tersendiri.

Di kancah itu, Jon Snow sosok yang ganjil tapi tangguh. “Kau tak tahu apa-apa, Jon Snow!” kata Ygritte, gadis dari suku Wildling yang hidup liar di luar Dinding Perbatasan. Ygritte mengatakan itu ketika ia mengetahui Jon Snow, lelaki yang memikat hatinya, tak tahu bagaimana bersetubuh. “Kau tak tahu apa-apa, Jon Snow!” juga kata Melisandre, perempuan yang ajaib, pendeta yang menggiurkan yang kadang-kadang menghubungkan manusia dengan Dewa Cahaya. Melisandre gagal merayu Jon Snow dengan setengah menelanjangi diri.

Tak tahu apa-apa: hidup Jon dibentuk sebuah fokus; ia, anak haram yang agak tersisih dalam keluarga Stark, ingin jadi bagian komunitas yang lebih besar. Ia bergabung ke dalam satuan Night’s Watch yang, seperti persaudaraan dalam biara, hidup mirip para samurai: setia kepada sumpah “ordo” yang selibat dan siap bertempur di mana saja untuk menjaga perbatasan.

Ia tak nyaman dengan kedudukan sebagai komandan; ia tak ingin jadi raja di wilayah utara, meskipun para kesatria lain memilihnya. Jon, yang hampir tak pernah tertawa, dengan dahi berkerut dan mata murung, memang tak tahu apa-apa: ia asing dari apa yang lazim berkecamuk di kepala orang banyak. Bukan hanya soal seks. Jon juga tak kenal “politik”, tak kenal hasrat akan kekuasaan.

Kekuasaan adalah takhayul, dan Jon adalah salah satu dari sedikit tokoh Game of Thrones yang merdeka dari itu.

Pada saat yang sama, ia juga “tak tahu apa-apa” tentang doa, mantra, dan kemampuan supernatural orang di sekitarnya. Dalam salah satu episode, ia ditikam mati oleh sebagian anggota Night’s Watch yang menuduhnya berkhianat. Ketika dengan ajaib ia dapat dibangunkan dari kematian, ia tetap orang yang bebas dari iman. Melisandre bertanya kepadanya apa yang disaksikannya di alam lain; jawab Jon, datar: “Tak ada apa-apa. Tak ada apa-apa sama sekali.”

Untuk memakai kosakata zaman ini, Jon tetap seorang “sekuler”: ia tak peduli tentang dewa dan agama, tapi tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan yang kekal. Hidupnya untuk yang lain, tak pernah mementingkan diri. Seakan-akan secara otomatis ia digerakkan rasa keadilan dan rasa belas kepada yang lemah, ketika politik adalah saling bunuh, penuh kesumat, saling khianat—corak muram sejarah Westeros. Jon tak larut; ia tetap setia kepada kakak-adiknya yang sebenarnya tak sedarah. Ia juga setia kepada “ordo” tempat ia bergabung ke dalam dunia yang berbeda dengan Winterfell masa kecilnya.

Di atas semua itu ia setia kepada kehidupan. Kepada sesama. Ia tak anggap penting asal-usul, ikatan darah, bahkan dosa masa lalu. Jon-lah yang mencoba mempersatukan pihak-pihak yang saling mendendam ketika Maut—Raja Malam dan ribuan mayat hidup—bersiap menenggelamkan Westeros ke dalam musim dingin abadi.

Kekuasaan adalah takhayul, tapi pertalian antarmanusia bukan. Di akhir cerita, ketika adik-adiknya dinobatkan jadi raja, Jon—yang paling berhak mewarisi takhta Tujuh Kerajaan—meninggalkan kastel. Ia berangkat ke dalam hutan bersama orang-orang Wildling, “puak yang merdeka”, setelah memeluk si Hantu, serigala putih yang merupakan sambungan sukmanya.

Goenawan Mohamad

 


Reporter Goenawan Mohamad - profile - https://majalah.tempo.co/profile/goenawan-mohamad?goenawan-mohamad=161844281294


Catatan Pinggir

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.