Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tafsir Sosial-Politik Aktual

Jika menggunakan bahasa Arab, judul induk karya ini akan terbaca Fi Nur al-Qur'an. Dan judul bahasa Arab seperti itu akan segera mengingatkan orang pada tafsir karya Sayyid Qutb berjudul Fi Zhilalil Qur'an (Dalam Bayang-Bayang Alquran).


i
DALAM CAHAYA AL-QUR'AN
Oleh:Syu'bah Asa
Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000; XXI + 482 hal.
Mengasosiasikan karya Syu'bah Asa ini dengan tafsir karya Sayyid Qutb, tokoh terkemuka organisasi al-Ikhwan al-Muslimun, lebih dari sekadar soal judul tadi. Sementara Syu'bah Asa secara eksplisit menyebut karyanya sebagai tafsir sosial-politik, tafsir karya Sayyid Qutb dapat dikatakan sebagai tafsir politik par excellence. Bersama tafsir karya Abu al-A'la al-Mawdudi, Tarjuman al-Qur'an, tafsir Fi Zhilalil Qur'an bahkan sering disebut para pengkaji tafsir sebagai tafsir harakah, tafsir "gerakan" (politik). Dan kedua tafsir terakhir ini sering pula disebut-sebut sebagai tafsir politik yang pertama-tama dan utama.

Tetapi, sebagai tafsir "sosial-politik", karya Syu'bah Asa ini berbeda banyak dengan tafsir karya Sayyid Qutb dan al-Mawdudi. Tafsir Dalam Cahaya Al-Qur'an bukanlah tafsir harakah. Yakni, tafsir yang sarat dengan ideologi politik revolusioner yang dapat menggerakkan para pembacanya melakukan perubahan politik secara radikal untuk membangun al-nizham al-Islami, tatanan Islam sebagaimana dicita-citakan Sayyid Qutb dan al-Mawdudi.

Di sini, tafsir Alquran, bagaimanapun, mencerminkan kecenderungan intelektual dan praksis penulisnya Syu'bah Asa, yang sama dengan al-Mawdudi, memiliki latar belakang karir sebagai wartawan. Sementara Syu'bah Asa adalah mantan wartawan senior TEMPO yang kini bekerja di majalah Panji Masyarakat, al-Mawdudi pada awal karirnya adalah wartawan koran al-Jami'at yang diterbitkan Jami'atul Ulama-i-Hindi, organisasi ulama India. Tetapi, berbeda dengan al-Mawdudi yang kemudian terjun ke dunia harakah dengan mendirikan dan memimpin organisasi Jama'at I-Islami, Syu'bah tetap menekuni karir kewartawanan, tidak terjun ke dunia harakah. Sebab itulah, sebagai tafsir sosial-politik, karya Syu'bah Asa ini tidak "menggigit" karena tidak mengandung ideologi politik tertentu, seperti terlihat dalam karya al-Mawdudi ataupun Sayyid Qutb, yang sama-sama merupakan tokoh harakah.

Meski demikian, penting dicatat, karya Syu'bah Asa ini bukan sama sekali tanpa "ideologi". Tapi, ia lebih merupakan "ideologi intelektual keagamaan" daripada ideologi politik. Ideologi intelektual keagamaan Syu'bah itu, hemat saya, dapat disebut sebagai ideologi "ortodoksi Sunni". Secara sederhana, ideologi ini mengandung semangat dan tujuan membela mazhab Sunni atau aliran Ahlus-sunnah Wal Jama'ah, khususnya dalam menghadapi tantangan mazhab atau aliran Syiah. Ideologi intelektual keagamaan inilah yang tertihat membayang-bayangi uraian dan analisis Syu'bah, yang cenderung "menyindir" penafsiran dan pemahaman keagamaan tertentu, yang lazim dipegang kalangan ulama dan pemikir Syiah (misalnya pada halaman 90-93, 306-308, dan 312-317).

Jika dilacak lebih jauh, ideologi intelektual keagamaan tafsir Dalam Cahaya Al-Our'an menampilkan semangat ortodoksi Sunni yang relatif berbeda dengan ortodoksi Sunni klasik. Ortodoksi Sunni yang direpresentasikan Syu'bah Asa kelihatan cenderung menggabungkan dua tipologi arus pemikiran sekaligus, yakni neomodernisme dan neotradisionalisme yang kini dominan di kalangan Sunni, termasuk di Indonesia. Mengalami sosialisasi intelektual semasa mahasiswa sebagai aktivis HMI di IAIN Yogyakarta, Syu'bah terlihat menampilkan semangat neomodernis, tetapi pada saat yang sama dia juga tetap berpegang kuat pada tradisi yang dikontekstualisasikannya dengan situasi kekinian yang aktual.

Aktualitas dan faktualitas kekinian tersebut bahkan menjadi titik berangkat Syu'bah Asa. Di sini, berbeda dengan karya-karya tafsir mawdhu'i (tematis) lain yang bertitik tolak dari ayat-ayat Alquran dengan tema yang sama, Syu'bah berangkat hanya dari satu ayat tertentu. Ayat itu sendiri tidak ditafsirkan secara panjang lebar dalam berbagai seginya seperti lazim dalam tafsir konvensional. Syu'bah hanya menjadikan ayat yang dikutipnya di awal sebagai tema, landasan, atau semangat untuk mengulas berbagai peristiwa aktual mutakhir di Indonesia sejak kejatuhan Soeharto sampai kerusuhan di Ambon. Aktualitas dan faktualitas yang menjadi titik berangkat Syu'bah memang tidak terelakkan. Sebab, karya ini merupakan kumpulan ulasan tafsir Syu'bah yang dimuat dalam majalah Panji Masyarakat, yang tentu saja harus merespons hal-hal aktual dan faktual.

Ulasan tafsir Syu'bah Asa tentang peristiwa-peristiwa aktual umumnya lugas, jujur, dan berani. Bahkan, karya ini dapat dipandang sebagai self-criticism terhadap kaum muslimin. Syu'bah, misalnya, seolah-olah menertawakan diri sendiri dan rekan-rekan seagamanya ketika menyinggung sikap keagamaan kaum muslim, yang lebih ritualistis daripada substantivistis (halaman 82-85), atau tidak jalannya musyawarah di kalangan kaum muslimin karena tidak adanya petunjuk pelaksanaan (halaman 94-110), dan sejenisnya. Dengan cara ini, tafsir Syu'bah memiliki "distingsi" sendiri, tidak defensif dan apologetik seperti yang cenderung dapat ditemukan dalam sebagian karya tafsir lain.

Azyumardi Azra Guru Besar IAIN Jakarta


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161866171570



Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya