Selingan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tiada Tempat Setara dengan 'Rumah'

Nyaman hidup di luar negeri, mereka tetap menginginkan rumah bernama Aceh yang merdeka.

i
DARI jauh susunan rumah itu seperti kubus yang berbaris teratur: persegi tanpa arsitektur. Lima baris rumah sejajar dengan jalan utama, lalu lima lainnya dalam posisi tegak lurus dengan jejeran rumah yang pertama. Dinding luar rumah-rumah itu dicat seragam warna kuning.

Di satu dari beberapa rumah itulah Syafiq—kita sebut saja namanya begitu—tinggal. Aktivis Gerakan Aceh Merdeka berusia 46 tahun itu telah 19 tahun bermukim di Stockholm, Swedia, sebagai pengungsi politik. Tapi jangan pernah membayangkan Syafiq bermukim di kamp pengungsi yang kumuh dan dekil. Rumahnya yang berlantai dua itu asri.

Seperti kediaman orang Swedia lainnya, tamu akan masuk dari arah belakang. Dari pintu bercat putih itu kita akan bertemu dengan sebuah dapur yang bersih dengan perabotan standar keluarga Swedia. Seperangkat kursi makan dari kayu, kulkas dua pintu setinggi lelaki dewasa, lemari berwarna putih tempat penyimpan berbagai perabot, bunga-bunga di sudut ruang, dan sebuah microwave.

Agak ke dalam adalah ruang keluarga. Di dalamnya tersusun sofa warna merah tua, lemari buku, dan televisi berukuran besar. Ke luar ruangan itu masih ada teras berlantai kayu dengan taman kecil berukuran sekitar 30 meter persegi dengan rumput yang mulai memanjang. "Saya belum sempat memotongnya," kata Syafiq. Kamar tidur dan kamar kerja terletak di lantai atas. Di luarnya juga masih ada balkon kecil menghadap ke luar.

Syafiq tinggal bersama istri dan dua anaknya, Muhammad Husein, 12 tahun, dan Sabrina, 9 tahun. Husein dan Sabrina tidak bisa berbahasa Melayu. Sehari-hari mereka berbahasa Swedia dan jika di rumah berbahasa Aceh. "Di rumah saya paksakan berbahasa Aceh supaya tidak lupa," kata istri Syafiq, yang kita sebut saja namanya Nur. Kedua anak Syafiq memang lahir di Swedia.

Siang itu kami menyantap dua loyang besar pizza dan kebab Turki. Husein menghabiskan setengah pinggan besar makanan Italia itu. Setengah lainnya disantap Sabrina. "Husein sedang tidak enak badan, jika sehat dia bisa menghabiskan satu loyang," kata Nur. Seperti orang Eropa pada umumnya, Husein banyak makan. Posturnya pun tak meninggalkan sedikit pun ciri Melayu. Badannya tinggi untuk anak seusianya. Kulitnya segar: putih bersemu merah. Sabrina agak lebih cokelat. Dibandingkan dengan kakaknya, ia lebih tampak seperti orang Asia.

Syafiq adalah satu dari sekian banyak pelarian politik Aceh yang mendapat suaka di Swedia. Ia berasal dari Sigli. Pria putih berwajah tampan itu masuk negara itu pada 1981 setelah sebelumnya selama 25 hari singgah di Malaysia atas perlindungan UNHCR, lembaga PBB yang mengurusi pengungsi.

Dulu ia adalah salah satu target tentara Indonesia karena dituduh sebagai pemberontak Aceh. Pada 1978-1979 ia keluar-masuk penjara di Medan. Merasa tak tahan, akhirnya ia mencari suaka. Beruntung Swedia membuka pintu. Ketika hengkang dari Medan, ia mengganti namanya agar tidak dikenali aparat. Tak lama setelah sampai di Swedia, Nur menyusul. Mereka kemudian menikah di Stockholm, dengan Hasan Tiro sebagai wali nikah.

Gelombang kedatangan pelarian politik Aceh ke Swedia pertama kali terjadi pada 1980, dengan Husaini Hasan sebagai orang pertama. Seperti yang lain, dia juga berangkat melalui Malaysia dengan bantuan UNHCR. Sebenarnya, beberapa pemimpin Aceh Merdeka seperti Hasan Tiro atau Husaini Hasan telah meninggalkan Aceh pada 1979. Tapi ketika itu negara tujuan yang pasti belum ada. Hasan Tiro, misalnya, harus berkelana ke beberapa negara seperti Malaysia dan Amerika dulu sebelum menetap di negara Skandinavia tersebut. Setelah Tiro menetap di Swedia, barulah aktivis lain berdatangan ke negara itu.

Menurut Habib Yusra Abdul Gani, aktivis GAM lainnya yang kini menetap di Denmark, rombongan pengungsi politik Aceh banyak datang ketika tentara Indonesia menetapkan Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM) pada akhir 1980-an. Status militer yang akhirnya dicabut pada era B.J. Habibie itu memang melahirkan trauma terhadap kekerasan yang sangat menusuk bagi rakyat Aceh. Aktivis GAM tak punya ruang gerak di bawah serangan tentara Indonesia. Setelah DOM dicabut, pengungsian itu berkurang. Bahkan pengungsi yang sebelumnya tinggal di Malaysia satu per satu sudah kembali ke Tanah Rencong. Dari 5.000 pengungsi politik yang berada di negeri jiran itu, kini paling-paling hanya tersisa 150 orang.

Swedia sebenarnya bukan tempat satu-satunya pelarian politik asal Aceh. Di Eropa mereka juga tinggal di Denmark, Norwegia, dan beberapa negara Eropa barat lainnya. Sebagian kini juga bermukim di Amerika. Di Denmark paling tidak ada empat keluarga asal Aceh. Di Norwegia diperkirakan jumlahnya 700 orang. Tidak ada angka yang pasti berapa banyak yang kini menetap di Swedia. Tapi Husaini Hasan memperkirakan jumlahnya sekitar 100 orang.

Dibandingkan dengan pendatang dari negara lain yang masuk Swedia, angka itu sesungguhnya tidak besar. Menurut badan statistik Swedia, pada 1997 lalu imigran dari Finlandia merupakan pendatang dengan jumlah terbesar (lebih dari 200 ribu orang). Imigran lainnya yang hidup di negara itu adalah Yugoslavia, Polandia, Cile, Bosnia, Irak, Turki, dan Lebanon. Saat ini 20 persen dari 8,9 juta penduduk Swedia adalah imigran. Tidak semua imigran di Swedia meninggalkan negeri asalnya karena alasan politik. Sebagian ada yang karena diadopsi, sekolah, atau menikah dengan warga Swedia. Hanya 26 persen dari imigran itu yang berstatus pengungsi, baik karena alasan politik maupun ekonomi.

Dengan pertumbuhan penduduk yang kurang dari 0,1 persen, Swedia memang mempunyai persoalan besar dengan populasinya. Ledakan industri dan perdagangan di negara dalam kawasan Skandinavia ini tidak diikuti oleh tersedianya tenaga kerja yang memadai. Itulah sebabnya, negara ini terbuka terhadap pendatang.

Menurut Yusuf Daud, aktivis Aceh merdeka lainnya, seorang imigran politik yang baru datang di Swedia akan ditanggung seluruh biaya hidupnya, mulai dari rumah, makan, transportasi, sampai kesehatan. Seorang lajang akan mendapat ongkos hidup 4.500 kronor (sekitar Rp 4,5 juta) per bulan. Sekitar 1.000 kronor bisa dipakai untuk sewa apartemen, sisanya untuk biaya hidup sehari-hari. "Uang sebesar itu cukup untuk biaya hidup sebulan," kaya Yusuf. Seorang yang datang dengan suami atau istri akan mendapat uang tunjangan dua kali lipat.

Selama seseorang belum bekerja, ia mendapat tunjangan hidup, kursus bahasa, dan kursus keahlian tertentu sesuai dengan minat mereka. Jika sudah berkeluarga, anak dan istri juga ditanggung. Sebuah keluarga yang terdiri dari 4-5 orang punya hak untuk mendapat pengajaran bahasa ibu mereka, yang biayanya ditanggung oleh pemerintah. Saat ini di sekolah-sekolah umum di Swedia tersedia setidaknya 60 kelas bahasa asing yang mengajarkan 60 bahasa ibu para pendatang. Semuanya gratis. Pemerintah Swedia tampaknya tidak ingin para imigran itu kehilangan akar budaya mereka. Pekerjaan sebagai guru bahasa itu pulalah yang banyak dikerjakan keluarga pelarian politik asal Aceh, selain beberapa lainnya yang bekerja sebagai penerjemah paruh waktu.

Tapi pekerjaan di Swedia memang sangat ditentukan oleh latar belakang pendidikan dan keahlian. Syafiq, misalnya, yang mengaku cuma tamatan SMP, kini bekerja sebagai pegawai kantor pos. Ia bekerja malam, mulai pukul 5.30 sore dan berakhir menjelang subuh. Dari pagi sampai siang dia tidur.

Sore itu ia berangkat ke kantor dengan pakaian yang sederhana. Celana biru tua dan baju putih lengan pendek yang dibungkus jaket denim ala militer. Dalam kereta bawah tanah (tunnelbana) yang ramai, ia sulit dibedakan dengan warga Swedia lainnya. Badannya besar, jalannya bergegas, dan bahasa Swedianya lancar. Hanya rambutnya yang hitam legam yang menandakan ia bukan orang Eropa. Syafiq mengaku mendapat cukup uang dari pekerjaan itu. "Setiap bulan saya habis 11.000 kronor untuk membayar sewa rumah, sekolah anak-anak, dan belanja sehari-hari," katanya. Ia menolak menyebutkan berapa gaji yang diterimanya tiap bulan. "Tapi saya masih punya sisa uang untuk ditabung."

Berbeda dengan Syafiq yang bekerja di kantor pos, Menteri Kesehatan GAM Zaini Abdullah, 55 tahun, bekerja sebagai dokter di sebuah klinik di Flemingsberg, sebuah kawasan di selatan Stockholm. Di Swedia jasa dokter lumayan mahal. Sekali datang, seorang pasien harus membayar 1.000 kronor (sekitar Rp 1 juta). Tidak jelas berapa penghasilan bapak tiga anak ini. Sehari-hari ia tampil berjas rapi dan mengendarai sedan Saab warna merah keluaran terbaru. Mobil produksi lokal itu dibelinya dengan harga 150 ribu kronor. Selain Zaini, aktivis Aceh Merdeka lainnya yang juga berprofesi dokter adalah Husaini Hasan. Tak seperti Zaini yang dokter umum, Husaini adalah dokter ahli kandungan. Lelaki itu ramah dan penampilannya dandy. Ke mana-mana ia juga mengendarai sedan Saab warna putih.

Pelarian politik Aceh umumnya tinggal di kawasan Kÿrka, sebuah kommun (semacam distrik) di selatan Kota Stockholm. Ini memang kawasan yang banyak dihuni pendatang. Dari pusat Kota Stockholm kita bisa mencapai kawasan ini dengan menumpang tunnelbana selama 45 menit. Di kawasan itu terdapat tiga stasiun yang berdekatan: Alby, Halunda, dan Norsborg.

Kÿrka memang kawasan pendatang. Jika menumpang tunnelbana jurusan Norsborg yang berangkat dari stasiun pusat kota (T-Centralen), kita bisa menyaksikan wajah-wajah Asia atau Timur Tengah mengisi sebagian kereta. Pemandangan semacam ini berbeda jika kita menumpang kereta jurusan lain, misalnya ke Solna di utara atau Lidingö di timur laut, yang penuh dengan warga Swedia yang berwajah Eropa klasik.

Di jalur-jalur tunnelbana yang tali-temali jauh di bawah tanah kota Stockholm itulah para pelarian politik Aceh bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain: ke tempat kerja, ke sekolah, sekadar mengunjungi kerabat atau mengurus politik.

Aktivitas politik mereka memang tak surut meski jarak mereka dengan Aceh hampir 8.000 mil. Di Stockholm memang tak ada perang, juga tak ada sweeping aparat seperti yang terjadi di desa-desa berpenduduk miskin di Aceh. Tapi untuk memelihara perhatian publik internasional, setiap tahun pada Hari Buruh 1 Mei mereka menggelar demonstrasi di lapangan-lapangan Kota Stockholm. Pada hari itu aktivis GAM, anak, dan keluarga mereka turun ke jalan. Bendera dan spanduk anti-Indonesia dikibarkan.

Selain itu, mereka juga rajin menyebar selebaran dan pernyataan politik melalui internet dan faksimile. Setelah kasus Aceh kembali jadi sorotan menyusul jatuhnya Soeharto, para aktivis GAM Swedia juga rajin berkeliling ke beberapa negara Eropa untuk menjalin lobi. Salah satu buah lobi yang mereka lakukan itu adalah penandatangan Jeda Kemanusiaan (Humanitarian Pause) di Swiss 12 Mei lalu.

Hubungan aktivis GAM dengan orang Indonesia lainnya di Swedia hampir tak ada. Mereka memang menghindari interaksi dengan orang Indonesia, apalagi yang bersuku Jawa. Indonesia/Jawa bagi GAM adalah sebuah bangsa yang menyebabkan penderitaan rakyat Aceh datang bertumpuk-tumpuk. Ketika di pusat kota, pada sebuah sore, TEMPO dan Syafiq berpapasan dengan dua orang yang berbahasa Indonesia, Syafiq langsung melengos dan mencibirkan bibirnya. Ekspresi kebencian yang mendarah daging.

Lalu, menyenangkankah jadi pelarian politik? Meski secara ekonomi tak banyak masalah, jauh dari kampung halaman telah menjadi sumber kesedihan tersendiri. "Di kampung bagaimanapun lebih enak," kata Muhammad Jamil Amin, aktivis GAM lainnya. Nur, istri Syafiq, berulang-ulang bertanya, "Apa mungkin saya pulang? Apakah aman?"

Tak ada yang bisa memastikan. Meski Presiden Abdurrahman Wahid berkali-kali mengatakan bahwa pelarian politik semasa Orde Baru diizinkan kembali ke Indonesia, belum ada keputusan tertulis yang dikeluarkan pemerintah. "Kami belum punya pegangan yang pasti," kata Cahyono, Duta Besar Indonesia untuk Swedia. Untuk sementara Nur memang harus bersabar. Mungkin menunggu konflik di tanah kelahirannya reda. Atau menunggu Aceh merdeka. Tapi tentu entah kapan.

Arif Zulkifli (Stockholm)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865893240



Selingan 1/3

Sebelumnya Selanjutnya