Album 1/1

Sebelumnya
text
i

Penghargaan

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, 75 tahun, menjadi Kesatria Sastra dan Seni (Chevalier De L’Ordre Des Arts Et Des Lettres). Penghargaan itu diberikan Menteri Kebudayaan dan Komunikasi Republik Prancis melalui Duta Besar Gerard Cros di rumah dinasnya di Jakarta, akhir Mei lalu.


Sastrawan asal Blora, Jawa Tengah, itu banyak menulis novel, antara lain Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca. Ketiga novel itu dianggap banyak orang sebagai karya adiluhung. Yayasan Ramon Magsaysay Filipina pernah memberikan penghargaan kepada Pram pada 1995.

161865918489

Sering disebut layak memperoleh hadiah Nobel dalam bidang sastra, karya Pram diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, termasuk bahasa Prancis. Menurut Dubes Gerard Cros, sebagai sastrawan, Pram bukan pengarang yang hidup di menara gading. ”Kita mengetahui harga yang harus dibayarnya,” kata Cros.

Pram memang lama mendekam di penjara karena dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965. Karya-karyanya dibredel pada zaman Orde Baru. Penghargaan dari Prancis itu membuat bangga Pram. Maklum, julukan yang sama pernah diberikan ke sejumlah seniman dunia, antara lain Philip Glass, komponis musik minimalis asal New York, Amerika Serikat.

Promosi

Tokoh kehumasan Srikandi Hakim punya pos baru. Ia ditunjuk menjadi penasihat perdagangan luar negeri Kerajaan Belgia. Ini bidang yang agaknya cukup menantang bagi Srikandi, yang selama puluhan tahun bergelut di dunia kehumasan. Lulusan Jurusan Komunikasi Massa Universitas Praha Cekoslovakia ini pernah bekerja di biro pengembangan kehumasan Sucofindo, dan di Dinas Pariwisata DKI Jakarta hingga 1978, sebelum ia mendirikan sebuah perusahaan kehumasan, Indo PR. Hingga saat ini ia masih aktif sebagai pimpinan di Indo PR dan Presiden Direktur PT Sapta Petra, sebuah perusahaan minyak dan gas.

Ibu dua anak yang kini berusia 55 tahun ini memang masih terus beraktivitas. Bekerja menjadi bagian dari kehidupannya. Riwayat hidupnya dipenuhi aneka aktivitas di berbagai organisasi: Kadin, Perhimpunan Hubungan Masyarakat, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, hingga di Partai Amanat Nasional, tempat ia menjadi bendahara.

Soal perdagangan luar negeri Belgia sebenarnya bukan hal yang amat asing baginya. Suaminya, Hakim Talib, yang meninggal pada 1998, terakhir menjabat penasihat perdagangan luar negeri Belgia—jabatan yang kini dipercayakan kepadanya. Pada 7 Juni lalu, jabatan baru itu dirayakan dalam sebuah pesta koktail di Hotel Dharmawangsa, Jakarta.

Meninggal

Erents Alberth Mangindaan, 89 tahun, adalah nama besar dalam sepak bola Indonesia. Tokoh olahraga asal Minahasa itu meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Pondang, Kecamatan Tombasian, Minahasa, Sabtu awal Juni lalu. Ia meninggalkan 6 anak, 19 cucu, dan 9 cicit. Juga meninggalkan dunia sepak bola, hobi yang digelutinya sejak anak-anak.

Jasa Mangindaan di dunia sepak bola dianggap melegenda. Sebagai asisten pelatih tim nasional, Mangindaan (bersama pelatih Tony Pogagnic) pernah berhasil mengantar tim PSSI mampu mengimbangi permainan tim Rusia di arena Olimpiade Melbourne. Sebagai kepala pelatih Persatuan Sepakbola Makassar, Mangindaan berkali-kali mengantar tim tersebut menjadi juara nasional. Ia juga tercatat sebagai pendiri PSSI. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Teknik Niac Mitra, klub sepak bola di Surabaya.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865918489



Album 1/1

Sebelumnya