Seorang Epigrafis yang Dilupakan - majalah.tempo.co

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Seorang Epigrafis yang Dilupakan


Louis- Charles Damais (1911-1966)

Seno Joko Suyono

Edisi : 5 Oktober 2019
i Louis-Charles Damais dan istrinya, Soejatoen Abdul Arief Poespokoesoemo, 1940. /Dok. Keluarga
Louis-Charles Damais dan istrinya, Soejatoen Abdul Arief Poespokoesoemo, 1940. /Dok. Keluarga

 

Ia seorang Prancis. Ia seorang poliglot, menguasai banyak bahasa. Ia gemar mempelajari penanggalan-penanggalan kuno. Ia seorang epigrafis yang banyak membaca inskripsi kuno Nusantara. Sumbangannya terhadap arkeologi klasik Nusantara banyak. Ia mati muda, pada usia 55 tahun, dan dikuburkan di Indonesia. Ia meninggalkan anak-cucu dari hasil pernikahannya dengan seorang perempuan Jawa.

Ia adalah Louis-Charles Damais. Namanya mungkin tak banyak dikenal khalayak. Menarik ketika Jean-Pascal Elbaz, mantan Direktur Pusat Kebudayaan Prancis Yogyakarta dan Alliance Française of Madras (India), membicarakan kehidupan Damais dalam sebuah ceramah berjudul “Sketches for A Portrait of Louis Charles Damais, A Life in Java in the Turmoil of History” di Institut Français Indonesia, Jakarta, pertengahan September lalu.

Pascal  membuka surat-surat yang ditulis Damais dari Jakarta  kepada Claire Holt, peneliti kebudayaan Indonesia asal Amerika Serikat yang saat itu tinggal antara New York dan Washington, DC. Surat-surat tersebut bercerita tentang situasi sosial Indonesia pada 1945-1947, zaman tatkala Belanda ingin menduduki kembali Indonesia tapi mendapat perlawanan dari rakyat.

Louis Damais bersama istri dan anak-anaknya./Dok. Keluarga

Makamnya berada di kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Di antara ratusan makam, nisannya terlihat lebih uzur. Bentuknya melengkung dengan pucuk melancip, berbeda dibanding jirat lain, yang kebanyakan persegi. Samar-samar terbaca: “L.C. Damais lahir 26 Maret 1911 wafat 23 Mei 1966”.

Itulah makam Louis-Charles Damais, epigrafis besar asal Prancis yang tinggal dan berkeluarga di Indonesia. Semula ia dimakamkan di TPU Blok P, Jakarta Selatan. Karena area permakaman itu dibongkar, keluarga akhirnya memindahkan kuburannya ke TPU Jeruk Purut.  Sumbangan Louis-Charles Damais terhadap sejarah Indonesia besar. Ia mampu membaca banyak prasasti tua berumur ratusan tahun dari masa Mataram Kuno, dari era Syailendra, Mpu Sindok, sampai Majapahit. Ia berjasa turut menyingkap masa lalu Nusantara.

Riwayat intelektual Damais dan keahliannya yang langka mungkin tak akan sampai ke publik dan hanya diketahui lingkaran kecil arkeolog bila kita tak diingatkan Jean-Pascal Elbaz, peneliti dari Prancis. Sore itu, 18 September lalu, bertempat di Institut Français Indonesia, Jakarta, mantan Direktur Pusat Kebudayaan Prancis Yogyakarta tersebut membawakan ceramah dengan judul “Sketches for A Portrait of Louis- Charles Damais, A Life in Java in the Turmoil of History”. Sejak sepuluh tahun lalu, Pascal tertarik melacak riwayat Damais.

Pascal datang ke Indonesia pada Juli 1991. Ia mulanya bekerja sebagai kontributor untuk sebuah penerbitan sastra kontemporer di Paris bernama POL. Sudah lama Pascal- mendengar nama besar Louis-Charles -Damais. “Louis Damais pendiri EFEO (École Française d’Extrême-Orient)  Indonesia,” katanya. Meskipun di kalangan akademikus nama Damais menjulang, biografinya sangat minim. Padahal kehidupannya, menurut Pascal, sangat menarik diselusuri, bagaimana dari Paris ia berminat meneliti inskripsi-inskripsi kuno Nusantara.

“Jarang sekali ada tulisan mengenai Louis- Damais. Beberapa saat setelah dia meninggal, hanya ada obituari dari Jean Filliozat di jurnal EFEO dan sejarawan Harry- J. Benda di majalah Indonesia terbitan Cornell University tahun 1967,” ujar -Pascal. Benda (wafat pada Oktober 1971), penulis buku terkenal Bulan Sabit Matahari Terbit: Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang, sangat dekat dengan Damais. “Benda menjadi sejarawan karena pengaruh -Damais. Ketertarikan Benda terhadap Indonesia semula karena ia melihat Damais bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dan sangat antikolonialisme,” dia menambahkan.   

Di Jakarta, Pascal berkenalan dengan Soedarmadjie Jean Henry Damais, putra sulung Louis-Charles Damais yang pernah menjadi Direktur Museum Fatahillah. Dalam berbagai kesempatan, Pascal menggali riwayat Damais dari Soedarmadjie. Juga dari adik Soedarmadjie, Asmoro. “Saya oleh Mas Adjie (panggilan akrab Soedarmadjie Damais)  juga diperkenalkan kepada ibunya (Soejatoen Abdul Arief Poespokoesoemo),” ucapnya. Perkawinan Louis--Charles Damais dan Ibu Toen—panggilan istri mendiang Damais—membuahkan tiga anak. Putri keduanya, Tamara, sudah meninggal. Pascal rajin menanyakan bermacam hal mengenai Louis-Charles Damais kepada keluarga Damais. Sampai suatu hari Pascal ingat, ia diminta Adjie datang ke Museum Fatahillah.

Soedarmadjie Jean Henry Damais di Jakarta/Dok. Keluarga.

“Kamu datang ke museum. Aku ada sepuluh kardus arsip milik bapakku. Aku tak ada waktu memeriksanya,” kata Pascal, menirukan Adjie. Kardus-kardus itu, menurut Pascal, awalnya disimpan di rumah Adjie di Jalan Sunda. Karena rumahnya terkena banjir, sepuluh kardus naskah itu dipindahkan Adjie ke Museum Fatahillah. Setelah sepanjang 1993-1995 membongkar arsip itu, Pascal seolah-olah menemukan “harta karun”. “Kardus-kardus itu sudah 30 tahun tidak dibuka. Ketika saya buka, arsip-arsip itu kondisinya berdebu sekali dan banyak yang digerogoti tikus. Tapi materi arsip itu luar biasa. Selama setahun saya melakukan klasifikasi.”

Menurut Pascal, kardus-kardus itu berisi salinan surat-surat Damais kepada sahabat-sahabatnya, draf artikel, foto keluarga, sampai aneka macam bon dan jadwal program acara kesenian. “Saya menemukan bon belanja, bon restoran, program pentas wayang kulit di istana, sampai daftar harga bahan kebutuhan pokok setiap minggu. Di masa-masa akhir Sukarno terjadi inflasi. Agaknya Louis Damais saat itu mencermati naiknya harga-harga bahan kebutuhan pokok,” ujarnya. Dari draf artikel yang ditemukan, Pascal bisa mencermati kebiasaan menulis Damais. “Dia kalau menambahkan sesuatu di artikelnya memakai tinta hijau dan untuk mengoreksi memakai tinta merah.”

Yang paling penting adalah salinan surat-surat Damais. “Dia menulis banyak sekali surat dalam berbagai bahasa kepada sahabat-sahabatnya,” ucap Pascal. Damais dikenal sebagai poliglot, mampu memahami berbagai bahasa. Menurut Pascal, surat-surat itu antara lain ditulis dalam bahasa Inggris, Prancis, Italia, Belanda, dan Spanyol. “Bahkan, dalam salinan surat, saya menemukan catatan-catatan pinggir yang ditulis memakai aksara Arab dan Rusia.” Pascal menyebutkan Damais sangat rajin menulis surat. “Tiga hari sekali ia, misalnya, menulis surat kepada orang tuanya di Paris.”

Tapi yang menarik adalah temuan surat-menyurat Damais dengan Claire Holt, penulis perempuan yang juga peneliti kebudayaan dan kesenian Indonesia asal Amerika Serikat. Holt pada 1967 menerbitkan buku penting, Art in Indonesia: Continuities and Change. “Ada 35 surat Damais dan Claire- Holt yang ditulis sejak 27 September 1945 sampai 23 Desember 1947. Surat-surat itu dalam bahasa Inggris. Surat-surat itu berisi banyak hal, dari soal pekerjaannya sebagai epigrafis sampai soal Sjahrir dan situasi politik di Jakarta, peperangan, serta sikap-sikap antikolonial,” kata Pascal.       

 

Louis Damais bersama istri dan anak-anaknya./ Dok. Keluarga

LOUIS-CHARLES Damais lahir di Paris pada 26 Maret 1911. Dia tidak terlahir dari keluarga kaya. Ayahnya tukang potong daging, sementara ibunya memiliki toko partitur dan alat musik. Damais memiliki kakak bernama Emile. “Emile seorang komponis dan musikolog. Saat perang dunia, dia menjadi tawanan di sebuah kamp di Rusia. Pengalaman traumatisnya di kamp sangat mempengaruhi musiknya,” tutur Jean-Pascal Elbaz.

Damais sendiri cakap bermain biola. Agaknya bakat musik keduanya turun dari sang ibu. Tapi Damais tidak memilih jalur musik untuk kariernya. Kepekaan kupingnya digunakan untuk mempelajari macam-macam bahasa, baik secara otodidaktik maupun akademis. Dia kemudian dikenal fasih berbicara dan menulis dalam berbagai bahasa.

“Pada umur 13 tahun, Louis Damais membeli Alkitab dalam bahasa Yahudi di kios loakan di pinggiran Sungai Seine. Dia juga membeli kamus Yahudi-Prancis. Dia kemudian belajar menerjemahkan sendiri,” ucap Pascal. Damais lalu tertarik pada bahasa Arab. Pada umur 18 tahun, dia masuk ke sekolah bahasa École Nationale des Langues Orientales Vivantes. Kemampuan bahasanya mengagumkan. “Daya ingatnya tinggi sekali,” ujar Pascal. Di sana, dia memperoleh enam ijazah sekaligus: bahasa Arab klasik, Arab Timur, Persia, Turki, Melayu, serta bahasa Cina. 

Di institut ini, dia juga belajar bahasa Jawa kepada Antoine Cabaton. Pada saat yang sama, dia mengambil studi bahasa Sanskerta dan sejarah agama di Sorbonne- University. “Karena kemampuan bahasa Arab dan Turki-nya, saat wajib militer dia dikirim ke Suriah. Di sana dia ditempatkan di sebuah wilayah berbahasa Kurdi- yang akan diinvasi Turki. Louis Damais tergabung dalam sebuah tim yang bertugas menancapkan patok-patok batas,” Pascal menjelaskan. Damais tinggal di Suriah pada 1932-1933. Dia satu-satunya orang Prancis yang bekerja di perbatasan. “Selama di sana pun dia aktif mempelajari bahasa Kurdi. Dia sempat juga bertemu dengan orientalis terkenal, René Guénon,” kata Pascal.

Pada 1934, ia balik ke Paris untuk melanjutkan studinya. Menurut Pascal, di Paris, Damais bergaul dengan lingkaran teosofi Louis Massignon. “Dia tertarik membaca-baca buku tokoh, seperti Madame Blavatsky- dan Annie Besant.”  Pada masa-masa itu, Damais sempat menerjemahkan sajak penyair sufi Turki, Yunus Emre. Saat terjemahan itu dipublikasikan, ia menggunakan nama samaran Jean Dinet. Kemungkinan besar nama Dinet yang dipakainya berasal dari nama Alphonse-Étienne -Dinet, pelukis muslim Prancis. 

Direktur École, Paul Boyer, kemudian memberikan beasiswa kepadanya untuk mempelajari bahasa Jawa di -Leiden, -Belanda. “Pada waktu itu di École Nationale- des Langues belum ada pakar bahasa Jawa kuno. Jawa kuno saat itu menjadi wilayah studi sarjana-sarjana Belanda. Pada saat itu juga Antoine Caboton, guru bahasa Jawa-nya, hendak pensiun dan belum ada pengganti,” ucap Pascal.

Selama dua tahun dia mendalami bahasa Jawa di Leiden. “Di Belanda itulah awal dia banyak berkenalan dengan para nasionalis Indonesia,” Pascal menerangkan. Salah seorang mahasiswa Leiden yang kemudian menjadi sahabat akrab Damais adalah Prijono, ahli sastra dan bahasa yang menjadi Menteri Pendidikan pada zaman -Sukarno. Selepas studi di Belanda, pada 1937 ia mendapat beasiswa untuk mempelajari kebudayaan Jawa di Solo, Jawa Tengah. “Di Solo ia tinggal selama tujuh bulan. Ia sering ke Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran untuk menyaksikan pergelaran tari,” tutur Pascal.

Pada 1938, Damais pindah ke Batavia. Dan cintanya kepada Indonesia makin menggelora. Selama sepuluh tahun ia sampai tak pulang ke Paris. Indonesia menjadi tanah air keduanya. Ia menekuni dunia epigrafi dan menikah dengan seorang Jawa. “Ibu Toen saat itu  bekerja di sebuah perpustakaan. Ibu Toen adik ibu presiden ketiga RI, B.J. Habibie,” Pascal mengungkapkan.

Di Batavia, Damais bergaul dengan kalangan republikan dan nasionalis Indonesia. Dia juga menjadi sahabat akrab Willem Frederik Stutterheim, Kepala Dinas Arkeologi Hindia Belanda. Pascal menduga, saat Damais tinggal di Solo, ada kemungkinan dia telah mengenal penelitian-penelitian Stutterheim. Sebab, arkeolog kenamaan Belanda itu sebelum ke Batavia memimpin sebuah sekolah di Solo. Pada November 1941, Damais diminta Stutterheim menjadi epigrafis di jawatan kepurbakalaan yang dipimpinnya. Ia banyak melakukan studi lapangan ke situs-situs arkeologis di Jawa Tengah dan Jawa Timur bersama Stutterheim.


Pada 1938, Damais pindah ke Batavia. Dan cintanya kepada Indonesia makin menggelora. Selama sepuluh tahun ia sampai tak pulang ke Paris. Indonesia menjadi tanah air keduanya. Ia menekuni dunia epigrafi dan menikah dengan seorang Jawa. “Ibu Toen saat itu  bekerja di sebuah perpustakaan. Ibu Toen adik ibu presiden ketiga RI, B.J. Habibie,” Pascal mengungkapkan.


“Stutterheim bisa disebut sebagai guru Louis Damais. Stutterheim melihat kemampuan bahasa Damais bisa digunakan untuk meneliti prasasti-prasasti kuno Nusantara. Boleh dikatakan, tanpa Stutterheim, Louis Damais tak akan pernah menjadi epigrafis profesional,” tutur Pascal. Saat Jepang datang, Stutterheim sempat ditahan. “Ketika Jepang masuk, Louis Damais tak ikut ditahan karena ia warga  Prancis,” kata Pascal. Dalam surat-suratnya kepada Claire Holt, Damais banyak menceritakan masa-masa sengsaranya selama pendudukan Jepang. Pada 1947, Damais kembali ke Paris. Di sana ia tinggal selama dua tahun, sebelum menerima tawaran mengajar di Vietnam.

“Di Vietnam, ia mengajar kebudayaan Indonesia di Faculte de Saigon pada 1948-1951,” ucap Pascal. Damais memboyong keluarganya ke Vietnam. Foto-foto keluarga Damais saat di Vietnam juga ditemukan Pascal di kardus arsipnya. Damais kala itu juga bekerja di EFEO Vietnam. Bahkan kemudian dia menjadi sekretaris umum lembaga itu. “Karena melihat di Jakarta belum ada EFEO, Louis Damais mengusulkan pendirian EFEO di Jakarta,” ujar Pascal.

EFEO Batavia akhirnya berdiri pada 1952. “Damais menjadi direktur pertama EFEO sampai meninggal pada 1966,” -Pascal melanjutkan. Pada masa itulah dia banyak melakukan riset arkeologis. Dia juga menerjemahkan surat-surat Kartini ke bahasa Prancis. “Dia pun membikin kompilasi sajak penyair Indonesia. Dari sajak Chairil Anwar, Sitor Situmorang, sampai Asrul Sani. Ada 102 puisi,” tutur Pascal. Dia juga tak henti-hentinya mempelajari bahasa. “Saat membongkar kardus-kardus, saya menemukan piringan-piringan hitam yang berisi percakapan dalam bahasa asing. Rupanya, Damais sering mempelajari bahasa melalui   piringan hitam yang berisi latihan-latihan bahasa,” kata Pascal. 

Dalam tulisan obituarinya, Harry J. Benda juga bersaksi bahwa, tatkala di Jakarta, Damais masih terus mempelajari bahasa. “Dia menguasai 30 bahasa,” tulis Benda. Menurut Benda, Damais bisa menghabiskan waktu berjam-jam sehari untuk mendengarkan berita radio dari berbagai bahasa di dunia. Benda merasa Damais-lah yang membuatnya sadar akan Indonesia. “Tanpa Damais, saya tak akan pernah mempelajari bahasa Indonesia atau mencoba memainkan  gamelan.” Benda datang ke Batavia sebagai pengusaha muda berumur 19 tahun. “Ia datang dari keluarga kaya Cekoslovakia keturunan Yahudi. Tinggal di Jakarta, mulanya sehari-hari ia hanya bergaul dengan kalangan pebisnis,” ucap Pascal. 

Benda dalam tulisannya mengatakan melihat Damais pertama kali saat mengikuti ceramah Damais tentang penyair- -Baudelaire. “Damais lalu mengundang saya ke rumahnya sembari meminta saya membawa  buku kumpulan puisi Baudelaire, Le Fleurs du Mal.” Damais, menurut Benda, adalah pemain biola yang canggih dan penari tango yang baik. Pada 1943, Benda ikut dicokok Jepang. “Damais sering memberikan informasi yang menenteramkan tentang situasi terbaru kamp-kamp,” tulis Benda.

Kehidupan ilmiah Damais makin meningkat pada 1950-an. Selain menjadi Direktur EFEO yang memiliki proyek menggarap serangkaian riset mengenai dunia epigrafi Indonesia, Damais mendapat tugas menyelenggarakan program studi bahasa dan budaya di Indonesia di École des Hautes Études Paris. “Dia bolak-balik. Enam bulan di Paris. Enam bulan di Jakarta,” tulis sejarawan Denys Lombard (wafat pada 1998) dalam sebuah artikel. Lombard, penulis buku monumental Nusa Jawa Silang Budaya, salah satu murid Damais di Paris pada 1959. “Damais  memberikan gambaran kepada kami betapa luasnya bidang kajian Indonesia sambil menunjukkan patokan-patokan supaya kami tidak tersesat,” tulis Lombard.

 

Makam Louis-Charles Damais di Tempat pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta./ TEMPO/Nurdiansah

LOUIS-CHARLES Damais, menurut Jean Filliozat, selalu kesal bila melihat pernyataan-pernyataan ilmiah atau artikel  akademis mengenai Indonesia yang terkesan ditulis secara tergesa-gesa. Tulisan Damais senantiasa matang dan sangat ilmiah. Kemampuannya membandingkan banyak bahasa dan pengalamannya tinggal di Suriah dan Vietnam memberinya kekuatan analisis.  “Dia banyak membahas epigrafi di Indonesia dalam kaitannya dengan Asia Tenggara,” kata Ninie Susanti, epigrafis senior dari Universitas Indonesia.

Menurut Ninie, Damais sangat diperhitungkan dalam studi paleografi Nusantara. Seperti kita ketahui, aksara yang pertama kali masuk ke Nusantara adalah Pallawa. Aksara itu lalu berkembang menjadi aksara Jawa kuno, Sumatera kuno, Bali kuno, dan sebagainya. “Banyak epigrafis Belanda, tapi secara umum menyebut aksara di Sumatera sebagai bagian Jawa kuno. Itu menurut saya tidak adil. Saya mengikuti Damais yang menyebut bahasa Sumatera- kuno, Melayu kuno, memiliki perkembangan sendiri,” ucapnya.

Ninie mengungkapkan, sementara bahasa Jawa kuno sudah memiliki kamus, Melayu kuno belum punya sampai sekarang. “Yang ada hanya Melayu madya, yang muncul sekitar abad ke-17,” tuturnya. Bahasa Melayu kuno sendiri dipakai di prasasti-prasasti Sumatera. “Bahkan ada satu prasasti di Filipina dari abad ke-9 menggunakan Melayu kuno. Isinya perjanjian utang-piutang antara orang Filipina dan Jawa,” katanya. 

Ninie mengatakan salah satu kekuatan Damais dalam membaca prasasti berasal dari minatnya yang tinggi dalam mempelajari penanggalan kuno. “Damais ahli penanggalan kuno,” ucapnya. Di kalangan epigrafis, menurut Ninie, saat membaca ulang sebuah prasasti, mereka biasa saling mengoreksi  keakuratan soal kapan prasasti itu dibuat. Namun Damais sangat kerap mengajukan revisi penanggalan saat membaca ulang prasasti yang telah dibaca epigrafis-epigrafis Belanda. “Damais jeli dalam mengkonversi penanggalan kuno Jawa dalam prasasti yang bertahun Saka ke penanggalan Masehi,” tutur Ninie. 

Sejak muda, Damais memang tertarik pada astronomi. Dalam tulisannya, Denys Lombard bahkan mengatakan, di Jakarta, Damais masih berlangganan majalah -Astronomie dan Anuaire du Bureau des -Longitudes. “Saat membongkar kardus-kardus, saya menemukan banyak penanggalan-penanggalan,” kata Jean-Pascal Elbaz. Kebudayaan Jawa kuno dalam prasasti, menurut Ninie, memiliki sistem penanggalan rumit. “Dan sampai sekarang pembacaan -Damais masih tepat.”

Adapun kemampuan Damais dalam berbahasa Arab membuatnya melakukan studi serius terhadap kompleks makam yang disebut Srengenge di Trowulan, Jawa -Timur. Di kompleks itu terdapat tujuh makam yang nisan-nisannya menampilkan simbol regalia Majapahit, yaitu sinar Majapahit. Nisan-nisan itu berangka tahun 1397,1407, 1427, 1467, dan 1475 Masehi. Yang menarik, tiga di antaranya dibubuhi inskripsi bertulisan kalimat syahadat. Sebelum penelitian Damais, keberadaan makam-makam Troloyo bersimbol surya Majapahit itu diketahui para arkeolog Belanda, tapi belum pernah diperhatikan betul-betul.

“Kajian Louis Damais atas nisan-nisan surya Majapahit Troloyo membuktikan bahwa komunitas muslim telah ada sejak zaman Majapahit. Bahkan beberapa di antaranya mungkin lingkaran dekat raja atau kerabat istana,” kata Pascal. Tapi, dalam pembacaannya atas inskripsi kalimat syahadat di nisan-nisan Troloyo, Damais melihat ada kesalahan penulisan. Tiga kalimat syahadat di nisan itu kurang huruf illa. Damais menyimpulkan hal itu terjadi karena pengetahuan bahasa Arab pemahat nisan yang kurang. Pemahat tidak mampu membedakan secara tepat berbagai tanda ejaan aksara Arab.

“Pendapat ini tapi kini bisa didiskusikan. Sebab, ada sebuah skripsi dari Universitas Indonesia yang berargumentasi tidak mungkin terjadi kesalahan tulis di nisan--nisan itu. Kekuranglengkapan itu, menurut si pembuat skripsi, disengaja karena penulisannya berdasarkan lafal pengucapan zikir pada sebuah tasawuf,” kata Ninien. Penulis skripsi tersebut bernama Muhammad Rabiul Yatim. Dalam skripsinya dia bertanya, bila ada kesalahan fatal, mengapa ketika dakwah Islam sudah mapan di Jawa Timur kesalahan itu tidak dikoreksi? Juga, yang paling rasional, mengapa di tiga nisan yang jarak umurnya 40-an tahun itu ada pengulangan kesalahan penulisan yang selalu sama?  Rabiul Yatim berpendapat, kurangnya huruf illa bukan karena ketidakmampuan pemahatnya, melainkan penulisan demikian mengikuti tradisi lisan zikir tarekat Syatariyah. Surya Majapahit sendiri di situ, selain menjadi lambang regalia, menurut dia, menjadi simbol nur atau cahaya Ilahi. 

Buku terakhir Damais sebelum ia meninggal adalah Repertoire Onomastique Jusqua Pu Sindok. Buku ini semacam direktori nama sampai tempat dari zaman Mataram Kuno abad ke-8 (Sanjaya-Syailendra) sampai era Mpu Sindok. “Buku itu tebalnya 1.000 halaman. Buku itu menjadi kitab suci epigraf Indonesia,” kata Ninie. Menurut Ninie, buku tersebut sangat membantu kerja para epigrafis. Dalam buku itu, Damais mengurutkan nama orang dan tempat dalam semua prasasti zaman Sanjaya-Syailendra sampai Mpu Sindok. “Misalnya, dalam prasasti Jawa kuno, muncul istilah Rakai Hino (putra mahkota raja). Damais lalu mengurutkan di prasasti mana pertama kali istilah itu muncul dan prasasti-prasasti apa berikutnya yang menyebutnya. Jadi ini memudahkan kita untuk mencari nama atau suatu tempat dalam prasasti,” tutur Ninie.

Adjie Damais mengungkapkan, ayahnya mulai sakit-sakitan saat berusia 50-an tahun. Harry J. Benda dalam artikelnya mengatakan dia terakhir kali bertemu dengan Damais pada 16 Juni 1965, setahun sebelum kematian Damais. “Saat itu Damais sudah terlihat sakit.” Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Damais sangat kecewa, pesimistis melihat situasi ekonomi-politik yang merosot. Menurut Benda, hanya ketika mengunjungi Borobudur dan Prambanan Damais tenang dan harapannya muncul kembali.

Adjie ingat, semula keluarga tak menyadari penyakit yang menjangkiti sang bapak. Damais sendiri tak sadar.  Baru pada 1962 dokter di Paris mendeteksi tubuhnya terserang bakteri yang membuatnya jatuh sakit. Damais akhirnya dirawat di Paris selama sebulan. Adjie, yang ketika itu kuliah di jurusan arsitektur, mendampingi bapaknya. Namun bapaknya akhirnya memilih kembali ke Jakarta.

Kondisi kesehatan yang menurun perlahan-lahan menggerogoti ingatan Damais. Menurut Pascal, daya ingat Damais sebelum sakit luar biasa. Pascal mewawancarai sekretaris Damais, Wienarsih Arifin. “Menurut Bu Wienarsih Arifin, bila Louis -Damais meminta dicarikan buku yang sudah pernah dibacanya, dia sampai ingat di halaman berapa dan paragraf berapa kalimat yang hendak dirujuknya. Bayangkan bila berangsur-angsur memorinya hilang. -Damais tentu sangat sedih,” ujar Pascal.

Di TPU Jeruk Purut, makam Louis--Charles Damais berdekatan dengan kuburan Soejatoen Abdul Arief Poespokoesoemo (1913-2005), sang istri.  Kuburan keduanya mengapit pusara cucu pertama mereka, Charles Rubian Arifin. Charles adalah anak sulung Asmoro, putri bungsu Damais dengan Soejatoen. Mungkin tak banyak yang tahu soal bapak saya,” kata -Adjie, -lirih.

SENO JOKO SUYONO, ISMA SAVITRI


Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.