New York, Cewek Bandel, dan Dongeng - majalah.tempo.co ‚Äč

Laporan Khusus 5/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

New York, Cewek Bandel, dan Dongeng


SEMBILAN tahun lalu, Intan Paramaditha pulang ke Indonesia sehabis perantauan panjangnya di New York, Amerika Serikat. Kepulangan itu ternyata tak seperti yang ia bayangkan. Indonesia mendadak tak lagi terasa seperti rumah baginya. Namun menyebut New York sebagai rumah pun tak tepat. Intan merasa tercerabut, tak di sini tapi juga tak di sana. Kala itu, dia banyak melamun dan berpikir tentang kondisinya hingga suatu ketika ia melihat sepatu merah yang sedang ia kenakan. "Tercetus ide menulis tentang perjalanan dan kondisi displacement ini, yang diikat dengan image sepatu merah," kata Intan, kini 38 tahun, saat ditemui Tempo di Jakarta, dua pekan lalu.

Administrator

Edisi : 14 Januari 2018
i

SEMBILAN tahun lalu, Intan Paramaditha pulang ke Indonesia sehabis perantauan panjangnya di New York, Amerika Serikat. Kepulangan itu ternyata tak seperti yang ia bayangkan. Indonesia mendadak tak lagi terasa seperti rumah baginya. Namun menyebut New York sebagai rumah pun tak tepat. Intan merasa tercerabut, tak di sini tapi juga tak di sana. Kala itu, dia banyak melamun dan berpikir tentang kondisinya hingga suatu ketika ia melihat sepatu merah yang sedang ia kenakan. "Tercetus ide menulis tentang perjalanan dan kondisi displacement ini, yang diikat dengan image sepatu merah," kata Intan, kini 38 tahun, saat ditemui Tempo di Jakarta, dua pekan lalu.

Oktober 2017, novel berjudul Gentayangan itu pun dirilis. Format novel tersebut tak biasa. Intan tak hanya membuat satu alur cerita linier yang berakhir pada satu penutup. Ia merancang 11 alur cerita dan membuat 15 versi penutup. Pembaca novel lantas menjadi pembuat keputusan yang menentukan sendiri alur yang diinginkan dan melihat bagaimana alur itu akan berakhir. Sebuah format "pilih sendiri petualanganmu" yang dapat membuat kita bertualang bersama sepatu merah entah ke New York, Peru, Amsterdam, entah Tijuana tergantung apa yang kita pilih pada percabangan cerita. Tagline-nya: "Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan".

Intan sudah lama ingin menulis cerita dengan format seperti itu. Semasa kecil, ia gemar membaca seri game book interaktif karya Edward Packard, yang juga ditulis dalam format pilih sendiri petualanganmu. Format ini dirasa tepat oleh Intan untuk novel Gentayangan yang mengisahkan perjalanan. "Sebab, dalam perjalanan, kita memang akan selalu dihadapkan pada pilihan yang dapat berakhir dengan baik ataupun dengan mimpi buruk," ujar Intan.

Pengalaman Intan yang pernah tinggal di berbagai negara selama belasan tahun menjadi sumber utama membangun novel ini. Ia pernah tinggal selama hampir satu dekade di Amerika untuk studi master of arts di University of California, San Diego, lalu program doktoral bidang kajian sinema di New York University dan lulus pada 2014. Ia juga pernah tinggal di Amsterdam, Belanda, dan kini sedang menetap di Sydney sebagai dosen bidang media and film studies di Macquarie University, Sydney, Australia. Sejumlah kota yang pernah ditinggali atau dikunjungi Intan menjadi latar belakang petualangan si sepatu merah. "Cerita tentang New York mendapat porsi paling banyak dalam buku ini karena memang di sana saya tinggal paling lama," kata Intan.

Meski berformat seperti buku petualangan anak, Gentayangan tak lantas menjadi novel ringan dan sederhana. Dalam setiap alur cerita, Intan menyinggung berbagai isu kompleks, dari peristiwa 1965, diskriminasi Tionghoa saat 1998, kebangkitan religiositas, hak LGBT, hingga Holocaust dan kehidupan imigran gelap. Intan mengatakan hal-hal tersebut adalah yang menggelisahkan dan ia pikirkan setiap saat hingga mau tak mau masuk ke dalam ceritanya.

Kecenderungan Intan untuk merekonstruksi ulang dongeng juga terlihat di sini. Misalnya, Intan memasukkan hikayat Malin Kundang dan Dorothy dari Oz tapi dengan perspektif berbeda. Ia sudah melakukannya sejak menulis buku kumpulan cerita pendek Sihir Perempuan.

Ihwal perkara ini, Intan terpengaruh beberapa pengarang favoritnya, seperti Mary Shelley, yang menulis Frankenstein berdasarkan kisah Promotheus; Margaret Atwood, yang menafsir ulang dongeng The Robber Bridegroom dari Grimm Bersaudara; hingga Toeti Heraty, yang menulis Calon Arang dari perspektif feminis. Intan sendiri banyak membaca kisah Grimm Bersaudara, Hans Christian Andersen, dan Edgar Alan Poe sejak kecil. "Banyak cerita terkenal yang merepresentasikan perempuan hanya sebagai korban. Menginterpretasi cerita lama dengan perspektif feminis saya lihat dapat jadi moda menarik untuk penciptaan," ujar Intan.

Satu hal yang dihindari dengan sadar oleh Intan adalah membuat bukunya sekadar menjadi kisah perjalanan yang mengglorifikasi luar negeri sebagai destinasi eksotis dan glamor. Ini tema yang dinilai Intan sedang menguasai perbukuan Indonesia. Ia lebih ingin mencontoh Umar Kayam atau Budhi Darma yang menggambarkan luar negeri secara kaya dan kritis. "Saya ingin keluar dari gambaran yang meromantisasi dan mengidealisasi luar negeri," katanya.

Laporan Khusus 5/9

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.