Dari Gigi Naik ke Mata - Ilmu dan Teknologi - majalah.tempo.co

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari Gigi Naik ke Mata


Penyidik KPK, Novel Baswedan, menjalani operasi penanaman kornea buatan di mata kirinya yang rusak. Material kornea prostetis itu dibuat dari gigi taring dan jaringan gusinya.

Administrator

Edisi : 11 September 2017
i

NOVEL Baswedan kerap merintih menahan sakit setelah efek obat bius memudar. Nyeri hebat dari luka bekas operasi di bagian dalam mulut dan gusinya membuat penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi itu kesulitan berbicara dan menelan. Untuk minum saja, Novel harus menggunakan sedotan. "Air dari sedotan diteteskan pelan-pelan ke dalam mulutnya," kata kakak Novel, Taufik Baswedan, kepada Tempo, Senin pekan lalu.

Rasa sakit dan kelaparan sempat membuat Novel menggigil ketika kesadarannya berangsur pulih. "Kelilipan atau kena air sabun saja sudah perih. Ini Novel bilang sakitnya seperti kena benda tajam atau ada yang menarik-narik bola matanya," ujar Taufik.

Operasi selama 5 jam 20 menit pada 17 Agustus lalu itu adalah operasi tahap pertama. Para dokter di Pusat Mata Nasional Singapura (SNEC) memutuskan melakukan operasi besar ini untuk memperbaiki mata kiri Novel yang rusak. Kedua mata Novel terluka parah terkena siraman air keras dalam penyerangan pada 11 April lalu.

Menurut Taufik, mata kiri Novel sudah tidak bisa digunakan melihat. Dokter memutuskan melakukan operasi dengan mempertimbangkan kondisi mata kanan masih berfungsi meski penglihatannya hanya berkisar 60-70 persen. "Kalau fungsi mata kanan menurun juga, urusannya semakin ruwet. Jadi mata kiri dioperasi duluan," kata Taufik.

Teknik operasi mata yang dijalani Novel dikenal sebagai osteo-odonto-keratoprosthesis (OOKP). Prosedur bedah kompleks ini dipelopori dokter mata asal Italia, Benedetto Strampelli, pada 1960-an. Metode ini merupakan transplantasi kornea buatan pada pasien yang mengalami kerusakan mata parah dan tak dapat ditangani dengan prosedur lain.

SNEC adalah salah satu yang berhasil mengembangkan teknik ini, bahkan menjadi pionir di kawasan Asia-Pasifik untuk melakukan prosedur yang juga dikenal sebagai operasi "menanam gigi di mata". Pasien pertama yang berhasil dioperasi adalah pemuda 19 tahun dari Thailand pada Juni 2004. Sejak saat itu hingga 2012, menurut situs SNEC, ada 36 kasus kerusakan penglihatan yang telah ditangani menggunakan prosedur OOKP.

Prosedur yang terdiri atas dua tahap ini diawali dengan mengambil potongan jaringan gusi dan gigi pasien. Gigi itu kemudian dibentuk menjadi kubus dan dilubangi di bagian tengahnya. Kubus ini menjadi wadah silinder optik untuk dijadikan kornea artifisial. Struktur inilah yang nantinya dapat membantu pasien mendapatkan penglihatannya lagi. Pada operasi tahap kedua, kornea artifisial itu baru bisa dicangkokkan di mata.

Dokter mengambil taring kiri bawah Novel yang selama operasi dibius total. Sebelum dipasang di mata, jaringan gigi dan gusi itu ditanam lebih dulu di pipi. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan jaringan pembuluh darah di kubus gigi sekaligus menyesuaikan tubuh Novel dengan kehadiran struktur asing tersebut. "Bulan depan, jika prosesnya berjalan baik, struktur itu mungkin bisa dipindahkan ke mata," ujar Taufik.

Dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Virna Dwi Oktarina, mengatakan mata yang terkena cairan kimia memerlukan penanganan khusus. Bahan kimia, baik asam maupun basa, menyebabkan kerusakan fatal yang membuat struktur jaringan mata kekurangan darah dan nutrisi. Jika sistem ini rusak, suplai akan terhambat dan jaringan mata perlahan mati. "Cairan basa kuat lebih berbahaya karena bisa menembus ke dalam mata," katanya pada Selasa pekan lalu.

Prosedur OOKP, menurut Virna, mirip dengan memasang kornea dari donor. Alih-alih menggunakan kornea asli, pasien yang menjalani operasi OOKP mendapatkan kornea artifisial yang dibuat dari material tubuhnya sendiri. "Jaringan gigi dirancang menjadi semacam fondasi pembentukan kornea buatan," tuturnya.

Menurut Virna, prosedur ini memungkinkan untuk memperbaiki kornea yang rusak. Namun, dari sisi kosmetik, hasilnya akan sangat berbeda dengan cangkok kornea asli. Kornea artifisial yang digunakan dalam prosedur OOKP terlihat seperti memiliki cincin berwarna putih dengan bagian hitam di tengah yang kecil. "Sekilas mirip mata ular," katanya.

Feriyanto, dokter spesialis mata dari Rumah Sakit Ciputra, Jakarta, mengatakan belum ada yang bisa melakukan prosedur OOKP di Indonesia. Penyebabnya antara lain keterbatasan alat dan teknologi membuat kornea mata artifisial. "Kalau cangkok kornea asli dari donor sudah biasa dan sering dilakukan di sini," ujarnya.

SNEC, menurut Feriyanto, dikenal bisa menjalankan prosedur OOKP karena memiliki teknologi dan ahli bedah mumpuni. Teknik operasi ini bisa membantu memperbaiki kondisi kornea mata pasien yang rusak parah. "Untuk fungsi penglihatan, belum tentu bisa pulih seperti semula," ucapnya.

Taufik mengatakan operasi yang kompleks ini menjadi opsi terbaik bagi Novel untuk memperbaiki kerusakan korneanya. Dokter tidak menyarankan operasi dengan mata dari donor karena bisa berdampak buruk. "Kalau tetap dilakukan, katanya paling lama bertahan setahun, setelah itu akan muncul penyakit," ujar Taufik.

Gabriel Wahyu Titiyoga

Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.