Bisnis Karoseri Restoran Berjalan - majalah.tempo.co ‚Äč

Ekonomi dan Bisnis 7/8

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bisnis Karoseri Restoran Berjalan


Gerai berjalan menjadi tren baru industri otomotif. Peluang bagi agen pemegang merek otomotif dan pengusaha karoseri di tengah lesunya bisnis komoditas.

Administrator

Edisi : 4 Juli 2016
i

PAMERAN otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016 bakal menjadi perhelatan penting bagi beragam jenis truk. Tak cuma diramaikan deretan mobil anyar, pameran tahunan ini menjadi pertaruhan beragam truk yang digunakan sebagai restoran. Digelar pada Agustus mendatang, pameran tahunan ini dipastikan menyediakan area khusus untuk food truck.

"Kami menyediakan dua titik, dengan total 40 unit food truck buat pengunjung," kata Ketua Penyelenggara GIIAS 2016 Rizwan Alamsjah kepada Tempo, awal Juni lalu. Area food truck ini dirancang agar pengunjung bisa beristirahat dan menikmati makanan selama pameran.

Direktur Sales dan Promosi Hino Motor Sales Indonesia, Santiko Wardoyo, mengatakan tren restoran berjalan yang muncul sejak tiga tahun lalu merupakan peluang baru bagi agen pemegang merek otomotif ataupun pengusaha karoseri. Meski penjualan kendaraan komersial untuk food truck belum menunjukkan pertumbuhan signifikan, segmen baru ini potensial digarap.

Apalagi, menurut Santiko, penjualan truk rada seret karena anjloknya harga komoditas tambang dan perkebunan sejak tahun lalu. Catatan penjualan kendaraan seperti truk dan bus turun cukup dalam, yakni 18 persen pada 2015 dan 16 persen di sepanjang 2016 ini. "Walhasil, kami hanya berharap pada logistik dan infrastruktur karena dua sektor itu yang belanja kendaraannya masih cukup stabil," ujarnya.

Besarnya potensi pasar restoran berjalan sudah disadari jauh-jauh hari. Pada pameran otomotif GIIAS 2015, misalnya, sejumlah agen pemegang merek otomotif sudah menampilkan display food truck di booth mereka. Di antaranya Hino, Tata Motors, Isuzu, Toyota Dyna, dan Mitsubishi Fuso.

Saat itu Hino memamerkan produk truk ringan Dutro 110 SDL, yang dirancang dengan kompartemen belakang yang dilengkapi peralatan masak. Truk ini bahkan memiliki layar monitor pada bodi untuk memajang menu makanan. Adapun Toyota tampil dengan Dyna 110ST, yang menyerupai bar dan kafe minuman.

Produsen otomotif asal India, Tata Motors, menghadirkan Tata Ace EX2, yang ukurannya lebih mungil dibanding produk produsen lain. Sedangkan Mitsubishi Fuso memamerkan dua unit Colt Diesel FE 71 L yang dirancang sebagai kafe dan toko bunga. "Ini peluang baru karena di kota-kota besar lahan usaha semakin sempit dan sewa tempat semakin mahal," kata Head Marketing Communication PT Isuzu Astra Motor Indonesia Maman Fathurrohman, Jumat pekan lalu.

Tak mengherankan bila Isuzu gencar mendekati pengusaha kuliner. Saat ini, menurut Maman, produk Isuzu yang cocok untuk usaha food truck adalah ELF NHR 55 empat roda. "Regulasi lalu lintas di beberapa daerah melarang truk dengan enam roda atau lebih masuk kota," ucapnya.

Menurut Maman, Isuzu tak hanya melayani penjualan sasis untuk calon food truck. "Kami bisa membantu konsumen dan menghubungi karoseri," ujarnya. Untuk biaya, Maman tak bisa menyebutkan angka pasti karena variabel untuk food truck macam-macam, tergantung permintaan. Tapi, untuk harga kendaraan, Isuzu memasarkan truk ringan dengan harga sekitar Rp 225 juta.

Biaya terbesar dalam pembuatan food truck pada pembuatan karoseri. Menurut Miftah Arifin, Direktur Utama Indraprasta Mulia Teknik, perusahaan karoseri yang berlokasi di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tren pembuatan karoseri food truck mulai ramai sejak dua tahun lalu.

Setidaknya ada dua jenis food truck yang biasa disediakan perusahaan karoseri. Yang pertama, kata Miftah, adalah mobil dengan perlengkapan memasak alias mobile food preparation vehicle. Pada model ini, food truck akan terdiri atas kabin yang berisi peralatan lengkap layaknya dapur. Biaya produksi model ini lebih mahal dibanding model kedua, food truck untuk makanan jadi. Selain menyediakan jasa rancangan, pihak karoseri menyediakan perlengkapan dapur yang dibutuhkan pengusaha.

Miftah menyatakan nilai investasi yang cukup mahal untuk membangun food truck menjadi salah satu alasan permintaan belum tumbuh signifikan. Biaya satu unit food truck standar, menurut dia, mencapai Rp 500-600 juta. Biaya itu terdiri atas pembelian sasis truk yang rata-rata seharga Rp 250-300 juta. "Sisanya untuk karoseri," ucapnya.

Jumlah itu bisa membengkak jika konsumen ingin melengkapi food truck-nya dengan fasilitas lebih komplet. "Yang standar itu isinya kompor, tempat cuci piring, dan penampungan air," ujar Miftah. Food truck yang komplet juga dilengkapi kulkas, freezer untuk penyimpanan bahan makanan, tangki air bersih, dan peralatan memasak yang lengkap.

Pengusaha yang pernah memakai jasa perusahaan Miftah untuk membuat food truck adalah Leonard Adi Surya, 27 tahun, dan rekannya, Citro Utomo, 28 tahun, yang memiliki usaha Hobo Food Truck. "Waktu itu kami habis sekitar Rp 800 juta untuk beli truk, membuat karoseri, dan perlengkapan memasaknya," kata mereka.

Food truck yang dimiliki Hobo cukup lengkap. Di dalamnya terdapat pemanggang daging, papan besi untuk memasak (griddle pan), alat penggorengan, peti es, dan kulkas minuman. Belum lagi fasilitas lain seperti saluran udara, tangki air bersih berkapasitas 150 liter, penampungan air kotor hingga 500 liter, tempat cuci piring, genset listrik, dan suspensi khusus untuk menjaga kestabilan truk saat aktivitas masak-memasak dilakukan.

Leonard mengatakan, dengan investasi yang besar itu, usaha food truck punya keunggulan dibanding usaha kafe atau restoran biasa. "Lokasinya bisa berpindah dan bisa dibawa ke mana-mana," ujarnya. Tak aneh bila usaha food truck tak cuma jualan di pinggir jalan, tapi bisa merambah ke sektor lain, seperti katering acara ulang tahun, bazar, dan katering pernikahan.

Menurut Citro, jenis makanan yang cocok dijual memakai food truck biasanya makanan cepat saji. Berkaca pada pengalaman dia dan Leo sewaktu berkuliah di California, Amerika Serikat, fenomena food truck muncul untuk memenuhi kebutuhan para pekerja atau mahasiswa. "Food truck di sana ada di kawasan perkantoran, kalau di sini justru ramai di tempat nongkrong," kata Citro.

Hobo Truck sejauh ini menjual makanan seperti burger dan makanan ringan lain. Untuk menyiasati selera orang Indonesia, mereka tetap menyediakan menu nasi. Menurut Leonard, meski sudah punya fasilitas lengkap, pengusaha food truck tetap harus memiliki dapur utama di lokasi lain. "Untuk memasak hingga setengah jadi dilakukan di dapur," ujarnya.

Harga makanan yang dijual di food truck memang bisa menyamai harga makanan di restoran. Selain memang modal awal yang besar dan menu yang ditawarkan bukan makanan kaki lima biasa, Leonard menyebutkan, pada dasarnya standar kualitas food truck sama dengan restoran. Praga Utama


Biaya Gerai Berjalan

SEMAKIN banyak dan kompleks jenis makanan, biaya pembuatan food truck semakin mahal. Berikut ini estimasi pembuatan food truck.

Pembelian sasis kendaraan

  • Rp 250-350 juta (baru)
  • Rp 150-200 juta (bekas)

    Biaya karoseri
    (termasuk rangka, boks kabin, tangki penyimpanan air)

  • Rp 250-300 juta

    Perabotan

  • Kompor gas biasa: Rp 300-500 ribu
  • Kompor gas tanam: Rp 5-10 juta
  • Peti es: Rp 3-5 juta
  • Kulkas kaca: Rp 2-5 juta
  • Oven listrik: Rp 1-3 juta
  • Perabotan lain: Rp 5 juta

  • Ekonomi dan Bisnis 7/8

    Sebelumnya Selanjutnya

    Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
    Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

    Hubungi Kami :

    Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

    Informasi Langganan :

    Email : cs@tempo.co.id

    Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

    Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

    Informasi Lainnya :

    Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

    Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    8 artikel gratis setelah Register.