Layar



  • Tak Ada Karpet Merah di Cannes
    Layar

    Tak Ada Karpet Merah di Cannes

    Di tengah pandemi Covid-19, festival film di seluruh dunia terpaksa mengurungkan pergelaran masing-masing. We Are One hadir sebagai festival film daring bersejarah yang menyatukan sinema dan seluruh dunia.

  • Sebuah Respons untuk #BlackLivesMatter
    Layar

    Sebuah Respons untuk #BlackLivesMatter

    Festival film daring We Are One membuat kategori khusus untuk minoritas. Tak hanya menyoroti problem diskriminasi.

  • Menemukan Kembali Emiria
    Layar

    Menemukan Kembali Emiria

    SEBUAH pameran di Rubanah Underground Hub, Jakarta, membunyikan kembali nama perupa perempuan yang jarang disebut dalam sejarah seni rupa Indonesia: Emiria Sunassa.

  • Tante Em dari Jalan Cendana
    Layar

    Tante Em dari Jalan Cendana

    Di luar karier melukisnya, Emiria Sunassa berselimut misteri. Dia disebut keturunan bangsawan Tidore, pernah tinggal di Jalan Cendana, dan mengklaim takhta atas Papua Barat.

  • Sinema, Agama, dan Kontroversi
    Layar

    Sinema, Agama, dan Kontroversi

    Sebelum Messiah, banyak deretan sinema yang memancing kontroversi karena mengangkat topik agama, yang dianggap sensitif. Karya-karya itu memancing protes hingga aksi terorisme.

  • Jika Juru Selamat Turun Sekarang
    Layar

    Jika Juru Selamat Turun Sekarang

    Serial Messiah yang dirilis Netflix awal tahun ini memancing kontroversi. Banyak orang menuding serial ini menodai ajaran suci agama yang percaya pada kedatangan juru selamat di akhir jaman. Benarkah? 

  • Kisah Rianto dan Otniel
    Layar

    Kisah Rianto dan Otniel

    Pentas lengger kontemporer memadukan lengger dengan kesenian lain. Dari tari kontemporer Jepang hingga dangdut pantura.

  • Romantika Lengger Klasik Perempuan
    Layar

    Romantika Lengger Klasik Perempuan

    PARA penari lengger perempuan Banyumas berusia sekitar 50 tahun tak mau kalah oleh penari lengger lanang dalam Festival Kendalisada. Mereka membuka malam pertama festival. Penari lengger perempuan yang tampil adalah Karinah dari Desa Suro, Narsih dari Pegalongan, dan Suryati dari Somagede.

  • Mengenang Dariah, Lengger  Perbukitan  Kendalisada
    Layar

    Mengenang Dariah, Lengger Perbukitan Kendalisada

    DARIAH, maestro tari lengger Banyumasan, meninggal pada usia 97 tahun, Senin dinihari, 12 Februari 2018. Untuk mengenang dan menghormati Dariah, Pemerintah Desa Kaliori, Banyumas, Jawa Tengah, bersama komunitas seni desa tersebut menggelar Festival Kendalisada, yang menampilkan setidaknya 10 kelompok penari lengger, pada 14-16 September lalu. Rianto dan Otniel Tasman, dua koreografer kontemporer yang memiliki latar belakang lengger, ikut berpartisipasi.

  • Berawal dari Pelarian Nazi
    Layar

    Berawal dari Pelarian Nazi

    GALERI seni Remai Modern dengan dominasi dinding kaca berdiri megah di kawasan Landing River, pusat Kota Saskatoon, Kanada.

  • Banteng-banteng Picasso Tua
    Layar

    Banteng-banteng Picasso Tua

    PADA dekade terakhir hidupnya, Pablo Picasso mengeksplorasi teknik linocut (print dengan teknik cetak cukil). Pada usia 80-an tahun, garis-garis yang ia buat masih menunjukkan semangat. Dia menghasilkan seni grafis dengan banyak gambar banteng dan matador. Salah satu museum yang menyimpan karya seni grafis linocut Picasso adalah Museum Remai Modern. Museum seni modern dan kontemporer di Saskatoon, Kanada, ini memiliki koleksi karya grafis Picasso paling lengkap di negara tersebut. Totalnya ada 406 karya, yang diproduksi pelukis kelahiran 1881 itu pada kurun 1951-1968. Artinya, ratusan karya itu ia ciptakan saat berumur 70-87 tahun. Wartawan Tempo mengunjungi museum tersebut.

  • Sayap Teater ArtJog
    Layar

    Sayap Teater ArtJog

    Pentas teater kolaborasi Papermoon dan Polyglot terinspirasi oleh sejarah maritim di Lasem. Teater menjadi bagian dari ArtJog.

  • Marilah Mengunjungi Healing Garden
    Layar

    Marilah Mengunjungi Healing Garden

    YOGYAKARTA kembali menggelar bursa seni rupa ArtJog. Bertema "Pencerahan", perhelatan seni kontemporer ke-11 kalinya ini menampilkan karya 54 perupa asal Indonesia dan mancanegara. Sebagian besar karya mereka tentang alam dan lingkungan. Dari kehidupan di bawah laut, terumbu karang, ikan, bunga-bunga, hingga kerusakan hutan. Salah satu karya yang tampak disukai pengunjung pada malam pembukaan adalah karya seniman Jepang-Australia, Hiromi Tango. Ia membuat taman bunga kertas berkelir terang yang disebutnya Healing Garden. Ia memeluk bunga-bunga itu. Penonton antre dan betah berada di sana.

  • Lissoi, Musik Pop, dan Minimnya Rekaman
    Layar

    Lissoi, Musik Pop, dan Minimnya Rekaman

    Nahum Situmorang banyak membuat lagu tentang kehidupan masyarakat Batak. Mengadopsi musik yang berkembang pada zamannya.

  • Nahum Situmorang: Komponis Lapo Tuak yang Dilupakan
    Layar

    Nahum Situmorang: Komponis Lapo Tuak yang Dilupakan

    TAK banyak yang mengenal Nahum Situmorang (1908-1969). Minimnya tulisan—literatur dan penelitian—tentang dia menjadi salah satu penyebabnya.

  • Trilogi Eko, Macbeth, dan Nan Jombang
    Layar

    Trilogi Eko, Macbeth, dan Nan Jombang

    Pentas seni tari dan musik untuk Europalia berlangsung sampai awal Januari. Dilanjutkan dengan film-film pada akhir Januari.

  • Pak Wittock di Depan Sri Asih
    Layar

    Pak Wittock di Depan Sri Asih

    MUSEUM yang menjadi tempat pameran komik Indonesia di Brussels, Belgia, adalah museum yang berselera unik. Namanya Bibliotheca Wittockiana. Lokasinya di 23 rue de Bemelstraat, Brussels. Museum ini didirikan oleh pencinta buku tua bernama Michel Wittock. Bagaimana tidak? Di era buku digital ini, ia malah mengkhususkan museumnya menjadi museum book binding.

    Di bagian depan perpustakaan, dia memiliki koleksi buku kuno tebal yang umurnya ada yang sekitar 500 tahun. Dari yang paling penting, ia memiliki edisi asli Ensiklopedi susunan filsuf Prancis, Diderot (1713-1784).

  • Reruntuhan Kristal di Grand-Hornu
    Layar

    Reruntuhan Kristal di Grand-Hornu

    Jompet Kuswidananto membuat karya di bekas tambang batu bara Kota Mons. Eko Prawoto menyajikan instalasi di Pelabuhan Antwerp.

  • Arca-arca Kita, Antara Brussels Dan Liege
    Layar

    Arca-arca Kita, Antara Brussels Dan Liege

    AKHIR Januari 2018, perhelatan besar Europalia Indonesia usai di Eropa. Europalia adalah festival dua tahunan yang berjantung di Brussels, Belgia. Indonesia kali ini menjadi tamu utama Europalia, setelah Turki. Selama empat bulan sejak Oktober 2017, Indonesia menampilkan berbagai kesenian. Dari tari, musik, sastra, sampai seni rupa. Tidak hanya di Belgia, tapi juga di kota-kota di Belanda, Jerman, dan Prancis. Pameran utama peristiwa ini adalah dua ekshibisi besar kebudayaan Indonesia di Brussels dan Liege. Di Brussels bertema “Ancestors and Rituals”, sedangkan di Liege berjudul “Les Royaumes de la mer: Archipel”. Di dua kota itu, puluhan arca masterpiece Indonesia dipamerkan. Pemilihan dan pengangkutan arca-arca ini membutuhkan proses yang panjang karena beberapa arca harus diambil dari Jakarta, Bali, Sumatera, Ambon, dan lain-lain. Ikuti laporan wartawan Tempo Seno Joko Suyono di balik persiapan pameran utama itu hingga disajikan sampai akhir Januari ini. Juga beberapa pertunjukan tari dan ekshibisi seni rupa di beberapa kota di Belgia.

  • Pelukis yang Menulis
    Layar

    Pelukis yang Menulis

    Nasjah Djamin juga produktif sebagai penulis. Dia membuat buku serta naskah drama. Karya-karyanya sempat menuai kontroversi.

  • 12

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.