1/0

text

Investigasi Kisruh Pengadaan Alat Pendeteksi Covid-19

PULUHAN rumah sakit dan laboratorium di berbagai daerah mengembalikan ratusan ribu bahan uji spesimen covid-19 sepanjang Juni hingga September 2020. Reagen kit dan media transfer virus dikembalikan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang menyediakannya karena tidak bisa dipakai. Indonesia Corruption Watch yang menelisik hingga pengadaan Desember 2020 menemukan nilai potensi kerugian negara hampir Rp 170 miliar.

21 Maret 2021


SETELAH mendapatkan 12.997 alat pereaksi spesimen Covid-19 (reagen) pada 21 Agustus 2020, Antonius Oktavian bergegas menguji sampel lendir yang diduga terjangkit virus SARS-CoV-2. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Papua ini tidak ingin menunggu lebih lama untuk memastikan diagnosis terhadap 94 orang pasien. “Ini bahaya banget,” kata Antonius kepada media yang tergabung dalam Klub Jurnalis Investigasi (KJI), terdiri dari Tempo, Jaring.id, Suara.com, dan Alinea.id, pada Rabu, 23 Desember 2020.

Antonius tak menyangka seluruh hasil pengujian spesimen yang menggunakan reagen buatan Cina merek Sansure tersebut menunjukkan hasil negatif. Ia sampai harus meminta stafnya untuk mengulang pemeriksaan sebanyak dua kali dengan menggunakan pereaksi serupa. Hasilnya tetap sama: negatif. “Begitu kita uji coba negative false-nya tinggi. Kan ajaib,” ujarnya. Daripada salah diagnosis, Balitbangkes Papua akhirnya mengembalikan pereaksi kimia merek Sansure ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Kendala untuk memeriksa sampel dahak dari pasien yang diduga terinfeksi virus corona tidak hanya terjadi di Papua. Balai Besar Penyehatan Teknik Kesehatan Lingkungan Pencegahan Penyakit (BBPTKLPP) Jawa Timur pun mengalami kendala serupa.

Koordinator Tata Usaha yang juga penanggungjawab penanggulangan Covid-19 BBPTKLPP Jawa Timur, Joko Kasihono, mengatakan bahwa laboratorium menerima 9.600 reagen Sansure dan Liferiver dari BNPB sepanjang April-Mei 2020. Namun, laboratorium yang bertanggungjawab memeriksa spesimen dari Bali hingga Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tidak bisa menggunakan reagen tersebut. Padahal tiap hari, sampel yang diterima laboratorium BBPTKLPP mencapai 5.000. “Kami coba berkali-kali ternyata hasilnya tidak bisa memenuhi standar,” kata Joko Kasihono saat dihubungi KJI secara daring, Kamis, 17 Desember 2020.

Menurut dia, reagen yang berasal dari BNPB tidak cocok dengan mesin pengujian polymerase chain reaction (PCR) bersistem terbuka (open system) yang dipunyai laboratorium BBPTKLPP Jatim. Reagen Sansure maupun Liferiver, kata dia, harus digunakan pada mesin bermerek sama atau biasa disebut single plate.  Oleh sebab itu, BBPTKLPP Jatim memutuskan untuk mengembalikan reagen Sansure dan Liferiver kepada BNPB. “Kami tidak bisa menerima. Kalau pun ada kiriman, langsung dialihkan ke lab atau rumah sakit yang cocok,” ujarnya.

Ratusan dokumen yang diterima KJI menunjukkan sekitar 78 laboratorium dan rumah sakit di 29 provinsi yang mengembalikan alat deteksi virus ke BNPB. Dalam kurun waktu April-September 2020, jumlahnya mencapai 498.644 unit reagen. Dari jumlah itu, reagen merek Sansure berjumlah 483.819 unit. Sisanya merek Intron (1.000 unit), Wizprep (10.000 unit), Seggenne (300 unit), Liferiver (2.825 unit) dan Kogene (700 unit). Dari enam merek, diketahui hanya Sansure, Seggenne dan Liferiver yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 20 April 2020.

Berdasarkan dokumen yang diperoleh tim KJI, reagen yang dibeli BNPB juga tersimpan di sejumlah gudang, di antaranya Gudang BGR di Komplek Kelapa Gading, Jakarta Utara; cold storage Rawa Bokor di Bogor, Jawa Barat; Gudang Pusat Krisis Kementerian Kesehatan yang terletak di Jalan Percetakan Negara II Jakarta; serta Gudang Merpati Halim dan Gudang Jatiasih. Dari pantauan tim KJI di Gudang BGR Kelapa Gading, tumpukan reagen disimpan dalam peti pendingin. Di sana, kami melihat dalam peti tersebut tampak tumpukan reagen Sansure terbungkus dalam kotak berbahan styrofoam berukuran sekitar 1 x 1 meter. 

Berdasarkan penelusuran Indonesia Corruption Watch (ICW) yang tertuang dalam kajian tata kelola dan distribusi alat kesehatan dalam kondisi Covid-19 yang disusun pada 2021, BNPB tercatat membeli 1.956.644 unit reagen dengan total anggaran mencapai Rp 549 miliar sepanjang April-September 2020. ICW yang menelisik hingga pengadaan Desember 2020 menemukan nilai potensi kerugian negara hampir Rp 170 miliar. 

Dalam penelsuruan ini, kami juga mendapati pengusaha yang mendapat porsi terbesar penunjukan langsung reagen adalah kolega Kepala BNPB Doni Monardo.

Simak video lengkapnya.

 

2021-04-15 14:16:54

Covid-19 BNPB

1/0


Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.