Selingan



  • Cinta dan Cuan dari Korea Selatan
    Selingan

    Cinta dan Cuan dari Korea Selatan

    Kecintaan terhadap budaya Korea Selatan yang dipupuk selama satu dekade lebih melahirkan komunitas penggemar berdedikasi di Indonesia. Penggemar bersedia merogoh kocek untuk membeli barang yang dapat lebih mendekatkan kepada idola. Menjadi peluang bisnis, skala besar ataupun kecil.

  • Dunia Baru dari Hallyu
    Selingan

    Dunia Baru dari Hallyu

    Kesuksesan industri hiburan Korea Selatan turut mengerek perekonomian negara tersebut. Undang-undang tentang wajib militer pun sampai diubah demi bintang pop. K-pop menjadi ladang devisa bagi Korea Selatan.

  • Scott Merrillees: Kartu Pos Kurang Dihargai Peneliti
    Selingan

    Scott Merrillees: Kartu Pos Kurang Dihargai Peneliti

    Dari ribuan kartu pos koleksinya, Scott Merrillees mengkurasi 500 kartu pos dari kurun 1900-1945 yang menampilkan keberagaman suku di seluruh Nusantara.

  • Etnografi di Selembar Kartu Pos
    Selingan

    Etnografi di Selembar Kartu Pos

    SCOTT Merrillees membukukan koleksi kartu pos kunonya dalam Faces of Indonesia: 500 Postcards 1900-1945. Buku ini seperti rekaman etnografi masyarakat Indonesia di awal abad ke-20. Kelangkaan kartu pos dan prangko serta ketenaran fotografer menjadi pertimbangan untuk tingginya nilai koleksi tersebut. Merrillees mengoleksinya selama hampir 30 tahun saat dia bermukim di Jakarta.

  • Kontroversi De Oost dan Westerling   
    Selingan

    Kontroversi De Oost dan Westerling  

    Begitu dirilis, De Oost langsung menyulut pro dan kontra. Inilah film Belanda pertama yang secara gamblang menyorot kekejaman militer negeri Oranye selama perang kemerdekaan Indonesia. Kisah utama film ini berkisar di seputar aksi keji komandan pasukan elite Belanda di Indonesia, Raymond Westerling. Setahun setelah Proklamasi 1945, dia meneror dan membantai ribuan orang di Sulawesi Selatan. Ikuti laporan lengkap Tempo dari Belanda, soal latar belakang film dan kontroversi sejarah agresi militer Belanda yang membuat film ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak.  

  • Kritik Itu Datang dari Sekelompok Kecil
    Selingan

    Kritik Itu Datang dari Sekelompok Kecil

    Jim Taihuttu, 39 tahun, muncul di jagat perfilman Belanda sekitar sepuluh tahun lalu saat merilis Rabat. Sineas keturunan Maluku ini juga dikenal sebagai disc jockey anggota duo hip hop/dance Yellow Claw.

  • Sebuah Interpretasi dari Jim Taihuttu
    Selingan

    Sebuah Interpretasi dari Jim Taihuttu

    Dari mata sutradara Belanda, untuk pertama kalinya kita menyaksikan bagaimana penggambaran seorang Westerling sang pembantai.

  • Kontroversi Paduan Suara Asmaul Husna dan ‘New Istiqlal’
    Selingan

    Kontroversi Paduan Suara Asmaul Husna dan ‘New Istiqlal’

    Lantunan Asmaul Husna dari kelompok paduan suara Jakarta Youth Choir (JYC) di Masjid Istiqlal, Jakarta, menggegerkan media sosial pada pertengahan Mei lalu. Kor itu dianggap menodai masjid. Narasi yang berkembang juga menyudutkan JYC, yang dianggap memberi sentuhan gereja terhadap masjid rancangan Friedrich Silaban itu. Namun betulkah begitu? Sejumlah ulama menganggap alunan Asmaul Husna oleh JYC justru memperkuat peran masjid sebagai pusat peradaban dan kebudayaan Islam. Citra ini sejatinya diharapkan muncul pada Istiqlal setelah direnovasi untuk pertama kalinya semenjak 42 tahun lalu.

  • Menunggu Festival Istiqlal (Lagi)
    Selingan

    Menunggu Festival Istiqlal (Lagi)

    Sebagai masjid negara, Masjid Istiqlal juga memiliki visi menjadi pusat kebudayaan Islam dan ruang toleransi. Pernah digelar Festival Istiqlal yang menampilkan beragam bentuk kesenian. Festival itu dihadiri jutaan orang.

  • Tak Berhenti Menyengat: Suara Kartun Asia Tenggara Kini
    Selingan

    Tak Berhenti Menyengat: Suara Kartun Asia Tenggara Kini

    Perkara kartun kerap melentikkan kontroversi di berbagai negara. Kritik yang dikemas jenaka pun kadang membuat orang tersentil. Kita tentu ingat geger kartun Nabi Muhammad dalam mingguan Charlie Hebdo yang membuat kantor media Prancis itu ditembaki. Belasan orang meninggal, termasuk kartunis media itu. Jauh sebelum itu, pada 2005, media Denmark Jyllands-Posten menerbitkan kartun yang sama. Kondisi di Asia Tenggara tak jauh berbeda. Tiga tahun lalu, kantor Tempo di Palmerah, Jakarta, disambangi ratusan orang dari Front Pembela Islam yang memprotes kartun di majalah ini.

    Demokrasi yang tumbuh di ASEAN tak dibarengi dengan kebebasan para kartunisnya. Sebagian seniman gambar diringkus polisi, sedangkan yang lain berkarya dalam kecemasan akan persekusi. Menandai kondisi ini, kartunis politik Malaysia, Zunar, dan organisasi nirlaba Hujah Ehsan menggelar pameran daring The ASEAN Human Rights Cartoon Exhibition pada 3-30 Mei 2021. Bertema “Hak Asasi di Negeri Sendiri”, pameran itu menampilkan 100 kartun kritis karya 37 kartunis dari 5 negara: Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Myanmar.

  • Mengolok Duterte, Menggunjingkan Rama X
    Selingan

    Mengolok Duterte, Menggunjingkan Rama X

    Para kartunis di sejumlah negara Asia Tenggara terus berjuang menyampaikan kritik terhadap isu politik, pelanggaran hak asasi, dan belenggu kebebasan berpendapat. Menghadapi berbagai ancaman hingga perisakan di media sosial.

  • Represi Rezim hingga Netizen
    Selingan

    Represi Rezim hingga Netizen

    Kartunis politik Indonesia tak jarang harus berhadapan dengan tindakan represif karena karya yang mengkritik. Yayak Yatmaka pada masa Orde Baru harus berhadapan dengan rezim. Sementara itu, kartunis media sosial masa kini punya tantangan tersendiri.

  • Jejak Permakaman Nazi  dan Kisah Deutsche Schule
    Selingan

    Jejak Permakaman Nazi dan Kisah Deutsche Schule

    PENULIS berkebangsaan Jerman, Horst Henry Geerken, membeberkan risetnya tentang jejak Adolf Hitler dan paham Nazi di Indonesia lewat buku Hitlers Griff nach Asien jilid III dan IV. Dua jilid anyar yang terbit tahun lalu ini mendalami temuan Geerken dalam dua buku pertamanya yang berjudul sama. Tulisan Geerken dalam dua jilid barunya antara lain bertolak dari buku harian Otto Coerper yang mengisahkan secara detail sekitar 300 orang Jerman yang sempat dibui di Hindia Belanda. Menurut catatan Coerper, setelah Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, para tawanan itu dibebaskan. Mereka lalu tinggal di Sarangan, kaki Gunung Lawu, Jawa Timur, dan mendirikan Sekolah Jerman atau Deutsche Schule. Coerper juga mendirikan Latihan Opsir Polisi Tentara. Presiden ketika itu, Sukarno, mengirim kadet-kadet sekolah angkatan laut di Yogyakarta untuk mempelajari bahasa Jerman di Deutsche Schule agar mereka memahami peralatan militer yang banyak datang dari negara tersebut. Di antara sederet alumnusnya, terdapat nama Raden Eddy Martadinata dan Donald Isaac Pandjaitan.

  • Horst Henry Geerken: Banyak Temuan Baru tentang Indonesia
    Selingan

    Horst Henry Geerken: Banyak Temuan Baru tentang Indonesia

    Cinta yang mendorong terus lahirnya buku-buku tentang Indonesia dari tangan Horst H. Geerken. "I'm in love with Indonesia," ujarnya.

  • Kehidupan Kembali Rukiah
    Selingan

    Kehidupan Kembali Rukiah

    Setelah dilarang beredar akibat Tragedi 1965, karya-karya S. Rukiah diterbitkan kembali oleh Ultimus, Bandung.

  • Kisah Dua Sastrawan Lekra
    Selingan

    Kisah Dua Sastrawan Lekra

    MASIH berkaitan dengan peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Tempo menuliskan riwayat dua penulis perempuan yang dilupakan: S. Rukiah Kertapati dan Sugiarti Siswadi. Mereka dianggap terlibat dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat, yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Nama mereka hilang sejak peristiwa 1965. Seusai prahara itu, Rukiah sempat ditahan. Ia kemudian memilih bekerja di sebuah klinik di kota kecil Purwakarta, Jawa Barat. Ia melupakan semua riwayat kepenulisannya sampai akhir hayatnya. Sedangkan Sugiarti tak diketahui rimbanya sama sekali. Nama keduanya tak tertoreh dengan baik dalam sejarah sastra kita.

  • Penyair Misterius, Pendukung Sastra Anak
    Selingan

    Penyair Misterius, Pendukung Sastra Anak

    Tak banyak kenangan tersisa tentang Sugiarti Siswadi, penulis yang juga aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat. Ia peduli terhadap literasi anak dan vokal dalam soal pemberdayaan perempuan.

  • Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial
    Selingan

    Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial

    LEWAT buku Bukan Takdir, Widjajanti W. Dharmowijono membongkar penyebaran stereotipe negatif tentang orang Cina di Nusantara yang telah mengakar selama ratusan tahun. Dia menelisik sekitar 200 karya sastra yang ditulis pada 1880-1950. Citra seperti kasar, rakus, dan penjilat dilekatkan para penulis sastra Eropa di Hindia Belanda terhadap tokoh-tokoh Cina dalam cerita mereka. Citra yang menyulut sejumlah peristiwa berdarah yang menelan korban tak berdosa.

  • Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir
    Selingan

    Prasangka terhadap Orang Tionghoa Bukanlah Takdir

    Setelah 12 tahun, buku karya Widjajanti W. Dharmowijono tentang pencitraan orang Cina dalam novel Indo-Belanda bertarikh 1880-1950 akhirnya dirilis Penerbit Ombak pada 5 April 2021. Perilisan ini disyukuri Inge—panggilan akrab Widjajanti—karena dulu naskah yang bersumber dari disertasinya di Universiteit van Amsterdam itu pernah ditolak penerbit Belanda. Namun Inge tetap berkukuh pada keinginannya semula: bukunya harus terbit dalam bahasa Indonesia dan dibaca khalayak negeri ini.

  • Persada, Sebuah Legenda
    Selingan

    Persada, Sebuah Legenda

    Selama tinggal di Yogyakarta, Umbu Landu Paranggi membesarkan komunitas penyair Persada Studi Klub. Bisa menembus rubrik puisi yang dikelolanya adalah suatu kebanggaan bagi penyair Yogyakarta saat itu. 

  • 12

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.