Selingan



  • Sang Pencetus Badan Bahasa
    Selingan

    Sang Pencetus Badan Bahasa

    Dalam Kongres Bahasa Indonesia 1930, Sanusi Pane mengusulkan pembentukan institusi pengembangan bahasa Indonesia. Idenya terwujud pada 1948, menjadi lembaga yang kini disebut Badan Bahasa.

  • Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia
    Selingan

    Sanusi Pane: Sebuah Pleidoi untuk Bahasa Indonesia

    Nama sastrawan angkatan Pujangga Baru, Sanusi Pane, tak banyak diingat dalam kajian sejarah Kongres Pemuda. Padahal, dalam kongres pertama, dia bersama Mohammad Tabrani berperan dalam mengusung istilah nahasa Indonesia ketimbang bahasa Melayu yang diusulkan Mohammad Yamin. Sanusi juga mencetuskan ide pendirian institut dan perguruan tinggi kesusastraan Indonesia dalam Kongres Bahasa Indonesia Pertama. Untuk kiprahnya itu, Sanusi Pane diusulkan menjadi pahlawan nasional.

  • Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah
    Selingan

    Ritual-ritual Kuno Penolak Wabah

    JAUH sebelum pandemi Covid-19 mengoyak bumi, berbagai daerah di Nusantara sudah beberapa kali berhadapan dengan pagebluk yang memakan korban jiwa. Kondisi itu memunculkan beragam kearifan lokal yang bertaut erat dengan tradisi untuk mencegah ataupun melawan wabah. Ritual itu tak hanya berupa perapalan mantra dan doa, tapi juga tari-tarian, syair, serta upacara tradisional yang sebagian di antaranya masih dilestarikan sampai sekarang. Di Bali, misalnya, dikenal tari sakral sanghyang yang memadukan gerak tari dan trans, juga kidung, yang dilakukan untuk mengenyahkan bala dan memohon perlindungan dewata.

    Ada pula metode penyembuhan dan ramuan tradisional yang dipercaya berkhasiat mengobati penyakit dari masa ke masa. Bermacam ritual itu termaktub dalam buku Menolak Wabah yang dirilis Penerbit Ombak bekerja sama dengan Borobudur Writers & Cultural Festival Society, akhir tahun lalu. Buku yang terbagi menjadi dua jilid itu memuat puluhan karya tulis yang menggali kearifan lokal penolak wabah, dari relief, manuskrip, sejarah rempah, hingga ritual budaya.

  • Ramuan dari Leluhur
    Selingan

    Ramuan dari Leluhur

    Masyarakat adat di Nusantara menyimpan tradisi jamu warisan nenek moyang untuk mencegah penyakit. Kementerian Kesehatan meriset tanaman obat itu untuk khalayak luas.

  • Rancage tanpa Ajip
    Selingan

    Rancage tanpa Ajip

    Anugerah Sastera Rancage digelar untuk ke-33 kali. Berharap dapat terus bertahan meski perintisnya, Ajip Rosidi, telah wafat.

  • Dari Dadan sampai Komang Berata
    Selingan

    Dari Dadan sampai Komang Berata

    Anugerah Sastera Rancage yang mengapresiasi karya-karya sastra terbaik dalam bahasa daerah kembali digelar ke-33 kalinya. Digagas Ajip Rosidi, anugerah ini memberi semangat kepada penulis daerah untuk melestarikan bahasa lokal yang makin pudar.

  • Pertama dari Indonesia
    Selingan

    Pertama dari Indonesia

    Orang-orang Bloomington masuk daftar sastra terbitan Penguin Classics. Kisahnya dinilai tak tergerus zaman.

  • Budi Darma, Orang-orang Bloomington, dan Penguin Classics
    Selingan

    Budi Darma, Orang-orang Bloomington, dan Penguin Classics

    ORANG-ORANG Bloomington tahun ini “pulang kampung” ke Amerika Serikat. Rencananya, kumpulan cerita pendek karya Budi Darma itu akan diterbitkan oleh Penguin Classics, salah satu lini penerbit terkenal dan prestisius Penguin Random House, untuk diedarkan di Amerika Serikat dan Kanada. Orang-orang Bloomington menjadi buku Indonesia pertama yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penguin Classics, yang juga merilis karya-karya penulis legendaris, dari Arthur Conan Doyle, Charles Dickens, hingga William Shakespeare.

    Terbit perdana pada 1980, Orang-orang Bloomington sudah berulang kali berganti penerbit. Terakhir, pada 2015, Noura Publishing mencetak ulang buku tersebut. Pada 2016, buku itu memikat Tiffany Tsao, dosen dan penulis yang belakangan menjadi penerjemahnya. Noura Publishing, mewakili Budi Darma, lantas menandatangani kontrak dengan Penguin Classics melalui perantara agen literasi Jacaranda pada pengujung 2020.

  • Menunggu Wajah Baru Sarinah
    Selingan

    Menunggu Wajah Baru Sarinah

    Desain baru gedung Sarinah akan mengikuti perkembangan zaman. Relief patung yang menjadi polemik bakal ditempatkan di area atrium dan menjadi center point. Relief itu kelak bisa dilihat dan dipelajari masyarakat umum.

  • Siapa Pembuat Relief Sarinah?
    Selingan

    Siapa Pembuat Relief Sarinah?

    PARA pekerja renovasi Sarinah tahun lalu “menemukan” relief zaman Sukarno berukuran 3 x 12 meter “disembunyikan” di ruang instalasi listrik gedung. Relief itu menggambarkan suasana pasar lama: ibu-ibu berkebaya bersama barang jajanan dan para lelaki bercaping membawa pikulan. Relief itu menarik karena sebagian berupa relief patung tiga dimensional yang menonjol.

    Tak ada arsip mengenai relief itu. Muncul spekulasi dari para pengamat seni rupa tentang siapa pembuat relief dan mengapa karya tersebut bisa dibuang di ruang genset yang pengap di Sarinah. Apakah relief itu sengaja dilenyapkan Orde Baru karena dianggap “kekiri-kirian” atau pihak Sarinah sendiri di masa lampau yang menganggap relief yang menggambarkan masyarakat pedesaan tersebut tidak cocok dengan modernisasi Sarinah?  

    Tempo mewawancarai anak-anak para perupa masyhur dari 1960-an untuk menggali kemungkinan-kemungkinan mengenai siapa pembuat relief tersebut. Tempo juga mewawancarai Menteri Tenaga Kerja zaman Orde Baru, Abdul Latief, yang pada awal pendirian Sarinah terlibat sebagai karyawan.

  • Desainnya Dipilih Sukarno, Pekerjanya Seniman Yogyakarta-Bandung
    Selingan

    Desainnya Dipilih Sukarno, Pekerjanya Seniman Yogyakarta-Bandung

    Abdul Latief salah satu saksi mata pendirian dan pengelolaan pertama Sarinah yang masih hidup. Kesaksiannya bermanfaat untuk mendapatkan informasi tentang lokasi awal relief di Sarinah.

  • Potret Getir Jamal, Janda Malaysia
    Selingan

    Potret Getir Jamal, Janda Malaysia

    Sutradara muda dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, Muhammad Heri Fadli, merilis film Jamal, yang menyoal problematika keluarga buruh migran. Jamal, akronim dari janda Malaysia, adalah sebutan untuk para istri yang ditinggal mati suaminya, buruh di Negeri Jiran. Ini adalah karya kedua Heri, yang sebelumnya sudah pernah menggarap film soal tenaga kerja Indonesia (TKI). Film berdurasi 14 menit itu diputar dalam Festival Film Lleida, Spanyol, awal Desember lalu. Dalam menggarap dua proyek itu, Heri melibatkan kru dan pemain yang sehari-hari terlibat proses pemberangkatan dan pengurusan TKI serta mereka yang tinggal di Dusun Aik Paek—salah satu kantong TKI di Lombok. Lewat filmnya, Heri tak hanya berbicara soal kemelaratan, tapi juga dampak psikologis bagi mereka yang ditinggalkan. Simak laporan Tempo dari Aik Paek, Lombok Tengah.

  • Jamal Adalah Cerita yang Saya Kenali dan Rasakan
    Selingan

    Jamal Adalah Cerita yang Saya Kenali dan Rasakan

    Muhammad Heri Fadli, 25 tahun, mulai mengenal produksi film saat kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Selepas kuliah, Heri pulang ke kampung halamannya di Lombok. Ia ingin membuat film seputar problematika tenaga kerja Indonesia di kampungnya. Setelah sukses menggarap dua film pendek, Sepiring Bersama dan Jamal, Heri bertekad membuat film panjang yang juga memotret nasib TKI.

  • Sang Manyar dalam Layar
    Selingan

    Sang Manyar dalam Layar

    KISAH hidup Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun difilmkan dalam bentuk dokumenter drama. Sebab, tak banyak footage tentang pastor kelahiran Ambarawa, Kabupaten Semarang, 1929, yang dikenal sebagai aktivis, arsitek, novelis, sekaligus kolumnis yang produktif tersebut. Selama sekitar 90 menit, film arahan Sergius Sutanto ini menggabungkan fragmen penting dalam kehidupan Romo Mangun, dari jejak arsitektur dan perlawanannya di Kali Code, Yogyakarta, hingga perjuangannya membela warga dalam pembangunan Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah, juga kilas balik keterlibatannya sebagai anggota Tentara Pelajar dan Tentara Keamanan Rakyat. Sejumlah peristiwa traumatis saat menjadi tentara disebut sebagai alasan Romo Mangun begitu gigih memperjuangkan kemanusiaan. Tempo melaporkan dari Yogyakarta.

  • Trauma Perang Menjadikan Romo Pembela Wong Cilik
    Selingan

    Trauma Perang Menjadikan Romo Pembela Wong Cilik

    Wawancara dengan sutradara film "Sang Manyar: Nyanyian Pinggir Kali", Sergius Sutanto, soal pilihan cerita dalam film soal rohaniawan Yusuf Bilyarta Mangunwijaya alias Romo Mangun.

  • Pala Tak Lagi Berjaya
    Selingan

    Pala Tak Lagi Berjaya

    Warga di Kepulauan Banda Naira masih mengelola perkebunan pala peninggalan perkenier VOC. Mereka tidak mengantongi hak kepemilikan lahan. Kondisi infrastruktur pun tertinggal, listrik menyala hanya empat jam tiap hari, dan mengandalkan tadahan air hujan untuk minum.

  • Perkenier Terakhir Banda Naira
    Selingan

    Perkenier Terakhir Banda Naira

    Pala, yang merupakan komoditas utama dari Kepulauan Banda Naira, sempat berjaya pada abad ke-16. Belanda, melalui VOC, bahkan memboyong 37 perkenier (pemilik kebun) dari Negeri Kincir Angin itu ke Banda untuk mengelola perkebunan demi memenuhi monopoli pasokan pala di pasar Eropa. Tersisa satu keturunan perkenier terbesar dari abad ke-16 di Banda Naira, Pongky Erwandi van den Broeke, yang kini hanya mengelola 12,5 hektare lahan. Ia menjadi korban kerusuhan 1999.

  • Kurusetra dengan Face Shield
    Selingan

    Kurusetra dengan Face Shield

    Setelah hampir setahun mengalami paceklik pentas, Institut Seni Indonesia Denpasar menggelar sendratari Lembayung Kuruksetra. Penari dan penabuh menggunakan face shield. Pentas ditayangkan secara daring oleh Konsulat Jenderal Indonesia di Mumbai, India, untuk penonton India.

  • Ketika Penari Kecak Bermasker
    Selingan

    Ketika Penari Kecak Bermasker

    Pembatasan sosial pada Maret 2020 memukul mundur dunia pariwisata Bali. Begitu pun atraksi tari tiarap dari gegap-gempita panggung pertunjukan. Karena sepi pentas, sejumlah sanggar terpaksa merumahkan para penarinya. Sebagian dari mereka bahkan sempat beralih profesi demi bertahan hidup. Adaptasi dengan keadaan pun menjadi jalan keluar. Perlahan mereka kembali berlatih dan tampil lagi, tentu dengan mengikuti protokol kesehatan. Perubahan ini tak hanya berpengaruh secara estetika, tapi juga berimbas pada koreografi tarian. Dalam tari kecak, misalnya, para penari mesti melatih napas demi bisa mengeluarkan bebunyian dari balik masker. Simak laporannya.

  • Satu atau Tujuh Pitung?
    Selingan

    Satu atau Tujuh Pitung?

    SELAMA lebih dari satu abad, riwayat jagoan Betawi, Si Pitung, telah diceritakan turun-temurun dan berkembang menjadi percampuran fakta dan mitos. Yang terbaru, Abdul Chaer menulis tentang ragam versi cerita Si Pitung dan menyangkal narasi yang paling lari dari kebenaran.

  • 12

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.