SEJARAH YANG BERULANG - Wawancara - majalah.tempo.co

Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

SEJARAH YANG BERULANG


Edisi : 14 April 2008
i

Konflik kembali melanda Partai Kebangkitan Bangsa. Ketua Umum Muhaimin Iskandar meng­alami nasib seperti pendahulunya, (almarhum) Matori Abdul Djalil dan Alwi Shihab, dicopot dari jabatannya oleh Ketua Dewan Syura Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, 26 Maret lalu. Muhaimin, yang notabene masih keponakan Gus Dur, dianggap akan menggulingkan sang paman. ”Saya sudah tak percaya lagi kepada­nya,” ujar Abdurrahman.

Sejarah berulang di partai berlambang bola dunia ini. Muhaimin tak menyerah begitu saja. Ia melawan dan balik memecat sejumlah orang yang dianggap berpengaruh buruk terhadap presiden ketiga itu, termasuk sepupunya sendiri, Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid. Uniknya, kedua kubu masih samasama berkantor di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, markas partai ini.

Perselisihan itu sesungguhnya merugikan partai yang didukung kalangan Nahdlatul Ulama ini. Apalagi menjelang Pemilu 2009. Mungkinkah terbuka pintu islah alias perdamaian di antara keduanya? Pekan lalu, tim Tempo menemui Abdurrahman Wahid di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Kramat Raya, Jakarta Pusat, dan Muhaimin Iskandar di rumah dinas di Jalan Denpasar Raya, Kuning­an, Jakarta Selatan. Keduanya memaparkan akar pe­nyebab konflik dan kemungkinan rekonsiliasi dalam tubuh partai itu. Berikut ini petikannya.



Abdurrahman Wahid:
Muhaimin Selalu Mendua

Anda sudah bertemu dengan Muhaimin Iskandar?

Iya, sudah.

Ke mana arah setelah pertemuan itu? Rekonsiliasi di Partai Kebangkitan Bangsa?

Ya, tergantung. Saya bilang kepada Muhaimin, ”Jangan percaya temanteman kamu itu. Mereka itu ingin mengadu domba kamu dengan saya.” Nursyahbani (Nursyahbani Katjasungkana, ketua tim pencari fakta internal Partai Kebangkit­an Bangsa) setelah itu juga datang. Saya bilang ke dia, ”Mbak, orang fact finding­ ­itu kedua belah pihak. Ja­ngan hanya ke temanteman­ Muhaimin. Itu salah. Temanteman saya di Dewan Syura bisa marah. Bisabisa nanti Mbak dipecat juga.”

Waktu bertemu dengan Muhaimin, apa yang dibicarakan?

Dia minta maaf ke saya, tapi saya tetap enggak percaya sama dia. Ini semua bermula dari Susilo Bambang Yudhoyono. Dia kan enggak mau saya jadi presi­den.

Anda menganggap Muhaimin condong ke Yudhoyono?

Oh, enggak. Muhaimin ini… apa namanya… dima­inkan lewat Yudhoyono dan Jusuf Kalla.

Benarkah ada laporan rencana makar Muhaimin mengganti Gus Dur?

Enggak tahu. Saya enggak peduli.

Laporan itu dari AlKhairat Sulawesi Tengah. Benarkah Habib Saggaf alJuffrie, pemimpinnya, teman Anda?

Oh, iya. Dia teman saya sewaktu di Mesir.

Tapi Muhaimin membantah? Habib Saggaf juga?

Ah, barangnya ada. Ini sudah tidak bisa ditunda lagi, mesti muktamar luar biasa.

Agendanya membahas pencopotan Muhaimin?

Ya, satu itu saja. Perbaik­an di dalam partai. Saya sudah bilang ke Muhaimin, ”Kamu ini jangan dengerin orangorang.” Eh, pulang ke rumah, dia malah bilang enggak boleh ada surat keluar tanpa tanda tangannya. Ya, sudah. Kita berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga saja. Cukup 60 persen­ cabang menginginkan itu, saya tidak bisa menentang. Itu hak mereka sesuai dengan anggaran dasar. Ada risiko yang sangat besar dan saya tidak mau Cak Imin dilempar keluar.

Apakah sebetulnya Anda masih sa­yang kepada Muhaimin?

Ya, enggak juga. Saya ter­gantung apa kata dewan­ pengurus pusat, dewan peng­urus wilayah, dan dewan pengurus cabang saja.

Bukankah Muhaimin dari dulu termasuk yang loyal kepada Anda?

Ah, loyal kepada dirinya sendiri, kok. Kan, ngomong doang. Saya enggak percaya karena dia selalu dua kata.

Maksudnya?

Lho, sikapnya mendua begitu. Saya bagi manusia Partai Kebangkitan Bangsa itu menjadi dua golongan. Yang satu, hanya ingat ambisinya sendiri. Yang kedua, kepentingan umum, termasuk ambisi pribadi. Selama ini, Muhaimin masuk yang pertama.

Banyakkah kader Partai Kebangkitan Bangsa yang masuk golongan pertama?

Ini semua warisan dari zaman Matori Abdul Djalil, Alwi Shihab, dan Saifullah Yusuf. Jadi saya terima, katakanlah, barang busuk. Perbaikannya berat.

Mendekati Pemilu 2009, apakah tak khawatir konflik ini berpengaruh terhadap perolehan suara partai?

Ya, kalau sudah dasarnya begitu, mau diapain?

Dari beberapa Ketua Partai Kebangkitan Bangsa yang bertentangan dengan Anda, apakah Muhaimin yang paling kuat melawan?

Ya, enggak juga. Saya besarkan dia. Saya kan senang anak muda. Di Partai Kebangkitan Bangsa enggak ada orangorang tua. Tapi ya begitu itu.

Muhaimin bersumpah tidak mungkin ingin menjatuhkan Anda.

Kenyataannya ya…. Tapi saya enggak percaya. Karena omongan enggak cocok dengan tindakan.

Sejak kapan mulai tidak percaya?

Empat tahun lalu. Saya biarkan dia jadi ketua umum. Saya pikir dia bisa diperbaiki. Ternyata enggak juga. Ya, sudah.

Empat tahun lalu itu kesalahannya apa?

Karena dia enggak bisa dipegang katakatanya. Saya kan lebih tahu dia daripada Anda.

Jadi, selama empat tahun Anda bersabar, yang kemarin itu tidak bisa dimaafkan lagi?

Ya, saya dari awal tetap enggak percaya sama dia. Ka­lau kemarin itu soalsoal lain. Yang minta Muhaimin me­­ngundurkan diri itu bukan saya. Itu pemungutan ­su­­ara. Ada semua rekamannya.

Anda tidak cocok dengan Muhaimin sejak Lukman Edy diangkat menjadi Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal?

Saya enggak ada urusan. Ya, bohongnya itu. Kata­nya, saya sudah menunjuk dia sebagai menteri, padahal tidak.

Muhaimin menyalahkan be­berapa orang yang mem­bisiki Anda, termasuk Yenny (putri kedua Abdurrahman Wahid).

Itu omongan Muhaimin. Kalau Anda percaya, ya, terserah. Bukan urusan saya. Omongan pembohong dipercaya, ya, bukan urusan saya. Saya itu keras kepada Yenny, jangan sangka….

Ada juga disebut orangorang baru di Partai Kebangkitan Bangsa yang berpengaruh buruk, seperti Moeslim Abdurrahman dan Hermawi Taslim?

Kalau saya meminta­ Herma­wi Taslim untuk pegang wilayah itu, saya yakin­ bahwa dia benar. Dia dari Nias, orang Katolik. Juga Aris Junaedi. Aris itu sama saya sudah 26 tahun, lebih lama dari yang lain. Makanya saya bilang ke Nursyahbani, harusnya menanyai kedua belah pihak. Hanya ke Muhaimin, itu kan enggak benar.

Hermawi memimpin be­be­rapa dewan pengurus wilayah itu atas persetujuan Anda?

Saya yang mengangkat. Selesai. Dia itu caretaker­ Lampung, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah.

Apakah enggak ada kader lain?

Bukan begitu. Itu karena dia jujur. Tadi sudah saya tanda tangani, diserahkan kepada yang bersangkutan, dia juga menjadi caretaker Sumatera Utara.

Moeslim merangkap beberapa posisi strategis di partai juga atas persetujuan Anda?

Memang saya yang menyu­ruh.

Bagaimana dengan Sigit (Haryo Wibisono)?

Ah, enggak ada. Itu mere­ka besarbesarkan. Sigit sudah kami keluarkan dari dewan pengurus pusat partai. Kami sudah membuat surat untuk Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi Mattalata. Sigit sudah tidak di partai. Dia minta berhenti, ya sudah, saya berhentikan. Dia masuk lewat Habib Lutfi, Pekalongan, anak buah dia di Golkar Jawa Tengah.

Anda sudah menyiapkan kader untuk menggantikan yang dipecat?

Sudah ada. Nanti posisi ketua umum akan diganti. Sesama temannya juga, orang Banyumas.

Bukan Ali Masykur Musa?

Enggak, Ali Masykur ini sekarang yang menandatangani semua surat.

Anda dan Muhaimin masih samasama berkantor di Kalibata (kantor pusat Partai Kebangkitan Bangsa)?

Ya, biar saja. Enggak apaapa.

Apakah Anda optimistis, pada Pemilu 2009, Partai Kebangkitan Bangsa akan tetap memperoleh banyak kursi?

Sudahlah, menang, menang. Di Partai Kebangkitan Bangsa itu jangan lihat pengurusnya. Lihatlah pada kiai kampung. Kiai kampung itu siapa… mere­ka yang menyiapkan sekolah, pesantren, pengajian, iniitu, dan enggak pernah minta tempat. Kalau diberi tempat, mereka enggak mau. Kiai kampung ini sepenuhnya di belakang saya.

Muhaimin pun me­ngum­pul­kan para kiai.

Halah, orang dipakaikan sorban dibilang kiai. Padahal bukan.

Ada Gus Mus (Mustofa Bisri) segala?

Enggak ada. Gus Mus itu ngomongnya sebaiknya jangan ribut dulu. Itu dibilang memihak Muhaimin.

Anda tak bersedia berdamai meski Muhaimin minta maaf?

Dia mau minta maaf atau tidak, bukan urusan saya. Yang penting itu justru bagaimana caranya anggota dewan pengurus pusat tidak minta dia diberhentikan. Mereka semua jengkel. Temantemannya sendiri yang bilang begitu kepada saya.

Muhaimin tetap tidak bisa direhabilitasi?

Oh, enggak bisa. Kalau kayak begitu, saya enggak berani. Itu harus keputus­an rapat dewan pengurus pusat, gabungan TanfidzSyura, diambil dengan pemungutan suara. Saya mau bilang apa?

Kirakira akan ke mana akhirnya konflik ini?

Tidak tahu saya. Pokoknya sekarang cooling down period sampai 29 April (penunjukan penjabat sementara atau pelaksana tugas harian Ketua Partai Kebangkitan Bangsa yang bertugas menyelenggarakan muktamar luar biasa).

Jadi pintu islah sudah tertutup?

Islah apa? Dari dulu saya tidak pernah janji apaapa. Pokoknya, saya tidak percaya, titik. Semua sudah banyak yang menuntut (Muhaimin mundur). Kebiasaan dia bersikap ganda itu yang bikin orang enggak percaya.

Abdurrahman Wahid

Tempat dan tanggal lahir: Denanyar, Jombang, Jawa Timur, 4 Agustus 1940
Pendidikan :

  • Pesantren Tambak Beras, Jombang (19591963)
  • Departemen Studi Islam dan Arab Tingkat Tinggi Universitas AlAzhar, Kairo, Mesir (19641966)
  • Fakultas Sastra Universitas Bagdad (19661970)

Karier :

  • Ketua Nahdlatul Ulama (19841999)
  • Ketua Konferensi Agama dan Perdamaian Sedunia (1994)
  • Presiden Republik Indonesia (19992001)
  • Ketua Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (1999sekarang).

Muhaimin Iskandar:
Saya Akan Bertahan Sampai 2010

Apa ihwal pencopotan­ Anda sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa?­

Bermula dari rapat 26 Maret. Pagi hari sebelum rapat, saya mendapat kabar bahwa Yenny (Zannuba Arif­fah Chafsoh, putri kedua Abdurrahman Wahid­ dan Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa)­ melapor ke Gus Dur bahwa saya mengga­lang kekuat­an untuk mengganti Gus Dur dengan Hasyim Muzadi. Pukul satu siang, saya langsung mendatangi Gus Dur di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Saya jelaskan, tidak ada alasan dan tidak ada bukti saya mau mengganti Gus Dur dengan Hasyim Muzadi. Gus Dur bilang, ya sudah, nanti tergantung rapat malam harinya. Tidak ada hujan, tidak ada angin,­ tibatiba rapat diarahkan untuk vo­ting. Ada tiga pilih­an: menolak muktamar luar biasa, menerima, dan saya mengun­durkan diri.

Apa sebabnya Anda diminta mengundurkan diri?

Alasannya sama sekali tidak berdasar dan tidak se­suai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai, karena tidak ada satu pelanggaran pun yang saya lakukan. Kalaupun saya melanggar, yang bisa memecat saya harus mukta­mar luar biasa. Hierarki rapat di Partai Kebangkit­an Bangsa itu kongres atau muktamar, musyawarah pimpinan nasional, rapat pleno, rapat gabungan, baru di bawahnya ada rapat Syu­ra dan rapat Tanfidz. Peme­catan saya itu lewat rapat gabungan Syura dan Tanfidz. Dari sisi ini saja sudah lemah. Dalam anggaran partai bisa dibaca bahwa SyuraTanfidz itu seperti Dewan Perwakilan Rakyat­ dan presiden, legislatifeksekutif. Presiden tidak bisa membubarkan Dewan, dan Dewan tidak bisa meme­cat presiden.

Benarkah Anda menggalang kekuatan untuk mengganti Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa?

Dalam rapat dibacakan surat dari Pengurus Besar AlKhairat Sulawesi Te­ngah seolaholah Muhaimin dengan beberapa dewan pengurus wilayah Indonesia timur menggalang kekuat­an untuk membuat mukta­mar luar biasa. Setelah kami lacak, ternyata surat itu palsu dan pemalsuan itu sudah kami laporkan ke kepolisian Sulawesi Tengah. Pengurus Besar AlKhairat juga membantah telah membuat surat itu.

Bagaimana dengan tuduhan bahwa Anda lebih condong ke kubu Yudhoyono?

Kalau tuduhannya saya memiliki motif atau ambisi politik yang lain, saya kira mekanismenya ada di partai dan semua sudah sepa­kat (mengusung Gus Dur seba­gai calon presiden 2009). Memang, dalam suatu rapat pleno, mendadak saya dita­nyai soal pencalonan menjadi wakil presiden. Saya juga dikatakan sudah punya tim sukses, hahaha…. Ini isu paling aneh sedunia.

Apa yang menyebabkan Gus Dur meminta Anda mundur? Apakah ada yang memecahbelah?

Semua tahu itu terjadi. Tim pencari fakta partai yang diketuai Nursyahbani Katjasungkana sudah menelaah masalah satu per satu. Hasilnya, memang ada pengadudombaan dan ambisi pribadi berlebihan yang memanfaatkan Gus Dur. Misalnya dibacakan surat palsu seolaholah dari Peng­­urus Besar AlKhairat di forum rapat.

Apa yang akan Anda lakukan terhadap para pembisik Gus Dur ini?

Kemarin (pekan lalu), musyawarah pismpinan memutuskan untuk membe­r­hentikan Yenny, Sigit Haryo Wibisono, Moeslim Abdurrahman (Ketua Dewan Tanfidz DKI Jakarta), dan Artalyta Suryani (bendahara). Tapi Artalyta karena kasus lain.

Anda sudah lama terlibat konflik dengan Gus Dur?

Saya dengan Gus Dur tidak pernah ada masalah. Hanya orangorang ini yang menggosok terus. Termasuk membuat surat palsu segala macam itu.

Naiknya Lukman Edy sebagai Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tampaknya membuat Gus Dur kecewa….

Sudah saya jelaskan di rapat pleno tempo hari. Lukman Edy juga telah menyatakan mundur dari se­kretaris jenderal. Gus Dur yang memimpin rapat peng­adilan saya itu. Rapat menjelaskan bagaimana terjadinya pengangkatan Lukman Edy. Kesimpulan semua, itu hak prerogatif presiden. Kenapa diungkitungkit lagi?

Kalau melihat pernyataan Gus Dur, Anda seolaholah sudah melakukan kesalahan berkalikali….

Itu bukan pernyataan Gus Dur. Siapa yang membuat? Saya sendiri tidak tahu.

Bagaimana hubungan Anda dengan Yenny?

Yenny yang selalu membuat upaya terusmenerus agar saya diganti.

Apakah ada rencana berdialog dengan Yenny?

Enggak perlu.

Mengapa?

Masalahnya sudah begini, dialog apa lagi? Silakan saja kalau mau berdebat soal penafsiran anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Ayo, kita buktikan siapa yang melanggar anggaran partai.

Sudah bertemu dengan Gus Dur?

Saya sudah bertemu sekali. Sifatnya silaturahmi. Beliau masih menganggap saya mengundurkan diri. Ya, sudah. Kita renungkanlah dulu samasama.

Berkaca pada kasus Alwi Shihab dan Matori Abdul Djalil, mereka akhirnya benarbenar disingkirkan sebagai ketua umum partai, apakah Anda bisa selamat?

Kalau saya hanya memi­kirkan urusan saya pribadi, saya nyerah, dalam arti saya akan mengundurkan diri. Untuk apa? Tapi saya diberi mandat oleh banyak kiai dan cabang. Ini bukan urusan pribadi. Ada yang harus dikoreksi. Ada yang salah. Ada yang mismana­gement. Kalau saya mundur, itu berarti saya melegalkan kengawuran yang dilakukan oleh orangorang yang mengatasnamakan dan berlindung di balik Gus Dur. Termasuk Moeslim dan Yenny. Kalau saya diamkan, rusak partai ini.

Bila akhirnya tersingkir, Anda berniat bikin partai baru?

Kayaknya enggak. Kiai dan dukun saya bilang, saya akan menjadi ketua umum sampai 2010. Tidak terpikir sebersit pun untuk membuat partai. Saya tidak akan pernah melawan Gus Dur. Tapi akan saya bersih­kan partai ini dari semua pihak yang mengganggu.

A . Muhaimin Iskandar
Tempat dan tanggal lahir: Jombang, Jawa Timur, 24 September 1966
Pendidikan:

  • Sarjana (S1) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (1991)
  • Pascasarjana (S2) Jurusan Komunikasi Publik Universitas Indonesia

Karier:

  • Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (1994)
  • Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan menjadi Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (1999)
  • Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (20042009)
  • Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (20052010)
2020-04-05 12:09:20


Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.