Hasyim 'Gus Im' Wahid: "Gus Dur Tidak Meminta Saya Duduk di BPPN" - Wawancara - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Wawancara 1/1

Selanjutnya
text

Hasyim 'Gus Im' Wahid: "Gus Dur Tidak Meminta Saya Duduk di BPPN"

i
RUANG Rapat Redaksi TEMPO, yang sempit, penuh gelak tawa pada Kamis siang pekan lalu. Tawa itu pecah menyusul banyolan yang dilontarkan seorang tamu bernama Hasyim Wahid, konsultan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), yang kerap menghadapi debitor bandel. ''Kalau saya menjadi pengusaha dan harus membayar utang Rp 50 miliar, bisa jadi saya akan memilih cara lebih murah: menyewa preman untuk mengedor atau mencelurit si penagih utang dengan ongkos Rp 5 miliar saja…," ujarnya.

Dalam urusan memancing gelak tawa, Hasyim Wahid—populer dengan sebutan Gus Im—memang belum selincah abangnya, Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi, dalam hal menggiring para debitor nakal ke BPPN, Gus Dur boleh jadi tak mampu menandingi kelihaian adik bungsunya ini. Sejak diangkat menjadi konsultan BPPN, Desember silam, Gus Im mampu menarik nama-nama yang sulit ke BPPN sembari menenteng data perusahaan mereka, di antaranya Tommy Winata, Bambang Trihatmodjo, dan Tommy Soeharto. ''Mungkin karena saya sudah lama kenal mereka, sejak 1980-an," ujarnya memberikan alasan.

Namun, kehadiran Hasyim Wahid di lembaga itu memancing pertanyaan orang. Bahkan, ada yang menuding Presiden yang mendudukkan dia di BPPN. Ada lagi tudingan lebih seram. Ia disebut sebagai tokoh ''kabinet malam" yang menghubungkan para pengusaha dengan istana dengan sejumlah imbalan.

Ayah tiga anak ini tadinya memang bukan sosok populer. Ia bukan kiai ternama, bukan pengusaha gede, apalagi tokoh politik. Namanya tidak tercantum di lingkaran elite birokrasi. Dalam keluarga, ia juga menyempal dari tradisi keluarga Wahid: masuk pesantren dan menjadi kiai. ''Saya ini semacam preman. Dan, yang jelas, lebih sinting dari Gus Dur," ujarnya sembari tergelak.

Cara Hasyim Wahid menanggapi kabar miring, menangani debitor nakal, atau bereaksi terhadap pemberitaan kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN) di seputar Gus Dur mencerminkan pengalaman bergaul yang luas dalam banyak kalangan, dari dunia ''bawah tanah" hingga pengusaha bonafide dan kaum birokrat. Ia bisa menendang meja dan meneriakkan kata-kata kasar, tapi bisa juga bertanya dengan dingin mengapa ia dijuluki tokoh ''kabinet malam" dan dicurigai menerima transfer miliaran rupiah dari Yayasan Bulog.

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini lahir 47 tahun lalu di Jakarta. Pendidikan tinggi ia jalani sepotong-sepotong: setengah semester di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, satu semester di Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. ''Aku iki uwonge bosenan, tur gak betah sekolah (saya ini gampang bosan, makanya malas sekolah)," ujarnya dalam aksen Jawa Timuran yang kental. Keluar dari universitas, ia sempat aktif di organisasi, sebelum mulai mencoba bisnis perakitan senjata.

Pria berambut keriting ini dikenal dekat dengan kalangan aktivis mahasiswa. Alhasil, di zaman Soeharto berkuasa, ia kerap diuber aparat intelijen. ''Saya punya naluri survival yang agak lebih tinggi di atas rata-rata," ujarnya. Rumor menyebutkan, ia punya semacam ''kesaktian" sehingga sulit ditemukan. Tapi, kata Gus Im, ''Itu karena aku sering diuber sehingga jadi hafal kerja intel-intel itu," katanya sembari tertawa lebar.

Hasyim Wahid memang mudah tertawa—dan mudah pula naik darah, seperti yang dituturkan orang-orang dekatnya. Dalam bicara, sikapnya blakblakan, mirip Gus Dur. Bahkan, penampilannya pun mirip abangnya—tentu saja sebelum Gus Dur menjadi presiden. Dalam pertemuan di TEMPO, pekan lalu, misalnya, ia mengenakan baju batik yang agak kesempitan dengan warna yang mulai pudar, dipadu celana cokelat. Tangannya memegang segulungan kertas yang dicorat-coretnya dengan bolpoin murah.

Di kantor majalah ini pula wartawan TEMPO dan fotografer Rully Kesuma melanjutkan wawancara khusus ini. Wawancara pertama dilakukan dua pekan lalu di rumah kontrakannya, di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Petikannya:


Apakah Gus Dur yang menempatkan Anda di BPPN?

Gus Dur tidak meminta saya duduk di BPPN. Saya punya hubungan baik dengan Glenn Yusuf (Ketua BPPN sebelum Cacuk). Bahkan, saya masuk lebih dulu daripada Cacuk.

Sejak Anda hadir di BPPN, debitor macam Tommy Soeharto, Bambang Trihatmodjo, dan Tommy Winata mau datang ke BPPN untuk bernegosiasi. Bagaimana mendatangkan mereka?

Istilah bisnisnya trade-off (timbal balik). Saya datangi mereka. Saya sudah kenal mereka cukup lama, sejak awal 1980-an, ketika saya masih berdagang. Dulu mereka ogah-ogahan ke BPPN. Sekarang mereka mau datang, membawa data atau angka-angka. Ini sebuah kemajuan.

Anda berbisnis apa pada awal 1980-an?

Kecil-kecilan. Saingan saya pengusaha besar-besar: Tommy Soeharto, Grup Salim. Saya sering kalah. Tepatnya, disuruh mengalah dan diberi kompensasi uang. Tapi itu saya tolak. Ini sudah menyangkut harga diri. Barangkali itu yang membuat mereka masih respek kepada saya hingga sekarang.

Kok, bisa ''menyempal" begitu? Semua keluarga menjadi kiai, eh, Anda berdagang.

Sebetulnya saya bukan pengusaha. Saya memang nyeleneh sendiri dibandingkan dengan yang lain. Kakek, bapak, kakak saya, semuanya kiai. Nah, saya ini preman.

Setelah lima bulan di BPPN, apa penilaian Anda terhadap kinerja lembaga itu?

Kalau saya boleh menilai, ada satu konsep kurang pas, yakni konsep one obligor (membebankan sejumlah utang dari perusahaan berbeda pada satu orang saja). Ini serba repot. Semua utang ditaruh di satu piring gede, tapi tidak bisa kita sisihkan karena legal. Sejak dipegang Cacuk, ini sudah mulai kita pisahkan.

Apa akibatnya bila konsep ini diteruskan?

Saya mungkin agak menuduh. Tapi, dengan konsep ini, jelas tak ada yang bisa menyelesaikan utang-utangnya. Perdebatan ini terus mengemuka di BPPN. Yang penting, kita menginginkan apa dulu: jadi busuk semua atau perusahaan sehat harus dipisahkan.

Jadi, kebijakan one obligor sudah dicabut?

Kita enggak ngomong begitu. Tapi jalankan saja karena kita tidak ingin ada konflik internal berkepanjangan. Yang penting hasilnya: restrukturisasi jauh lebih cepat, berani mengambil keputusan, dan tidak ada konflik kepentingan.

Ada pendapat, Cacuk suka ''jalan sendiri". Apa komentar Anda?

Melihatnya jangan sepihak, dong. Kalaupun dia melakukannya, itu demi kepentingan anggaran (BPPN).

Sejumlah pengusaha menilai Anda sebagai pintu masuk ke Istana Negara. Berapa orang yang sudah minta tolong?

Soal itu saya kembalikan ke posisi saya serta aturan yang ditetapkan BPPN. Bila yang datang itu dari segmen perusahaan yang tidak prospektif dan tidak kooperatif, saya tolak.

Kelompok mana yang paling banyak mendekati Anda?

Perusahaan yang tidak prospektif, tapi orangnya kooperatif. Saking kooperatifnya, mereka mau memberi duit. Tapi mau bagaimana lagi? Wong, mau direstrukturisasi macam apa pun sudah tidak prospektif.

Kenapa perusahaan seperti Texmaco, yang punya kredit macet sekitar Rp 9 triliun, masih bisa mendapat pinjaman?

Texmaco memang perusahaan yang prospektif, meski mula-mula orangnya tidak kooperatif. Terus mau diapakan? Mau dimatiin? Tentang pinjaman, itu bukan untuk restrukturisasi, melainkan untuk modal kerja dan impor bahan baku.

Siapa saja pengusaha yang Anda bantu negosiasinya?

Banyak. Tommy Soeharto, Prajogo Pangestu, Sjamsul Nursalim, Anthony Salim. Tapi kami lihat-lihat. Perusahaan yang sudah tidak prospektif biar dipailitkan saja. Susahnya, mereka bisa mengeluarkan sedikit uang untuk pengadilan. Dan… bebaslah mereka dari tuntutan pailit.

Anda kok seperti mengeman-eman debitor yang sudah banyak merugikan negara?

Begini. Saya ingin bilang, apakah urusan tambak yang menyangkut 7.000 kepala keluarga di Lampung akan selesai dengan mudah bila Sjamsul Nursalim masuk bui? Kalau Anda berani memberikan jaminan, oke, saya berani menggiringnya (ke bui). Kalau tidak, bagaimana? Mau tak mau kita harus mempercayainya agar dapat mengembalikan utang-utang itu.

Dengan cara seperti yang pernah Anda katakan: memelintir tangan?

Lo, itu harus Anda pahami sebagai idiom. Dalam idiom berbahasa Inggris, kalau dikatakan memelintir tangan, itu maksudnya dengan cara halus. Jadi, kita sudah mencoba mencari alternatifnya dari A sampai Z. Akhirnya, tinggal beberapa pilihan. Nah, solusi itu yang ditempuh.

Sebetulnya, siapa saja pengusaha yang boleh menemui Anda?

Saya tidak pernah menyaring. Selama mereka masuk kategori BPPN, silakan. Saya juga tidak pernah merekomendasi pengusaha datang ke Istana Negara. Mungkin ada yang mencatut nama saya untuk menakut-nakuti pengawal. Saya tak ambil pusing.

Bagaimana kalau lembaga gijzeling (lembaga penahanan) diterapkan untuk menjerat debitor yang bandel?

Masalahnya begini. Kalau saya harus membayar utang Rp 50 miliar dan bangkrut, mungkin saya berpikir lebih baik mengeluarkan Rp 5 miliar, menyewa preman, untuk mengedor atau mencelurit si penagih utang. Selesai urusan! Lebih murah. Makanya, saya minta agar identifikasi teman-teman di Forensik BPPN dirahasiakan. Kita harus memikirkan keluarga dan anak-anaknya.

Mengapa begitu?

Sebab, misalnya saya yang menjadi pengusaha, bisa jadi saya melakukan hal serupa. Debitor yang nakal mestinya dibui saja. Kalau perlu, ditembak satu kakinya biar duitnya keluar. Sedangkan bila duit keluar, kan, negara sudah tak butuh lagi sama Dana Moneter Internasional (IMF). Kita mau bikin apa, kek, negara sudah punya duit.

Pernah diancam karena ide-ide ini?

Banyak sekali. Tapi saya cuek saja. Sejauh ini sih belum ada ancaman fisik.

Anda diisukan menerima uang suap Badan Urusan Logistik (Bulog). Posisi Anda di BPPN juga dipertanyakan. Mengapa?

Maaf saja. Ini seperti bukti tidak langsung (circumstantial evidence), tapi kok serempak.

Maksud Anda?

Itu pelecehan sistematis kepada pemerintahan Gus Dur. Selama ini, Gus Dur diakui mampu meredam tekanan internal di berbagai daerah, menjaga integritas teritorial, dan mendorong demiliterisasi politik. Kalau masalah ekonomi pun bisa dia bereskan, orang sudah tak punya alasan untuk mempertanyakan legitimasi Gus Dur.

Memangnya kinerja Gus Dur sudah pantas untuk tidak dipertanyakan?

Saya kira cukup baik. Kita mesti melihat Gus Dur sebagai seorang edukator. Watak dia memang pas sebagai edukator.

Bagaimana dengan langkah-langkahnya yang kontroversial? Misalnya mencopot Laksamana Sukardi dan Jusuf Kalla karena dianggap tak bisa serasi dengan Kwik Kian Gie?

Saya tidak tahu, Menurut saya, semestinya tidak usah diganti karena ini kan hasil sebuah koalisi. Kalau diganti, ya rame. Akhirnya, kayak lagu Chrisye itu: Aku Masih Anak Sekolah. Semuanya tendang-tendangan kaleng di pinggir jalan persis anak SMU lagi tawuran.

Apa yang mau Anda katakan?

Pemerintahan ini punya legitimasi politik dan sosial. Tapi, kalau dia tidak mampu memperbaiki ekonomi, percuma saja legitimasi itu.

Apakah kondisi ini membuat lawan-lawan Gus Dur lebih mudah menggoyangnya lewat sidang istimewa?

Saya tidak tahu segi yuridisnya. Terlalu banyak yang berkepentingan terhadap Gus Dur. Tapi, saya yakin, masih banyak yang menyayangkan kalau Gus Dur diganti. Di kalangan tentara saja, ada yang bilang, masih mendingan Gus Dur daripada orang lain.

Dukungan itu boleh jadi masih besar. Tapi, lama-lama, orang jengkel melihat cara dia menentukan kebijakan. Bukankah itu merugikan Presiden sendiri?

Ada satu hal yang harus diperhitungkan dari Gus Dur, yakni keisengannya ngerjain orang. Dari sono-nya, dia itu sudah jahil. Orang Jawa bilang gawan bayi (bawaan orok). Saya kira agak berat sebelah bila kita hanya melihat sisi yang itu. Orang mestinya menghitung juga apa yang akan terjadi tanpa Gus Dur.

Tentang NU, mengapa pengusaha semacam Kim Yohanes, yang kerjanya selalu mencari rente dari penguasa, malah dirangkul? K.H. Noer Iskandar dan Ketua GP Ansor Syaifullah Yusuf, misalnya, mau diajak bekerja sama oleh Kim.

Tidak semua orang di lingkungan Gus Dur itu malaikat. Itu saja yang bisa saya katakan. Jadi, kita harus saling cek dan recheck karena kami juga sangat berkepentingan. Sebab, ini bukan hanya ngegatelin di dalam negeri, tapi juga luar negeri. Orang yang serius mau berinvestasi dari luar bisa malas melihat mereka. Orang-orang seperti Kim itu harus dihentikan. Sudah saya katakan itu ke Pengurus Besar NU.

Sejauh mana konsolidasi NU untuk mencegah masuknya orang yang tidak diinginkan seperti itu?

Pemberitaan yang ramai (tentang NU) sekarang punya sisi positif dan negatif. Memang ada yang belum kita selesaikan di dalam NU sendiri. Tapi, dengan cobaan (pemberitaan) ini, NU justru bisa bergandengan tangan lebih erat.

Omong-omong, sejak Gus Dur menjadi presiden, kantor PBNU, yang dulu sepi, ramai dikunjungi pengusaha. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Sebenarnya kita punya kejengkelan yang sama. Bedanya, Anda baru pada taraf bertanya, sedangkan saya sudah sampai ke tingkat jengkel.

Mengapa harus jengkel?

Sebab, kalau kita mau mengembangkan keterkaitan birokrasi, akademisi, dan praktisi bisnis, mestinya dengan kualitas bukan seperti yang sekarang. Jangan tanggung-tanggung.

Seperti apa, misalnya?

Kita lihat George Schultz, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat. Sebelumnya, dia adalah presiden direktur perusahaan konstruksi paling besar di dunia. Pensiun sebagai menteri luar negeri, ia memimpin sebuah badan kajian. Toh, dia santai saja. Naik-turun pangkat tak membuatnya canggung. Contoh lain: Bill Casey.

Bill Casey yang mantan Direktur Badan Intelijen Amerika (CIA)?

Ya. Dari guru besar hukum pasar modal, ia menjadi Direktur CIA. Setelah itu, dia menjadi investment banker dan tidak kagok. Jadi, kalau memang mau, yang sekalian seperti itu kelasnya. Pengusahanya pun dicari yang punya kualifikasi. Kita akan mencoba hal ini. Kalau orang lain bisa, mengapa kita tidak?

Kembali ke soal NU, apa yang menjadi pusat perhatian angkatan muda NU sekarang?

Dulu, konsentrasi mereka ada di politik praktis. Tapi, ini belum habis, lapis yang lebih muda sudah tertarik pada masalah sosial budaya. Jadi, masih sangat cair, belum bisa dilihat hasilnya. Saya khawatir, nanti-nanti, keadaan kaum muda NU justru bisa berbalik.

Berbalik bagaimana?

Seperti keluhan beberapa teman. Misalnya menjadi rent seeker (pencari rente) dan bukan pengusaha beneran. Ini kan berbeda dengan kaum santri di awal-awal abad. Mereka benar-benar membangun entrepreneurship (kewiraswastaan) dan jaringan ekonomi alternatif karena dimusuhi jaringan ekonomi penguasa. Saya ngeri kalau tak lahir lagi santri dengan semangat seperti itu.

Lantas, bagaimana Anda melihat anggota Banser (Barisan Ansor Serba Guna, organisasi kepemudaan di bawah payung NU) yang menduduki Jawa Pos pekan lalu?

Saya khawatir yang menggerakkan mereka adalah orang-orang yang merasa tersudut. Lepas dari apakah tuduhan itu benar atau tidak, mestinya mereka tidak usah begitu. Kasusnya jadi kelewat gede dan malah berkepanjangan sampai hari ini.

Ada pula anggota Banser yang menjadi kepala keamanan di kawasan malam Jakarta Utara. Kendati hal ini menyangkut urusan ekonomi, apakah Anda bisa membenarkannya?

Tidak bisa dibenarkan. Memang, ada sejumlah anggota Banser NU yang bukan beragama Islam. Gejala ini baru terjadi tak lama sehabis Pemilu 1999 lalu. Di situ, saya kira ada kerancuan antara anggota Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan NU. Banyak anggota PKB yang non-Islam. Terus, mereka menganggap Banser bagian dari PKB. Tapi kan susah kalau mau ngasih tahu hal begini.

Tapi bukankah tetap harus dilakukan demi menjaga citra NU?

Saya tidak membantah hal itu. Tapi, kalau boleh meminjam istilah Gus Dur, NU itu kan kayak masjid. Ada yang datang karena betul-betul ingin menghadap Allah, ada yang mau minta ampun sama Tuhan, dan ada yang mau mencuri sandal.

Sampai sekarang, bagaimana sokongan NU terhadap kepemimpinan Gus Dur?

Saya belum bisa berkomentar. Masih ada realignment yang belum selesai. Daripada nanti salah persepsi, lebih baik saya tidak memberikan komentar.

Menurut Anda, apakah Gus Dur akan bertahan hingga lima tahun mendatang?

Tentu saja ada yang ingin mencoba menggoyangnya. Dan tak ada salahnya orang mencoba. Cuma, yang selalu saya katakan kepada oposisi Gus Dur adalah, ''Lupain, deh. Lu kagak bakal menang ama abang gue." Saya juga mengajak mereka bercanda. Saya tunjukkan boneka timah yang bisa bergerak ke depan dan belakang. Lalu, saya katakan, Gus Dur itu seperti boneka itu, bisa bergerak-gerak tapi tidak bakalan jatuh.

Kok, bisa seoptimistis itu?

Karena terlalu banyak orang yang punya kepentingan dengan Gus Dur. Susah untuk membangun satu front yang cukup kuat untuk menjatuhkan dia. Dan jelas, Gus Dur sudah melakukan konsolidasi kekuatannya. Itu ciri khas kekuasaan. Cuma, kalau saya menjadi Gus Dur, saya sudah bekerja lebih jauh dari sekarang.

Misalnya?

Contoh paling sederhana dalam dunia bisnis. Kalau saya yang berkuasa, orang-orang seperti Kim Yohanes jangan sampai dipelihara. Mungkin karena Gus Dur tidak begitu menaruh perhatian terhadap masalah bisnis, dia tidak tahu.

Wah, tampaknya, Anda banyak memberikan sumbangsih terhadap kekuasaan Gus Dur?

Tidak ada itu sumbangsih saya. Kekuasaan dalam Jawa tidak mengenal pembagian kekuasaan. Pemegang kekuasaan tetap satu. Lagi pula, saya tidak suka ikut-ikut campur.

Benarkah Gus Dur amat mempercayai mistik dan menyandarkan kekuasaannya juga pada ''pertanda mistik"?

Tidak. Gus Dur orang yang sangat rasional. Dengan rasionalitasnya, dia menisbahkan diri pada hal-hal yang dekat dengan dunia mistik. Dia suka sekali bila disangka seperti itu. Dari dulu, rasionalitasnya terbungkus oleh perilaku yang irasional. Salahnya, kenapa masyarakat mau percaya?

Sedikit soal pribadi, bagaimana posisi Anda di tengah keluarga besar?

Saya ini nyempal-nya paling jauh dari keluarga. Yang jelas, lebih sinting dari Gus Dur. Di antara saudara-saudara, hanya saya yang tidak mengenal pendidikan pesantren. Kebetulan, saya lahir di Jakarta. Dulu saya tinggal di Menteng, Jakarta Pusat.

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-08-13 03:48:15


Wawancara 1/1

Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB