FinCEN Files Ungkap Kejanggalan Pembelian Sukhoi oleh Indonesia - - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co
text

FinCEN Files Ungkap Kejanggalan Pembelian Sukhoi oleh Indonesia

Sejumlah nama pengusaha Indonesia muncul dalam dokumen FinCEN Files, sebutan untuk bocoran data Financial Crimes Enforcement Network, lembaga intelijen keuangan Amerika Serikat. Salah seorangnya adalah Sujito Ng yang disebut dalam dugaan transfer dana pembelian jet tempur Sukhoi oleh pemerintah Indonesia pada 2011-2013.

Liputan ini adalah hasil kolaborasi Tempo bersama 110 media dari 88 negara, yang dikoordinasikan oleh International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) dan Buzzfeed News.

 

11 Oktober 2020


NAMA pengusaha Sujito Ng disebut sebanyak 26 kali dalam bocoran laporan Financial Crimes Enforcement Network atau FinCEN. Lembaga Intelijen keuangan Amerika Serikat ini, mendeteksi lalu lintas transfer dana puluhan miliar rupiah yang melibatkan Sujito dengan Rosoboronexport, perusahaan alat pertahanan milik pemerintah Rusia sepanjang 2011-2013.

Transfer fulus dari Rosoboronexport  ke Sujito merupakan bagian dari 2.100 dokumen laporan keuangan mencurigakan yang dikirim perbankan Amerika Serikat pada FinCEN. Buzzfeed News yang membagikannya ke ICIJ memperoleh salinan dokumen itu namun menolak membuka identitas sumber dokumennya.

Bocoran data yang dilihat Tempo menerangkan Rosoboron mengirim dana ke Sujito setidaknya lewat dua bank asal Amerika Serikat, yakni JP Morgan Chase dan Bank of New York Mellon. Mula-mula Rosoboron mentransfer sekitar US$ 52 ribu, kini senilai Rp 765 juta ke Sujito pada 28 Oktober 2011. Sebelum masuk ke rekening Sujito di Bank Mandiri cabang Singapura, duit itu diputar dahulu ke JSCB International Financial Club di Moskow Rusia sebelum sampai ke JP Morgan Chase Bank di New York, Amerika.


Transaksi ini dinilai janggal karena rekening bank Sujito di Singapura itu ternyata dikendalikan oleh entitas lain yang berbasis di Swiss. Selain itu,  Rosoboron masuk dalam daftar perusahaan yang dipantau secara ketat oleh sistem finansial Amerika Serikat sejak September 2006. Radar perbankan Amerika saat itu menangkap transaksi janggal Sujito karena jumlahnya yang besar, berulang, dan tanpa latar belakang relasi bisnis yang jelas.

Sayangnya laporan FinCEN berhenti sampai di sana.Tak ada komunikasi lebih lanjut yang tercatat antar penegak hukum setelah dokumen terakhir tercatat pada 2013.

Keberadaan dokumen FinCEN ini semata belum mengindikasikan pelanggaran hukum atau aksi kriminal lainnya. FinCEN sendiri mengutuk pembocoran dokumen mereka dan menolak berkomentar. 

Gelap di sana, kongsi Sujito dengan Rosoboron justru terang di sini. Nyaris bersamaan dengan kiriman dana buat Sujito pada pertengahan 2011,  Kementerian Pertahanan mengumumkan pembelian enam jet tempur Sukhoi pada Desember tahun yang sama. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin saat itu mengatakan belanja Sukhoi sudah diresmikan melalui penyerahan kontrak antara Kementerian Pertahanan dengan Rosoboron pada 29 Desember 2011, persis pada hari ketika Rosoboron mentransfer Sujito sebesar US$ 220 ribu.

Nama Sujito sebenarnya sudah mulai terendus pada saat pengumuman resmi pengadaan Sukhoi dirilis dua bulan sebelumnya pada 21 Oktober 2011. Sujito adalah bos PT Trimarga Rekatama agen Rosoboron di Indonesia.

Dalam pengumuman itu Markas Besar TNI AU menerangkan bakal melakukan penunjukkan langsung serta meminta Rosoboron yang diageni PT Trimarga Rekatama untuk segara mendaftar dan mengurus berkas pengadaan. Kehadiran agen atau pihak ketiga diduga membuat harga jet Sukhoi itu meroket. Transaksi antara Rosoboron dan Sujito diduga terkait lobi pembelian Sukhoi dengan pemerintah Indonesia.

Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Imparsial mengungkap kejanggalan dalam pengadaan Sukhoi itu. ICW dan Imparsal menuding pembelian enam unit jet itu berpotensi merugikan negara. "Ada tiga kejanggan, yang pertama soal skema pembelian yang berubah menjadi skema kredit ekspor, kedua kemahalan harga dari harga tahun sebelum dan harga produsen, yang ketiga adanya pihak ketiga yang perusahaan tadi,” kata Tama S Lankun, peneliti ICW.

Sayangnya meski sudah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi pada maret 2012, kelanjutan kasus itu tak pernah terang. 

Simak video lengkapnya.

2020-11-28 00:36:10


1/0

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB