Baperki dan LPKB - Surat - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Surat 3/8

Sebelumnya Selanjutnya
text
i

SAYA ingin meluruskan artikel TEMPO Edisi 16-22 Desember 2002, halaman 77, yang ditulis oleh Benny Subianto, berjudul Dari Krisis ke Krisis. Dalam tulisan itu antara lain disebutkan bahwa di Indonesia ada orang Cina kelompok Baperki yang nasionalis dan kelompok LPKB, yang dibina militer, yang sangat kanan. Kemudian dikatakan kemenangan militer dimanfaatkan kelompok Cina LPKB untuk ”menghabisi Baperki.”

  1. Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) dibentuk oleh Musyawarah Asimilasi pada 10-12 Maret 1963. Anggotanya se-Indonesia tidak lebih dari 2.000 orang (terbaur), sedangkan lawannya, Baperki (lahir 1954), beranggotakan ratusan ribu dan erat berhubungan dengan PKI. LPKB didukung oleh ABRI dan golongan agama (Islam dan lainnya). Berdasarkan Keppres 18 Juli 1963, LPKB menjadi jawatan. Personalianya tidak lebih dari 10 ribu, fifty-fifty keturunan Tionghoa dan Indonesia asli. Pada 16 Desember 1967, LPKB ditiadakan dan tugasnya diserahkan kepada Departemen Dalam Negeri.
  2. Dalam buku Siauw Giok Tjhan (1999) karya sang putra, Siauw Tiong Djin, dinyatakan anggota Baperki lebih dari 600 ribu. Perlu diketahui, hampir seratus persen keturunan Tionghoa mengenal almarhum Siauw Giok Tjhan (Ketua Umum Baperki). Beliau amat dekat dengan PKI karena pada 1951-1953 menjadi Direktur Harian Rakyat, suara resmi PKI. Dr. Siauw Tiong Djin dalam bukunya di halaman 383-384 menyatakan bahwa pada 1965 PKI aktif memobilisasi massa. Pelajar yang ditampung di sekolah-sekolah Baperki berjumlah puluhan ribu. Massa itulah yang oleh PKI diandalkan turun ke jalan-jalan. Di samping itu, banyak anggota dan pendukung Baperki yang merupakan pedagang yang siap memberikan sumbangan.

Dr. Charles Coppel dalam Indonesian Chinese in Crisis (1983, halaman 174) menulis bahwa kemitraan para tokoh pembauran keturunan Tionghoa dengan ABRI dan kelompok antikomunis meyakinkan bahwa ada ”Good Chinese” yang bukan antek Peking ataupun pengikut PKI. Ini mengurangi intensitas anti-Cina waktu itu. LPKB berhasil menunjukkan massa Baperki sebenarnya buta politik dan hanya menjadi korban para pemimpinnya yang kekiri-kirian itu. Berkat ”Good Chinese” itu, loloslah 600 ribu etnis Tionghoa dan keluarganya dari malapetaka besar.

H. JUNUS JAHJA
Mantan Staf LPKB

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 10:07:26


Surat 3/8

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB