Yang ekstrem di kedua kubu - Luar Negeri - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Luar Negeri 7/9

Sebelumnya Selanjutnya
text

Yang ekstrem di kedua kubu

Pengganjal perundingan damai Palestina-Israel adalah kelompok ekstrem di kubu masing-masing. mereka menentang pemerintahnya sendiri dan memusuhi warganegara lawannya. Hamas punya jaringan internasional.

i
DI sebuah sinagoga, tak jauh dari Masjid Ibrahim di Hebron, Tepi Barat, Baruch Goldstein tampak membaca kitab Taurat. Khusyuk. Kemudian ia berbisik kepada seorang temannya. "Saya yakin, pembantaian yang akan saya lakukan ini absah di mata Allah," ujar pria berjenggot ini. Buntutnya, seperti kita semua tahu, 43 warga Palestina tewas menjadi sasaran pembantaian dokter kelahiran Brooklyn Amerika Serikat ini, 25 Februari lalu. Siapa gerangan Goldstein? Ia seorang Yahudi militan pengikut fanatik Meir Kahane, rabi terakhir gerakan Kach yang radikal anti Arab -- dan tak pernah berharap mati secara damai. Pendeta Yahudi itu akhirnya memang tewas dari mulut pistol seorang warga Amerika Serikat kelahiran Mesir, El-Sayih Noseir, pada 1990. Saat itu, Kahane sedang mengikuti sebuah konferensi di Hotel Manhattan, New York City. Kenekatan Goldstein agaknya tak bisa dipisahkan dengan kematian gurunya itu. Duka ini memendam kesumat berkepanjangan. Sekitar 20.000 pengikut Kahane unjuk rasa di jalanan, menerjang toko-toko orang Arab, seraya menghujat mereka. Teriakan ini rasanya pas dengan doktrin Kahane: memantapkan hegemoni Yahudi, jika perlu dengan kekerasan, untuk sebuah tanah yang (mereka yakini) dijanjikan kitab sucinya. Pandangan picik ini tersirat di antara ribuan komunitas militan ini di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tapi tragedi ala Goldstein ini mengundang kritik. "Tuhan mereka bukan Tuhan kami. Bukan pula Tuhan kebanyakan agama yang dianut rakyat Israel," tegas Uzi Baram, anggota parlemen dan menteri pariwisata Israel. Baram menekankan bahwa keputusan damai dan perbatasan wilayah ini didasarkan pada pertimbangan keamanan dan strategi. Bukan ditentukan menurut peta penghuni kota suci, yang mereka tetapkan seenaknya. * Yang bersikap anti perdamaian di kubu Israel bukan cuma Goldstein. Ada beberapa lagi yang bergaris keras yang dengan gigih anti Arab, Palestina, atau menentang setiap usaha pemerintah Israel melakukan langkah damai dengan PLO. Gerakan Kach Kelompok ekstrem ini tak lepas dari akar gerakan yang dirintis Kahane tadi. Pendeta Yahudi asal Amerika ini dikenal radikal: mengembangkan sikap permusuhan terhadap warga Arab. Untuk tujuan itu, ia mendirikan Liga Pertahanan Yahudi, yang berbasis di New York. Ide ini terus dikembangkannya begitu ia menyusup ke Israel pada 1971. Posisi Kahane makin penting begitu ia terpilih duduk dalam Knesset pada tahun 1984. Sayangnya, empat tahun kemudian, mahkamah agung Israel mencekal Kahane agar tidak ikut pemilihan ulang lantaran gerakannya dinilai rasialistis. Padahal, jika tak dihambat, banyak yang menduga Kahane bakal menyabet tiga kursi dari 120 anggota Knesset. Sesungguhnya pemerintah Israel tak tinggal diam terhadap kelompok anti Arab ini. Seorang pemimpin Palestina di Yerusalem, Faisal Husseini, menilainya sebagai "bahaya paling nyata bagi kehidupan setiap orang Arab". Rezim Yitzhak Rabin pun melarang para pemimpin gerakan radikal ini dipersenjatai. Bahkan, Baruch Marzel, salah seorang tokohnya, kini menjadi buron pemerintah Israel. Wajar kalau gerakan ekstrem ini terus diincar. Hakim di Tel Aviv, Zipora Brun, pernah mendakwa enam orang dari gerakan berhaluan keras ini telah melakukan sejumlah pelanggaran, akhir tahun lalu. Yakni, menyerang orang Arab, menyelundupkan senjata, menjualnya di pasar gelap, dan melatih paramiliter secara rahasia. Akhirnya, mereka tertangkap setelah petugas mendapat sinyal dari bekas pemimpin gerakan Kach, Avraham Toledano. Kahane Chai dan Pedang Daud Walau digencet, tak soal bagi para aktivis gerakan Kach untuk terus menerapkan doktrin politiknya yang dibungkus Zionisme. Dan mereka terus saja menjamur, dengan berbagai bentuk. Salah satunya Kahane Chai (Kehidupan Kahane), yang merupakan faksi sempalan Kach dengan ratusan anggota. Gerakan ini didirikan oleh Benjamin, anak lelaki Kahane, tak lama sepeninggal ayahnya. Faksi lain dari Kach adalah Pedang Daud. Kelompok militan ini mengaku bertanggung jawab atas tewasnya tiga warga Palestina, Desember silam. Komite Penyelamat Jalan dan Kepercayaan Kuil Gunung Dua kelompok ekstrem ini mempunyai gerakan serupa, yakni memusuhi warga Arab di daerah pendudukan atau di mana saja. Komite Penyelamat Jalan didirikan setahun lalu di kawasan pendudukan. Ke-giatannya tak lain adalah meneror warga Arab Palestina. Hal sama dilakukan oleh komunitas Kepercayaan Kuil Gunung. Kelompok ini mengaku terpanggil untuk menyelamatkan dan membangun kembali kuil Yahudi di Yerusalem, yang kini menjadi dua tempat suci kaum muslimin. Mereka hanya didukung sejumlah kecil pengikut. Kegiatan rutinnya yakni turun ke jalan dan bertempik-sorak menghujat warga Palestina. Tongkat komandonya dipegang Gerson Solomon. * Di kubu Palestina pun tak luput dari kelompok ekstrem. Mereka juga menentang usaha damai yang dirintis Ketua PLO Yasser Arafat -- di samping anti Yahudi. Ada 10 faksi Palestina yang terus-terusan menentang Deklarasi Prinsip yang diteken di Gedung Putih tahun lalu untuk perdamaian Israel-Palestina. Mereka pula yang menentang Konferensi Damai Timur Tengah, 1991. Jihad Islam Kelompok ini tergolong barisan radikal. Mereka bersikap sangat sinis terhadap Ketua PLO Yasser Arafat. Mereka tak mengenal kompromi. Fokus gerakan mereka hanya tertuju pada bagaimana menggulingkan pemerintah Israel -- yang tak mereka akui. Komandannya, Fathi Shakaki, seorang ahli fisika dari Jalur Gaza, yang kabarnya kini bermukim di Libanon. Ratusan tentara jihad Islam tak segan-segan mengaku menculik tentara Israel dan meledakkan kendaraan mereka. Sejumlah mahasiswa, profesor, dan agamawan bergabung di sini. Elang Fatah Kelompok ini, kabarnya, tetap berafiliasi dengan faksi Fatah yang menjadi kekuatan inti PLO. Bermarkas di Gaza, dengan sekitar 300 pasukan bersenjata, mereka telah melakukan serangkaian tindak kekerasan dan membunuh sedikitnya setengah lusin tentara pendudukan Israel. Rajawali Merah dan Bintang Merah Kedua kelompok ekstrem ini merupakan sayap militer di kubu Palestina. Kelompok Rajawali Merah dari sayap Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina. Sedangkan Bintang Merah merupakan sayap militer Front Demokratik. Kekuatannya, sekitar 200 pasukan. Mereka beroperasi menjarah kawasan pertanian di Tepi Barat. Brigade Izzedine Al-Qassam atau Hamas Kelompok ini terbilang paling beken. Ini adalah sayap militer Gerakan Perlawanan Islam, atau Al-Harakah Al-Muqawwamah Al-Islamiyah, yang dikenal dengan Hamas. Didirikan pada 1988 oleh Syeikh Ahmed Yassin. Tokoh agama yang matanya buta itu kini mendekam di penjara Israel, lantaran didakwa membunuh sejumlah warga Israel dan orang-orang Palestina yang dianggap berkhianat. Brigade Hamas inilah yang menjadi ganjalan utama bagi penyelesaian damai. Sebelum berpolitik, Hamas lahir sebagai Mujama Al-Islami, sebuah organisasi sosial Islam, pada 1978, di Gaza. Sepuluh tahun kemudian, kelompok yang banyak diminati anak-anak muda ini punya sayap militer, yang disebut Mujahidin ila Falashtin (Pejuang dari Palestina), yang kemudian menjadi Brigade Izzedin itu -- dengan kafiyehnya yang menutupi kepala. Kelompok ini melihat PLO telah gagal mewujudkan obsesi bangsa Palestina, yakni berdirinya sebuah negara Islam Palestina. Sejak diselenggarakan Konferensi Damai Timur Tengah, Oktober 1991, gerombolan pemuda bersenjata ini getol menentang PLO. Termasuk yang terakhir, penandatanganan Deklarasi Prinsip, di Gedung Putih tahun lalu. Mereka menilai PLO "hanya naik pesawat terbang dan menghabiskan waktu berunding dengan Israel di hotel bintang lima". Dan tetap konsisten mendukung intifadah, perlawanan dengan batu, ban karet, dan katapel. Dukungan warga tak tanggung-tanggung: 40% dari 1,7 juta warga wilayah pendudukan. Semula, tampaknya Hamas sengaja diumbar oleh Israel, agar terus bersaing dengan PLO. Dan terpecah-belahlah mujahidin Palestina. Keberanian Hamas kian menjadi-jadi. "Kami akan terus berjuang. Hanya Allah yang tahu, berapa korban yang harus kami persembahkan dalam perjuangan ini," kata Syeikh Ahmed Yassin, 57 tahun, sang pemimpin, yang dipenjara sejak tahun 1989. Pada 1967, saat Israel mengusir Mesir dari Gaza, Yassin membikin cabang Ikhwan Al-Muslimin di kediamannya, dan menentang sekularisme yang merebak dalam gerakan nasionalis. Tujuh tahun kemudian, ia mendirikan pusat Islam, yang menjadi organisasi sosial. Ia didukung sejumlah negara Teluk, termasuk Iran yang anti Israel. Saat intifadah dimulai pada 1987, Syeikh Yassin mendirikan Hamas, sebagai tandingan PLO. "Kendati Syeikh Yassin dipenjara, kami tak akan memberikan tempat bagi jalan damai," kata Ibrahim Ghousesh, juru bicara Hamas. Ghousesh, 63 tahun, praktis memegang komando resmi Hamas untuk segala urusan luar negeri. Sarjana teknik sipil ini berkantor di Yordania. Kendati Hamas dan Fatah berasal dari induk yang sama, yakni gerakan radikal Ikhwan Al-Muslimin yang aktif di Mesir, Yordan, dan Aljazair sejak 1950-an, toh garis perjuangan keduanya tak persis sejalan. "Bagi kami, intifadah satu-satunya jihad menghadapi pendudukan Israel," kata Ghousesh. Lantas, dari mana datangnya fulus? Hamas dibantu seorang pengusaha berusia 80 tahun yang bermukim di Jedah (Arab Saudi). Tokoh gaek ini menyumbang US$ 5 juta saban tahun. Iran telah menjanjikan US$ 20 juta. Dukungan dinar lainnya berasal dari Liga Islam se-Dunia di Arab Saudi. Yang bikin kaget, kabarnya, AS menjadi dalang di balik manuver Hamas. Itu diungkap dalam kantor pers resmi pemerintah Israel di Yerusalem. Seperti dikutip majalah Time pertengahan Februari lalu, struktur teratas dalam Hamas dipegang Amerika Serikat. Di bawahnya ada empat komando regional, yang tersebar di negara Arab, Iran, Tepi Barat, dan Jalur Gaza. Dakwaan tersebut menguat setelah dua tokohnya, Mohammad Jarad dan Mohammad Salah, ditangkap polisi Amerika. Kabarnya, mereka menerima segepok uang dengan "instruksi khusus menjalankan operasi teror" -- seperti dituduhkan pemerintah Israel. Repotnya, pemerintah Israel menemukan duit US$ 100.000 di kamar hotel YMCA, tempat Jarad menginap, di Yerusalem timur. FBI menemukan bukti: Hamas dibantu oleh dinar masyarakat Arab di California, Texas, dan beberapa kota di Amerika. Tapi ini dibantah juru bicara kementerian luar negeri Amerika. Sementara itu, menurut Vincent Cannistraro, tokoh anti teroris CIA pada zaman pemerintahan George Bush, komando dan kontrol itu bukannya dari Amerika Serikat. Para simpatisan Hamas itu, di Amerika, paling banter tak lebih dari 15 orang. Ia justru yakin bahwa pusatnya berada di Iran, dan bantuan fulus berasal dari negara-negara Arab dan Timur Tengah.Wahyu Muryadi

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-27 23:53:05


Luar Negeri 7/9

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB